Danantara Siapkan Ekosistem Besar untuk UMKM: Modal, Pasar, dan Rantai Pasok BUMN
Oleh: Meliana Kede
Danantara merancang lompatan besar bagi UMKM dengan membangun ekosistemterintegrasi yang menghubungkan modal, pasar, dan rantai pasok BUMN dalam satuarsitektur ekonomi yang saling menguatkan.
Strategi tersebut tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan, tetapi mengorkestrasi aksesproduksi, distribusi, hingga offtaker korporasi agar pelaku usaha kecil benar-benar naik kelasdan bertumbuh berkelanjutan.
Melalui berbagai inisiatif, Danantara menempatkan UMKM sebagai bagian penting daridesain pertumbuhan nasional. Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, FithraFaisal Hastiadi, menegaskan arah pembangunan pemerintah melalui proyek Danantaradifokuskan pada penciptaan ekosistem ekonomi inklusif.
Ia menjelaskan pemerintah tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang menyerap tenaga kerja dan memperkuat kelas menengah. Menurutnya, ekspansi Danantara kesektor seperti peternakan ayam atau tekstil bertujuan mendorong pertumbuhan yang merataagar hasil ekonomi tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Fithra memaparkan data growth incidence curve yang menunjukkan tekanan terhadap kelasmenengah. Ia menyebut jumlah kelas menengah turun dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi47,3 juta pada periode 2024–2025.
Kelompok tersebut berada di posisi rentan karena tidak tergolong miskin penerima bantuansosial, namun juga tidak cukup kuat menghadapi gejolak ekonomi. Karena itu, ia mendorongpembangunan inclusive economic ecosystem agar “kue ekonomi” dinikmati masyarakat luasdan tidak membentuk institusi yang bersifat ekstraktif.
Visi tersebut diterjemahkan Danantara dalam proyek hilirisasi dan penguatan sektor riil. Enam proyek fase pertama mencakup pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah dan Kuala Tanjung, pengembangan bioetanol di Glenmore, biorefinery di Cilacap, fasilitas poultry terintegrasi di berbagai daerah, serta penguatan industri garammelalui teknologi mechanical vapor recompression di Jawa Timur.
Proyek-proyek tersebut bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapimembuka peluang rantai pasok baru bagi UMKM di sektor pangan, manufaktur, dan jasapendukung.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan lembaganya menyiapkaninstrumen konkret agar UMKM naik kelas. Ia menguraikan ketersediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program Mekaar sebagai fondasi pembiayaan.
Selain itu, Danantara menggerakkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan untukmemperkuat kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan dan peningkatan kualitas produk. Menurutnya, pembinaan tersebut bertujuan menciptakan standar yang konsisten sehinggaUMKM mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dony juga menekankan konsolidasi BUMN sebagai kunci pembukaan pasar. Ia menjelaskanDanantara memiliki jaringan 130 hotel serta rumah sakit yang dapat dioptimalkan sebagaipasar bagi produk UMKM, mulai dari kebutuhan amenitas hingga pasokan barang dan jasalainnya.
Langkah tersebut mengubah posisi UMKM dari sekadar pemasok kecil menjadi mitrastrategis dalam rantai pasok BUMN. Melalui skema itu, UMKM tidak hanya memperolehakses pasar, tetapi juga kepastian permintaan yang lebih stabil.
Perluasan akses tidak berhenti pada sektor konvensional. Chief Marketing Officer DanantaraAsset Management, Dendi Tegar Danianto, mendorong pergeseran orientasi UMKM daribusiness-to-consumer menuju business-to-business.
Ia menilai sektor B2B menawarkan pertumbuhan yang lebih terukur dan berkelanjutan karenakontrak dan volume transaksi cenderung lebih stabil. Dendi menjelaskan pemanfaatanplatform digital seperti Pasar Digital UMKM membuka koneksi langsung antara pelakuusaha dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan BUMN sebagai offtaker.
Menurutnya, potensi pasar BUMN sangat besar dan mampu menjadi lokomotif pertumbuhanUMKM. Integrasi tersebut tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga memaksa peningkatanprofesionalisme.
Dendi menyebut Danantara berupaya membuka nilai tambah melalui sistem bisnis yang lebihtertata, efektif, dan efisien. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi karenatidak semua pelaku usaha siap melakukan transaksi dan komersialisasi secara digital.
Selain penguatan kapasitas dan akses pasar, Dendi menempatkan pembiayaan sebagai faktorakselerator. Ia menilai UMKM yang telah memperoleh kontrak B2B memerlukan dukunganmodal agar mampu memenuhi skala permintaan besar. Tanpa pembiayaan memadai, peluangpasar dapat terhambat. Karena itu, integrasi antara akses pasar dan akses pendanaan menjadistrategi kunci dalam desain ekosistem Danantara.
Pendekatan menyeluruh tersebut memperlihatkan bahwa Danantara tidak membangunprogram parsial, melainkan arsitektur ekonomi yang menghubungkan produksi, pembiayaan, dan distribusi dalam satu siklus pertumbuhan.
Dengan mendorong BUMN memprioritaskan UMKM dalam rantai pasok, memperluas aksesKUR dan Mekaar, serta mempercepat transformasi B2B digital, Danantara menyiapkanpanggung besar bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh lebih kokoh.
Jika desain tersebut berjalan konsisten, UMKM tidak lagi berdiri di pinggir ekosistemekonomi nasional. Mereka masuk ke pusat arus produksi dan konsumsi, terhubung denganpasar besar, dan didukung instrumen pembiayaan yang terstruktur. Pada titik tersebut, ekosistem inklusif bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan fondasi nyata bagi penguatankelas menengah dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. (*)
Analis Ekonomi Makro – Sentra Ekonomi Nusantara (SEN)
