Penguatan Satgas Karhutla demi Menjaga Layanan Dasar Rakyat
Oleh : Abdul Razak)*
Pemerintah memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat seiring menguatnya fenomena El Nino. Penguatan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla tidak hanya diarahkan untuk mencegah meluasnya titik api, tetapi juga memastikan keselamatan personel di lapangan serta keberlangsungan layanan dasar masyarakat di tengah kondisi cuaca yang semakin panas dan kering.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menegaskan kewaspadaan seluruh pihak menjadi kunci untuk mencegah karhutla, terutama karena kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal. Pemerintah, menurutnya, terus memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan cuaca dan mengantisipasi dampaknya terhadap potensi kebakaran.
Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, Raja Juli mengingatkan ancaman El Nino tahun ini memiliki kemiripan dengan fenomena yang terjadi pada 2015. Bahkan, berdasarkan pemantauan pemerintah dan BMKG, intensitas El Nino saat ini dinilai lebih tinggi dibandingkan kondisi pada periode tersebut. Berdasarkan data BMKG, El Nino saat ini berada pada intensitas sangat kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2,19. Kondisi tersebut menunjukkan suhu muka laut di Samudera Pasifik berada di atas kondisi normal dan berpotensi menekan curah hujan di Indonesia.
Risiko tersebut berpotensi semakin besar ketika Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi memasuki fase positif pada September-November 2026. Kombinasi kondisi iklim tersebut dapat memperpanjang periode panas dan kering di sejumlah wilayah Indonesia. Situasi ini pada akhirnya meningkatkan kerawanan karhutla sekaligus memperbesar kemungkinan munculnya asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Citra sebaran asap pada 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB menunjukkan asap telah terdeteksi di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan respons terpadu, mulai dari pencegahan, kesiapan personel, pengelolaan sumber daya air hingga perlindungan kesehatan petugas dan masyarakat.
Raja Juli pun mengingatkan masyarakat dan korporasi agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca panas dan kering. Sumber api sekecil apa pun, termasuk puntung rokok yang dibuang sembarangan, dapat memicu kebakaran ketika vegetasi dan lahan berada dalam kondisi kering. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api.Penguatan penanganan karhutla juga terlihat di daerah. Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Kesehatan melaksanakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anggota Satgas Karhutla yang bertugas menangani kebakaran di wilayah tersebut pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Riduan mengatakan pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik personel tetap terjaga. Menurutnya, anggota Satgas berada di garis depan dengan menghadapi paparan asap, debu, panas, serta aktivitas fisik yang menguras tenaga selama proses pemadaman.
Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah dan kondisi kesehatan umum. Personel juga mendapatkan vitamin dan obat-obatan sesuai kebutuhan serta hasil pemeriksaan. Dari pemeriksaan tersebut, sejumlah anggota Satgas diketahui mengalami keluhan ringan berupa batuk yang diduga berkaitan dengan paparan asap dan debu selama bertugas. Langkah tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan memadamkan api.
Di Kalimantan Selatan, upaya pencegahan juga diperkuat melalui pengelolaan ketersediaan air. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel menurunkan 53 personel sejak 10 Agustus 2026 ke Posko Karhutla di kawasan Hutan Lindung Jalan Makmur, Kota Banjarbaru, berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan.
PUPR mengoperasikan satu pompa berukuran delapan inci, dua pompa empat inci, serta pompa apung untuk menjaga kawasan rawan tetap basah. Pembasahan bahkan dilakukan selama 24 jam dengan memanfaatkan suplai dari jaringan irigasi dan saluran pembuang.
Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku Dinas PUPR Kalsel Herry Ade Permana mengatakan pembasahan telah dilakukan sejak Mei dengan membuka pintu Karhutla di BRK 9 Cinde Alus. Debit air sekitar 0,47 meter kubik per detik dialirkan untuk menjaga kawasan Guntung Damar hingga sekitar Bandara Syamsudin Noor tetap memiliki suplai air.
Hasil pemantauan menunjukkan kawasan hingga ujung Guntung Damar masih dalam kondisi basah. PUPR juga telah menyiapkan posko utama dan memanfaatkan infrastruktur pengatur air yang dibangun sejak beberapa tahun sebelumnya untuk mendukung pencegahan karhutla.
Rangkaian langkah tersebut menegaskan bahwa penguatan Satgas Karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Pencegahan api, kesiapan personel, perlindungan kesehatan, pengelolaan air, pemantauan cuaca, serta koordinasi lintas instansi menjadi satu kesatuan strategi.
Di tengah ancaman El Nino dan potensi positifnya IOD, pemerintah dituntut memastikan penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman ketika api telah muncul. Upaya preventif yang konsisten menjadi penting untuk menjaga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, transportasi, hingga berbagai layanan dasar tetap berjalan. Dengan kesiapsiagaan yang lebih kuat, ancaman karhutla diharapkan dapat ditekan sekaligus memastikan negara tetap hadir melindungi masyarakat selama periode cuaca ekstrem.
)* Analis Kebijakan
