Dari Lampu Merah ke Ruang Kelas: Sekolah Rakyat Nyalakan Harapan Baru Anak Jalanan

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Di berbagai persimpangan jalan, anak-anak yang mengamen, memulung, ataumenjajakan barang dagangan kerap menjadi pemandangan sehari-hari. Bagi sebagianmasyarakat, mereka adalah bagian dari realitas perkotaan yang sulit diubah. Namun, melalui Program Sekolah Rakyat, pemerintah berupaya mengubah nasib anak-anakyang selama ini hidup dan bekerja di jalanan dengan menghadirkan akses pendidikanyang lebih inklusif dan berkelanjutan. Program ini menjadi jembatan yang membawamereka dari lampu merah menuju ruang kelas, sekaligus membuka peluang untukmeraih masa depan yang lebih baik. 

Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah dirancang untuk menjangkaukelompok masyarakat yang selama ini berada di lapisan paling rentan, termasuk anakjalanan, anak terlantar, serta anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang belummendapatkan layanan pendidikan secara optimal. Melalui pendekatan penjangkauanaktif, pemerintah tidak menunggu calon peserta didik datang mendaftar, melainkanmendatangi langsung kelompok sasaran berdasarkan data sosial yang telah diverifikasi. 

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa Sekolah Rakyat hadir sebagai upayamemperluas akses pendidikan bagi anak-anak yang belum atau putus sekolah. Program tersebut secara khusus menjangkau anak-anak yang hidup di jalanan agar mereka dapat kembali memperoleh pendidikan formal dan kesempatanmengembangkan potensi diri. 

Data penjangkauan yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa cukup banyakcalon siswa Sekolah Rakyat berasal dari lingkungan jalanan. Dari puluhan anak yang berhasil dijaring di wilayah Jakarta, sebagian besar ditemukan ketika bekerja di jalansebagai pengamen, pemulung, atau pekerja informal lainnya. Kondisi tersebutmenggambarkan masih besarnya tantangan pendidikan bagi kelompok rentan di perkotaan sekaligus memperlihatkan pentingnya intervensi negara dalam memutusrantai kemiskinan antargenerasi. 

Kisah-kisah yang muncul dari program ini menjadi bukti nyata dampak transformasiyang sedang berlangsung. Salah satunya adalah pengalaman seorang calon siswayang sempat putus sekolah sejak duduk di bangku sekolah dasar akibat kesulitanekonomi keluarga. Selama bertahun-tahun ia menghabiskan hidup di jalanan dan bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Kini, melalui Sekolah Rakyat, ia kembalimemperoleh kesempatan belajar yang sebelumnya terasa mustahil diraih. Harapan yang sempat padam perlahan kembali menyala. 

Pemerintah menilai pendidikan menjadi instrumen paling efektif untuk mengangkatharkat hidup keluarga miskin. Karena itu, Sekolah Rakyat tidak hanya menyediakanpembelajaran akademik, tetapi juga menerapkan sistem pendidikan berasrama yang memungkinkan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pengembangan keterampilanhidup peserta didik secara lebih komprehensif. Sistem tersebut dirancang agar siswamendapatkan lingkungan belajar yang kondusif sekaligus terbebas dari berbagai risikososial yang selama ini mereka hadapi di lingkungan asal. 

Menurut Saifullah Yusuf atau yang biasa disapa Gus Ipul, Sekolah Rakyat merupakanbentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang selama ini belumsepenuhnya menikmati hasil pembangunan. Ia menegaskan bahwa Presidenmenginginkan seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan yang layak tanpa adayang tertinggal, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menjadigenerasi pemimpin bangsa di masa depan. 

Komitmen tersebut juga tercermin dalam pengembangan program yang terus diperluas. Pemerintah saat ini telah mengoperasikan ratusan titik Sekolah Rakyat di berbagaiprovinsi dan terus mempercepat pembangunan fasilitas permanen guna meningkatkankapasitas layanan pendidikan. Saat ini, pembangunan telah berjalan di 93 titik, sementara tujuh titik masih dalam proses lelang dan empat titik lainnya dalam tahappersiapan. Langkah ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak sekadar program jangka pendek, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan sumber dayamanusia Indonesia. 

Memasuki hampir satu tahun penyelenggaraan, Kementerian Sosial (Kemensos)berencana menggelar kegiatan open house Sekolah Rakyat untuk memperlihatkansecara langsung proses pembelajaran, fasilitas pendidikan, serta perkembangan para siswa kepada masyarakat. Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa kegiatan tersebutbertujuan meningkatkan pemahaman publik mengenai penyelenggaraan SekolahRakyat sekaligus memperkuat dukungan berbagai pihak terhadap program tersebut. 

Pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat dapat menampung sekitar 32 ribu siswa barutahun ini. Jika digabungkan dengan sekitar 15 ribu siswa yang telah lebih dulumengikuti program, total peserta didik Sekolah Rakyat diperkirakan mencapai lebih dari47 ribu siswa. Angka tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan sekaligus besarnyaharapan masyarakat terhadap akses pendidikan yang lebih merata bagi kelompokrentan. 

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, IditSupriadi Priatna mengatakan anak jalanan menjadi target utama untuk mengikutiprogram Sekolah Rakyat yang akan digulirkan pemerintah. Mereka yang akanmengikuti program itu berangkat dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang telah diintegrasikan dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi bangsa, Sekolah Rakyat menghadirkan optimisme baru. Program ini tidak hanya memindahkan anak-anak darijalanan ke bangku sekolah, tetapi juga mengubah cara pandang bahwa kemiskinanbukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Melalui pendidikan yang inklusif, pendampinganyang berkelanjutan, serta dukungan berbagai pihak, anak-anak yang sebelumnya hidupdi bawah bayang-bayang keterbatasan kini memiliki kesempatan untuk bermimpi lebihbesar.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *