Pemerintah Tindak Tegas SPPG yang Melanggar Standar MBG

Oleh: Raka Pratama* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang dirancang untukmemperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan kebutuhan gizi. Sebagai program dengan cakupan penerima manfaat yang luas, MBG membutuhkan tata kelolayang disiplin, standar keamanan pangan yang ketat, serta pengawasan berlapis. Karena itu, munculnya dugaan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan MBG di SPPG Kalitengah, Sidoarjo, harus menjadi perhatian serius. Sikap pemerintah yang mendorong pemeriksaan secaramenyeluruh dan membuka ruang penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran merupakanlangkah penting untuk memastikan program berjalan semakin baik. Ketegasan tersebut menunjukkan bahwa perluasan MBG tidak dilakukan dengan mengabaikanaspek keselamatan penerima manfaat. Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan setiapmakanan yang diberikan kepada masyarakat memenuhi standar keamanan, kebersihan, dan kandungan gizi. Dengan demikian, ketika terjadi dugaan pelanggaran, tindakan korektif justrumenjadi bagian dari proses memperkuat program. Evaluasi dan penindakan bukan berartimelemahkan MBG, melainkan memastikan pelaksanaan program nasional tersebut memilikifondasi tata kelola yang semakin kokoh. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan telah meminta agar kasus Sidoarjo diperiksasampai tuntas. Apabila pemeriksaan menemukan unsur pelanggaran hukum, ia mendorong agar kasus tersebut diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Zulkifli Hasan juga menegaskan bahwatidak boleh ada toleransi terhadap pengelola yang terbukti mengabaikan tanggung jawab. Sikaptersebut relevan karena tanggung jawab kepala SPPG tidak berhenti pada memastikan makananselesai diproduksi dan didistribusikan, tetapi mencakup seluruh rangkaian proses untukmenjamin makanan aman dikonsumsi. Pernyataan tersebut memberikan pesan yang jelas kepada seluruh pengelola SPPG di Indonesia bahwa kualitas harus menjadi prioritas utama. Jumlah dapur yang beroperasi dan banyaknyapenerima manfaat memang penting sebagai indikator cakupan program, tetapi keberhasilanMBG pada akhirnya ditentukan oleh kualitas pelayanan. Makanan bergizi harus hadir bersamastandar higiene dan sanitasi yang memadai. Setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi, harus dilakukan dengan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah juga telah melakukan evaluasi terhadap puluhan ribu SPPG yang beroperasi. Temuanmengenai sejumlah SPPG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menunjukkan bahwa pengawasan perlu terus diperkuat. Langkah penertiban terhadap unit yang belum memenuhi persyaratan menjadi bagian penting dari pembenahan. Demikian pula pemberhentian kepala SPPG yang terbukti melakukan pelanggaran menunjukkan bahwapengelolaan MBG tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga menempatkanakuntabilitas sebagai prinsip utama. Anggota Komisi IX DPR Fraksi NasDem Irma Chaniago turut mendorong agar setiap kejadiandugaan gangguan kesehatan diinvestigasi. Apabila terbukti terdapat kelalaian SPPG, iamendorong pemberian sanksi sesuai tingkat kesalahan. Ia juga menekankan pentingnyapengawasan terhadap fasilitas penyimpanan bahan pangan, kebersihan lingkungan SPPG, sertasistem pengelolaan limbah. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembenahan MBG membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pengawas, pemerintah daerah, tenagakesehatan, aparat penegak hukum, dan masyarakat. Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono juga memastikan bahwa dugaan pelanggaran dalamsejumlah kasus telah diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti berdasarkanhasil penyelidikan dan penyidikan. Mekanisme tersebut penting agar setiap keputusan mengenaiada atau tidaknya unsur pidana didasarkan pada bukti. Dengan pendekatan demikian, proses penegakan hukum dapat berjalan secara objektif sekaligus memberikan kepastian bagimasyarakat. Ketegasan terhadap pelanggaran juga perlu ditempatkan dalam kerangka menjaga efisiensipenggunaan anggaran negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwapemerintah terus melakukan monitoring terhadap pelaksanaan MBG dan mendorong efisiensianggaran. Pengawasan terhadap SPPG di daerah menjadi salah satu bagian dari upayamemastikan anggaran benar-benar digunakan secara tepat. Pendekatan ini penting karenasemakin besar skala sebuah program publik, semakin besar pula kebutuhan terhadappengendalian dan evaluasi yang sistematis. Ke depan, pemerintah perlu menjadikan setiap insiden sebagai bahan pembelajaran untukmemperbaiki sistem secara menyeluruh. Penguatan sertifikasi, inspeksi berkala, peningkatankompetensi tenaga pengelola, pengawasan rantai pasok, pemanfaatan teknologi pencatatan, hingga mekanisme pelaporan yang cepat perlu terus dikembangkan. Dengan demikian, tindakantegas tidak berhenti sebagai respons terhadap masalah, tetapi menghasilkan perbaikan permanendalam sistem penyelenggaraan MBG. Pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan hanya ditentukan oleh seberapa luas program tersebutmenjangkau masyarakat, melainkan seberapa baik negara menjaga kualitas dan keselamatanpenerima manfaat. Ketegasan pemerintah dalam memeriksa dugaan pelanggaran, memberikansanksi terhadap pihak yang terbukti lalai, dan meneruskan perkara yang memenuhi unsur hukummerupakan bagian dari upaya menjaga standar tersebut. MBG dapat berkembang secaraberkelanjutan apabila ekspansi program berjalan beriringan dengan disiplin, pengawasan, efisiensi, dan akuntabilitas. Dengan evaluasi yang konsisten dan penindakan yang proporsional, setiap SPPG didorong untukbekerja semakin profesional. Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan layakdikonsumsi; pengelolaan harus tertib; dan setiap pelanggaran harus memiliki konsekuensi. Pendekatan inilah yang dapat memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan MBG benar-benar memberikan manfaat yang optimal bagi generasi Indonesia. *Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik…

Read More

MBG di Papua, Ikhtiar Negara Memastikan Generasi Muda Tumbuh Sehat dan BerdayaSaing

Oleh: Markus Yoku* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu bentuk nyata perhatian pemerintahterhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, termasuk anak-anak di Tanah Papua. Kehadiran program ini tidak semata-mata berkaitan dengan pemberian makanan kepadapeserta didik, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki kesempatan yang lebih setara dalam meraih masa depan. Di tengah karakter geografis Papua yang penuh tantangan, komitmen memperluas manfaat MBG hingga wilayah sulit akses menjadi bukti bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di pusat-pusat perkotaan. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menunjukkan komitmen tersebut denganmemperjuangkan agar MBG dapat menjangkau anak-anak di kampung yang menghadapiketerbatasan akses dan infrastruktur. Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausraumenegaskan bahwa wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T harus menjadi perhatiandalam perluasan program. Menurutnya, anak-anak di kawasan yang sulit dijangkau justrumerupakan kelompok yang sangat membutuhkan dukungan pemerintah. Sikap tersebutmemperlihatkan bahwa keberpihakan pembangunan di Papua tidak hanya diukur daripembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan negara memenuhi kebutuhan dasar generasimudanya. Langkah Pemprov Papua Barat Daya melakukan komunikasi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal menunjukkan adanya koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mencari solusi terhadap persoalan geografis. Maybrat dan Tambrauwtelah masuk kategori 3T berdasarkan ketentuan pemerintah pusat. Namun, sejumlah wilayah di Kabupaten Sorong dan Sorong Selatan juga memiliki kondisi geografis yang tidak mudah. Karena itu, penyesuaian cakupan wilayah menjadi penting agar keterbatasan akses tidak berubahmenjadi hambatan permanen bagi anak-anak untuk memperoleh makanan bergizi. Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa negara hadir dengan pendekatan yang semakinadaptif terhadap kebutuhan daerah. Implementasi MBG di Papua tentu tidak dapat disamakansepenuhnya dengan daerah lain. Kondisi kepulauan, pegunungan, jarak antarkampung, sertaketerbatasan sarana transportasi membutuhkan strategi distribusi yang lebih kreatif dan melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat setempat. Dengan perencanaan yang tepat, tantangan geografis dapat diubah menjadi peluang untuk membangun model pelaksanaan MBG yang sesuai dengan karakter Papua. Dukungan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam memastikan program tersebut berjalanberkelanjutan. Sejumlah tokoh adat Tanah Tabi, Kabupaten Jayapura, secara terbuka mengajakmasyarakat, khususnya pelajar, untuk menjaga suasana aman dan memberikan kesempatankepada pemerintah memperbaiki serta menjalankan program MBG. Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, mengimbau para pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK agar tetap fokus mengikutipendidikan serta tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang berpotensi menggangguketenteraman masyarakat. Menurut Yacob, generasi muda seharusnya memanfaatkan kesempatanpendidikan untuk mengejar ilmu dan mewujudkan cita-cita. Pesan tersebut relevan dengan tujuan besar MBG. Program pemenuhan gizi akan memberikanmanfaat optimal apabila berjalan berdampingan dengan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif….

Read More

Pemerintah Tegas Benahi MBG, Pelanggaran Bisa Berujung Proses Hukum

Jakarta – Pemerintah memperketat pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul dugaan insiden keamanan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo. Penindakan tidak akan berhenti pada sanksi administratif apabila pemeriksaan menemukan unsur pelanggaran hukum. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan pihak yang bertanggung jawab harus ditindak sesuai ketentuan. Insiden tersebut dilaporkan…

Read More

Keamanan Pangan MBG Diperketat, Pemerintah Bangun Pengawasan dari Hulu ke Hilir

Oleh: Kaisar Wallecya Andris Dalam program pangan berskala nasional, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya penerima manfaat atau luasnya cakupan layanan. Ukuran yang jauh lebih mendasar adalah apakah makanan yang sampai ke penerima benar-benar aman, bergizi, dan layak dikonsumsi. Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan keselamatan pangan harus ditempatkan sebagai fondasi utama karena yang dilayani adalah…

Read More

Mengawal Pemerintah Hadapi Bencana Alam dengan Respons Terpadu dan BerbasisData

Oleh : Catur Ronggo*) Indonesia adalah negara yang hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana. Letakgeografis di kawasan cincin api, perubahan pola cuaca, kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta longsor menuntut pemerintah memiliki sistem penanganan yang semakin cepat dan terukur. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan menghadapi bencana tidak hanya ditentukanoleh besarnya sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan membaca risiko dan mengambilkeputusan berdasarkan data. Perkembangan penanganan bencana belakangan ini menunjukkan penguatan pendekatantersebut. Pemerintah tidak lagi hanya menempatkan respons darurat sebagai pusatpenanganan, tetapi mendorong mitigasi, deteksi dini, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hinggapemulihan dalam satu rangkaian kebijakan. Indonesia memang tidak dapat menghapusancaman bencana, tetapi risiko dan dampaknya dapat ditekan melalui persiapan yang lebihbaik. Presiden Prabowo Subianto menilai respons pemerintah dalam menangani berbagai bencanaalam semakin cepat dan masif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penilaian itu tercermindari penanganan banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sertapengendalian karhutla di sejumlah wilayah. Pemerintah, menurut Presiden, harus terus belajardari setiap kejadian untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman berikutnya.  Prabowo menekankan bahwa Indonesia harus selalu siap karena berada di kawasan Ring of Fire dan menghadapi ancaman gempa bumi, aktivitas gunung api, serta karhutla. Pengalamanpenanganan bencana harus diterjemahkan menjadi evaluasi dan perencanaan yang lebihmatang. Kesiapsiagaan tidak boleh muncul hanya ketika bencana terjadi, tetapi harus menjadibagian dari tata kelola pemerintahan.  Presiden juga meminta berbagai kendala di lapangan dicatat sebagai bahan perbaikan dan mendorong peningkatan alokasi anggaran mitigasi secara signifikan. Langkah tersebutmenunjukkan bahwa anggaran kebencanaan bukan sekadar biaya ketika bencana terjadi, melainkan investasi untuk melindungi masyarakat, menekan kerugian ekonomi, dan mempercepat pemulihan.  Arahan Presiden kemudian terlihat dalam langkah BNPB menghadapi puncak risiko karhutla. Kepala BNPB Suharyanto menekankan pentingnya sinergi pemerintah pusat, pemerintahdaerah, aparat keamanan, dan pemegang hak guna usaha di wilayah rawan. Pendekatan inidiperlukan karena pengendalian karhutla tidak mungkin dibebankan kepada satu lembagaatau dilakukan setelah api membesar.  Pemerintah memperluas langkah mulai dari pencegahan, deteksi dini, patroli, pemeriksaanlapangan, penyekatan api, pendinginan, hingga pemantauan titik api. Pemegang HGU juga didorong memastikan kesiapan personel, peralatan pemadaman, patroli, dan respons cepat. Kolaborasi tersebut memperkuat prinsip bahwa pencegahan merupakan tanggung jawabbersama.  Suharyanto melaporkan bahwa pada 7 September, luas lahan terbakar di sejumlah provinsibergambut mencapai sekitar 72.008 hektare. Sekitar 71.274 hektare telah berhasildipadamkan, sementara sekitar 734 hektare masih terbakar berdasarkan data hingga seharisebelumnya. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan sekaligus pentingnya operasiterpadu agar kebakaran tidak berkembang lebih luas.  Dalam konteks ini, pendekatan berbasis data menjadi semakin menentukan. Pemerintah tidakdapat mengandalkan perkiraan umum dalam menentukan lokasi prioritas, pengerahanpersonel, maupun penggunaan sumber daya. Data mengenai titik panas, cuaca, arah angin, kelembapan tanah, kualitas udara, dan kondisi api harus menjadi dasar pengambilankeputusan yang cepat dan tepat.  Prinsip tersebut sejalan dengan pandangan Dwikorita Karnawati mengenai pentingnya sains dan teknologi dalam mitigasi bencana. Pengalaman penanganan karhutla menunjukkanbahwa teknologi pemantauan atmosfer dan operasi modifikasi cuaca dapat membantupemerintah bergerak lebih proaktif. Perkembangan terbaru memperlihatkan analisis cuacadimanfaatkan untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian awan secara terukur.  Di Kalimantan Barat, operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan dukungan pemantauanpergerakan massa awan, arah angin, dan tingkat kelembapan secara real-time. Hujan yang dihasilkan membantu membasahi lahan gambut dan memadamkan titik api di sejumlahwilayah rawan. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari penanganan reaktif menujupencegahan dini berbasis analisis ilmiah.  Pemerintah juga melanjutkan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah sesuai kebutuhanlapangan. Langkah ini menunjukkan bahwa data bukan sekadar alat untuk menggambarkankondisi, melainkan dasar menentukan kebijakan dan tindakan operasional. Ketika informasidiperbarui dengan cepat, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk mencegah risikoberkembang.  Mengawal pemerintah dalam menghadapi bencana berarti memastikan kebijakan tidakberjalan sendiri-sendiri. BNPB membutuhkan data ilmiah, pemerintah daerah membutuhkankoordinasi pusat, sementara masyarakat memerlukan informasi yang cepat dan dapatdipercaya. Ketika seluruh unsur bergerak dalam satu sistem, respons terhadap bencana dapatmenjadi lebih efektif dan terarah. Ke depan, keberhasilan pemerintah menghadapi bencana harus diukur bukan hanya dariseberapa cepat api dipadamkan atau bantuan disalurkan, tetapi juga dari kemampuanmencegah risiko sebelum berubah menjadi bencana besar. Arah kebijakan Presiden Prabowo yang menekankan kesiapsiagaan, penguatan mitigasi, dan evaluasi berkelanjutan memberikanfondasi penting bagi sistem kebencanaan nasional.  Dengan respons yang semakin terpadu dan keputusan yang semakin berbasis data, pemerintah sedang membangun kemampuan nasional menghadapi ancaman yang kompleks. Kolaborasi pusat dan daerah, pemanfaatan teknologi, serta penguatan investasi mitigasimenunjukkan negara terus belajar dan memperbaiki diri. Negara yang siap menghadapibencana adalah negara yang menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas,…

Read More

Penembakan ASN di Jayawijaya Dikecam dan Dinilai Melanggar Nilai Kemanusiaan

KUPANG – Penembakan terhadap tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, di Distrik Muliama pada Rabu (9/9/2026) menuai kecaman. Tindakan kekerasan tersebut dinilai tidak dapat dibenarkan karena para korban merupakan warga sipil yang sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Ketiga korban yakni Willi Mbuik (25), CPNS Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal…

Read More

Bantuan Beras hingga Desember Menjadi Tameng Rakyat MenghadapiDampak El Nino

Oleh: Dwi Saputri)* Pemerintah resmi memperpanjang penyaluran bantuan sosial pangan berupa berashingga Desember 2026. Keputusan Presiden Prabowo Subianto tersebut menjadilangkah strategis untuk melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi akibat rentetanbencana alam serta fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung. Perpanjangan bantuan beras menunjukkan bahwa pemerintah menyadari dampakperubahan iklim tidak berhenti pada persoalan cuaca. El Nino dapat memengaruhiproduksi pertanian, mengganggu pasokan pangan, serta mendorong kenaikan hargakebutuhan pokok. Dampaknya paling berat dirasakan keluarga miskin dan kurangmampu karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhikebutuhan pangan. Keputusan tersebut juga didasarkan pada evaluasi pemerintah terhadap kondisiekonomi masyarakat di tengah situasi darurat bencana, termasuk dampak erupsisejumlah gunung berapi di Indonesia. Bencana tidak hanya mengancamkeselamatan warga, tetapi juga dapat merusak lahan pertanian, menghentikankegiatan usaha, menghambat distribusi, dan mengurangi pendapatan keluargaterdampak. Dalam keadaan seperti ini, bantuan pangan memiliki arti lebih besar daripadasekadar pembagian beras. Program tersebut menjadi tameng yang menjagamasyarakat agar tidak semakin rentan ketika pendapatan menurun dan hargakebutuhan berpotensi meningkat. Bantuan pangan yang semula direncanakanberakhir pada September pun dipastikan berlanjut hingga penghujung tahun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakanpemerintah mempersiapkan anggaran sebesar Rp17 triliun untuk bantuan beraskepada 33,2 juta keluarga miskin atau kurang mampu sepanjang kuartal IV 2026. Besarnya anggaran dan cakupan penerima memperlihatkan kesungguhanpemerintah dalam menjaga daya beli sekaligus memperkuat jaring pengaman sosial. Airlangga menyampaikan bahwa kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut atasarahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempersiapkan berbagai program bantuan guna memperkuat perlindungan sosial dan meningkatkan kesejahteraanmasyarakat. Ketepatan waktu menjadi faktor penting dalam pelaksanaannya. Bantuan yang terlambat berisiko kehilangan manfaat karena masyarakat membutuhkan dukunganketika tekanan sedang berlangsung. Pemerintah karena itu tidak cukup hanyamemastikan anggaran tersedia, tetapi juga harus mempercepat distribusi hinggabantuan benar-benar diterima oleh kelompok yang berhak. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah telahmeminta Perum Bulog mempercepat penyaluran bantuan beras kepada penerimamanfaat dalam kelompok desil 1 hingga desil 4, dengan jumlah sekitar 33,2 jutapenerima. Kelompok tersebut merupakan masyarakat yang paling membutuhkanperlindungan ketika tekanan ekonomi dan risiko pangan meningkat. Bantuan beras untuk periode Juli–September akan disalurkan secara rapel sehinggasetiap penerima memperoleh 30 kilogram sekaligus. Skema penyaluran secaraakumulasi atau rapel juga akan diterapkan pada Oktober. Mekanisme tersebutdiharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan keluarga yang sempatmenunggu penyaluran bantuan. Meski demikian, skema rapel harus disertai pengawasan yang kuat. Pemerintahperlu memastikan data penerima telah diperbarui, kualitas beras tetap terjaga, sertatidak terjadi pemotongan maupun penyimpangan dalam distribusi. Transparansimengenai jadwal, jumlah, dan lokasi penyaluran juga diperlukan agar masyarakatdapat ikut mengawasi pelaksanaannya. Dari sisi ketersediaan, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhanimemastikan stok beras pemerintah mencukupi untuk mendukung penyaluranbantuan hingga akhir tahun. Persediaan beras yang dikuasai Bulog saat inimencapai lebih dari 4 juta ton. Perum Bulog mencatat kebutuhan beras yang akan didistribusikan hingga akhirtahun mencapai sekitar 997 ribu ton. Ketersediaan stok tersebut memberikan ruangyang memadai bagi pemerintah untuk menjalankan program bantuan tanpamengabaikan kebutuhan stabilisasi pasokan dan harga beras di pasar. Bulog juga akan mengoptimalkan seluruh sumber daya dan jaringan operasionalyang dimiliki untuk mendukung kelancaran penyaluran bantuan. Jaringan hinggadaerah harus dimanfaatkan agar bantuan tidak hanya cepat keluar dari gudang, tetapi juga sampai kepada penerima secara tepat jumlah, tepat mutu, tepat sasaran, dan tepat waktu. Perpanjangan bantuan beras hingga Desember patut diapresiasi sebagai bentukkehadiran pemerintah dalam melindungi masyarakat di tengah ketidakpastian iklimdan bencana. Kebijakan ini memperlihatkan bahwa perlindungan sosial ditempatkansebagai bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Namun, keberhasilan program tidak boleh hanya dinilai dari besarnya anggaran, jumlah stok, ataupun banyaknya penerima. Ukuran utamanya adalah kemampuanbantuan tersebut menjaga kebutuhan pangan dan daya beli keluarga rentan. Oleh karena itu, koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bulog, dan aparatpengawasan perlu terus diperkuat. Masyarakat berharap bantuan beras tersebut dapat disalurkan secara merata, transparan, dan bebas penyimpangan. Pemutakhiran data penerima juga perludilakukan secara berkelanjutan agar keluarga yang benar-benar membutuhkan tidakterlewat, sementara penerima yang sudah tidak memenuhi kriteria dapatdisesuaikan. Dengan distribusi yang cepat, data yang akurat, serta pengawasan yang konsisten, bantuan beras dapat benar-benar menjadi tameng rakyat menghadapi dampak El Nino. Kehadiran negara pun akan dirasakan bukan sekadar melalui kebijakan di ataskertas, melainkan melalui tersedianya kebutuhan pokok di meja makan masyarakathingga kondisi kembali stabil. )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

Read More

Karhutla Diusut, Prabowo Minta Penelusuran Pemilik Korporasi Bermasalah

Jakarta – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa kepolisian terus mengusut kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Hingga saat ini, terdapat 200 laporan polisi yang sedang diproses, dengan 138 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Dalam Rapat Terbatas (Ratas) secara daring, Presiden meminta Kapolri melaporkan perkembangan penanganan terhadap pihak-pihak…

Read More

Presiden Prabowo Tegaskan bahwa Karhutla Bukan Pelanggaran Ringan

Oleh : Catur Ronggo*) Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan api yang harus segera dipadamkan. Di balik setiap hektare hutan yang terbakar, terdapat ancaman terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, aktivitas ekonomi, hingga masa depan pembangunan nasional. Karena itu, pesan Presiden Prabowo Subianto dalam perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan patut dibaca sebagai penegasan penting: negara tidak…

Read More

Prabowo Tegas Soal Karhutla, Negara Tidak Tunduk pada Korporasi Nakal

Oleh : Radjiman Arif*) Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan yang berulang setiap kemarau. Karhutla berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, keberlangsungan ekosistem, aktivitas ekonomi, hingga keberlangsungan pembangunan. Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Negara juga harus memastikan setiap pihak yang menyebabkan atau membiarkan terjadinya kebakaran dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum….

Read More