Literasi Digital Perkuat Advokasi Berbasis Data untuk Pembangunan Papua

Papua – Penguatan resiliensi media melalui peningkatan literasi digital, budaya verifikasi informasi, dan advokasi berbasis data dinilai menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan Papua yang lebih konstruktif. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menyaring informasi agar ruang digital tetap menjadi sarana edukasi, kolaborasi, dan pembangunan….

Read More

Praktisi Media Tekankan Etika Jurnalistik demi Resiliensi Media di Era AI

Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong transformasi besar dalam industri media. Di tengah meningkatnya pemanfaatan AI di ruang redaksi, berbagai kalangan menilai penguatan peran jurnalis, etika jurnalistik, dan budaya verifikasi menjadi fondasi utama agar media tetap kredibel sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi. Praktisi media Anggi Oktarinda mengatakan, industri media saat ini…

Read More

Anggota DPR RI: Indonesia Punya Kemampuan Membangun Kemandirian dan Kedaulatan Digital

JAKARTA – Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh penguasaan data, kecerdasan buatan (AI), dan infrastruktur digital, Indonesia perlu membangun kedaulatan digital sebagai bagian dari strategi mempertahankan kemerdekaan dan daya saing bangsa. Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mengatakan transformasi digital Indonesia tidak boleh sekadar dipahami sebagai perluasan akses internet atau meningkatnya penggunaan…

Read More

Perkuat Ketahanan Informasi Nasional Hadapi Ancaman Digital

Jakarta – Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro mengatakan ketahanan informasi digital nasional perlu diperkuat agar dapat menghadapi ancaman disinformasi dan rekayasa social berbasis kecerdasan buatan (AI). Hal ini penting dilakukan menyusul meningkatnya ancaman kejahatan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), phishing, hingga rekayasa sosial yang mendorong perlu adanya kolaborasi yang lebih…

Read More

Ketahanan Keluarga Jadi Fondasi Literasi Digital Pembentukan Generasi Berkarakter

Literasi digital merupakan kunci dari ketahanan keluarga modern. Masyarakat yang melek digital mampu melindungi anggota keluarganya dari bahaya dampak negatif dunia maya. Mereka yang memahami literasi digital dan bisa memanfaatkan teknologi secara produktif mampu menjaga emosi dan komunikasi yang bijak. Menurut Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal A. Paliwang, keluarga yang kuat menjadi benteng utama dalam…

Read More

Penguatan Literasi Blockchain dan Keamanan Siber Tingkatkan Kewaspadaan Masyarakat di Era Digital

Jakarta – Penguatan literasi blockchain dan keamanan siber terus didorong sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat menghadapi semakin kompleksnya ancaman kejahatan digital. Kolaborasi antara pemerintah, regulator, industri, komunitas, hingga media dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem digital yang aman, inklusif, dan terpercaya. Komitmen tersebut mengemuka dalam Festival Aman Digital 2026 yang diselenggarakan Badan Siber…

Read More

Pemerintah Pastikan Taruna Akmil Tidak Mengajar di Kelas, Hanya Dampingi Kemandirian Siswa Sekolah Rakyat

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) dalam program Sekolah Rakyat bukan untuk menggantikan peran guru maupun mengajar di ruang kelas. Kehadiran para taruna difokuskan untuk memberikan pendampingan kehidupan berasrama guna membantu siswa beradaptasi, membangun kemandirian, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Melalui kolaborasi Kementerian Sosial (Kemensos) dan TNI, sekitar…

Read More

Pendampingan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Berlangsung Lima Hari untuk Latih Kemandirian

Jakarta – Pemerintah memperkuat pelaksanaan Program Sekolah Rakyat melalui pendampingan kehidupan berasrama yang melibatkan taruna Akademi Militer (Akmil). Pendampingan tersebut dirancang sebagai bagian dari penguatan karakter dan pembentukan kemandirian siswa selama menjalani proses pendidikan di lingkungan asrama. Program akan dilaksanakan selama lima hari pada 178 titik Sekolah Rakyat di berbagai daerah mulai 3 hingga 8…

Read More

Kehadiran Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Bersifat Pendampingan Karakter

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah merupakan salah satu upayastrategis untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluargakurang mampu. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan akademik, Sekolah Rakyat juga dirancang sebagai lingkungan pendidikan berasrama yang menekankan pembentukan karakter, kemandirian, serta pembiasaan hidup disiplin. Dalam konteks tersebut, rencana pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) mendapatperhatian publik. Meski sempat memunculkan beragam persepsi, pemerintahmenegaskan bahwa kehadiran para taruna bukan untuk menghadirkan pendidikanbergaya militer, melainkan sebagai pendamping dalam proses pembentukan karakterpeserta didik.  Karakter menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusiaIndonesia yang unggul. Kemampuan akademik yang baik akan lebih optimal apabiladiiringi dengan sikap disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, sertakemampuan beradaptasi. Nilai-nilai tersebut tidak selalu dapat dibentuk melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi siswa yang tinggal di lingkungan asrama. Model pendidikan berasrama memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sekolahreguler. Para siswa dituntut mampu mengatur aktivitas harian secara mandiri, mulai darimenjaga kebersihan diri, merapikan tempat tidur, mengelola perlengkapan pribadi, hingga membangun kebiasaan hidup tertib sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pada masa awal tinggal di asrama, proses adaptasi sering kali menjadi tantangan tersendirikarena siswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda darikehidupan di rumah. Dalam konteks ini pemerintah memandang pengalaman hidup para taruna Akmil dapatmemberikan teladan yang relevan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwapelibatan taruna merupakan inisiatif Kementerian Sosial untuk mendukung proses pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat yang sama-sama menjalani pendidikanberasrama. Menurutnya, para taruna diharapkan mampu memberikan contohsederhana mengenai bagaimana menjalani kehidupan yang tertib, disiplin, dan mandiri, seperti membiasakan bangun pagi, merapikan tempat tidur, menjaga perlengkapanpribadi, menggunakan seragam dengan baik, serta membangun kebiasaan hidup yang teratur. Ia juga menegaskan bahwa tidak terdapat agenda latihan fisik militersebagaimana yang sempat dikhawatirkan sebagian masyarakat.  Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi program bukan membentuk siswamenjadi taruna ataupun mengenalkan pendidikan militer kepada anak-anak. Sebaliknya, pemerintah ingin memanfaatkan pengalaman praktis yang dimiliki para taruna dalam menjalani kehidupan berasrama agar dapat menjadi contoh positif bagisiswa yang sedang memasuki fase adaptasi. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa para taruna tidak akanmengambil alih peran guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurutnya, fungsi utama mereka adalah menjadi pendamping kehidupan asrama selama beberapahari agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara nyamansekaligus membangun kebiasaan hidup mandiri. Ia juga menjelaskan bahwapendampingan tersebut mencakup pembinaan terhadap budaya saling menghormatidan pencegahan berbagai bentuk kekerasan maupun perundungan antarsiswa.  Kehadiran pendamping yang memahami dinamika kehidupan asrama memang memilikinilai strategis. Pengalaman menunjukkan bahwa masa transisi menuju kehidupanberasrama sering menjadi periode yang cukup menantang bagi peserta didik. Merekatidak hanya harus beradaptasi dengan jadwal kegiatan yang lebih teratur, tetapi juga belajar hidup bersama teman-teman dari latar belakang yang beragam. Pendampingyang memiliki pengalaman serupa dapat membantu siswa melalui proses tersebutdengan pendekatan yang lebih mudah dipahami. Program pendampingan ini juga bersifat terbatas. Pemerintah menjelaskan bahwasekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II akan ditempatkan di 178 titik Sekolah Rakyat dalam kegiatan pendampingan selama lima hari pada awal Agustus 2026. Selamaperiode tersebut, para taruna akan membimbing aktivitas keseharian siswa, sepertimenjaga kerapian kamar, merawat perlengkapan pribadi, menyetrika pakaian, menyemir sepatu, hingga membangun kebiasaan hidup disiplin yang mendukungaktivitas belajar.  Pendekatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Berbagaisekolah berasrama di Indonesia maupun di berbagai negara menerapkan sistemmentoring oleh senior, alumni, ataupun pendamping yang telah memiliki pengalamanhidup di lingkungan asrama. Tujuannya bukan untuk memberikan tekanan kepadapeserta didik, melainkan membantu mereka beradaptasi sehingga mampu menjalanikehidupan sekolah secara mandiri dan bertanggung jawab. Dalam implementasinya, pemerintah juga menegaskan bahwa pembinaan akandilakukan secara persuasif dan mengedepankan pendekatan yang humanis. Kondisipsikologis siswa menjadi perhatian utama, mengingat sebagian besar peserta didikmasih berada pada fase penyesuaian ketika pertama kali memasuki lingkunganasrama. Oleh karena itu, proses pendampingan dirancang dengan mempertimbangkankebutuhan emosional anak sehingga mereka dapat merasa aman dan nyaman selamamengikuti pendidikan.  Penjelasan tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa pembentukan karaktertidak identik dengan pendekatan keras, melainkan melalui keteladanan, komunikasi, dan pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, keterlibatan taruna Akmil di Sekolah Rakyat dapat dipahami sebagai bentuk kolaborasiuntuk menanamkan nilai disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab, sehingga mampumendukung lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan. *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Read More

Program Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Fokus Cegah Perundungan dan Bangun Kemandirian

*) Oleh : Gavin Asadit Pemerintah terus memperkuat desain pembangunan sumber daya manusia melaluipendekatan yang tidak hanya menekankan akses pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter dan lingkungan belajar yang sehat. Dalam pengembanganSekolah Rakyat sebagai salah satu program prioritas sosial, pemerintah mulaimemperluas pendekatan pendidikan berasrama dengan menambahkan penguatanpendampingan karakter bagi peserta didik. Salah satu langkah terbaru yang dijalankan pada 2026 adalah pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) untukmendampingi siswa Sekolah Rakyat dalam proses adaptasi kehidupan berasrama, pembentukan kemandirian, serta pencegahan perundungan. Pemerintah menilaibahwa pendidikan yang efektif tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga harus membangun lingkungan yang aman, tertib, dan mendukungperkembangan karakter peserta didik.  Program pendampingan tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem SekolahRakyat yang dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat rentan dan memperluas kesempatan pendidikan yang lebih setara. Dalam pelaksanaannya, sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II diterjunkan untuk mendampingi siswa di 178 titik Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Pendampingan dijadwalkan berlangsungselama lima hari pada periode 3 – 8 Agustus 2026 dengan pendekatan berbasiskehidupan asrama dan pembiasaan karakter sehari-hari. Pemerintah menegaskanbahwa kehadiran para taruna bukan untuk mengambil alih fungsi guru atau mengubahorientasi pendidikan, melainkan membantu siswa membangun kemampuan adaptasidan kemandirian sejak awal memasuki lingkungan baru.  Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa pelibatan tarunadilakukan berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalani sistem kehidupanberasrama yang disiplin dan terstruktur. Menurutnya, pengalaman tersebut relevanuntuk membantu siswa Sekolah Rakyat yang sebagian besar akan menjalani polapendidikan berbasis asrama dan membutuhkan proses penyesuaian sosial. Pemerintah melihat masa awal adaptasi menjadi fase penting karena kemampuansiswa untuk merasa aman dan nyaman akan sangat memengaruhi proses belajardalam jangka panjang. Karena itu, pendampingan difokuskan pada pembentukankebiasaan positif yang sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadapperkembangan karakter anak.  Dalam praktiknya, materi pendampingan tidak diarahkan pada pelatihan militerataupun kegiatan akademik formal. Taruna akan membimbing siswa dalam berbagaiaktivitas keseharian seperti menata tempat tidur, merapikan lemari, menjagakebersihan diri, menyetrika pakaian, mengatur perlengkapan pribadi, sertamembangun kebiasaan hidup yang tertib dan mandiri. Pemerintah memandangpembentukan kebiasaan tersebut sebagai bagian penting dari pendidikan karakteryang selama ini sering kali belum memperoleh ruang yang cukup dalam sistempembelajaran konvensional. Pendekatan ini juga diharapkan dapat mempercepatproses adaptasi siswa yang tinggal jauh dari keluarga agar tetap merasa nyamanmenjalani kehidupan berasrama.  Selain membangun kemandirian, salah satu tujuan utama program ini adalahmenciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan. Pemerintahmenilai pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan harus dimulai sejak awalpembentukan budaya sekolah. Karena itu, para taruna juga diberikan peran untukmelakukan pembinaan preventif agar tidak muncul praktik senioritas, intimidasi, maupun bentuk perundungan lain yang dapat mengganggu proses tumbuh kembangpeserta didik. Pendekatan ini dipilih karena pemerintah ingin memastikan bahwakehidupan berasrama menjadi ruang pembelajaran sosial yang positif, bukan sumbertekanan psikologis bagi siswa.  Menteri Sosial, Saifullah Yusuf sebelumnya juga menekankan bahwa Sekolah Rakyat dibangun bukan hanya untuk memperluas akses pendidikan, tetapi menjadi instrumenmobilitas sosial yang mampu membantu anak-anak dari keluarga kurang mampumemperoleh kesempatan berkembang secara lebih optimal. Dalam kerangkatersebut, penguatan karakter dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan daripenguatan kualitas pendidikan. Pemerintah ingin memastikan bahwa siswa tidakhanya memperoleh fasilitas belajar, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang mampu membentuk kepercayaan diri, kedisiplinan, kemampuan hidup mandiri, dan kesiapan menghadapi masa depan. Program pendampingan taruna juga memiliki landasan kebijakan yang terhubungdengan agenda pengentasan kemiskinan dan pembangunan manusia. Pemerintahmenempatkan Sekolah Rakyat sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi PresidenNomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pengentasan kemiskinan dan penghapusankemiskinan ekstrem. Dalam konteks tersebut, pendidikan dipandang sebagaiinstrumen strategis untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelompokrentan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangkapanjang.  Dari sisi pendidikan karakter, keterlibatan unsur pendamping yang memilikipengalaman hidup kolektif dan disiplin juga dinilai dapat memperkaya metodepembelajaran di luar ruang kelas. Pemerintah menilai bahwa pembentukan karaktermembutuhkan teladan dan pengalaman langsung yang dapat diterapkan dalamkeseharian siswa. Karena itu, program pendampingan dirancang berlangsung secaraintensif dan dekat dengan aktivitas sehari-hari siswa agar proses pembelajaranberlangsung lebih natural dan efektif. Pelibatan taruna Akmil dalam Sekolah Rakyat menunjukkan arah baru pembangunanpendidikan yang semakin menekankan keseimbangan antara penguatan akademikdan pembentukan karakter. Pemerintah optimistis bahwa lingkungan belajar yang aman, bebas perundungan, dan mendukung kemandirian akan memberikan dampakpositif terhadap perkembangan peserta didik. Melalui kolaborasi lintas sektor antarapendidikan, sosial, dan pembinaan karakter, Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanyamenjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi tempat tumbuh bagi generasi yang lebihpercaya diri, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan. )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Read More