Board of Peace Tegaskan Langkah Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina

Oleh : Dimas Kurniawan )* Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) menandai babak baru diplomasi aktif yang tidak sekadar simbolik, tetapi konkret dan terukur dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya konsisten pada amanat konstitusi untuk menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia, tetapi juga mampu menerjemahkan komitmen tersebut ke dalam strategi diplomasi…

Read More

Board of Peace dan Strategi Politik Keseimbangan Indonesia di Tengah Polarisasi Dunia

Oleh: Dimas Aryasetya Keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) dan menerima posisi Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) di Gaza menandai fase baru diplomasi luar negeri yang lebih aktif sekaligus berhati-hati. Di tengah polarisasi global yang kian tajam, langkah tersebut tidak sekadar simbol solidaritas kemanusiaan, melainkan refleksi politik keseimbangan sekaligus upaya menjaga posisi strategis Indonesia di…

Read More

Board of Peace dan Politik Keseimbangan: Bebas-Aktif Kian Strategis di Era Prabowo

Oleh: Landres Octav Pandega *) Partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) bukan sekadar hadir di sebuah forum baru yang ramai diperbincangkan. Ia adalah sinyal politik luar negeri yang tegasbahwa Indonesia sedang menguatkan politik keseimbangan, menjaga ruang manuver di tengah tarik-menarik kekuatan besar, tanpa meninggalkan akar bebas-aktif yang tertanam sejak awal republik. Dalam konteks global yang makin terpolarisasi, langkah ini juga terasa sejalan…

Read More

Menjaga Kondusivitas Selama Bulan Ramadan

*) Oleh: Andika Hidayatullah Bulan Ramadan selalu hadir sebagai ruang kontemplasi sekaligus momentum penguatan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengahkeragaman Indonesia yang majemuk, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai praktikibadah personal, melainkan juga sebagai arena sosial untuk memperteguh komitmenkebangsaan. Tantangannya, dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kerapdiwarnai dinamika intoleransi dan polarisasi yang berpotensi mengganggukondusivitas. Karena itu, menjaga ketertiban dan harmoni selama Ramadan bukansekadar tugas aparatur negara, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemenmasyarakat. Direktur Eksekutif JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), WawanGunawan, mengingatkan bahwa realitas intoleransi di Indonesia masih belumsepenuhnya tuntas. Ia menyoroti masih adanya peristiwa seperti penutupan rumahibadah dan pelarangan kegiatan keagamaan di sejumlah daerah. Fakta-fakta tersebut, menurutnya, tidak boleh diabaikan karena berpotensi menggerus fondasi kebhinekaanyang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Kesadaran untuk mengakui persoalansecara jujur merupakan langkah awal dalam membangun solusi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Dalam konteks Ramadan, kerentanan terhadap provokasi berbasis isu SARA cenderung meningkat seiring menguatnya sentimen keagamaan di ruang publik. Narasi-narasi yang memelintir ajaran agama untuk kepentingan sempit dapat dengancepat menyebar, terutama melalui media sosial. Wawan menilai masyarakat haruslebih waspada terhadap pola komunikasi yang bersifat provokatif dan destruktif. Ia menekankan bahwa literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesakuntuk menjaga stabilitas sosial di era informasi yang serba cepat. Generasi muda memegang peran strategis dalam lanskap ini. Sebagai kelompok yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital, mereka memiliki kapasitas besar dalammembentuk opini dan arah percakapan publik. Wawan berpandangan bahwa anakmuda seharusnya menjadi penggerak percakapan yang meneduhkan, bukan justrumemperkeruh suasana dengan ujaran kebencian atau informasi yang belumterverifikasi. Membangun ruang digital yang sehat adalah bagian dari tanggung jawabmoral generasi yang akrab dengan gawai dan platform media sosial. Dengandemikian, Ramadan dapat menjadi momentum untuk membuktikan bahwa teknologidapat digunakan sebagai sarana memperkuat toleransi. Esensi puasa sendiri sejatinya terletak pada pengendalian diri. Wawanmenggarisbawahi bahwa menahan lapar dan dahaga hanyalah dimensi lahiriah, sementara dimensi batiniah menuntut kemampuan menahan amarah, prasangka, dan dorongan untuk menghakimi. Dalam kehidupan sosial, pengendalian diri tercerminpada sikap tidak reaktif terhadap provokasi serta komitmen menyelesaikan perbedaanmelalui dialog dan musyawarah. Jika nilai-nilai ini dilakukan secara konsisten, makaRamadan akan menjadi ruang etika publik yang memperhalus karakter bangsa. Upaya menjaga kondusivitas selama Ramadan juga tidak terlepas dari kebijakanpemerintah dalam memperkuat moderasi beragama dan penegakan hukum terhadappelanggaran yang mengganggu ketertiban umum. Langkah-langkah strategis tersebutmenunjukkan kehadiran negara dalam melindungi seluruh warga tanpa diskriminasi. Kebijakan literasi digital, pengawasan terhadap penyebaran hoaks, hingga penguatankoordinasi lintas sektor menjadi fondasi penting untuk memastikan bulan suci berjalanaman dan damai. Dukungan masyarakat terhadap kebijakan ini merupakan wujudpartisipasi aktif dalam menjaga stabilitas nasional. Di sisi lain, dinamika sosial-ekonomi yang menyertai Ramadan juga memerlukanpengelolaan yang bijak agar tidak memicu gesekan horizontal. Lonjakan aktivitasekonomi, mobilitas masyarakat, hingga meningkatnya interaksi di ruang publikberpotensi menimbulkan salah paham apabila tidak disertai sikap saling menghormati. Dalam situasi seperti ini, kedewasaan kolektif diuji, terutama dalam menyikapiperbedaan praktik keagamaan maupun preferensi sosial. Menjaga ketertiban, menghormati waktu ibadah, serta menghindari tindakan yang berlebihan menjadibagian dari etika sosial yang sejalan dengan semangat Ramadan. Namun, regulasi semata tidak akan efektif tanpa kesadaran sipil yang matang. Masyarakat perlu membangun budaya saling menghormati dan empati, terutamaterhadap kelompok yang berbeda keyakinan. Ramadan seharusnya tidak dipahamisecara eksklusif, melainkan sebagai momentum memperluas solidaritas sosial. Ketika umat Islam menjalankan ibadah dengan khusyuk, pada saat yang sama mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan sosial tetap inklusif dan ramah bagi semua. Lebih jauh, penguatan peran tokoh agama, komunitas lokal, dan organisasimasyarakat sipil menjadi elemen penting dalam merawat kondusivitas. Sinergi antarainisiatif masyarakat dan kebijakan pemerintah akan menciptakan daya tahan sosialyang lebih kokoh terhadap provokasi dan disinformasi. Edukasi publik mengenaipentingnya verifikasi informasi, penyelesaian konflik secara musyawarah, sertapenguatan nilai kebangsaan perlu terus digalakkan secara sistematis. Kondusivitas selama Ramadan pada akhirnya adalah cerminan kedewasaandemokrasi Indonesia. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dariperbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan secara beradab. Tantangan intoleransi dan disinformasi harus dijawab dengan pendidikan, dialog, dan keteladanan. Generasi muda, tokoh agama, masyarakat sipil, dan pemerintah perluberjalan beriringan dalam membangun ekosistem sosial yang sehat. Ramadan menghadirkan peluang untuk memperkuat kohesi sosial melalui praktikkesabaran, empati, dan musyawarah. Jika setiap individu mampu menahan diri daritindakan diskriminatif dan kekerasan, serta memilih jalan dialog dalam menyikapiperbedaan, maka harmoni sosial bukanlah utopia. Momentum ini semestinyadimanfaatkan untuk menegaskan kembali bahwa keberagaman adalah anugerahyang harus dirawat bersama. Dengan komitmen kolektif tersebut, Ramadan dapatmenjadi tonggak penguatan persatuan dan stabilitas Indonesia di tengah dinamikazaman yang terus berubah….

Read More

Judi Daring Ancam Generasi, Pemerintah Perkuat Pemberantasan Digital

Oleh: Bara Winatha*) Perkembangan teknologi digital memang memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga membuka celah bagi praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Judi daring kini tidak lagi dilakukan secara konvensional, melainkan cukup dengan gawai yang bisa diakses siapa saja. Situasi ini membuat praktik judi daring menjangkau kelompok yang lebih luas, termasuk generasi muda yang…

Read More

Stop Judi Daring, Pemain Hanya Umpan Demi Untungkan Bandar

Oleh : Aditya Perwira )* Banyak orang percaya bahwa judi daring memberi peluang untuk menang besar. Padahal, sejak pertama kali mendaftar, mereka sebenarnya sudah masuk dalam sistem yang hanya memberi jalan menuju kekalahan. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ivan Yustiavandana, menegaskan bahwa tidak ada pemain judi daring yang benar-benar bisa meraih keuntungan….

Read More

Literasi Digital Jadi Upaya Preventif Pemerintah Cegah Judi Daring

*) Oleh : Syamsul Huda Fenomena judi daring telah berkembang menjadi persoalan serius yang mengancam stabilitas sosial, ekonomi, bahkan moral bangsa. Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat memang membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, namun di sisi lain juga dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk melakukan aktivitas ilegal. Judi daring dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat…

Read More

Perluasan Penempatan PMI ke Jepang Bukti Serius Pemerintah Lindungi dan Tingkatkan Daya Saing Pekerja Migran

Oleh: Aulia Sofyan Harahap Pemerintah Indonesia terus menunjukkan keseriusannya dalam memperluas peluang kerja sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, melakukan serangkaian pertemuan penting dengan pejabat Jepang untuk memperkuat kerja sama, baik dalam penempatan tenaga kerja maupun perlindungan hukum. Dalam lawatannya ke Tokyo, Karding…

Read More

KPK Tegaskan Komitmen Antikorupsi Lewat OTT dan Perjanjian Ekstradisi

 Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer Oleh : Maya Sasmita )* Pemerintah kembali menunjukkan taringnya. Operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer atau Noel menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum. Langkah tersebut berdiri sejajar dengan upaya serius Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengejar buronan kasus korupsi proyek e-KTP, Paulus Tannos,…

Read More

Mendukung Langkah Tegas Pemerintah Kejar Buron e-KTP Paulus Tannos hingga OTT Wamenaker

Paulus Tannos merupakan Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra. Ia ditetapkan sebagai tersangka pada 13 Agustus 2019 atas pengadaan paket penerapan kartu tanda penduduk berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (E-KTP) tahun 2011 hingga 2013 pada Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Oleh: Fajar Dwi Santoso Pemerintah kembali menunjukkan bagaimana ketegasannya dalam menegakkan hukum di Indonesia, khususnya menangani…

Read More