Sekolah Rakyat, Humanisme Pendidikan, dan Masa Depan Anak Marginal

Oleh : Anisa H Lestari

Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkanupaya memanusiakan manusia. Dalam konteks Indonesia yang masih menghadapikesenjangan sosial dan ekonomi, pendidikan memiliki peran strategis sebagai jembatan yang menghubungkan anak-anak dari keluarga kurang mampu menuju masa depan yang lebih baik. Di sinilah kehadiran program Sekolah Rakyat menjadi penting, karena tidak hanya menawarkanakses pendidikan, tetapi juga menghadirkan pendekatan humanis yang menempatkan anaksebagai pusat perhatian dan pembangunan.

Selama bertahun-tahun, kemiskinan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkanbanyak anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Keterbatasan biaya, kondisi lingkungan yang kurang mendukung, hingga rendahnya akses terhadap fasilitaspendidikan berkualitas sering kali membuat anak-anak dari keluarga miskin berada dalamlingkaran ketertinggalan. Situasi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensimemperlebar kesenjangan sosial dalam jangka panjang.

Pemerintah berupaya menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini dirancangsebagai pendidikan gratis dengan dukungan fasilitas asrama, layanan kesehatan, saranapembelajaran digital, serta kebutuhan pokok peserta didik yang ditanggung negara. 

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan, sebanyak 93 Sekolah Rakyat (SR) siap beroperasipada Juni 2026 dan segera dimanfaatkan oleh siswa baru dari keluarga kurang mampu pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah Rakyat rintisan merupakan sekolah yang dirancang menjadimodel pemerataan pendidikan guna menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hingga saat ini, telah terdapat 166 SR rintisan yang tersebardi 131 kabupaten/kota dan 34 provinsi.

Lebih dari sekadar pembangunan gedung sekolah, konsep Sekolah Rakyat mencerminkanpendekatan humanisme pendidikan. Humanisme dalam pendidikan menempatkan setiap anaksebagai individu yang memiliki potensi, martabat, dan hak yang sama untuk berkembang. Anak tidak dipandang berdasarkan latar belakang ekonomi keluarganya, melainkan berdasarkankemampuan dan peluang yang dapat dibangun melalui pendidikan. Pendekatan ini menjadipenting karena banyak anak marginal sebenarnya memiliki potensi besar, namun terhambatoleh kondisi sosial yang tidak menguntungkan.

Keberadaan sistem asrama dalam Sekolah Rakyat juga menjadi bagian dari upayamenciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Bagi sebagian anak yang hidup dalam kondisirentan, lingkungan tempat tinggal kerap menghadirkan berbagai tantangan, mulai dariketerbatasan fasilitas belajar hingga tekanan sosial ekonomi keluarga. Dengan lingkunganpendidikan yang terintegrasi, peserta didik dapat memperoleh ruang yang lebih aman untuktumbuh, belajar, dan membangun karakter secara optimal. Sejumlah diskusi publik juga menilaibahwa model asrama dapat membantu memastikan anak-anak dari kelompok rentanmendapatkan pendampingan pendidikan yang lebih konsisten.

Humanisme pendidikan juga tercermin melalui perhatian terhadap kebutuhan dasar pesertadidik. Anak yang sehat, tercukupi kebutuhan gizinya, dan memperoleh layanan kesehatan yang memadai akan lebih siap mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, penyediaan fasilitaskesehatan dan kebutuhan pokok di lingkungan Sekolah Rakyat menjadi langkah yang sejalandengan prinsip pendidikan inklusif dan berkeadilan. Pendidikan tidak lagi dipahami secarasempit sebagai kegiatan di ruang kelas, tetapi sebagai proses membangun manusia secarautuh.

Di sisi lain, program ini juga menunjukkan keberpihakan negara kepada kelompok yang selamaini menghadapi hambatan struktural dalam mengakses pendidikan berkualitas. Pemerataankesempatan belajar merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Ketika anak-anak dari keluarga miskin memperoleh akses yang sama terhadap pendidikanberkualitas, peluang mobilitas sosial menjadi lebih terbuka. Mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan berkontribusi bagi pembangunan bangsadi masa depan.

Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, menegaskan tujuan utama Sekolah Rakyat adalahmembuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak marginal agar bisa bersekolah dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Esensi program ini adalah sebagai intervensi strategis negara untuk menutup kesenjangan akses pendidikan. Dalam rangka menjangkau kelompok paling rentan, pemerintah pun menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penetapan calon siswa. Data ini memungkinkan pemerintah mengidentifikasianak-anak dari keluarga miskin ekstrem secara lebih akurat.

Komitmen pemerintah terhadap program ini terlihat dari pembangunan puluhan Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan melibatkan puluhan ribu tenaga kerja. Sebagian besar sekolah tersebut ditargetkan siap digunakan pada pertengahan 2026 untukmendukung penerimaan siswa baru dari keluarga kurang mampu.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Anak-anak marginal bukanlah beban pembangunan, melainkan aset bangsa yang membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Sekolah Rakyat menghadirkan harapan bahwapendidikan dapat menjadi instrumen keadilan sosial yang nyata. 

Dengan mengedepankan humanisme pendidikan, negara tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga membangun kepercayaan diri, harapan, dan masa depan bagi anak-anak yang selama ini berada di pinggiran. Jika dijalankan secara konsisten dan berkualitas, SekolahRakyat dapat menjadi salah satu tonggak penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebihinklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada pengembangan manusia seutuhnya.

)* Pengamat Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *