Sinergi Apkam dan Masyarakat Papua Perkuat Perlindungan Warga di Jila

MIMIKA — Upaya menjaga keamanan dan melindungi masyarakat terus diperkuat menyusul dugaan penyanderaan sejumlah warga di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Aparat keamanan bersama pemerintah daerah dan masyarakat melakukan koordinasi untuk memastikan keselamatan warga sekaligus menjaga situasi tetap kondusif. Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang membenarkan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai…

Read More

Pemerintah Perkuat Operasi Terpadu Cegah KarhutlaMeluas

Oleh: Yasa Saputra )* Pemerintah memperkuat operasi terpadu untuk mencegah kebakaranhutan dan lahan (karhutla) meluas di tengah kondisi cuaca kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan. Penanganandilakukan dengan memadukan operasi modifikasi cuaca (OMC), deteksidini, patroli, pemadaman darat, hingga dukungan armada udara. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar NegeriKementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan OMC menjadisalah satu instrumen dalam strategi pengendalian karhutla. Operasi inidiarahkan untuk meningkatkan peluang hujan dan membantu membasahiwilayah yang memiliki risiko kebakaran. Ristianto menekankan bahwa OMC tidak berjalan sendiri. Pelaksanaannya tetap disertai pemadaman darat, patroli terpadu, deteksidini, serta koordinasi antara kementerian dan lembaga bersamapemerintah daerah. Di Kalimantan Barat, OMC telah berlangsung pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Dalam periode itu, tercatat sembilan sortipenerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaianmencapai 10,92 juta meter kubik. Peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23-27 Agustus 2026 berdasarkan prakiraan cuaca terkini. BMKG berkoordinasi dengan pihakterkait untuk memastikan kondisi atmosfer mendukung operasipenyemaian awan. Kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah. OMC telah dilaksanakandalam dua periode, yaitu 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026. Operasi itu mencakup 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan sekitar 4,8 juta meter kubik. Ristianto menyebut kondisi Kalimantan Tengah hingga akhir Agustusmasih diprakirakan kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas. Situasi itu membuat peluang OMC dalam waktu dekat relatifkecil, meskipun pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk mencarikesempatan penyemaian. Pemerintah juga terus memantau kondisi Kalimantan Selatan denganmemperhatikan perkembangan cuaca, hotspot, dan situasi karhutla. Pelaksanaan OMC akan ditentukan berdasarkan kebutuhan di lapanganserta keberadaan awan yang memenuhi persyaratan teknis. Dukungan udara turut diperbesar untuk membantu satuan tugas daratmenjangkau lokasi yang sulit diakses. Kementerian Kehutanan bersamaBNPB memperkuat penggunaan helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing sesuai kondisi lapangan. Ristianto menyampaikan bahwa penambahan armada udara diarahkanuntuk memperluas jangkauan operasi, terutama pada titik yang membutuhkan pembasahan dari udara. Namun, pengerahan armada tetap memperhitungkan jarak pandang, ketebalan asap, kondisi cuaca, dan keselamatan penerbangan. BNPB juga memastikan puluhan armada udara disiagakan di enamprovinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Armada itu terdiriatas helikopter patroli, pesawat OMC, serta helikopter water bombing. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB,Berton SP Panjaitan, menjelaskan distribusi armada dilakukanberdasarkan kebutuhan penanganan di masing-masing daerah. Penempatan kekuatan udara dapat disesuaikan dengan perkembangansituasi di lapangan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, BNPB menyiagakan satu helikopterpatroli, satu pesawat OMC, dan empat helikopter water bombing. Kalimantan Barat mendapat dukungan dua helikopter patroli, satupesawat OMC, serta lima helikopter water bombing. Efektivitas operasi udara tetap membutuhkan dukungan tim darat. Personel BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran,…

Read More

Dari Hotspot hingga Water Bombing, Strategi PemerintahTekan Ancaman Karhutla

Oleh: Rofila Safitri )* Pemerintah memperkuat strategi pengendalian kebakaran hutan danlahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca kering yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Penanganan dilakukan secara terpadu, mulai dari pemantauan hotspot, deteksi dini, patroli, Operasi ModifikasiCuaca (OMC), pemadaman darat, hingga pengerahan helikopter water bombing. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar NegeriKementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan OMC menjadisalah satu instrumen pemerintah untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah rawan karhutla. Pelaksanaan penyemaian awan dilakukandengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan keberadaan awanpotensial. Ristianto menegaskan OMC tidak berdiri sendiri dalam pengendaliankarhutla. Operasi itu tetap didukung pemadaman melalui jalur darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian, lembaga, danpemerintah daerah. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang telah menjalankanOMC. Operasi melalui Posko Pontianak berlangsung pada 13-17 Agustus2026 dengan sembilan sorti penerbangan dan estimasi volume curahhujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik. Peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23-27 Agustus 2026 berdasarkan prakiraan cuaca terbaru. BMKG bersama pihak terkait terusmemantau kondisi atmosfer untuk memastikan operasi dapat dilakukansecara efektif. Situasi di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan berbeda. OMC telahdilakukan dalam dua periode, yaitu 27 Juli-4 Agustus serta 11-15 Agustus2026. Total pelaksanaan mencapai 13 sorti penerbangan dengan estimasivolume curah hujan sekitar 4,8 juta meter kubik. Ristianto menyampaikan kondisi Kalimantan Tengah hingga akhir Agustusdiperkirakan masih didominasi cuaca kering dengan pertumbuhan awanhujan yang terbatas. Kondisi itu membuat kesempatan melaksanakanOMC dalam waktu dekat menjadi lebih kecil. Pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk mencari peluang penyemaianapabila awan potensial mulai terbentuk. Sementara di Kalimantan Selatan, pemerintah memantau perkembangan cuaca, hotspot, dankondisi karhutla sebagai dasar menentukan kebutuhan OMC. Pelaksanaan OMC memiliki batasan teknis karena keberhasilannyabergantung pada kondisi atmosfer. Penyemaian hanya dapat dilakukanketika terdapat awan yang memenuhi persyaratan untuk dimodifikasi. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan upaya menghasilkanhujan. Pemadaman darat, patroli terpadu, penyekatan, pembasahan, pendinginan, serta penguatan personel tetap menjadi bagian pentingdalam memutus penyebaran api. Dukungan udara digunakan untuk melengkapi pekerjaan satuan tugas di lapangan. Helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopterwater bombing disiapkan untuk menjangkau wilayah yang sulit didatangimelalui jalur darat. Ristianto menjelaskan penambahan armada udara ditujukan untukmemperluas jangkauan operasi, terutama di lokasi yang membutuhkanpembasahan dari udara. Pengoperasian armada tetapmempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta aspekkeselamatan penerbangan. BNPB turut memperkuat operasi udara dengan menempatkan puluhanarmada di enam provinsi prioritas. Wilayah itu meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB,Berton SP Panjaitan, menjelaskan distribusi armada dilakukan secaraterukur berdasarkan kebutuhan penanganan. Kekuatan udara dapatdisesuaikan dengan perkembangan kondisi di masing-masing wilayah. Berton menilai kekuatan udara harus berjalan beriringan dengankemampuan tim darat. Personel BPBD, Manggala Agni KementerianKehutanan, pemadam kebakaran, TNI-Polri, serta relawan tetapdibutuhkan untuk memastikan api dapat ditangani hingga tuntas. Efektivitas water bombing juga dipengaruhi ketersediaan sumber air dankondisi cuaca. BNPB bekerja sama dengan BMKG untuk memantaupertumbuhan awan hujan yang berpotensi mendukung pelaksanaanOMC. Pemerintah daerah di enam provinsi prioritas diminta memperkuat sistemdeteksi dini dan memastikan sarana pemadaman selalu siap digunakan. Pemantauan hotspot dan laporan masyarakat menjadi bagian pentinguntuk menemukan potensi kebakaran sedini mungkin. Pencegahan juga diperkuat melalui keterlibatan masyarakat. BNPB mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayahrawan dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran kepadaotoritas setempat. Langkah serupa diterapkan di Kalimantan Selatan melalui patroli terpaduyang dilakukan PT Hasnur Citra Terpadu bersama BPBD KabupatenTapin. Kegiatan itu diarahkan untuk memantau kawasan rawan sekaligusmeningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mendeteksi potensikarhutla….

Read More

Ancaman Karhutla Meningkat, Pemerintah Maksimalkan Deteksi Dini hingga Pemadaman Udara

Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan di tengah kondisi cuaca kering yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Strategi dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), deteksi dini, patroli, pemadaman darat, hingga dukungan udara. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan OMC dioptimalkan untuk…

Read More

Pemerintah Siagakan Kekuatan Darat dan Udara Tangani Karhutla

Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah dengan mengerahkan kekuatan darat dan udara. Langkah ini dilakukan menyusul kembali munculnya titik panas dan kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Dukungan udara diperkuat dengan pengerahan tiga pesawat Casa NC-212 milik Skadron Udara 4 TNI Angkatan Udara (AU) untuk mendukung operasi…

Read More

Hilirisasi Tembaga di Smelter Freeport Gresik, RI Makin Kuat dan Berdaya

Oleh: Zhafran Goldwin) Indonesia sedang memasuki babak penting dalam perjalanan membangun kemandirianekonomi melalui hilirisasi sumber daya mineral. Salah satu tonggak strategisnya berada di Gresik, Jawa Timur, melalui penguatan fasilitas pengolahan dan pemurnian tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Kehadiran smelter Freeport di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, bukan sekadar membangun fasilitas industri, tetapi menjadisimbol bahwa Indonesia semakin berani mengubah kekayaan alam menjadi kekuatanekonomi di dalam negeri.  Presiden RI, Prabowo Subianto menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah strategisuntuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam agar manfaatnya dapat dirasakanlangsung oleh masyarakat. Menurutnya, hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan dankemajuan bangsa Indonesia. Ia menilai pembangunan hilirisasi merupakan proyek besar danbersejarah bagi Indonesia. Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan industri pengolahan tembaga di Gresik. PT Freeport Indonesia memastikan smelter Manyar di kawasan JIIPE, Gresik, Jawa Timur, mulaimemproduksi katoda tembaga pada September 2026. Presiden Direktur PTFI Tony Wenasmengatakan operasional produksi tersebut berjalan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.  Kepastian produksi katoda tembaga ini menjadi momentum penting bagi agenda hilirisasinasional. Smelter Manyar tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan mineral, tetapi jugamenjadi bukti bahwa Indonesia mulai membangun kemampuan untuk mengolah kekayaanalamnya sendiri hingga menghasilkan produk bernilai tambah. Menurut Tony Wenas, pasokan konsentrat tembaga dikumpulkan terlebih dahulu hinggamencapai volume yang cukup sebelum dimasukkan ke dalam tungku atau furnace. Pengoperasian smelter dilakukan secara bertahap dan tidak langsung berjalan dalam kapasitaspenuh. Pada tahap awal, operasional berada di bawah 30 persen. Setelah tahap awal tersebut, kapasitas produksi akan terus ditingkatkan secara bertahap.  PTFI menargetkan Smelter Manyar dapat mencapai kapasitas produksi 100 persen pada akhir2027. Tahapan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan industri berskala besarmembutuhkan proses panjang, mulai dari kesiapan fasilitas, kesinambungan pasokan bahanbaku, hingga stabilitas proses produksi. Smelter Manyar dibangun dengan nilai investasisekitar US$3,7 miliar atau setara Rp58 triliun.  Nilai investasi tersebut menjadikannya salah satu proyek hilirisasi mineral terbesar yang pernah digarap pihak swasta di Indonesia. Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter tersebut dilengkapi Precious Metal Refinery berkapasitas 6.000 ton per tahun untukmengekstraksi emas, perak, dan berbagai mineral ikutan lainnya. Kehadiran fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi bukan sekadar slogan pembangunan. Ada investasi besar, teknologi, tenaga kerja, serta infrastruktur industri yang dibangun untuk mengubah komoditas tambang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Bagi Indonesia, langkah tersebut menjadi semakin strategis karena tembaga merupakan salahsatu mineral penting dalam perkembangan industri modern.  Tembaga digunakan dalam sektor kelistrikan, elektronik, konstruksi, kendaraan listrik, energiterbarukan, hingga berbagai kebutuhan industri strategis. Dengan menguasai proses pemurnian dan pengembangan produk turunannya, Indonesia memiliki peluang lebih besaruntuk membangun rantai pasok industri di dalam negeri. Lebih jauh, hilirisasi juga membuka peluang berkembangnya industri turunan. MIND ID melalui Freeport Indonesia telah bersinergi dengan PINDAD untuk mengoptimalkan katodatembaga sebagai bahan baku produksi brass cup. Rencana pengembangan berikutnyamencakup fasilitas produksi batang dan kawat tembaga serta pipa tembaga. Rangkaiantersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter. Tujuanakhirnya adalah menciptakan ekosistem industri yang semakin panjang dan terintegrasi, sehingga nilai ekonomi sumber daya alam dapat dinikmati lebih besar oleh Indonesia. Dampaknya pun tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara. Pertumbuhan industripengolahan dan manufaktur turunan berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkanaktivitas ekonomi daerah, mendorong transfer teknologi, serta membuka peluang bagitumbuhnya industri pendukung nasional. Ketika sumber daya alam tidak lagi berhenti sebagaikomoditas yang keluar dari Indonesia, tetapi diolah menjadi produk industri, maka nilaitambah dan manfaat ekonominya dapat semakin banyak berputar di dalam negeri. Smelter Manyar juga menunjukkan keberanian Indonesia untuk mengambil peran yang lebihbesar dalam rantai pasok mineral global. Negara dengan cadangan sumber daya alam yang besar tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan mentah. Indonesia harus memilikikemampuan mengolah, memurnikan, mengembangkan produk turunan, sertamenghubungkan sektor pertambangan dengan industri manufaktur. Karena itu, dimulainyaproduksi katoda tembaga di Smelter Manyar pada September 2026 layak dipandang sebagaisalah satu tonggak penting perjalanan hilirisasi nasional.  Dengan investasi besar, kapasitas pengolahan yang signifikan, serta rencana peningkatanproduksi hingga 100 persen pada akhir 2027, proyek ini membawa pesan kuat bahwaIndonesia sedang membangun fondasi industri yang lebih mandiri. Hilirisasi tembaga di Gresik pada akhirnya bukan sekadar tentang Freeport,…

Read More

Hilirisasi Tembaga di Gresik Menjadi Jalan Indonesia Menguasai Nilai TambahSDA

Oleh: Dwi Saputri)* Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun manfaatnyaakan lebih besar apabila tidak berhenti pada penambangan dan penjualan bahanmentah. Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengolah SDA di dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian. Pengembangan industripemurnian tembaga di Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu wujud nyata upayatersebut. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus mempercepatagenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa saat ini pemerintah terusmempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Pemerintah bersama Danantara telah melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasipada 6 Februari 2026. Selanjutnya, 13 proyek hilirisasi lainnya kembali dimulai pada 29 April 2026. Berbagai proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadidimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pembangunan smelter alumina menjadi aluminium. Langkah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi ditempatkan sebagaikebijakan sektoral, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun strukturekonomi yang lebih kuat. Menurut Prabowo, strategi tersebut penting agar Indonesia tidak hanya mengolah sumber daya alam di dalam negeri, tetapi juga memilikiteknologi dan jaringan pasar yang mampu memperkuat keterlibatan Indonesia dalamrantai pasok dunia. Dalam konteks tembaga, Gresik memiliki posisi strategis. Kehadiran fasilitaspemurnian milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadikan wilayah tersebut sebagaisalah satu pusat penting pengolahan mineral tembaga di Indonesia. PresidenDirektur PTFI Tony Wenas mengatakan fasilitas smelter Manyar terintegrasi dengankapasitas pengolahan konsentrat tembaga berskala global. Seluruh infrastrukturpengolahan di kawasan tersebut juga telah memasuki tahap kesiapan operasional. Menurut Tony, keberadaan fasilitas pemurnian tembaga dan emas tersebut tidakhanya memperkuat kapasitas hilirisasi PTFI, tetapi juga mendorong penciptaan nilaitambah mineral di dalam negeri. Artinya, manfaat ekonomi dari kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses penambangan, tetapi dilanjutkan melaluipengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Smelter Manyar memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrattembaga per tahun. Fasilitas tersebut akan beroperasi berdampingan dengansmelter pertama PTFI yang dikelola PT Smelting di Gresik. Apabila kedua fasilitastersebut beroperasi secara optimal, kapasitas pemurnian konsentrat tembaga PTFI di Gresik diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya potensi produk hilir yang dapat dihasilkan. Kedua smelter diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1 jutaton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak setiap tahun. Produk-produktersebut memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan konsentratmineral, sehingga keberadaan smelter menjadi instrumen penting untuk menangkapnilai tambah di dalam negeri. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas. Hilirisasi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, meningkatkan aktivitas industri pendukung, serta memperkuat kemampuan sumberdaya manusia dan teknologi nasional. Semakin panjang rantai pengolahan yang dapat dilakukan di Indonesia, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapatdinikmati masyarakat dan negara. Dari sisi penerimaan negara, potensi hilirisasi tembaga juga sangat signifikan. PTFI memproyeksikan bahwa apabila operasional smelter di…

Read More

Smelter Freeport Gresik Beroperasi, Kontribusi ke Negara Diproyeksi Melonjak

Jakarta – Pemerintah kembali membuktikan komitmen dan keberhasilannya yang gemilang dalam mewujudkan program hilirisasi industri mineral secara masif di Tanah Air. Beroperasinya smelter katoda tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, menjadi tonggak sejarah baru bagi kemajuan bangsa ini. Fasilitas megah…

Read More

Pemerintah Perkuat Hilirisasi, Smelter Freeport Gresik Siap Jadi Motor Industri Nasional

GRESIK — Pemerintah terus memperkuat agenda hilirisasi sumber daya alam sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. Sejalan dengan kebijakan tersebut, kesiapan dua fasilitas pemurnian tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik diharapkan menjadi motor baru bagi pengembangan industri nasional sekaligus memperkuat kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian. Dua smelter tersebut diproyeksikan mampu…

Read More

Tokoh Adat dan Agama Wilayah Pegunungan Kecam OPM Sandera 9 Anak Suku Amungme di Jila

MIMIKA — Tokoh adat dan tokoh agama di wilayah Pegunungan Papua mengecam penyanderaan terhadap sembilan anak perempuan dari Suku Amungme di Distrik Jila, Kabupaten Mimika oleh OPM Kodap III Ndugama di bawah pimpinan Egianus Kogoya. Mereka menilai tindakan terhadap warga sipil, khususnya perempuan dan anak-anak, tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun dan hanya menambah…

Read More