Swasembada Protein sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional

Swasembada Protein sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional

Oleh: Dewi Lestari Puteri *)

Swasembada protein kini menempati posisi sentral sebagai pilar utama ketahananpangan nasional dan menjadi simbol keseriusan negara dalam membangun kemandirianpangan yang berkeadilan. Pemerintah secara tegas mengarahkan agenda pangannasional tidak hanya berhenti pada kecukupan karbohidrat, tetapi melangkah lebih majudengan memastikan ketersediaan protein hewani yang cukup, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat. Langkah ini mencerminkan visi pembangunanpangan yang utuh, yang menempatkan kualitas gizi masyarakat sebagai fondasi utamapembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa swasembadaprotein merupakan kelanjutan strategis dari capaian swasembada beras. Pemerintahmemandang sektor pangan sebagai sektor mulia karena menyangkut langsungkehidupan masyarakat luas, khususnya petani, peternak, dan nelayan yang menjaditulang punggung ekonomi rakyat. Karena itu, pembangunan kampung nelayan, pengembangan budidaya bioflok, serta penguatan peternakan nasional dijalankansecara terencana sebagai wujud keberpihakan negara terhadap pelaku pangan rakyatsekaligus upaya memperkokoh ketahanan pangan nasional.

Narasi swasembada protein juga sejalan dengan agenda besar pembangunan manusiaIndonesia. Program Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintah menjadi bukti nyatabahwa negara hadir menjamin hak dasar rakyat atas pangan bergizi. Dengan sasaranlebih dari 82 juta penerima manfaat, program ini membutuhkan pasokan protein hewaniyang kuat dan stabil. Pemerintah memandang kebutuhan tersebut sebagai peluangstrategis untuk memperkuat produksi dalam negeri, sehingga swasembada protein menjadi instrumen penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif.

Dalam kerangka tersebut, Kementerian Pertanian mendorong percepatan hilirisasipeternakan ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kebijakan ini dirancang sebagaifondasi swasembada protein yang berkelanjutan dan merata. Direktur JenderalPeternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda menegaskan bahwa pembangunanekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi merupakan langkah strategis untukmemastikan pasokan daging ayam dan telur nasional tetap aman, stabil, dan berpihakpada peternak rakyat.

Dukungan konkret negara tercermin dari keterlibatan Badan Pengelola InvestasiDanantara yang mengalirkan investasi dalam skala besar untuk memperkuat ekosistempeternakan nasional. CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyampaikan bahwa hilirisasipangan, termasuk peternakan ayam terintegrasi, merupakan prioritas nasional yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Investasi ini diposisikan sebagaipengungkit utama agar Indonesia memiliki industri protein hewani yang mandiri, modern, dan berdaya saing tinggi, sekaligus mampu menjawab kebutuhan nasionaldalam jangka panjang.

Penguatan swasembada protein tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keadilan distribusi dan kesejahteraan pelaku usaha rakyat. Pemerintahmembuka akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dalam jumlah besar bagi peternakdan koperasi, termasuk melalui skema Koperasi Desa Merah Putih. Langkah inimempertegas komitmen negara untuk memberdayakan peternak rakyat agar terintegrasi dalam rantai pasok modern dan memperoleh manfaat ekonomi yang adildari pembangunan sektor pangan.

Di sisi hilir, peran BUMN pangan menjadi bagian penting dari strategi besarswasembada protein. PT Indonesia Food atau ID Food, dengan Direktur Utama Gimoyo, diberi mandat sebagai offtaker yang menyerap hasil produksi peternak rakyat. Kehadiran BUMN sebagai penyangga pasar memperkuat stabilitas harga dan memberikan kepastian usaha, sehingga peternak dapat fokus meningkatkanproduktivitas tanpa kekhawatiran terhadap fluktuasi pasar. Sinergi antara pemerintah, BUMN, dan peternak ini menjadi gambaran nyata negara hadir secara aktif dalammenjaga ketahanan pangan nasional.

Swasembada protein juga membawa dampak ekonomi dan sosial yang luas. Tambahanproduksi daging ayam dan telur dalam skala nasional diproyeksikan menciptakan jutaanlapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan peternak secara signifikan. Lebihjauh, kecukupan protein hewani diyakini akan mempercepat penurunan angka stunting dan kemiskinan, sehingga kebijakan pangan bertransformasi menjadi kebijakanpembangunan manusia yang berkelanjutan.

Selain peternakan ayam, pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber protein melalui penguatan sektor perikanan dan budidaya berbasis komunitas. Pembangunan kampung nelayan dan teknologi budidaya seperti bioflok menjadi bagian dari strategi nasional agar swasembada protein tidak bertumpu pada satu komoditas saja. Denganmemaksimalkan potensi maritim dan sumber daya lokal, Indonesia mempertegas jatidirinya sebagai negara agraris dan maritim yang berdaulat atas pangannya sendiri.

Secara keseluruhan, swasembada protein menegaskan arah baru ketahanan pangannasional yang tidak hanya kuat secara produksi, tetapi juga adil dan berkelanjutan. Konsistensi kebijakan, dukungan investasi strategis, penguatan peran BUMN pangan, serta pelibatan aktif peternak dan nelayan rakyat membentuk satu ekosistem nasionalyang solid. Sinergi lintas sektor yang terbangun hari ini menunjukkan bahwaswasembada protein bukan sekadar agenda teknis, melainkan strategi kebangsaanuntuk memastikan ketersediaan pangan bergizi, memperkuat ekonomi rakyat, dan menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, unggul, serta berdaya saing di masa depan.

*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *