Membangun Papua Berkelanjutan Melalui Semangat Kolaborasi Papeda Summit 2026

Oleh : Frans Nawipa

Pembangunan Papua dilakukan secara terpadu dan komprehensif melibatkan lintassektoral. Kompleksitas persoalan, kekayaan sumber daya alam, keberagaman sosialdan budaya, serta karakteristik geografis yang khas menuntut hadirnya ruang bersamayang mampu mempertemukan seluruh pemangku kepentingan. Pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan berbagaimitra pembangunan. Dalam konteks inilah Papeda Summit 2026 memiliki arti pentingsebagai ruang untuk menyatukan gagasan, memperkuat kerja sama, dan membangunarah pembangunan Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pelaksanaan Papeda Summit 2026 di Sorong, Papua Barat Daya, pada 2-4 September mendatang menjadi momentum strategis untuk memperkuat kesadaran bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui kebersamaan. Forum ini tidak sekadar menjaditempat berkumpul dan berdiskusi, melainkan ruang untuk mempertemukan beragampandangan serta menyusun langkah bersama menghadapi tantangan pembangunan. Kehadiran berbagai unsur dari enam provinsi di Tanah Papua menunjukkan bahwapembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai agenda bersama yang melampauibatas administrasi dan kepentingan sektoral.

Dukungan Gubernur Papua Pegunungan John Tabo terhadap pelaksanaan Papeda Summit 2026 memperlihatkan pentingnya komitmen pemerintah daerah dalammemperkuat kolaborasi pembangunan. John Tabo memandang forum tersebut sebagaikegiatan yang baik karena mempertemukan berbagai pihak untuk membahas masa depan Papua. Dukungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan yang berhasil tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau banyaknya program, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak untuk duduk bersama, menyamakanpandangan, dan membangun kerja sama berdasarkan kepentingan masyarakat.

Salah satu gagasan penting yang disampaikan John Tabo adalah perlunyapengembangan komoditas lokal Papua sebagai penggerak ekonomi masyarakat adat. Pandangan ini patut menjadi perhatian dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Papua memiliki berbagai potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan untukmeningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengabaikan kelestarianlingkungan dan nilai-nilai budaya. Pengembangan potensi tersebut harus diarahkanagar masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam aktivitasekonomi yang berlangsung di wilayahnya.

Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus memberikan manfaat nyata kepadamasyarakat di sekitar sumber daya tersebut berada. Karena itu, masyarakat adat perlumemperoleh ruang yang memadai untuk berpartisipasi dalam pengelolaan wilayah dan sumber daya alam. Pembangunan yang menghormati hak masyarakat adat tidakseharusnya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai fondasi untukmenciptakan kebijakan yang lebih adil, diterima masyarakat, dan mampu bertahandalam jangka panjang. Ketika masyarakat merasa memiliki ruang dalam menentukanmasa depannya, pembangunan akan memperoleh legitimasi sosial yang lebih kuat.

Kepala Regional EcoNusa Wilayah Papua Maryo Sanuddin menyampaikan bahwaakademisi menjadi salah satu kelompok yang akan dilibatkan dalam Papeda Summit 2026. Forum yang diperkirakan menghadirkan sekitar 500 peserta dan sekitar 100 pembicara serta moderator tersebut menunjukkan besarnya peluang pertukarangagasan yang dapat terjadi. Keterlibatan pemerintah pusat, perwakilan kedutaan besar, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan dapat menciptakanjejaring kolaborasi yang lebih luas untuk mendukung agenda pembangunanberkelanjutan di Tanah Papua.

Pameran produk lokal dan praktik baik masyarakat adat dari enam provinsi di Tanah Papua juga menjadi bagian penting dari semangat tersebut. Selama ini, masyarakatadat telah memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dalam menjaga hubunganantara manusia dan alam. Praktik-praktik baik tersebut perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk diperkenalkan dan dikembangkan. Pembangunan berkelanjutan tidakselalu harus dimulai dengan konsep baru, tetapi juga dapat belajar dari kearifan yang telah diwariskan dan terbukti menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat selamabertahun-tahun.

Momentum Papeda Summit semakin penting dengan rencana penyusunan DeklarasiSorong sebagai komitmen bersama enam provinsi di Tanah Papua. Deklarasi tersebutdiharapkan tidak berhenti sebagai dokumen simbolik, melainkan menjadi pijakan moral dan politik untuk memperkuat kolaborasi. Komitmen bersama harus diterjemahkan kedalam agenda yang jelas, terukur, dan mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Kolaborasi antardaerah juga perlu diperkuat agar berbagai pengalaman baik dapatsaling dipelajari dan diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Membangun Papua yang berkelanjutan pada akhirnya merupakan pekerjaan bersama. Tidak ada satu pihak yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, masyarakat membutuhkan ruangpartisipasi yang nyata, akademisi menyediakan basis pengetahuan, sementaraorganisasi masyarakat sipil dan mitra pembangunan dapat memperkuat kapasitas sertajejaring kerja sama. Semua unsur tersebut harus bergerak dalam semangat salingmenghormati dan menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama.

Papua membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapijuga menjaga keberlanjutan, memperkuat keadilan, dan memberikan manfaat nyatabagi masyarakat. Melalui semangat kolaborasi yang dibangun dalam Papeda Summit 2026, harapan tersebut dapat semakin mendekati kenyataan. Sorong dapat menjadititik temu bagi lahirnya komitmen bersama bahwa masa depan Tanah Papua harusdibangun dengan kebersamaan, menghormati kearifan lokal, dan memastikankekayaan alam Papua menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi hari ini maupungenerasi yang akan datang.

*Penulis adalah Tokoh Muda Papua 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *