Pemerintah Bersihkan Data Penerima PKH dan BPNT agar Lebih Tepat Sasaran

Jakarta – Pemerintah mulai menyalurkan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) untuk triwulan ketiga periode Juli–September pada 20 Juli 2026. Penyaluran dilakukan setelah Kementerian Sosial (Kemensos) menyelesaikan pemutakhiran data penerima agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang memenuhi kriteria. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan proses administrasi penyaluran telah…

Read More

Bansos PKH dan BPNT Triwulan III Cair, Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat

Jakarta – Pemerintah mulai menyalurkan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk Triwulan III Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat, memperkuat perlindungan sosial, dan mendukung pemulihan ekonomi nasional. Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap melalui mekanisme yang terintegrasi dengan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN)…

Read More

Resiliensi Generasional dan Edukasi Karakter Sebagai Fondasi Keamanan Siber Nasional

Oleh: Samantha Celine *) Perkembangan teknologi informasi telah menempatkan Indonesia pada pusaran transformasi digital yang masif, di mana batas-batas geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi sirkulasi data. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun dua ribu dua puluh enam, tingkat penetrasi internet nasional telah menyentuh angka 81,72 persen atau mencakup sekitar 235 juta jiwa dari…

Read More

Literasi Digital sebagai Strategi Menghadapi Perang Informasi

Oleh: Sri Seruni Prabasmoro)* Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memproduksi, dan menyebarkan informasi. Dalam hitungan detik, sebuah narasidapat menjangkau jutaan orang tanpa mengenal batas wilayah maupun waktu. Kemudahan tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar era digital, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan berupa banjir informasi yang tidakseluruhnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Situasi ini membuatmasyarakat harus berhadapan dengan informasi yang bercampur antara fakta, opini, manipulasi, hingga disinformasi. Perang informasi kini menjadi salah satu tantangan utama di era transformasi digital. Persaingan tidak lagi hanya berlangsung di bidang ekonomi atau militer, tetapi juga dalam perebutan persepsi publik melalui ruang digital yang semakin terbuka. Di tengah kondisi tersebut, literasi digital berkembang menjadi strategi yang sangat penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat. Sebab kemampuan berpikirkritis, memverifikasi informasi, dan memahami etika bermedia menjadi modal utamaagar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut mengubah karakterancaman informasi secara drastis. Konten manipulatif kini dapat diproduksi dalambentuk teks, gambar, suara, hingga video yang tampak sangat meyakinkan sehinggasemakin sulit dibedakan dengan informasi yang asli. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakanarah baru literasi digital tidak lagi hanya mengajarkan masyarakat menggunakanperangkat teknologi. Menurutnya, literasi digital harus membangun kemampuanberpikir kritis, memahami etika digital, serta meningkatkan kesadaran masyarakatterhadap berbagai risiko yang muncul di ruang siber. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan gawai bukanlagi ukuran utama kecakapan digital seseorang. Yang jauh lebih penting adalahkemampuan memahami konteks informasi, mengenali sumber yang kredibel, sertamengambil keputusan berdasarkan fakta yang telah diverifikasi. Nezar menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepatmengharuskan pemerintah melakukan penyesuaian terhadap pendekatan literasidigital. Ia menilai masyarakat harus dipersiapkan menjadi warga digital yang mampumemahami konsekuensi dari setiap aktivitasnya di internet dan tidak mudah terjebakoleh informasi yang menyesatkan. Pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun kemampuan tersebut sejakusia dini. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, hingga komunitas memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk budaya verifikasi dan kebiasaan berpikir kritisterhadap setiap informasi yang diterima. Hal tersebut menjadi semakin relevan bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan internet dan media sosial. Kelompok usia ini memiliki aksesteknologi yang sangat baik, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang samadalam memilah kualitas informasi yang dikonsumsi setiap hari. Literasi digital juga tidak dapat dipisahkan dari keberadaan media massa sebagaipenyedia informasi yang telah melalui proses verifikasi jurnalistik. Di tengahderasnya arus konten media sosial, media profesional tetap menjadi salah saturujukan penting bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat dan berimbang. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengatakanlembaga penyiaran memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas ruanginformasi nasional. Ia mendorong media penyiaran secara rutin melakukan koreksiterhadap hoaks agar masyarakat memperoleh klarifikasi yang cepat dan mudahdipahami. Menurut Rahayu, langkah tersebut tidak hanya membantu meluruskan informasiyang keliru, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap media yang menjalankan fungsi verifikasi secara konsisten. Upaya tersebut sekaligusmenjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi informasi di tengahmasyarakat. Hal itu menunjukkan bahwa perang informasi tidak dapat dihadapi oleh pemerintahsendiri. Kolaborasi antara pemerintah, media massa, lembaga pendidikan, platform digital, komunitas pemeriksa fakta, serta masyarakat sipil menjadi syarat pentinguntuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Pada saat yang sama, platform digital juga perlu terus memperkuat sistem moderasiterhadap penyebaran konten yang terbukti menyesatkan. Langkah tersebut perludiimbangi dengan transparansi algoritma agar masyarakat memahami mengapasuatu informasi lebih sering muncul dibandingkan informasi lainnya. Kesadaran mengenai cara kerja algoritma media sosial akan membantu masyarakatmenjadi pengguna yang lebih bijak. Dengan memahami bahwa algoritma cenderungmemperkuat konten yang memancing perhatian, masyarakat dapat lebih berhati-hatidalam menerima maupun menyebarkan informasi. Budaya verifikasi juga perlu menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan digital masyarakat Indonesia. Langkah sederhana seperti memeriksa tanggal publikasi, membaca informasi secara utuh,…

Read More

Kolaborasi Pemerintah, Sekolah, dan Industri Kreatif Perkuat Ruang Digital Anak

Oleh: Sri Seruni Prabasmoro)* Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang belajar, bermain, dan berinteraksi yang semakin luas bagi anak-anak. Di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan berbagai risiko, mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, perundungan siber, hingga eksploitasi data pribadi yang dapat memengaruhi tumbuhkembang mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak dapatdibebankan kepada satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antarapemerintah, sekolah, keluarga, platform digital, dan industri kreatif agar anak-anakdapat memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan produktif. Seiring meningkatnya penggunaan internet oleh anak-anak Indonesia, pendekatanperlindungan digital juga mengalami perubahan. Fokusnya tidak lagi hanya pada pembatasan akses, tetapi juga membangun ekosistem yang mampu membimbinganak menjadi pengguna internet yang cerdas, bertanggung jawab, dan memahamirisiko di dunia digital. Karena itu, kebijakan perlindungan anak di ruang digital perlu diiringi denganedukasi yang berkelanjutan. Regulasi yang baik akan lebih efektif apabila didukungoleh keterlibatan keluarga, guru, komunitas, dan pelaku industri yang sama-samaberkomitmen menciptakan lingkungan digital yang ramah anak. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan implementasi PeraturanPemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalamPelindungan Anak atau PP TUNAS akan berjalan efektif apabila didukung oleh peran aktif keluarga dan tenaga pendidik. Menurutnya, perlindungan anak di ruangdigital bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkanketerlibatan seluruh elemen masyarakat yang mendampingi anak dalam kehidupansehari-hari. Meutya menjelaskan bahwa orang tua dan guru memiliki posisi strategis dalammembentuk kebiasaan digital anak sejak dini. Pendampingan yang konsisten akanmembantu anak memahami batasan penggunaan internet, mengenali potensi risiko, sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan mengembangkankreativitas. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa literasi digital harus dimulai darilingkungan terdekat anak. Ketika keluarga mampu membangun komunikasi yang terbuka mengenai penggunaan internet, anak akan lebih mudah menyampaikanpengalaman maupun permasalahan yang mereka hadapi di ruang digital. Sekolah juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam memperkuat karakterdigital peserta didik. Pendidikan mengenai etika bermedia, keamanan data pribadi, serta kemampuan berpikir kritis terhadap informasi perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berlangsung secara berkesinambungan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemerintahmenggandeng berbagai pelaku industri kreatif untuk menyosialisasikan implementasiPP TUNAS. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar perlindungan anak tidakberhenti pada aspek regulasi, tetapi juga tercermin dalam ekosistem konten digital yang lebih sehat dan ramah anak. Nezar menilai industri kreatif memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaankonsumsi media generasi muda. Oleh karena itu, keterlibatan kreator konten, rumahproduksi, pengembang gim, hingga platform digital diharapkan mampumenghadirkan lebih banyak konten yang mendidik sekaligus menghibur. Kolaborasi tersebut juga menjadi strategi untuk memperluas jangkauan edukasikepada masyarakat. Pesan mengenai keamanan digital akan lebih mudah diterimaapabila disampaikan melalui berbagai bentuk konten kreatif yang dekat dengankehidupan sehari-hari anak dan remaja. Karena itu, penguatan ruang digital yang sehat harus dilakukan secara adaptifmengikuti perkembangan teknologi. Pendekatan yang menggabungkan regulasi, edukasi, inovasi, dan kolaborasi akan jauh lebih efektif dibandingkan kebijakan yang hanya bersifat represif. Implementasi kebijakan tersebut juga memerlukan dukungan pemerintah daerahagar edukasi dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat komunitas. Pemerintahdaerah memiliki posisi strategis dalam menghubungkan kebijakan nasional dengankebutuhan masyarakat di lapangan. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar Muhammad Roemmengatakan pihaknya terus menggencarkan edukasi mengenai PP TUNAS agar anak-anak siap menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Menurutnya, pemahaman sejak dini mengenai etika digital dan keamanan bermedia sosial akanmembantu menciptakan generasi yang lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi. Roem menjelaskan bahwa sosialisasi kepada masyarakat menjadi bagian pentingdalam membangun budaya digital yang sehat. Dengan semakin banyak pihak yang memahami tujuan PP TUNAS, implementasi kebijakan tersebut diharapkan dapatberjalan lebih efektif dan memberikan perlindungan nyata bagi anak-anak. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan perlindungan anak di ruangdigital sangat bergantung pada konsistensi edukasi. Semakin luas pemahamanmasyarakat mengenai pentingnya pendampingan digital, semakin kuat pula ketahanan anak dalam menghadapi berbagai risiko di…

Read More

Bersatu Mengawal Kebijakan Siber Nasional demi Kedaulatan Informasi Ruang Digital

Oleh: Partono Silalahi *) Transformasi digital yang berlangsung cepat di Indonesia membawa perubahan fundamental dalam cara masyarakat berkomunikasi, berinteraksi, dan mengelola informasi. Di balik kemudahan akses yang ditawarkan, akselerasi teknologi ini sekaligus menghadirkan tantangan kompleks berupa kerentanan keamanan siber dan potensi konflik sosial digital yang dapat mengancam stabilitas nasional. Menghadapi realitas tersebut, pemerintah bergerak progresif untuk memperkuat…

Read More

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Resiliensi Media Ramah Anak

Jakarta – Pemerintah memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun ruang digital yang aman bagi anak sebagai bagian dari resiliensi media dan ketahanan informasi nasional. Upaya tersebut dijalankan melalui Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak atau Gernas RANA yang mengintegrasikan perlindungan anak, penguatan keluarga, partisipasi masyarakat, keamanan digital, dan respons cepat terhadap kekerasan. Asisten Deputi Penyedia Layanan Anak yang…

Read More

Pemerintah Bangun Resiliensi Media melalui Penindakan Konten Judi Daring

Jakarta – Pemerintah memperkuat sinergi dengan platform digital untuk membangun resiliensi media nasional dari penyebaran konten judi daring. Kolaborasi diarahkan pada peningkatan kemampuan deteksi, percepatan penindakan akun, dan penghapusan konten yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi aktivitas ilegal. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pemberantasan judi daring tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Penyelenggara…

Read More

Pemerintah Dorong Budaya Digital Sehat demi Ketahanan Informasi Nasional

Jakarta – Pemerintah mendorong penguatan budaya digital sehat sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan informasi nasional. Kecakapan menggunakan teknologi perlu diimbangi kemampuan memeriksa informasi, menjaga etika komunikasi, dan mengendalikan penggunaan gawai agar ruang digital tidak berkembang menjadi sumber konflik maupun gangguan bagi generasi muda. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan literasi digital harus menjadi…

Read More

Pemerintah Perkuat Tata Kelola Digital demi Bangun Ekosistem Media Ramah Anak

Jakarta – Pemerintah memperkuat tata kelola digital untuk membangun ekosistem media yang aman dan ramah anak. Langkah tersebut dilakukan melalui pengaturan akses, peningkatan literasi digital, serta penguatan tanggung jawab platform dalam melindungi anak dari konten berbahaya dan berbagai risiko penggunaan teknologi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah…

Read More