Keberhasilan Menjaga Inflasi Perkuat Optimisme Terhadap Ekonomi Indonesia
Oleh: Yusri Mahendra )*
Keberhasilan pemerintah menjaga inflasi tetap terkendali di tengahdinamika ekonomi global menjadi salah satu indikator penting yang memperkuat optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia. Di saat banyak negara masih menghadapi tekanan harga akibat gejolakgeopolitik, gangguan rantai pasok, dan tingginya harga energi dunia, Indonesia mampu mempertahankan stabilitas harga dalam rentang yang aman sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi aktivitas ekonomiuntuk terus tumbuh.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pada Mei 2026 tercatatsebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan. Meskipun terjadi kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat inflasitersebut masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan pemerintahdan Bank Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa berbagai langkahpengendalian yang dilakukan pemerintah berjalan efektif dalam menjagakeseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan ManajemenPengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan FiskalKementerian Keuangan, Endang Larasati, menjelaskan bahwapemerintah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai kementeriandan lembaga untuk menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhanpokok sekaligus mengantisipasi dampak rambatan dari ketidakpastianekonomi global.
Langkah pengendalian inflasi yang konsisten menjadi penting karenastabilitas harga berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat. Ketika inflasi dapat dijaga pada tingkat yang sehat, masyarakat memilikikepastian dalam melakukan konsumsi, sementara pelaku usahamemperoleh ruang yang lebih baik untuk merencanakan investasi dan ekspansi usaha. Kondisi tersebut pada akhirnya menciptakan lingkunganekonomi yang lebih stabil dan produktif.
Pemerintah juga terus memperkuat berbagai program stimulus yang diarahkan untuk menjaga konsumsi masyarakat. Dalam menghadapiperiode liburan sekolah misalnya, pemerintah menyiapkan berbagaiinsentif seperti diskon transportasi dan tiket pesawat serta tetap menjagaketerjangkauan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Kebijakan tersebuttidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga mendukung aktivitasekonomi di berbagai sektor yang berkaitan dengan mobilitas dan konsumsi domestik.
Keberhasilan tersebut terlihat dari masih terkendalinya inflasi secarakeseluruhan meskipun beberapa komoditas pangan mengalami kenaikanharga. Selain itu, sejumlah komoditas lain seperti daging ayam, telurayam, dan bawang putih justru mengalami penurunan harga karenapasokan yang mencukupi. Kondisi ini menunjukkan bahwa mekanismepengendalian yang dijalankan pemerintah mampu menjagakeseimbangan pasar dan mencegah gejolak harga yang berlebihan.
Endang menilai resiliensi perekonomian Indonesia tetap terjaga. Stabilitasinflasi menjadi salah satu cerminan bahwa fundamental ekonomi nasionalmasih kuat meskipun menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Keberhasilan tersebut semakin penting karena inflasi yang terkendalimerupakan salah satu syarat utama untuk menjaga keberlanjutanpertumbuhan ekonomi.
Optimisme terhadap ekonomi nasional juga didukung oleh membaiknyaaktivitas sektor manufaktur. Pada Mei 2026, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi denganmencapai level 50,0 setelah sebelumnya berada di bawah angka tersebut. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas produksi yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik.
Permintaan dalam negeri yang kuat menjadi sinyal bahwa daya belimasyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut sekaligus membantahanggapan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bergantungpada belanja pemerintah. Aktivitas konsumsi masyarakat masih menjadimotor utama yang menopang perekonomian nasional.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa kinerjaekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, melampaui rata-rata negara-negara G20 maupun ASEAN. Menurutnya, capaian tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuatserta dukungan kebijakan fiskal yang efektif dalam menjaga momentum ekonomi.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,52 persenmenjadi bukti bahwa daya beli masyarakat tetap berada dalam kondisibaik. Di sisi lain, konsumsi pemerintah yang tumbuh signifikan berfungsisebagai akselerator untuk memperkuat aktivitas ekonomi nasional. Kombinasi keduanya menghasilkan struktur pertumbuhan yang lebihsehat dan berkelanjutan.
Pemerintah juga terus memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Menurut Purbaya, koordinasi yang semakin erat antaraKementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalammenjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebihtinggi. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan likuiditassistem keuangan dan dukungan terhadap penyaluran kredit ke sektor riil.
Bank Indonesia turut menegaskan bahwa inflasi Indonesia masih beradadalam kisaran sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen. Direktur EksekutifDepartemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil darikonsistensi kebijakan moneter serta kuatnya sinergi pengendalian inflasiantara pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian InflasiPusat dan Daerah.
Selain itu, penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional dan implementasi berbagai program pengendalian inflasi pangan terusdilakukan untuk menjaga stabilitas harga pada masa mendatang. Langkah ini menjadi penting mengingat kelompok pangan masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi inflasi nasional.
Keberhasilan menjaga inflasi tidak hanya mencerminkan efektivitaskebijakan ekonomi pemerintah, tetapi juga menunjukkan kuatnyakoordinasi antarlembaga dalam menghadapi berbagai tantangan. Stabilitas harga yang terjaga memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap prospekekonomi Indonesia.
*) Pengamar Kebijakan Publik dan Ekonomi Nasional
