Menguatkan Swasembada Pangan Lewat Transformasi Pertanian Modern
Oleh: Rivan Doni Saputra (*
Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional terus bergerak maju melalui langkah-langkah transformasi yang visioner dan adaptif. Pemerintah Indonesia secara progresifmengarahkan pembangunan sektor pertanian menuju pertanian modern yang tangguh dan berdaya saing. Melalui penguatan kebijakan pertanian berkelanjutan, pemerintahmengintegrasikan pemanfaatan inovasi teknologi, peningkatan efisiensi produksi, sertakomitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan. Pendekatan ini menegaskan kesiapanIndonesia dalam membangun sistem pangan nasional yang mandiri, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petanisebagai garda terdepan ketahanan pangan bangsa.
Salah satu fondasi penting dalam agenda tersebut adalah penerapan Sustainable Pesticide Management Framework (SPMF). Head of Crop Protection Research & Development Asia Tenggara & Pakistan Bayer Crop Science sekaligus Chairman CropLife Indonesia, KukuhAmbar Waluyo, menegaskan bahwa SPMF merupakan kerangka nasional pengelolaanpestisida berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat sistem pertanian Indonesia agar lebih tangguh dan modern. Inisiatif ini lahir dari kolaborasi multipihak, mulai dariKementerian Pertanian, BRIN, hingga pelaku industri dan relawan lapangan.
Menurut Kukuh, SPMF tidak berdiri sendiri, melainkan melengkapi berbagai program strategis pemerintah yang selama ini telah berjalan, seperti penyaluran pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, serta perbaikan infrastruktur irigasi. Dengan kerangka ini, penggunaan sarana produksi pertanian menjadi lebih terukur, aman, dan berbasis ilmupengetahuan. Dampaknya bukan hanya pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada kesejahteraan petani serta daya tahan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim.
Indonesia sendiri merupakan negara dengan potensi pertanian yang sangat besar. Namunpotensi tersebut dihadapkan pada tantangan multidimensi, mulai dari alih fungsi lahan, keterbatasan sumber daya manusia, hingga tuntutan adopsi teknologi pertanian terkini. Tanpatransformasi yang terencana, potensi besar itu justru berisiko tidak termanfaatkan secaraoptimal. Di sinilah pentingnya kebijakan yang mampu menjembatani tradisi pertanian rakyat dengan inovasi modern.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan PerizinanPertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Leli Nurhayati, M.Sc. Ia menegaskanbahwa penerapan SPMF sangat relevan untuk mendukung sistem pangan berkelanjutansekaligus menarik minat petani milenial. Penggunaan pestisida yang ramah lingkungandinilai tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memberikan efisiensi biayaproduksi serta menjamin keamanan pangan bagi konsumen.
Isu regenerasi petani menjadi perhatian serius pemerintah. Saat ini, mayoritas petaniIndonesia masih berasal dari kelompok usia senior. Tanpa strategi regenerasi yang jelas, ketahanan pangan nasional berpotensi menghadapi masalah serius di masa depan. Melaluidukungan teknologi seperti drone pertanian, digitalisasi perizinan, serta program pendampingan dan pelatihan, SPMF dipandang mampu mendorong lahirnya petani milenialyang profesional, adaptif, dan mandiri.
Komitmen kolaboratif juga terus diperkuat. CropLife Indonesia menegaskan kesiapannyauntuk terus bekerja sama dengan pemerintah dan relawan di lapangan agar inovasi pertanianmodern benar-benar dapat diadopsi oleh generasi muda. Kolaborasi ini penting untukmemastikan bahwa transformasi pertanian tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani di lapangan.
Di sisi hulu, pemerintah juga melakukan pembenahan serius pada industri pupuk nasional. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa modernisasi pabrikamoniak di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang diproyeksikan mampu menurunkanharga pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK hingga 20 persen. Langkah ini menjadi tonggakpenting dalam revitalisasi industri pupuk nasional, karena tidak hanya menekan harga, tetapijuga meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.
Lebih jauh, proyek tersebut merupakan bagian dari peta jalan besar pemerintah untukmembangun tujuh pabrik pupuk baru, dengan lima di antaranya ditargetkan rampung sebelum2029. Kebijakan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan ketersediaanpupuk yang terjangkau dan berkelanjutan sebagai penopang utama produktivitas pertaniannasional.
Keseluruhan kebijakan ini mencerminkan arah pembangunan pertanian yang semakinterintegrasi. Penyaluran pupuk bersubsidi, bantuan alsintan, perbaikan irigasi, penerapanSPMF, hingga modernisasi industri pupuk merupakan satu kesatuan strategi dalammentransformasikan pertanian Indonesia dari sistem konvensional menuju pertanian modern yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Sebagai pengamat pertanian, langkah-langkah ini patut diapresiasi dan didukung. Tantanganmemang tidak ringan, tetapi arah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat. Denganpengelolaan inovasi secara aman dan bertanggung jawab, serta kolaborasi erat antarapemerintah, industri, akademisi, dan petani, swasembada pangan bukanlah sekadar slogan, melainkan tujuan yang realistis untuk dicapai.
Pada akhirnya, modernisasi pertanian adalah proses jangka panjang yang membutuhkankonsistensi, kepercayaan, dan partisipasi semua pihak. Masyarakat dan pelaku pertanian perlumemberikan kepercayaan kepada pemerintah dalam mengawal transformasi ini. Dengandukungan bersama, pertanian modern bukan hanya akan memperkuat swasembada pangan, tetapi juga menjadikan sektor pertanian sebagai pilar utama kemandirian dan ketahananbangsa di masa depan.
(* Penulis merupakan Pengamat Pertanian Modern
