Upaya Kolektif Membangun Ketahanan Pangan di Bumi Cenderawasih
Oleh: Sylvia Mote *)
Papua kini berada di ambang transformasi besar yang tidak lagi hanya bertumpu padakekayaan ekstraktif, melainkan pada kedaulatan di atas tanahnya sendiri melalui sektorpangan. Langkah ini bukan sekadar upaya pemenuhan kebutuhan dasar, melainkanpengejawantahan dari visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuatketahanan nasional. Di tengah dinamika global yang tidak menentu, kemandirianpangan menjadi benteng pertahanan paling krusial. Pemerintah, melalui kolaborasilintas sektoral antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal, sedang membangun fondasi agar Bumi Cenderawasih tidak lagi bergantung padapasokan komoditas dari luar pulau.
Terbaru, pergerakan masif ini terlihat jelas di Papua Barat Daya. Kepolisian Negara Republik Indonesia mengambil peran strategis yang melampaui tugas konvensionalmenjaga keamanan. Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol Gatot Haribowo, menegaskan bahwa institusinya berkomitmen penuh mengawal dan menyukseskanprogram pemerintah pusat hingga ke level akar rumput. Dukungan Polri tidak hanyaberhenti pada tataran koordinasi administratif, tetapi menyentuh aspek implementatif di lapangan.
Salah satu langkah nyata yang diambil adalah optimalisasi program khusus sertapelibatan personel dalam penanaman komoditas alternatif. Di lahan milik Polda Papua Barat Daya, para personel aktif membantu petani lokal untuk menanam jagung pipil. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pangan agar masyarakat tidakhanya terpaku pada padi dan beras.
Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Papua Barat Daya, Kompol Anis DJ, menjelaskanbahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan nyata terhadap agenda swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat. Dengan memanfaatkanlahan-lahan yang tersedia, Polri berusaha memberikan dampak ekonomi langsung bagimasyarakat sekitar sekaligus mengedukasi warga mengenai potensi pertanian modern.
Transformasi serupa juga berdenyut di Provinsi Papua. Pemerintah daerah telahmengambil langkah melalui program cetak sawah seluas 30.000 hektare. Sebagailangkah awal, Distrik Muara Tami di Kota Jayapura menjadi titik tolak penanamanperdana padi pada 19 Februari 2026. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, danPangan Provinsi Papua, Lunanka V.M.L. Daimboa, mengungkapkan bahwa wilayahtersebut telah siap mengelola alokasi cetak sawah perdana sebesar 100 hektare. Program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah agenda strategis untukmenjadikan Papua sebagai wilayah yang mandiri dan berdaulat secara pangan. Target luas lahan yang mencapai puluhan ribu hektare tersebut menunjukkan optimismepemerintah bahwa Papua memiliki potensi agraris yang luar biasa jika dikelola denganfokus dan konsistensi.
Kunci keberhasilan agenda besar ini terletak pada sinergi di lapangan, terutama dalammemberikan pendampingan kepada para petani asli Papua.
Sementara itu, di Kabupaten Mimika, kolaborasi antara TNI AU melalui Lanud YohanisKapiyau dan petugas penyuluh lapangan menjadi mesin penggerak bagi Kelompok TaniMandiri Paive di Kampung Nawaripi. Serka Kasimirus Anitu bersama penyuluh pertaniansecara aktif memonitor kesiapan lahan dan bibit padi. Pendampingan ini menjadi sangatpenting karena petani lokal seringkali menghadapi kendala teknis dalam memutus siklushama maupun menjaga kegemburan tanah.
Pentingnya kehadiran negara di tengah petani lokal diakui oleh Ketua Kelompok TaniMandiri Paive, Viktoria Mahuze. Ia menyampaikan bahwa masyarakat lokal di KampungNawaripi memerlukan bimbingan berkelanjutan agar mampu membudidayakan tanamanpadi dengan hasil optimal. Kebutuhan akan transfer teknologi dan metode pertanianmodern adalah aspirasi yang harus terus dijawab oleh pemerintah. Dengan adanyapendampingan intensif, masyarakat lokal tidak lagi menjadi penonton dalam hiruk-pikukpembangunan, melainkan menjadi aktor utama dalam mewujudkan ketahanan pangandi daerahnya sendiri.
Pemerintah juga menyadari bahwa ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengansituasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Oleh karena itu, selainmendorong produktivitas lahan, aparat keamanan tetap memperketat pengamanan di titik-titik rawan. Kondisi wilayah yang kondusif adalah prasyarat mutlak bagi para petaniuntuk bekerja dengan tenang dan bagi investasi di sektor pertanian untuk terustumbuh. Stabilitas harga dan ketersediaan stok pangan, terutama menjelang hari besarkeagamaan, juga menjadi fokus utama untuk mencegah gejolak sosial di tengahmasyarakat. Aspek kebersihan lingkungan juga tidak dikesampingkan, di mana Polriaktif melibatkan personel Polair dalam gerakan memerangi sampah guna memastikanekosistem pertanian tetap sehat dan berkelanjutan.
Arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan di Papua menunjukkan konsistensi yang kuat antara visi nasional dan aksi lokal. Integrasi antaraprogram cetak sawah yang masif, diversifikasi tanaman melalui budidaya jagung, sertapendampingan teknis bagi petani lokal merupakan strategi komprehensif untukmemutus rantai ketergantungan pangan. Jika sinergi antara pemerintah, aparatkeamanan, serta masyarakat adat terus diperkuat, Papua tidak hanya akan mampumemberi makan penduduknya sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi lumbung panganbaru bagi Indonesia Timur. Keberhasilan di Bumi Cenderawasih ini akan menjadi buktinyata bahwa kedaulatan pangan nasional dimulai dari pemanfaatan potensi lokal yang dikelola dengan hati dan profesionalisme.
*) Pengamat Kebijakan Publik
