Deklarasi New Delhi dalam KTT BRICS Momentum Indonesia MemperkuatPeran Global

Oleh: Arief Nugraha

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, bukan sekadar pertemuanrutin para pemimpin negara berkembang. Deklarasi New Delhi yang dihasilkan dalam forum tersebut menjadi penanda penting mengenai bagaimana BRICS berupaya merespons perubahantatanan global yang semakin kompleks. Bagi Indonesia, momentum tersebut memiliki artistrategis karena keanggotaan penuh di BRICS membuka ruang yang lebih luas untukmemperjuangkan kepentingan nasional sekaligus berkontribusi dalam membentuk agenda negara-negara Global South.

Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam KTT tersebut menunjukkanbahwa Indonesia memilih mengambil posisi aktif dalam dinamika global. Pilihan ini pentingkarena dunia saat ini menghadapi ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, perubahan iklim, perkembangan teknologi yang cepat, serta gangguan rantai pasok. Dalam kondisi seperti itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi penonton. Diplomasi ekonomi dan politik perlu diarahkanuntuk memastikan setiap forum internasional menghasilkan peluang konkret bagi pembangunannasional.

Deklarasi New Delhi menjadi relevan karena memuat semangat untuk memperkuatmultilateralisme dan mendorong tata kelola global yang lebih representatif serta responsif. Persoalan ini menjadi semakin penting ketika negara-negara berkembang sering kali menghadapiketerbatasan dalam menentukan aturan ekonomi dan perdagangan internasional. Karena itu, suara Indonesia di BRICS perlu digunakan untuk mendorong sistem global yang memberikankesempatan lebih setara bagi negara berkembang.

Salah satu agenda penting yang dibawa Prabowo adalah reformasi sistem perdagangan dunia. Indonesia tetap memandang World Trade Organization (WTO) sebagai fondasi perdaganganmultilateral. Namun, sistem tersebut perlu diperkuat agar lebih terbuka, adil, inklusif, transparan, dan tidak diskriminatif. Di tengah kecenderungan meningkatnya proteksionisme, negaraberkembang membutuhkan ruang yang lebih besar untuk melindungi kepentingan ekonomisekaligus memperluas akses pasar.

Agenda lainnya adalah memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT). Transaksimenggunakan mata uang lokal dapat mengurangi biaya konversi dan risiko nilai tukar sekaligusmemperkuat ketahanan sistem keuangan. Pengembangan konektivitas pembayaran digital, termasuk hubungan QRIS Indonesia dengan Unified Payments Interface India, menunjukkanbahwa kerja sama BRICS dapat diterjemahkan ke dalam manfaat yang lebih dekat dengankehidupan masyarakat dan dunia usaha.

Isu perubahan iklim juga menjadi bagian penting dari agenda Indonesia. Transisi energi memangtidak dapat dihindari, tetapi pelaksanaannya harus memperhatikan kebutuhan pembangunannegara berkembang. Indonesia membutuhkan dukungan pembiayaan, teknologi, dan peningkatankapasitas agar agenda pengurangan emisi tidak berujung pada beban baru bagi negara yang masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam konteks tersebut, penguatan peran Indonesia dalam New Development Bank (NDB) jugamenjadi penting. Akses terhadap pembiayaan alternatif dapat mendukung pembangunaninfrastruktur, energi bersih, konektivitas, ketahanan pangan, dan transformasi digital. BRICS akan semakin bernilai bagi Indonesia apabila kerja sama politik mampu diterjemahkan menjadidukungan pembiayaan dan investasi yang memperkuat agenda pembangunan nasional.

Begitu pula dengan isu tata kelola royalti digital. Ekonomi digital telah menciptakan peluangbaru, tetapi juga menghadirkan persoalan mengenai bagaimana pencipta karya memperolehmanfaat ekonomi secara adil. Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan seniman, musisi, penulis, dan pelaku industri kreatif tidak kehilangan hak ekonominya di tengah dominasiplatform digital global.

Lima agenda tersebut memperlihatkan bahwa kepentingan Indonesia di BRICS sesungguhnyasangat luas. BRICS tidak harus dipahami sebagai blok yang berhadapan dengan kekuatan global lainnya. Sebaliknya, forum tersebut dapat menjadi instrumen diplomasi untuk memperluas pasar, membuka akses investasi dan teknologi, memperkuat ketahanan ekonomi, serta meningkatkanposisi tawar Indonesia.

Di sinilah Deklarasi New Delhi perlu dilihat secara lebih strategis. Sebuah deklarasiinternasional tidak akan banyak berarti apabila berhenti sebagai dokumen politik. Nilaisebenarnya terletak pada kemampuan negara anggota menerjemahkan kesepakatan menjadikebijakan dan kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata.

Indonesia memiliki peluang untuk mendorong proses tersebut. Dengan posisi sebagai salah satunegara dengan ekonomi dan populasi terbesar di kawasan, Indonesia dapat memainkan peransebagai jembatan antara kepentingan negara berkembang dan kebutuhan tata kelola global yang lebih adil. Peran tersebut membutuhkan diplomasi yang konsisten, pragmatis, dan berorientasipada kepentingan nasional.

Peluang ekonomi juga terbuka melalui BRICS Business Council. Sektor seperti hilirisasimineral, industri baterai, kendaraan listrik, energi terbarukan, pusat data, kecerdasan buatan, hingga ketahanan pangan dapat menjadi ruang kerja sama yang konkret. Tantangannya adalahmemastikan investasi dan kerja sama tersebut tidak berhenti pada angka transaksi, tetapimenghasilkan transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, danpeningkatan daya saing.

Deklarasi New Delhi dengan demikian dapat menjadi momentum untuk memperkuat diplomasiIndonesia. BRICS memberikan panggung, sementara Indonesia perlu menunjukkan kapasitasnyauntuk memainkan peran. Jika mampu menghubungkan kepentingan global dengan kebutuhanpembangunan nasional, keanggotaan Indonesia di BRICS bukan hanya memperkuat posisi dalampercaturan dunia, tetapi juga dapat menjadi instrumen nyata untuk meningkatkan kesejahteraanmasyarakat.

Di tengah perubahan tatanan global yang semakin cepat, Indonesia perlu hadir bukan sekadarsebagai peserta, melainkan sebagai negara yang mampu menyampaikan kepentingan, membangun kemitraan, dan ikut menentukan arah masa depan kerja sama global. Deklarasi New Delhi dapat menjadi salah satu pijakan penting menuju peran tersebut.

*) Pengamat Geopolitik dan Ekonomi Internasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *