Kolaborasi dalam CKG untuk Kesehatan Berkualitas dan Eliminasi TBC

Oleh: Bara Winatha *) Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan preventif di Indonesia. Melalui pendekatan yang semakin komprehensif, program ini telah berkembang menjadi deteksi dini berbagai, termasuk gangguan penglihatan dan tuberkulosis (TBC). CKG hadir sebagai upaya strategis untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih luas, mudah…

Read More

Active Case Finding dalam CKG untuk Kesehatan Berkualitas dan PengendalianTBC

*) Oleh: Gilang Maulana Putra Active Case Finding (ACF) dalam kerangka Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadisalah satu terobosan penting dalam memperkuat sistem kesehatan publik di Indonesia, khususnya dalam pengendalian Tuberkulosis (Tb). Pendekatan ini tidaklagi menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, melainkan secara aktifmenjemput kasus di tengah masyarakat. Dalam konteks epidemiologi penyakitmenular seperti Tb, strategi proaktif ini bukan sekadar pilihan kebijakan, tetapikebutuhan mendesak untuk memutus rantai penularan yang selama ini sulitdikendalikan. Oleh karena itu, integrasi ACF dengan CKG mencerminkan upayanegara menghadirkan layanan kesehatan yang lebih inklusif, preventif, dan berbasiskomunitas. Lebih jauh, kebijakan ini mempertegas pergeseran paradigma dari kuratifke promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional. Lebih lanjut, Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa implementasi ACF di lapangan harus diikuti dengan ketuntasanpengobatan pasien Tb sebagai prioritas utama. Penekanan ini relevan mengingatkeberhasilan terapi Tb sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalammenyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnyapelacakan kontak erat sebagai bagian integral dari strategi pengendalian, karenasetiap kasus Tb berpotensi menular kepada lingkungan terdekat. Dengan estimasibahwa dari 1.600 kasus dapat menjangkau sekitar 6.000 individu yang perludiskrining, terlihat bahwa pendekatan ini berbasis kalkulasi epidemiologis yang matang. Oleh karena itu, pernyataan dr. Benjamin Paulus Octavianus memperkuaturgensi ACF sebagai strategi sistemik, bukan sekadar intervensi sporadis. Di sisi lain, dr. Benjamin Paulus Octavianus juga menekankan pentingnya pemberianTerapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kelompok berisiko sebagai langkahpreventif yang tidak dapat diabaikan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintahtidak hanya berfokus pada pengobatan kasus aktif, tetapi juga berupaya menekanpotensi munculnya kasus baru. Dalam kerangka kesehatan masyarakat, intervensipreventif seperti TPT memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadappenurunan insiden Tb. Dengan demikian, strategi yang menggabungkan deteksi aktif, pelacakan kontak, dan terapi pencegahan mencerminkan desain kebijakan yang komprehensif. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pengendalian Tb memerlukanpendekatan berlapis yang saling terintegrasi. Sementara itu, Bupati Blora, Arief Rohman, melihat bahwa integrasi ACF denganlayanan CKG memberikan dampak konkret dalam meningkatkan penemuan kasusserta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, pendekatan ini efektif karena menghilangkan hambatan biaya yang selama ini menjadi salah satu faktor rendahnya partisipasi masyarakat dalam skriningkesehatan. Dengan akses yang lebih terbuka, masyarakat menjadi lebih proaktifdalam memeriksakan kondisi kesehatannya, termasuk deteksi dini Tb. Lebih jauh, Arief Rohman juga menekankan bahwa penanganan Tb tidak dapat dilakukan secaraparsial, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Olehkarena itu, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalammenciptakan lingkungan yang bebas Tb. Peningkatan penemuan kasus melalui ACF menandakan bahwa selama ini masihterdapat celah dalam sistem deteksi Tb yang menyebabkan banyak kasus tidakterlaporkan. Kondisi ini berpotensi memperpanjang rantai penularan di masyarakattanpa disadari. Dengan pendekatan aktif yang diusung dalam ACF, negara mampumengidentifikasi kasus-kasus tersembunyi dan segera mengintegrasikannya ke dalamsistem pengobatan yang terstandar. Hal ini sekaligus memperkuat sistem surveilanskesehatan nasional yang selama ini menghadapi tantangan dalam menjangkaupopulasi rentan. Dengan demikian, ACF berfungsi tidak hanya sebagai alat deteksi, tetapi juga sebagai mekanisme koreksi terhadap kelemahan sistem sebelumnya. Selain itu, dukungan dari Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menjadi indikatorpenting bahwa program ini mendapatkan legitimasi kuat dari sisi legislatif. Ia menilaibahwa ACF yang terintegrasi dengan CKG merupakan langkah strategis dalammenurunkan angka kasus Tb di Indonesia. Dukungan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga berimplikasi pada keberlanjutan program melalui kebijakan anggaran danregulasi yang memadai. Dalam konteks kebijakan publik, sinergi antara eksekutif danlegislatif menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan secara konsistendan berkelanjutan. Oleh karena itu, peran Edy Wuryanto memperkuat posisi ACF sebagai prioritas nasional dalam agenda kesehatan. Namun demikian, tantangan implementasi tetap perlu diantisipasi secara serius agar program ini tidak kehilangan momentum. Ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai, distribusi logistik yang efisien, serta koordinasi antar sektor menjadi faktorkrusial dalam menentukan keberhasilan ACF di lapangan. Tanpa dukungan sistemyang kuat, potensi besar dari program ini dapat terhambat oleh kendala teknis danadministratif. Oleh karena itu, penguatan layanan kesehatan primer menjadi langkahstrategis yang harus berjalan seiring dengan implementasi ACF. Investasi padakapasitas sistem kesehatan akan menentukan sejauh mana program ini mampumencapai target yang diharapkan. Selanjutnya, integrasi ACF dengan CKG juga membuka peluang untuk memperluascakupan deteksi penyakit lain secara bersamaan, sehingga menciptakan efisiensidalam sistem layanan kesehatan. Pendekatan ini memungkinkan satu intervensimemberikan manfaat multipel bagi masyarakat. Dalam jangka panjang, model integratif seperti ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan kesehatanlainnya. Dengan demikian, ACF tidak hanya berkontribusi pada pengendalian Tb, tetapi juga memperkuat fondasi sistem kesehatan nasional secara keseluruhan. Inimenunjukkan bahwa kebijakan yang dirancang secara strategis dapat menghasilkandampak yang luas dan berkelanjutan. *) Konselor Kepatuhan Pengobatan TBC.

Read More
Kopdes Merah Putih Hadirkan Klinik dan Gerai Obat, Akses Kesehatan Desa Diperluas

Kopdes Merah Putih Hadirkan Klinik dan Gerai Obat, Akses Kesehatan Desa Diperluas

Jakarta – Pemerintah terus mendorong penguatan layanan dasar di desa melalui program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Salah satu terobosan yang disiapkan adalah menghadirkan klinik kesehatan dan gerai obat di setiap koperasi, guna memperluas akses layanan kesehatan masyarakat pedesaan yang selama ini masih terbatas. “Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini juga nanti akan dilengkapi dengan gerai…

Read More
Kopdes Merah Putih Hadirkan Klinik dan Apotek Desa

Kopdes Merah Putih Hadirkan Klinik dan Apotek Desa

Jakarta – Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih memperluas fungsi koperasi sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok dan hasil pertanian sekaligus penyedia layanan kesehatan dasar melalui klinik dan apotek desa. Di tengah fluktuasi harga pangan dan tekanan ekonomi akibat perubahan iklim, pendekatan berbasis komunitas ini diposisikan sebagai model integratif yang menggabungkan layanan ekonomi, sosial, dan kesehatan…

Read More

Menutup Kesenjangan Layanan Kesehatan melalui Koperasi Desa

Oleh: Yandi Arya Adinegara )* Kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masihmenjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan nasional. Di satu sisi, kota-kota besar menikmati akses rumah sakit modern, tenaga medis memadai, sertadistribusi obat yang relatif lancar. Di sisi lain, banyak desa masih menghadapiketerbatasan fasilitas kesehatan, minimnya ketersediaan obat, hingga rendahnyaketerjangkauan layanan bagi masyarakat. Dalam konteks inilah, langkah pemerintah menghadirkan Koperasi Desa/Kelurahan(Kopdes) Merah Putih sebagai simpul layanan kesehatan sekaligus pusat ekonomidesa patut diapresiasi sebagai terobosan strategis dan relevan dengan kebutuhanzaman. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidakhanya dirancang sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi ujungtombak pelayanan kesehatan masyarakat desa. Setiap koperasi akan dilengkapidengan gerai obat dan klinik kesehatan, sebuah inovasi yang secara langsungmenyasar persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari desainkebijakan yang terintegrasi lintas sektor. Selama ini, salah satu persoalan mendasar adalah masih adanya warga desa yang belum terjangkau oleh program jaminan kesehatan nasional. Kehadiran klinik desaberbasis koperasi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanankesehatan yang lebih dekat, murah, dan mudah diakses. Ferry Juliantonomenekankan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat desa memperolehjaminan pelayanan kesehatan yang layak, melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan. Langkah kolaboratif ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahamanantara Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi dan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito. Kerja sama tersebut tidak hanya bertujuanmemperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tetapi juga meningkatkan kualitas layanan melalui interoperabilitas data dan pendekatanberbasis komunitas.  Dengan cakupan JKN yang telah mencapai sekitar 98 persen, tantangan berikutnyaadalah memastikan akses nyata hingga ke tingkat desa—dan Kopdes Merah Putihmenjadi instrumen penting untuk menjawab tantangan tersebut. Secara konseptual, Kopdes Merah Putih memang dirancang sebagai pusat aktivitasdesa yang holistik. Selain layanan kesehatan melalui apotek dan klinik, koperasi inijuga menghadirkan gerai sembako, unit simpan pinjam, kantor koperasi, cold storage, gerai logistik, serta gerai potensi daerah.  Pendekatan multi-layanan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak melihatkesehatan sebagai isu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistemkesejahteraan masyarakat. Ketersediaan pangan, akses ekonomi, dan layanankesehatan dipadukan dalam satu wadah kelembagaan yang berbasis gotong royong. Ahmad Zabadi bahkan memproyeksikan dampak besar dari program ini. Jika setiapdesa memiliki koperasi dengan rata-rata 1.000 anggota, maka sekitar 80 jutamasyarakat berpotensi mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih baikmelalui jaringan koperasi. Ini bukan angka kecil, melainkan gambaran transformasisistemik yang dapat mengubah wajah pelayanan publik di Indonesia. Lebih jauh, sinergi antara Kopdes dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi kunci keberhasilan implementasi. Keduanya dipandang sebagai “satunyawa” dalam mendorong kesejahteraan masyarakat desa. Dengan integrasi ini, pelayanan kesehatan tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan promotif, termasuk peningkatan literasi kesehatan masyarakat. Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga semakin memperkuat arah kebijakan ini. BPJS Kesehatan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Desadan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Badan Gizi Nasional, untuk memastikan perlindungan kesehatan menjangkau hingga kedesa. Upaya ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkandesa sebagai pusat pertumbuhan, sebagaimana tercermin dalam visi pembangunanberbasis dari bawah. Menteri Desa…

Read More

Scaling Rural Health: Potensi Besar Kopdes dalam Layanan Kesehatan

Oleh : Doni Ariawan Di tengah tantangan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia, wilayah pedesaanmasih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses fasilitas hingga tenagamedis. Jarak yang jauh, infrastruktur yang belum memadai, serta keterbatasaninformasi menjadi hambatan utama bagi masyarakat desa untuk mendapatkanlayanan kesehatan yang layak. Dalam konteks ini, munculnya Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai lembaga ekonomi berbasis komunitas menawarkanpotensi baru yang belum banyak dimaksimalkan, khususnya dalam mendukunglayanan kesehatan di tingkat lokal. Kehadiran Kopdes Merah Putih nantinya diharapkan akan menjadi penggerakekonomi desa, membantu masyarakat dalam hal simpan pinjam, distribusi kebutuhanpokok, hingga pemasaran hasil pertanian. Namun, perannya dapat diperluas menjadilebih strategis dengan masuk ke sektor kesehatan. Dengan jaringan yang dekatdengan masyarakat dan tingkat kepercayaan yang tinggi, Kopdes Merah Putih memiliki posisi unik untuk menjadi jembatan antara layanan kesehatan formal dan kebutuhan riil warga desa. Salah satu bentuk kontribusi Kopdes Merah Putih dalam layanan kesehatan adalahmelalui penyediaan fasilitas kesehatan dasar, seperti klinik desa atau pos kesehatanterpadu yang dikelola secara mandiri. Kopdes Merah Putih dapat bekerja samadengan tenaga medis setempat untuk menyediakan layanan pemeriksaan rutin, imunisasi, hingga edukasi kesehatan. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu selalubergantung pada puskesmas yang mungkin lokasinya jauh atau memiliki antreanpanjang. Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono menjelaskan Kopdes Merah Putih akandilengkapi gerai obat dan klinik desa. Menurut dia, saat ini minim obat dan minim fasilitas kesehatan di desa-desa, kemudian masih banyak masyarakat desa yang tidak tercakup oleh BPJS Kesehatan. Kopdes Merah Putih nantinya akan menjadipusat ekonomi desa dengan enam gerai yakni gerai sembako, apotek desa dan klinikdesa, unit simpan pinjam, kantor koperasi, cold storage, gerai logistik, dan satu geraisesuai kebutuhan potensi daerah. Selain itu, Kopdes Merah Putih juga berpotensi dalam menyediakan akses terhadapobat-obatan dan alat kesehatan dengan harga yang lebih terjangkau. Melalui sistempembelian kolektif, Kopdes Merah Putih dapat menekan biaya distribusi dan memastikan ketersediaan produk kesehatan di desa. Hal ini sangat penting, terutamabagi masyarakat dengan keterbatasan ekonomi yang seringkali menunda pengobatankarena biaya yang tinggi. Sekretaris Kementerian Koperasi, Ahmad Zabadi menjelaskan jika seluruh wilayah tersebut memiliki koperasi dengan rata-rata 1.000 anggota, maka lebih dari 80 jutaorang bisa dipastikan mendapatkan hak layanan kesehatan. Ia menekankan bahwakoperasi ke depan tidak hanya bergerak di sektor ekonomi, tetapi juga menjadi sentralayanan kesehatan melalui kehadiran apotek dan klinik. Peran edukatif juga menjadi kekuatan penting Kopdes Merah Putih dalammeningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan penyuluhan, pelatihankader kesehatan, dan kampanye gaya hidup sehat, Kopdes Merah Putih dapatmembantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahanpenyakit. Edukasi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membentukbudaya sehat di tingkat komunitas. Di era digital, Kopdes Merah Putih juga dapat memanfaatkan teknologi untukmemperluas jangkauan layanan kesehatan. Misalnya, dengan menghadirkan layanantelemedicine yang memungkinkan warga desa berkonsultasi dengan dokter tanpaharus bepergian jauh. Kopdes Merah Putih dapat menyediakan fasilitas dan pendampingan bagi warga yang belum familiar dengan teknologi, sehinggakesenjangan digital tidak menjadi penghalang dalam mengakses layanan kesehatanmodern. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang, Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhasmenjelaskan jika pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menyasar 35.408 titik lokasi di seluruh Indonesia. Dari…

Read More
Lewat CKG, Kesehatan Berkualitas Perempuan Diperkuat dengan Pencegahan Dini

Lewat CKG, Kesehatan Berkualitas Perempuan Diperkuat dengan Pencegahan Dini

JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan kesehatan yang adil, merata, dan berkualitas bagi seluruh perempuan Indonesia melalui pendekatan promotif dan preventif yang semakin terintegrasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang menempatkan kesehatan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Forum Nasional Kesehatan Perempuan 2026…

Read More
CKG Ajak Perempuan Jaga Kesehatan Berkualitas Sejak Dini

CKG Ajak Perempuan Jaga Kesehatan Berkualitas Sejak Dini

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan yang semakin preventif dan inklusif. Salah satu langkah strategis yang kini diperluas adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang menekankan pentingnya deteksi dini sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat sehat dan berkualitas, khususnya bagi perempuan sebagai pilar keluarga. Program ini dipandang sebagai bagian dari investasi…

Read More

Pendekatan Preventif melalui CKG untuk Kesehatan Berkualitas Perempuan

Oleh : Gavin Asadit )* Pemerintah Indonesia terus memperkuat transformasi sistem kesehatan nasional dengan menempatkan pendekatan promotif dan preventif sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan. Memasuki tahun 2026, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu kebijakan strategis yang diperluas cakupannya untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya perempuan sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan kesehatan spesifik sepanjang siklus hidupnya….

Read More
CKG Perkuat Kesehatan Berkualitas, Skrining Mata Tekan Risiko Katarak

CKG Perkuat Kesehatan Berkualitas, Skrining Mata Tekan Risiko Katarak

Jakarta, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus menunjukkan perannya dalam memperkuat akses layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat. Salah satu fokus utama yang kini digencarkan adalah skrining kesehatan mata sebagai langkah preventif untuk menekan risiko katarak, yang masih menjadi penyebab utama gangguan penglihatan di Indonesia. Melalui pelaksanaan skrining mata secara rutin dan terintegrasi dalam program CKG,…

Read More