Danantara Perkuat Hilirisasi untuk Tingkatkan Nilai TambahIndustri Nasional

Oleh: Yoga Pranata

Langkah pemerintah melalui penguatan hilirisasi kembali menunjukkan arah kebijakan ekonomiyang menempatkan nilai tambah sebagai prioritas utama, seiring dimulainya pembangunansejumlah proyek strategis Danantara yang diyakini akan mengubah struktur industri nasional dariberbasis komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi dan berdaya saing global.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Bakrie menilai peletakan batupertama enam proyek hilirisasi tahap awal dari total 18 proyek Danantara merupakan sinyal kuatbahwa Indonesia serius mengakselerasi transformasi ekonomi. Menurutnya, hilirisasi bukansekadar jargon kebijakan, melainkan instrumen nyata untuk menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. Denganpengolahan di dalam negeri, sumber daya alam tidak lagi dilepas dalam bentuk mentah, tetapidiubah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang memberi manfaat berlipat bagiperekonomian nasional.

Anindya Bakrie menegaskan bahwa selama ini ekspor Indonesia masih terlalu bergantung padakomoditas primer seperti crude palm oil dan batu bara. Pola ini membuat nilai ekonomi yang dinikmati di dalam negeri relatif terbatas. Melalui hilirisasi, Indonesia didorong untukmengekspor produk turunan yang lebih kompleks, sehingga keuntungan tidak hanya dinikmatioleh pasar luar negeri, tetapi juga mengalir ke sektor industri, tenaga kerja, dan pelaku usahanasional. Ia memandang pergeseran struktur ekspor sebagai keniscayaan agar Indonesia tidakterjebak sebagai pemasok bahan baku semata.

Lebih jauh, Anindya Bakrie menyoroti peran penguasaan teknologi sebagai fondasi keberhasilanhilirisasi. Ia mencontohkan potensi pengolahan silika menjadi wafer silikon yang dibutuhkanindustri semikonduktor. Jika mampu menguasai rantai produksi tersebut, Indonesia berpeluangnaik kelas dalam rantai nilai global dan tidak lagi berada di posisi bawah. Hilirisasi, menurutnya, harus berjalan seiring dengan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusiaagar manfaatnya berkelanjutan.

Optimisme terhadap hilirisasi Danantara juga tercermin dari ragam proyek yang mulai digarap. Proyek bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilaiinvestasi besar, diproyeksikan memperkuat industri logam nasional sekaligus mendukungpeningkatan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Di sektor energi terbarukan, proyek bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, serta proyek biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, menjadi penanda keseriusan pemerintah mendorong energi berbasis sumber dayadomestik. Sementara itu, pembangunan fasilitas integrated poultry di berbagai daerah dan pabrikgaram dengan teknologi mechanical vapor recompression menunjukkan bahwa hilirisasi tidakhanya menyasar industri berat, tetapi juga sektor pangan strategis.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan turut menegaskan bahwa hilirisasimerupakan pilar penting pembangunan ekonomi ke depan. Dalam forum bisnis bersama US Chamber of Commerce di Washington, D.C., Prabowo Subianto menyampaikan komitmenIndonesia untuk memperdalam kerja sama ekonomi dengan Amerika Serikat melalui perjanjianperdagangan yang memberikan kepastian bagi investor. Ia mengajak pelaku usaha Amerika untuk menjalin kemitraan jangka panjang dan melihat Indonesia bukan sekadar sebagai pasar, tetapi sebagai basis produksi yang menjanjikan. Dalam konteks ini, Danantara diposisikansebagai mesin utama yang akan menggerakkan proyek-proyek hilirisasi dan menjadi mitrastrategis investor global.

Prabowo Subianto menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia berada pada jalur yang solid. Pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas lima persen, inflasi yang terkendali, serta disiplinfiskal yang terjaga menjadi modal penting dalam menarik investasi asing. Capaian investasilangsung asing yang tinggi mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap stabilitas politikdan arah kebijakan pemerintah. Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap tantanganseperti korupsi, penyelundupan, dan aktivitas ekonomi ilegal yang masih harus diberantas secarategas demi menciptakan iklim usaha yang sehat.

Dari sektor pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa hilirisasipeternakan unggas yang dijalankan Danantara memiliki tujuan strategis menjaga stabilitas harga. Menurutnya, fluktuasi harga ayam dan telur kerap bersumber dari persoalan di sektor hulu, mulaidari pakan, vaksin, hingga bibit ayam. Dengan melibatkan BUMN untuk bergerak langsung di hulu, pemerintah berupaya menjamin pasokan yang berkelanjutan dan melindungi peternak kecil. Ia menilai langkah ini penting agar kepentingan produsen dan konsumen dapat dijembatanisecara adil.

Dalam setahun terakhir, pemerintah juga mencatat berbagai keberhasilan yang memperkuatfondasi kebijakan hilirisasi, mulai dari pengendalian inflasi pangan, peningkatan realisasiinvestasi, hingga penguatan ketahanan energi dan pangan. Keberhasilan menjaga stabilitasekonomi di tengah ketidakpastian global menjadi bukti bahwa arah kebijakan yang ditempuhberada di jalur yang tepat dan memberi ruang bagi implementasi proyek-proyek strategis sepertiDanantara.

Pada akhirnya, hilirisasi yang diperkuat melalui Danantara bukan hanya soal membangun pabrikatau menambah kapasitas produksi, tetapi tentang keberanian mengubah paradigmapembangunan ekonomi. Dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan investor, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan ekonomi berbasis komoditas mentah danmelangkah menuju industri bernilai tambah tinggi. Tantangan tentu masih ada, namun dengankonsistensi kebijakan dan pengawasan yang kuat, hilirisasi dapat menjadi jalan menujukemandirian ekonomi dan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

*) Analis Transformasi Ekonomi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *