Rektor UKI: Sinergi Lintas Sektor Diperlukan untuk Menangkal Ancaman Spionase

JAKARTA – Penguatan ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman spionase memerlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat. Seiring meningkatnya posisi strategis Indonesia dalam percaturan global, berbagai upaya pemerintah memperkuat tata kelola keamanan informasi dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga kepentingan nasional dan melindungi aset-aset strategis bangsa. Rektor Universitas Kristen Indonesia…

Read More

Akademisi Nilai Regulasi Jadi Benteng Hadapi Ancaman Siber dan Spionase Asing

Jakarta – Penguatan regulasi di bidang keamanan siber menjadi langkah strategis untuk melindungi kepentingan nasional di tengah meningkatnya ancaman serangan siber dan praktik spionase asing yang semakin kompleks. Pakar Keamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) sekaligus Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti, Ph.D., menegaskan bahwa Indonesia memerlukan regulasi keamanan siber yang komprehensif untuk menghadapi ancaman siber…

Read More

Rektor UKI dan Pengamat Intelijen UI: Indonesia Perlu Regulasi Anti-Spionase Asing

Jakarta – Penguatan regulasi antispionase dinilai mendesak untuk melindungi kepentingan strategis nasional dari operasi intelijen asing yang semakin kompleks, terutama melalui serangan siber, penyusupan teknologi, pencurian data, dan manipulasi informasi. Pengamat Intelijen Universitas Indonesia (UI), Dr. Stanislaus Riyanta, mengatakan posisi strategis serta kekayaan sumber daya alam dan manusia membuat Indonesia memiliki daya tarik tinggi sebagai…

Read More

Pengamat Intelijen UI Tegaskan Indonesia Butuh Payung Hukum Hadapi Spionase Asing

Jakarta – Penguatan payung hukum dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia untuk menghadapi ancaman spionase asing yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan meningkatnya dinamika geopolitik global. Pengamat Intelijen dan Kajian Stratejik Universitas Indonesia, Dr. Stanislaus Riyanta, mengatakan bahwa perhatian terhadap ancaman spionase tidak boleh hanya berfokus pada media atau metode yang digunakan. Menurutnya, aspek…

Read More

Pengamat Intelijen: Pemerintah Perlu Memperkuat Sistem Keamanan Siber Guna Hadapi Ancaman Spionase Asing

Jakarta – Indonesia memiliki daya tarik yang tinggi sebagai target serangan siber karena kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan posisi strategisnya. Daya tarik tersebut tidak dapat dihilangkan sehingga upaya yang harus dilakukan adalah memperkuat sistem keamanan dan meminimalkan dampak serangan. Pakar Keamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang juga Rektor UKI, Prof. Angel…

Read More

Guru Besar UKI: Regulasi Anti Spionase Asing Penting untuk Lindungi Inovasi dan Kekayaan Intelektual Nasional

JAKARTA – Penguatan regulasi untuk menghadapi spionase asing dinilai menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan inovasi, melindungi kekayaan intelektual nasional, serta memperkuat ketahanan Indonesia di tengah meningkatnya ancaman siber global. Kehadiran payung hukum yang komprehensif dipandang mampu memperjelas tata kelola keamanan siber sekaligus memperkuat perlindungan terhadap aset-aset strategis nasional. Guru Besar Keamanan Internasional UKI, Prof….

Read More

Akademisi UI: Indonesia Perlu Ada Regulasi Atasi Ancaman Spionase dan Siber

Jakarta – Akademisi UI Stanislaus Riyanta mengatakan Indonesia saat ini memerlukan regulasi untuk mengatasi ancaman spionase asing dan siber. Hal itu menyusul semakin intensnya serangan siber ke Indonesia yang ditengarai adanya spionase asing. Hal tersebut diungkapkan Akademisi UI yang juga sebagai pengamat intelijen dan stratejik UI, Stanislaus Riyanta saat dialog di televisi swasta nasional, di…

Read More

Menutup Celah Spionase Asing dengan Penguatan Regulasi sebagai Fondasi Ketahanan Nasional

Oleh: Felisa Adnan *) Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara negara membangun kekuatan, menjalankan pemerintahan, sekaligus menghadapi ancaman. Persaingan antarnegara tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan militer, diplomasi, atau ekonomi, tetapi juga melalui penguasaan data, penyusupan sistem, pencurian teknologi, dan operasi informasi. Dalam konteks tersebut, agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan siber perlu ditempatkan sebagai bagian…

Read More

Regulasi Anti Spionase Asing untuk Memperkuat Ketahanan Nasional

Oleh : Aditya Rahman )* Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara negara menjalankan pemerintahan, mengelola ekonomi, dan melindungi kepentingan strategis. Di sisi lain, digitalisasi juga memperluas ruang bagi aktivitas SPIONASE ASING, mulai dari pencurian data, penyusupan ke sistem informasi, hingga upaya memperoleh informasi strategis melalui serangan siber. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber tidak lagi semata-mata menjadi isu teknologi,…

Read More

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden

Oleh: Fajar Dwi Santoso Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakanpemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga padapenguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapanjajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harusmenyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hinggapenyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut salingberkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing. Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskanmelalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukansekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber dayamanusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anakyang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negaraharus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi. Presiden juga menilai berbagai kritik terhadap MBG perlu dilihat secara proporsional. Alih-alihhanya memperdebatkan besaran anggaran, perhatian publik seharusnya diarahkan pada manfaatnyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangannya, indikator keberhasilan pembangunantidak hanya diukur dari angka makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjagastabilitas harga pangan, memastikan pupuk tersedia bagi petani dengan harga terjangkau, sertamenjamin anak-anak memperoleh makanan bergizi di sekolah. Penegasan tersebut menunjukkanbahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia merupakan dua agenda yang berjalanberiringan. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai kajian internasional yang menempatkan investasipada gizi anak sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk meningkatkan produktivitasnasional dalam jangka panjang. Anak yang memperoleh gizi memadai sejak dini memilikipeluang lebih besar untuk tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, serta menjaditenaga kerja produktif pada masa depan. Karena itu, keberlanjutan MBG memiliki dimensistrategis yang jauh melampaui pemberian makanan semata. Pandangan serupa juga pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik SudaryatiDeyang. Ia menjelaskan bahwa fokus pemerintah tidak hanya memperluas jangkauan penerimamanfaat, tetapi juga memastikan kualitas layanan, keamanan pangan, dan tata kelola program terus diperbaiki agar manfaat MBG benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program bergantung pada pengawasan yang baik, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan pelaku usaha lokal sehingga manfaat ekonomi turut mengalir ke daerah. Di sisi lain, Presiden juga memberikan penekanan kuat terhadap reformasi birokrasi sebagaiprasyarat percepatan pembangunan. Ia mengakui Indonesia telah berada pada jalur pembangunanyang benar, namun efektivitas pemerintahan masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu tantanganyang masih dihadapi adalah banyaknya regulasi yang tumpang tindih dan prosedur birokrasiyang belum sepenuhnya efisien. Karena itu, pemerintah memilih mempercepat transformasi digital melalui pengembanganGovTech serta implementasi Single National Identity Card. Gagasan ini menjadi langkah pentinguntuk menyederhanakan pelayanan publik yang selama ini tersebar di berbagai kementerian danlembaga. Dengan identitas digital nasional yang terintegrasi, masyarakat diharapkan tidak lagimenghadapi proses administrasi yang berulang, sementara pemerintah dapat meningkatkanakurasi data serta efektivitas penyaluran berbagai program. Transformasi tersebut juga menjadi fondasi bagi penguatan sistem perlindungan sosial nasional. Presiden menilai Indonesia kini telah memiliki sistem perlindungan sosial yang semakin kuatsebagai hasil pembangunan yang berlangsung secara berkesinambungan. Integrasi data melaluiSingle National Identity Card diyakini akan memperkecil potensi duplikasi penerima manfaat, meningkatkan transparansi, sekaligus memastikan bantuan sosial dan berbagai layanan publikditerima oleh masyarakat yang benar-benar berhak. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Rini Widyantini, dalamberbagai kesempatan juga menegaskan bahwa transformasi digital pemerintahan diarahkan untukmembangun birokrasi yang lebih lincah, terintegrasi, dan berorientasi pada pelayananmasyarakat. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan ke platform elektronik, melainkan mengubah cara kerja pemerintah agar lebih sederhana, cepat, danakuntabel. Karena itu, integrasi data nasional menjadi salah satu fondasi penting dalammewujudkan pelayanan publik yang efektif. Pesan Presiden mengenai keberlanjutan pembangunan juga menarik untuk dicermati. Iamenegaskan bahwa capaian Indonesia hari ini merupakan hasil estafet kepemimpinan nasionalyang dibangun oleh para presiden sebelumnya. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwapembangunan nasional merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungankebijakan, bukan sekadar keberhasilan satu periode pemerintahan. Pemerintah saat inimemandang tugas utamanya adalah melanjutkan fondasi yang telah ada, memperbaiki berbagaikekurangan, serta menyempurnakan kebijakan agar semakin memberikan manfaat bagimasyarakat. Pada akhirnya, arah kebijakan yang disampaikan dalam Taklimat Presiden menunjukkan adanyadua prioritas besar yang saling melengkapi. Di satu sisi, pemerintah memperkuat investasi padakualitas manusia melalui Program Makan Bergizi Gratis sebagai upaya membangun generasiyang sehat dan produktif. Di sisi lain, pemerintah mempercepat transformasi tata kelola melaluidigitalisasi birokrasi dan implementasi Single National Identity Card agar pelayanan publiksemakin efektif, transparan, dan tepat sasaran. Apabila kedua agenda tersebut dijalankan secarakonsisten dengan pengawasan yang kuat serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia tidak hanyaakan memiliki generasi yang lebih sehat, tetapi juga sistem pemerintahan modern yang mampumenjawab tuntutan pembangunan di masa depan. *) Peneliti Kebijakan Publik dan Politik

Read More