Molinas Jadi Simbol Keberanian Pemerintah Membangun Industri Masa Depan
Oleh : Antonius Utomo
Peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Agustus 2026 menjadi salah satu penandapenting dalam perjalanan transformasi ekonomi Indonesia menuju era industri berteknologitinggi. Kehadiran Molinas tidak hanya dimaknai sebagai peluncuran sebuah produkkendaraan listrik, tetapi juga sebagai simbol keberanian pemerintah dalam membangunfondasi industri masa depan yang berbasis inovasi, kemandirian teknologi, dan penguatanrantai pasok nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, langkah inimenunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pasar bagi produk teknologidunia, melainkan berupaya menjadi pemain utama yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pandangantersebut mencerminkan arah pembangunan nasional yang tidak lagi hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan mengolah pengetahuan menjadikekuatan ekonomi baru. Karena itu, pengembangan industri kendaraan listrik diposisikansebagai bagian dari strategi besar untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam ekonomiglobal yang semakin berbasis teknologi. (Kementerian Pertahanan RI)
Keberanian pemerintah terlihat dari pendekatan yang ditempuh dalam membangun ekosistemMolinas. Program ini tidak dirancang sebagai proyek jangka pendek atau sekadar peluncuransatu merek kendaraan listrik. Molinas hadir sebagai ekosistem menyeluruh yang mencakupmanufaktur, pengembangan komponen, industri baterai, pembiayaan, distribusi, hinggadukungan infrastruktur pengisian daya. Pendekatan tersebut menunjukkan keseriusanpemerintah dalam memastikan bahwa manfaat ekonomi dari perkembangan industrikendaraan listrik dapat dirasakan secara luas oleh pelaku usaha nasional, industri pendukung, hingga masyarakat sebagai pengguna akhir.
Di sisi lain, pengembangan Molinas juga memperkuat agenda hilirisasi yang selama inimenjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Indonesia memiliki cadangan mineral strategis yang sangat besar, termasuk nikel yang menjadi bahan utama baterai kendaraanlistrik. Dengan membangun industri kendaraan listrik secara terintegrasi, pemerintahberupaya memastikan bahwa nilai tambah dari sumber daya tersebut dapat dinikmati di dalam negeri. Kebijakan ini sekaligus membuka peluang lahirnya berbagai industri baru yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan kapasitas produksi nasional, dan memperkuatposisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakanIndonesia memiliki pengalaman dalam mengembangkan proyek kendaraan nasional yang mendapat perhatian besar ketika pertama kali diluncurkan.
Optimisme terhadap Molinas juga didukung oleh berbagai proyeksi ekonomi yang menjanjikan. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan ekosistemMolinas berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun pada periode 2026–2031. Selain itu, program ini diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 215 ribu lapangankerja di sektor manufaktur, komponen, baterai, serta infrastruktur pendukung kendaraanlistrik. Dari sisi fiskal, penggunaan motor listrik secara luas juga berpotensi menghematsubsidi bahan bakar minyak hingga Rp82,2 triliun dalam kurun waktu 2027–2037. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa transformasi menuju kendaraan listrik bukan hanyaagenda lingkungan, melainkan juga strategi ekonomi yang memiliki dampak nyata bagipembangunan nasional.
Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian mengatakan program Motor Listrik Nasional (Molinas) memberikan penghematan subsidi BBM sebesar Rp82,2 triliun, dalam kurun waktu 2027 hingga 2037, serta dengan asumsi 11 juta unit beroperasi pada tahun2037. Selain memberikan penghematan subsidi BBM, katanya, ekosistem program inidiperkirakan memberikan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun sepanjang 2026–2031, sertamenciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai, dan infrastruktur pengisian daya.
Pembangunan industri masa depan tentu tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Karena itu, konsep “Indonesia Incorporated” yang diusung Presiden Prabowo menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Molinas. Konsep ini menekankan pentingnyakolaborasi antara pemerintah, BUMN, swasta, akademisi, lembaga riset, dan pelaku usahadalam membangun kekuatan nasional. Melalui kerja sama lintas sektor tersebut, Indonesia berupaya menciptakan ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan produk berdaya saingtinggi sekaligus mempercepat transfer teknologi kepada industri dalam negeri.
Dukungan dari kalangan perguruan tinggi dan komunitas riset juga menjadi faktor pentingdalam memperkuat keberlanjutan program ini. Keterlibatan berbagai institusi pendidikantinggi menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan listrik nasional tidak hanya berorientasipada produksi, tetapi juga pada penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas sumber dayamanusia. Dengan demikian, Molinas dapat menjadi wahana bagi lahirnya inovasi-inovasibaru yang memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri teknologi global.
Pada akhirnya, Molinas merepresentasikan keberanian Indonesia untuk melangkah lebih jauhdalam membangun masa depan. Di tengah tantangan global yang terus berubah, pemerintahmemilih untuk mengambil inisiatif, berinvestasi pada teknologi, dan memperkuat industrinasional sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Langkah ini menunjukkan keyakinanbahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk tidak hanya mengikuti perkembangan dunia, tetapijuga menjadi bagian dari negara-negara yang membentuk arah perkembangan industri masa depan. Molinas bukan sekadar motor listrik nasional, melainkan simbol transformasi, kemandirian, dan optimisme menuju Indonesia yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saingglobal.
)* Pengamat Kebijakan Publik
