Fiskal Tetap Sehat, APBN 2027 Fokus pada Pertumbuhan dan KesejahteraanMasyarakat

Oleh : Aulia Rachma Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan, pemerintah terusmemperkuat peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagaiinstrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, mendorong pertumbuhan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. APBN tidak hanya menjadi dokumenperencanaan dan pengelolaan keuangan negara, tetapi juga menjadi instrumenstrategis pemerintah dalam memberikan perlindungan ekonomi kepada masyarakatsekaligus memastikan agenda pembangunan nasional tetap berjalan secaraberkelanjutan. Ketidakpastian global yang terjadi akibat berbagai tekanan ekonomi internasionalmenjadi tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam kondisi tersebut, pemerintah memastikan kebijakan fiskal tetap adaptif dan responsif agar mampumenjaga daya tahan ekonomi nasional. APBN diarahkan untuk menjaga keseimbanganantara kebutuhan pembangunan, perlindungan sosial, penguatan sektor produktif, sertakeberlanjutan fiskal dalam jangka panjang. Melalui kebijakan fiskal yang terarah, pemerintah memastikan APBN tetap menjadifondasi penting dalam menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahananekonomi, serta mendukung transformasi ekonomi nasional. Pengelolaan anggarandilakukan dengan memperhatikan efektivitas belanja negara, optimalisasi penerimaan, serta pengembangan pembiayaan yang mampu mendukung berbagai program pembangunan prioritas. Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pengelolaan fiskal akan terus diarahkanuntuk mendukung berbagai Prioritas Nasional Tahun 2027. Strategi tersebut dilakukanmelalui optimalisasi pendapatan negara, peningkatan kualitas belanja, serta penguatanpembiayaan yang inovatif. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintahuntuk menjaga kesehatan fiskal sekaligus memastikan program pembangunanmemberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pemerintah terusmenjaga kinerja fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi melaluiberbagai langkah strategis. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat optimalisasipendapatan negara, memastikan belanja pemerintah semakin berkualitas, sertamengembangkan skema pembiayaan yang inovatif guna mendukung pembangunannasional. Penguatan peran APBN diwujudkan melalui berbagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Sejumlah program prioritas pemerintahpada 2027 antara lain penyelenggaraan Sekolah Rakyat, Program Makan BergiziGratis, pembangunan tiga juta rumah, peningkatan layanan kesehatan, pengembanganKoperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pemberantasan penyelundupan, hinggaimplementasi program mandatori biodiesel B50. Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa APBN memiliki fungsi yang lebih luas, yaitu sebagai instrumen pembangunan yang mampu menghadirkan manfaat langsungbagi masyarakat. Pemerintah memastikan belanja negara diarahkan pada sektor-sektoryang memiliki dampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan, penguatan ekonomirakyat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan pertumbuhanekonomi yang lebih inklusif. APBN juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Melalui berbagai kebijakan yang dijalankan, pemerintah berupaya menjaga agar masyarakat tetap memiliki daya beli yang kuat, dunia usaha tetap mendapatkandukungan, serta pembangunan nasional dapat berjalan secara konsisten meskipunmenghadapi tekanan eksternal. Ketahanan ekonomi Indonesia tercermin dari berbagai indikator makroekonomi yang tetap menunjukkan kinerja positif. Di tengah tekanan ekonomi global, pertumbuhanekonomi nasional pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen dengan tingkat inflasiyang tetap terkendali. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mampumempertahankan surplus selama 72 bulan berturut-turut, didukung oleh cadangandevisa yang memadai. Dari sisi fiskal, kinerja keuangan negara juga menunjukkan perkembangan yang kuat. Pendapatan negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebutmencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap sehat sekaligus memberikan ruang bagipemerintah untuk menjalankan berbagai program pembangunan dan menjaga stabilitasekonomi nasional. Menteri Keuangan menegaskan bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang tetap solid dengan dukungan kinerja fiskal yang sehat dan berkelanjutan di tengahkondisi perekonomian global yang penuh tantangan. Kepercayaan terhadap fondasiekonomi nasional menjadi modal penting bagi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menghadapi berbagai risiko eksternal. Sejalan dengan hal tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa APBN memiliki fungsi strategis sebagai instrumen negara dalam menjaga stabilitas ekonomisekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Presiden menyampaikan bahwasetiap kebijakan fiskal harus berlandaskan amanat konstitusi untuk melindungi rakyatdan memajukan kesejahteraan umum. Presiden menjelaskan bahwa tanggung jawab pemerintah adalah menjalankan amanatUUD 1945, termasuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dan mendorong peningkatankesejahteraan masyarakat. Dalam pandangan tersebut, APBN harus menjadi instrumenperjuangan bangsa yang mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional sertamemastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan fondasi ekonomi yang kuat, pengelolaan fiskal yang sehat, serta kebijakanpembangunan yang berorientasi pada masyarakat, pemerintah optimistis APBN 2027 akan menjadi instrumen penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif. APBN diharapkan mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional, melindungi dayabeli masyarakat, dan mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat secaraberkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global. Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat sinergi antarinstansi serta memastikansetiap kebijakan fiskal memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. APBN 2027 tidakhanya menjadi alat untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga menjadi penggerakpembangunan yang mampu menciptakan peluang baru, memperluas manfaatpertumbuhan, dan memperkokoh fondasi ekonomi Indonesia menghadapi tantanganmasa depan. )* Pengamat Publik

Read More

Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Masyarakat Tak Perlu Panik

Oleh: Bhaila Magnanagari *) Dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kekhawatiran publik adalah halyang wajar. Harga pangan, nilai tukar, inflasi, dan pergerakan pasar keuangan memangmenjadi isu yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Namun, kekhawatirantidak boleh berkembang menjadi kepanikan. Jika membaca data secara jernih, ekonomiIndonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang cukup kuat, terkendali, dan memilikiprospek yang menjanjikan. Salah satu indikator paling penting adalah inflasi. Pada Mei 2026, inflasi nasional secaratahunan tercatat sebesar 3,08 persen. Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah, yakni 1,5 persen hingga 3,5 persen. Artinya, secara umum laju kenaikan hargamasih terkendali dan belum menunjukkan gejala lonjakan yang membahayakan daya belimasyarakat. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa inflasi nasionalmasih terkendali, meski terdapat beberapa komoditas yang perlu diwaspadai. Ia menyorotikelompok makanan, minuman, tembakau, transportasi, serta informasi, komunikasi, dan jasakeuangan sebagai sektor yang memberi tekanan. Untuk pangan, komoditas seperti cabai danminyak goreng tetap menjadi perhatian pemerintah. Namun ada kabar baik yang patut dicatat. Beras, sebagai kebutuhan pokok paling pentingbagi mayoritas masyarakat Indonesia, tidak lagi masuk dalam kelompok utama penyumbanginflasi bulanan. Tito Karnavian menilai kondisi ini positif karena beras selama ini kerapmenjadi komoditas yang paling menentukan stabilitas harga nasional. Dengan terkendalinyaharga beras, tekanan terhadap rumah tangga menjadi lebih ringan. Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, jugamenyampaikan bahwa inflasi beras berhasil dijaga dalam dua tahun terakhir. Pada Mei 2024, inflasi beras sempat berada pada level 3,59 persen. Namun pada Mei 2026, angkanya turunjauh menjadi 0,38 persen. Penurunan ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dalammenjaga pasokan dan stabilisasi harga pangan mulai memberi hasil nyata. Pemerintah juga terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagaiinstrumen menjaga daya beli masyarakat. Sejak Januari hingga awal Juni 2026, GPM telahdigelar sebanyak 5.308 kali di 37 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota. Program inipenting karena tidak hanya membantu konsumen memperoleh pangan dengan hargaterjangkau, tetapi juga menjaga agar distribusi pangan tetap berjalan di berbagai daerah. Di sisi pasar keuangan, sinyal positif juga terlihat. Pengamat pasar modal Elandry Pratamamenilai peluang Indonesia untuk tetap bertahan dalam kategori emerging market MSCI masihbesar. Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan fundamental, mulai darilikuiditas pasar yang besar, kapitalisasi pasar yang memadai, hingga peran strategis sebagaisalah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara. Status tersebut penting karena memengaruhi persepsi investor global terhadap pasarIndonesia. Jika status emerging market tetap terjaga, ketidakpastian dapat berkurang dan arusmodal asing berpeluang kembali masuk ke pasar domestik. Dalam ekonomi modern, kepercayaan investor adalah salah satu indikator penting bahwa sebuah negara masihdianggap memiliki prospek pertumbuhan yang sehat. Optimisme itu juga terlihat dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan dalam beberapawaktu terakhir. Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, menilaipenguatan IHSG menunjukkan bahwa investor masih percaya terhadap fundamental ekonomiIndonesia dan kinerja perusahaan-perusahaan nasional. Ia menekankan bahwa meskipunsentimen jangka pendek bisa memengaruhi pasar, pada akhirnya investor akan kembalimelihat kekuatan fundamental negara dan perusahaan. Sinyal lain datang dari pergerakan rupiah. Ekonom Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, Josua Pardede, menilai penguatan rupiah mulai memberi ruang optimisme bagisektor riil, termasuk industri otomotif. Rupiah yang lebih kuat dapat membantu menekanbiaya impor komponen, sehingga produsen memiliki ruang untuk menjaga harga tetapkompetitif. Bagi masyarakat, stabilitas ini penting karena dapat menahan tekanan hargabarang konsumsi yang bergantung pada bahan baku impor. Tentu, optimisme tidak berarti menutup mata terhadap risiko. Beberapa harga komoditasmasih perlu diawasi. Minyak goreng, cabai, bawang merah, dan sejumlah komoditashortikultura tetap membutuhkan pemantauan ketat. Gejolak global juga masih dapatmemengaruhi nilai tukar, arus modal, dan harga energi. Namun, yang perlu digarisbawahiadalah pemerintah memiliki instrumen dan respons kebijakan yang terus berjalan. Karena itu, narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang memburuk secara drastis tidaksepenuhnya sesuai dengan data. Inflasi masih dalam sasaran, harga beras relatif terkendali, gerakan pangan murah terus berjalan, pasar modal tetap menunjukkan kepercayaan, danrupiah mulai memberi sinyal penguatan pada sektor riil. Masyarakat tentu berhak kritis terhadap kebijakan ekonomi. Namun kritik akan lebih sehatbila dibangun di atas data yang utuh, bukan rasa panik. Dalam situasi global yang tidakmudah, Indonesia tidak sedang berdiri di atas fondasi rapuh. Justru berbagai indikatormenunjukkan bahwa ekonomi nasional tetap memiliki daya tahan. Pada akhirnya, yang dibutuhkan publik adalah kewaspadaan yang tenang. Pemerintah perluterus menjaga harga pangan, memperkuat koordinasi kebijakan, dan memastikan stabilitasekonomi dirasakan sampai ke rumah tangga. Namun masyarakat juga tidak perlu larut dalamnarasi pesimistis. Dengan inflasi terkendali, pangan utama relatif stabil, pasar keuangan tetapdipercaya, dan fundamental ekonomi yang masih kuat, Indonesia memiliki alasan yang cukupuntuk tetap optimistis. *) Pemerhati Kebijakan Publik

Read More

Di Tengah Ketidakpastian Global, Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Oleh: Winna Nartya *) Belakangan ini berkembang narasi bahwa perekonomian Indonesia sedang berada dalam kondisiyang mengkhawatirkan. Pelemahan nilai tukar rupiah, dinamika pasar keuangan global, sertaketidakpastian geopolitik internasional sering dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa ekonominasional sedang menuju arah yang negatif. Namun, jika dicermati secara lebih objektif danberbasis data, gambaran tersebut sesungguhnya tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riilperekonomian Indonesia saat ini. Dalam ilmu ekonomi, persepsi memang memiliki pengaruh penting terhadap perilaku pasar. Akan tetapi, penilaian terhadap kesehatan ekonomi sebuah negara tidak dapat hanya didasarkan padasatu atau dua indikator yang bersifat jangka pendek. Yang lebih penting adalah melihatfundamental ekonomi secara menyeluruh, mulai dari kondisi fiskal, daya tahan sektor keuangan, tingkat investasi, hingga kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dalam menghadapitekanan global. Dalam konteks tersebut, sejumlah indikator justru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masihberada pada jalur yang relatif kuat. Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menilai bahwakondisi fiskal Indonesia hingga pertengahan 2026 masih berada dalam kategori sehat danterkendali. Salah satu indikator penting adalah defisit anggaran yang hingga Mei 2026 tercatathanya sekitar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih mampu menjaga keseimbangan antarapenerimaan dan pengeluaran negara dalam batas yang aman. Di banyak negara berkembang, defisit fiskal yang membengkak sering menjadi sumber ketidakstabilan ekonomi. Namun kondisiIndonesia justru memperlihatkan disiplin fiskal yang tetap terjaga di tengah berbagai program pembangunan yang sedang dijalankan. Kinerja penerimaan negara juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga Mei 2026, pendapatan negara tercatat tumbuh sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahunsebelumnya. Penerimaan perpajakan bahkan meningkat sekitar 22 persen secara tahunan, didorong oleh membaiknya aktivitas ekonomi dan penguatan penerimaan dari berbagai sektorproduktif. Di saat yang sama, penerimaan negara bukan pajak juga mengalami peningkatan yang signifikan. Fakta ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berjalan dengan baik dan mampumenghasilkan sumber-sumber penerimaan yang mendukung keberlanjutan pembangunan. Narasi bahwa Indonesia semakin bergantung pada utang luar negeri juga tidak sepenuhnyasesuai dengan data yang tersedia. Ekonom Myrdal Gunarto mencatat bahwa pertumbuhan utangluar negeri Indonesia hingga April 2026 hanya sekitar 1,9 persen secara tahunan. Dengan total utang luar negeri sekitar 439,8 miliar dolar Amerika Serikat, posisi Indonesia masih tergolongmoderat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Pertumbuhan utang yang relatifrendah menunjukkan bahwa pemerintah maupun sektor swasta tidak mengandalkan pembiayaaneksternal secara berlebihan.  Selain faktor fiskal dan utang, indikator lain yang patut diperhatikan adalah kepercayaan investor. Dalam beberapa waktu terakhir muncul narasi bahwa investor asing mulai meninggalkanIndonesia. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda. KeberhasilanDanantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat dengan tingkat permintaan yang tinggi menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandangmenarik oleh investor internasional. Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, bahkan menilaikeberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pasar global masih memiliki keyakinan terhadapprospek ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, narasi “Sell Indonesia” yang sering muncul dalam perdebatan publik tidakmemperoleh dukungan kuat dari perilaku investor global. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu tetaptingginya minat terhadap berbagai instrumen investasi yang terkait dengan Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga tidak tinggal diam menghadapi tantangan global yang masihberlangsung. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah telahmenyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligusmelindungi daya beli masyarakat. Langkah tersebut mencakup pengendalian harga pangan, menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi, memastikan stok energi dan beras nasional tetap aman, memperkuat disiplin fiskal, hingga meningkatkan efektivitas belanja negara. Pemerintah jugamemperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter agar respons terhadap dinamika ekonomiglobal menjadi lebih terintegrasi. Tidak hanya itu, berbagai stimulus yang menyentuh langsung masyarakat juga terus digulirkan. Mulai dari bantuan pangan, diskon transportasi, dukungan sektor perumahan, hingga program magang dan vokasi yang bertujuan memperluas kesempatan kerja. Kebijakan semacam inimenunjukkan bahwa fokus pemerintah bukan hanya menjaga angka-angka makroekonomi, tetapijuga memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Pada sektor pangan, pemerintah terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah gunamenjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Keberhasilan mengendalikan inflasi panganmenjadi salah satu faktor penting yang membuat tekanan ekonomi global tidak sepenuhnyaditeruskan kepada rumah tangga Indonesia. Masyarakat tidak perlu terjebak dalam pesimisme yang berlebihan. Fundamental fiskal yang sehat, penerimaan negara yang meningkat, posisi utang yang moderat, kepercayaan investor yang tetap terjaga, serta berbagai langkah antisipatif pemerintah menjadi modal penting bagiIndonesia untuk terus bertumbuh di tengah ketidakpastian global. Dengan fondasi ekonomi yang masih kuat dan koordinasi kebijakan yang terus diperkuat, Indonesia memiliki kapasitas yang memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melanjutkan agenda pembangunan nasionalsecara berkelanjutan. *) Pemerhati Ekonomi

Read More

Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi “Sell Indonesia” Dinilai Keliru

JAKARTA — Di tengah munculnya berbagai narasi pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional, sejumlah ekonom dan akademisi justru menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, menilai keberhasilan Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai 1,5 miliar dolar AS menjadi bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik…

Read More

Fiskal Terjaga, Ekonom Sebut Narasi Ekonomi RI Memburuk Tak Sesuai Data

Jakarta — Sejumlah indikator ekonomi dinilai masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah tekanan global. Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menilai derasnya kritik terhadap disiplin fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu dilihat secara lebih proporsional karena perkembangan fiskal terkini justru menunjukkan pergerakan positif. “Saya cermati, kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan…

Read More

Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Kuat, Investor Global Terus Tunjukkan Kepercayaan

JAKARTA – Berbagai indikator ekonomi dan pasar keuangan menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang kuat dan menjanjikan. Sejumlah pengamat menilai narasi pesimistis terhadap perekonomian nasional tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi riil yang tercermin dari kepercayaan investor, penguatan pasar modal, hingga membaiknya nilai tukar rupiah. Menjelang pengumuman hasil evaluasi klasifikasi pasar global…

Read More

Inflasi Terkendali dan Daya Beli Terjaga, Sinyal Positif bagi Ekonomi Nasional

JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat pengendalian harga pangan strategis untuk menjaga laju inflasi nasional tetap berada dalam rentang sasaran. Pada Mei 2026, inflasi nasional secara tahunan tercatat sebesar 3,08 persen atau masih berada dalam target pemerintah di kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengatakan, inflasi nasional masih terkendali meski…

Read More

Pemerintah Perkuat Stabilitas Ekonomi melalui Pengendalian Inflasi, Rupiah, dan Daya Beli Masyarakat

JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah strategis guna mengendalikan inflasi, menjaga harga kebutuhan pokok, memperkuat nilai tukar rupiah, serta mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Berbagai kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil disinergikan untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga sekaligus melindungi daya beli masyarakat. Di sisi fiskal, sejumlah…

Read More

Perkuat Koordinasi Ekonomi, Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat Lewat Sederet Jurus

JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Berbagai langkah strategis disiapkan guna mengendalikan inflasi, menjaga harga kebutuhan pokok, memperkuat nilai tukar rupiah, serta mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan sembilan langkah…

Read More

Di Tengah Ketidakpastian Global, Ekonomi Indonesia Tunjukkan Ketahanan yang Solid

Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid dan pertumbuhan yang positif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pada Triwulan I-2026 ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen dengan inflasi Mei 2026 yang tetap terkendali di level 3,08 persen (year-on-year). Selain itu, neraca perdagangan masih surplus dan cadangan devisa berada…

Read More