Otsus Pendidikan Papua Tegaskan Komitmen Negara Tingkatkan Kualitas SDM
Oleh : Loa Murib )*
Otonomi Khusus Papua pada hakikatnya bukan sekadar kebijakan fiskal, melainkaninstrumen afirmatif negara untuk memastikan keadilan pembangunan bagi Orang Asli Papua. Di antara berbagai sektor strategis, pendidikan menempati posisi paling fundamental karena menjadi fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkelanjutan. Implementasi Otsus di bidang pendidikan, baik melalui skema beasiswa, bantuan operasional, maupun program afirmasi lainnya, semakin menegaskankomitmen negara dalam membuka akses seluas-luasnya bagi generasi muda Papua untuk tumbuh, belajar, dan bersaing di tingkat nasional maupun global.
Di Kabupaten Biak Numfor, program beasiswa yang bersumber dari dana Otsus dan dukungan program nasional telah memberikan kepastian bagi ribuan siswa darikeluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat memastikan distribusi Program Indonesia Pintar dan Kartu Biak Pintar berjalan tepat sasaran, termasuk bagi siswa di wilayah terpencil yang selama inimenghadapi keterbatasan akses terhadap layanan perbankan. Pemerintah daerahmenggandeng bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara, terutama BRI dan BNI, guna mempercepat pembukaan rekening siswa penerima manfaat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Kamaruddin, menegaskanbahwa proses administrasi pencairan bantuan telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan rampung paling lambat Februari 2026 sehingga para siswa dapat segeramemanfaatkan dana tersebut untuk kebutuhan pendidikan. Ia juga menjelaskan bahwakepala sekolah di daerah sulit akses diberi kewenangan untuk mengambil bukutabungan dan menyerahkannya langsung kepada orang tua siswa tanpa menyentuhfisik dana bantuan, sebagai langkah menjaga transparansi dan akuntabilitaspenyaluran. Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalammemastikan bantuan Otsus benar-benar diterima oleh yang berhak tanpa hambatanbirokrasi yang berbelit.
Sekitar 6.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK di Biak Numfor telah diajukansebagai penerima bantuan dengan nominal yang disesuaikan berdasarkan jenjangpendidikan. Dana Otsus juga dimanfaatkan untuk memperkuat Kartu Biak Pintar sebagai pelengkap pembiayaan pendidikan daerah. Skema ini memperlihatkan bahwaOtsus tidak berhenti pada tataran kebijakan normatif, tetapi diterjemahkan dalamlangkah teknis yang konkret dan terukur. Dengan pengawasan yang lebih ketat dan kolaborasi lintas sektor, potensi kebocoran dapat diminimalkan sehingga manfaatnyadirasakan secara luas.
Dampak Otsus pendidikan tidak berhenti pada jenjang dasar dan menengah. Pada tingkat pendidikan tinggi, beasiswa Otsus telah membuka jalan bagi putra-putri Papua untuk menempuh studi di perguruan tinggi bergengsi, termasuk di luar negeri. Pengalaman Cecilia Novani Mehue yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di Oregon State University menjadi gambaran konkret bagaimana afirmasi pendidikan mampumelahirkan sumber daya manusia unggul. Ia memaknai dirinya sebagai aset hidup darikebijakan Otsus dan menyatakan komitmennya untuk kembali ke Papua demi mengabdi kepada masyarakat.
Latar belakang keluarga sederhana yang dihadapi Cecilia mencerminkan realitas sosialbanyak anak muda Papua. Namun melalui beasiswa Otsus, keterbatasan ekonomi tidaklagi menjadi penghalang absolut untuk meraih pendidikan tinggi. Sekembalinya ketanah kelahiran, ia tidak hanya berkiprah sebagai anggota DPRP Papua melalui jalurpengangkatan Otsus, tetapi juga aktif dalam pemberdayaan masyarakat, membukalapangan kerja bagi anak muda, serta terlibat dalam kegiatan pendidikan dan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pendidikan melalui Otsus memiliki efek berganda, meningkatkan kapasitas individu sekaligus mendorong dampak sosial-ekonomi yang lebih luas.
Pandangan serupa disampaikan Puteri Indonesia Papua 2023, Yunita Alanda Monim, yang menilai program beasiswa Otsus semakin berkembang dan memberi peluanglebih besar bagi generasi muda. Ia menekankan pentingnya penguatan sosialisasi agar informasi mengenai program Otsus dapat diakses secara merata, terutama oleh pelajardi daerah terpencil. Pengalaman sebagian pelajar yang belum memperoleh informasimemadai menjadi catatan penting bahwa keberhasilan kebijakan tidak hanya ditentukanoleh besaran anggaran, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi publik dan pendampingan yang berkelanjutan.
Otsus pendidikan perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas sebagai strategi jangkapanjang pembangunan Papua. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakankunci untuk mengurangi ketimpangan, memperkuat partisipasi Orang Asli Papua dalampemerintahan dan sektor ekonomi, serta menjaga keberlanjutan pembangunan. Kerjasama internasional yang dibangun pemerintah provinsi, termasuk peluang beasiswaluar negeri, mempertegas orientasi global dari kebijakan ini. Generasi muda Papua tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang dipersiapkan untuk memimpin dan mengelola daerahnya sendiri.
Dengan demikian, Otsus Pendidikan Papua bukan hanya tentang angka anggaran ataulaporan administratif, tetapi tentang harapan yang diwujudkan. Setiap beasiswa yang tersalurkan, setiap rekening siswa yang dibuka, dan setiap anak Papua yang berhasilmelanjutkan pendidikan tinggi merupakan simbol hadirnya negara. PernyataanKamaruddin mengenai percepatan pencairan dan mekanisme distribusi yang akuntabelmemperkuat keyakinan bahwa pengelolaan Otsus di bidang pendidikan semakinprofesional. Komitmen ini perlu terus diperkuat melalui tata kelola yang transparan, sosialisasi yang masif, serta kolaborasi lintas sektor agar peningkatan kualitas SDM Papua benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan daerah dan keutuhanbangsa.
*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur
