Pemerintah Pastikan Penanganan Terpadu Bencana Alam Berjalan 24 Jam

JAKARTA — Pemerintah mempercepat penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia dengan menggerakkan unsur pusat, daerah, TNI, BNPB, serta kementerian dan lembaga terkait secara terpadu. Langkah ini dilakukan menyusul gempa di Flores, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah daerah. Penanganan dilakukan secara berkelanjutan melalui pemantauan situasi,…

Read More

Pemerintah Tangani Potensi Dampak Bencana Alam Secara Terpadu

Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan bencana alam secara terpadu dengan mengerahkan kekuatan nasional, mempercepat respons di daerah terdampak, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berikutnya. Presiden Prabowo Subianto menilai respons pemerintah terhadap berbagai bencana saat ini semakin cepat dan masif dibandingkan penanganan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disampaikan Prabowo saat membuka rapat terbatas untuk membahas…

Read More

Mengawal Pemerintah Hadapi Bencana Alam dengan Respons Terpadu dan BerbasisData

Oleh : Catur Ronggo*) Indonesia adalah negara yang hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana. Letakgeografis di kawasan cincin api, perubahan pola cuaca, kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta longsor menuntut pemerintah memiliki sistem penanganan yang semakin cepat dan terukur. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan menghadapi bencana tidak hanya ditentukanoleh besarnya sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan membaca risiko dan mengambilkeputusan berdasarkan data. Perkembangan penanganan bencana belakangan ini menunjukkan penguatan pendekatantersebut. Pemerintah tidak lagi hanya menempatkan respons darurat sebagai pusatpenanganan, tetapi mendorong mitigasi, deteksi dini, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hinggapemulihan dalam satu rangkaian kebijakan. Indonesia memang tidak dapat menghapusancaman bencana, tetapi risiko dan dampaknya dapat ditekan melalui persiapan yang lebihbaik. Presiden Prabowo Subianto menilai respons pemerintah dalam menangani berbagai bencanaalam semakin cepat dan masif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penilaian itu tercermindari penanganan banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sertapengendalian karhutla di sejumlah wilayah. Pemerintah, menurut Presiden, harus terus belajardari setiap kejadian untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman berikutnya.  Prabowo menekankan bahwa Indonesia harus selalu siap karena berada di kawasan Ring of Fire dan menghadapi ancaman gempa bumi, aktivitas gunung api, serta karhutla. Pengalamanpenanganan bencana harus diterjemahkan menjadi evaluasi dan perencanaan yang lebihmatang. Kesiapsiagaan tidak boleh muncul hanya ketika bencana terjadi, tetapi harus menjadibagian dari tata kelola pemerintahan.  Presiden juga meminta berbagai kendala di lapangan dicatat sebagai bahan perbaikan dan mendorong peningkatan alokasi anggaran mitigasi secara signifikan. Langkah tersebutmenunjukkan bahwa anggaran kebencanaan bukan sekadar biaya ketika bencana terjadi, melainkan investasi untuk melindungi masyarakat, menekan kerugian ekonomi, dan mempercepat pemulihan.  Arahan Presiden kemudian terlihat dalam langkah BNPB menghadapi puncak risiko karhutla. Kepala BNPB Suharyanto menekankan pentingnya sinergi pemerintah pusat, pemerintahdaerah, aparat keamanan, dan pemegang hak guna usaha di wilayah rawan. Pendekatan inidiperlukan karena pengendalian karhutla tidak mungkin dibebankan kepada satu lembagaatau dilakukan setelah api membesar.  Pemerintah memperluas langkah mulai dari pencegahan, deteksi dini, patroli, pemeriksaanlapangan, penyekatan api, pendinginan, hingga pemantauan titik api. Pemegang HGU juga didorong memastikan kesiapan personel, peralatan pemadaman, patroli, dan respons cepat. Kolaborasi tersebut memperkuat prinsip bahwa pencegahan merupakan tanggung jawabbersama.  Suharyanto melaporkan bahwa pada 7 September, luas lahan terbakar di sejumlah provinsibergambut mencapai sekitar 72.008 hektare. Sekitar 71.274 hektare telah berhasildipadamkan, sementara sekitar 734 hektare masih terbakar berdasarkan data hingga seharisebelumnya. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan sekaligus pentingnya operasiterpadu agar kebakaran tidak berkembang lebih luas.  Dalam konteks ini, pendekatan berbasis data menjadi semakin menentukan. Pemerintah tidakdapat mengandalkan perkiraan umum dalam menentukan lokasi prioritas, pengerahanpersonel, maupun penggunaan sumber daya. Data mengenai titik panas, cuaca, arah angin, kelembapan tanah, kualitas udara, dan kondisi api harus menjadi dasar pengambilankeputusan yang cepat dan tepat.  Prinsip tersebut sejalan dengan pandangan Dwikorita Karnawati mengenai pentingnya sains dan teknologi dalam mitigasi bencana. Pengalaman penanganan karhutla menunjukkanbahwa teknologi pemantauan atmosfer dan operasi modifikasi cuaca dapat membantupemerintah bergerak lebih proaktif. Perkembangan terbaru memperlihatkan analisis cuacadimanfaatkan untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian awan secara terukur.  Di Kalimantan Barat, operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan dukungan pemantauanpergerakan massa awan, arah angin, dan tingkat kelembapan secara real-time. Hujan yang dihasilkan membantu membasahi lahan gambut dan memadamkan titik api di sejumlahwilayah rawan. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari penanganan reaktif menujupencegahan dini berbasis analisis ilmiah.  Pemerintah juga melanjutkan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah sesuai kebutuhanlapangan. Langkah ini menunjukkan bahwa data bukan sekadar alat untuk menggambarkankondisi, melainkan dasar menentukan kebijakan dan tindakan operasional. Ketika informasidiperbarui dengan cepat, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk mencegah risikoberkembang.  Mengawal pemerintah dalam menghadapi bencana berarti memastikan kebijakan tidakberjalan sendiri-sendiri. BNPB membutuhkan data ilmiah, pemerintah daerah membutuhkankoordinasi pusat, sementara masyarakat memerlukan informasi yang cepat dan dapatdipercaya. Ketika seluruh unsur bergerak dalam satu sistem, respons terhadap bencana dapatmenjadi lebih efektif dan terarah. Ke depan, keberhasilan pemerintah menghadapi bencana harus diukur bukan hanya dariseberapa cepat api dipadamkan atau bantuan disalurkan, tetapi juga dari kemampuanmencegah risiko sebelum berubah menjadi bencana besar. Arah kebijakan Presiden Prabowo yang menekankan kesiapsiagaan, penguatan mitigasi, dan evaluasi berkelanjutan memberikanfondasi penting bagi sistem kebencanaan nasional.  Dengan respons yang semakin terpadu dan keputusan yang semakin berbasis data, pemerintah sedang membangun kemampuan nasional menghadapi ancaman yang kompleks. Kolaborasi pusat dan daerah, pemanfaatan teknologi, serta penguatan investasi mitigasimenunjukkan negara terus belajar dan memperbaiki diri. Negara yang siap menghadapibencana adalah negara yang menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas,…

Read More

OMC dan Pemantauan Tsunami Menunjukkan Bencana Alam Ditangani secaraTerpadu

Oleh : Radjiman Arif*) Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Aktivitasvulkanik, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrem menuntutsistem penanganan yang cepat, terpadu, dan berbasis data. Dalam kondisi seperti itu, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari kecepatan bantuan tiba, tetapi juga dari kemampuan negara membaca risiko, mengambil keputusan, dan melindungi masyarakatsebelum dampak meluas. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 menjadigambaran penting mengenai pentingnya koordinasi nasional. Ketika erupsi memunculkansebaran abu vulkanik, gangguan penerbangan, dan kekhawatiran masyarakat terhadap potensitsunami, pemerintah bergerak melalui koordinasi BNPB, BMKG, kementerian terkait, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta otoritas transportasi. Kepala BNPB Suharyanto menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama. Pemerintah terus memantau perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan mengambil langkahantisipasi sejak dini. Kewaspadaan tetap dipertahankan karena karakter aktivitas gunung apidapat berubah, karena dampak abu vulkanik dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Suharyanto juga menunjukkan pentingnya langkah mitigasi yang bersifat proaktif. BNPB bersama BMKG menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC untuk mengoptimalkanpotensi hujan agar abu vulkanik dapat lebih cepat luruh. Langkah tersebut memperlihatkanpendekatan yang lebih proaktif melalui pemanfaatan teknologi dan analisis kondisi alam. Pendekatan OMC menjadi penting karena sebaran abu vulkanik dapat berdampak langsungterhadap kehidupan masyarakat. Gangguan penerbangan menunjukkan bahwa keselamatanharus menjadi pertimbangan utama. Pemerintah mengambil langkah mitigasi berdasarkanperkembangan kondisi aktual, meskipun penyesuaian operasional transportasi dapatmemengaruhi mobilitas dan aktivitas ekonomi. Dalam perkembangan berikutnya, koordinasi BNPB dan BMKG menghasilkan respons yang lebih terukur. OMC dilakukan berdasarkan analisis arah angin, kondisi awan, kelembapanudara, dan dinamika atmosfer. Teknologi pun semakin menjadi bagian penting dalam strategi pengurangan risiko bencana. Pada aspek pemantauan ilmiah, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menempatkan data sebagai fondasi utama pengambilan keputusan. Prinsip tersebut terlihat melalui pemantauansebaran abu, pengamatan atmosfer, informasi penerbangan, serta kondisi laut. Data menjadi instrumen penting untuk memastikan setiap kebijakan didasarkan pada kondisiaktual, bukan spekulasi atau kepanikan. Informasi mengenai arah dan sebaran abu membantuotoritas menentukan langkah mitigasi, termasuk penyesuaian operasional penerbangan. Dengan sistem pemantauan yang berjalan terus-menerus, pemerintah dapat memperbaruikeputusan sesuai perkembangan risiko. Pendekatan berbasis data juga diterapkan dalam pemantauan potensi tsunami di Selat Sunda. Pengalaman bencana masa lalu menjadi pelajaran penting, namun pemerintah tetapmengandalkan indikator ilmiah dalam membaca kondisi terkini. Melalui sistem InaTEWSdan berbagai perangkat pemantauan, kondisi laut terus diamati untuk mendeteksikemungkinan anomali yang memerlukan tindakan lebih lanjut. Pemantauan tersebut diperkuat melalui tsunami gauge, seismograf, dan perangkatpengamatan lainnya. Sistem ini memungkinkan pemerintah memperoleh informasi cepat dan akurat. Prinsipnya jelas: masyarakat harus tetap waspada, tetapi kewaspadaan tidak bolehberubah menjadi kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi. Di sisi lain, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton S.P. Panjaitan menekankan pentingnya masyarakat tetap tenang sambil meningkatkankewaspadaan. Dalam menghadapi hujan abu, masyarakat diimbau menggunakan masker dan pelindung mata, mengurangi aktivitas luar ruangan apabila diperlukan, serta mengikutiinformasi resmi dari pemerintah. Pesan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi kebencanaan memiliki peran yang samapentingnya dengan operasi lapangan. Bencana tidak hanya menimbulkan ancaman fisik, tetapi juga dapat memicu kepanikan apabila informasi yang beredar tidak akurat. Karena itu, pemerintah perlu memastikan informasi resmi tersedia secara cepat, konsisten, dan mudahdipahami masyarakat. Respons terhadap aktivitas Anak Krakatau memperlihatkan pentingnya koordinasi lintassektor. BNPB menjalankan fungsi koordinasi kebencanaan, BMKG menyediakan analisis dan pemantauan data, sementara sektor transportasi mengambil keputusan berdasarkanperkembangan keselamatan. Ketika lembaga bekerja dengan data yang saling terhubung, respons menjadi lebih terarah dan risiko kesimpangsiuran informasi dapat ditekan. Perkembangan situasi kemudian menunjukkan hasil dari pendekatan tersebut. Setelahpemantauan dan verifikasi dilakukan secara berkelanjutan, sejumlah aktivitas transportasidapat kembali disesuaikan berdasarkan kondisi keselamatan. Pemulihan aktivitas masyarakattetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian. Ke depan, pengalaman ini perlu menjadi pembelajaran bagi sistem kebencanaan nasional. Ancaman bencana memang tidak dapat dihilangkan, tetapi dampaknya dapat ditekan melaluikesiapsiagaan, koordinasi, teknologi, dan pengambilan keputusan berbasis data….

Read More

Perpanjangan Bantuan Beras, Mengutamakan Kebutuhan Dasar Rakyat

*) Oleh : Kevin Andrianto Pemerintah memutuskan memperpanjang program bantuan pangan beras hingga Desember 2026 sebagai langkah untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Kebijakan ini menjadi penting di tengah potensi tekanan terhadap produksi dan pasokan pangan akibat perubahan cuaca serta risiko El Nino. Melalui tambahan bantuan tersebut, pemerintah berupaya memastikan masyarakat tetap…

Read More

Arahan Presiden Prabowo, Bantuan Beras 10 Kg Berlanjut hingga Akhir Tahun

Jakarta — Pemerintah memastikan program bantuan pangan berupa beras tetap berlanjut hingga akhir 2026. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI, Prabowo Subianto sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan bahwa keputusan Presiden tersebut…

Read More

Presiden Prabowo Perpanjang Bantuan Beras hingga Desember 2026

Jakarta, – Pemerintah memperpanjang program bantuan pangan berupa beras hingga Desember 2026. Kebijakan tersebut memastikan masyarakat penerima manfaat tetap memperoleh bantuan beras sebanyak 10 kilogram (kg) per bulan untuk periode Oktober, November, dan Desember sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perpanjangan program bantuan pangan tersebut merupakan…

Read More

Mengecam Kekerasan OPM di Jayawijaya yang Korbankan Warga Sipil Pelayan Publik

Oleh: Yohanes Wandikbo )* Kekerasan terhadap warga sipil kembali terjadi di Tanah Papua. Penembakan terhadap tigaaparatur sipil negara (ASN) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Rabu, 9 September 2026, menjadi tragedi yang patut dikecam. Para korban bukankombatan, bukan pihak yang sedang berperang, melainkan aparatur yang tengah menjalankantugas pelayanan kepada masyarakat. Ketiga korban merupakan Willi Mbuik, CPNS Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asalKupang, Nusa Tenggara Timur; drh. Alfonsius Albinus Mehan, Dokter Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Sikka, Maumere; serta Aprida Rapi, Kepala BidangPeternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Toraja, Sulawesi Selatan. Ketiganya menjalankan tugas yang memiliki hubungan langsung dengan kepentinganmasyarakat. Mereka hadir untuk memberikan pelayanan di bidang pertanian, peternakan, dan kesehatan hewan. Karena itu, tindakan kekerasan terhadap mereka tidak hanya merenggutnyawa warga sipil, tetapi juga mengancam keberlangsungan pelayanan publik yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat Papua. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kelompok bersenjata yang melakukan kekerasanmasih menjadi ancaman bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas secara normal. Kekerasan semacam ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Perbedaanpandangan, persoalan politik, maupun kepentingan kelompok tidak pernah menjadi alasanyang sah untuk menghilangkan hak hidup seseorang. Kecaman kemudian disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena yang meminta aparat keamanan menangkap seluruh pelaku penembakan. Melki menilaipembunuhan terhadap manusia tidak dapat dibenarkan, terlebih ketiga korban sedangmenjalankan tugas kemanusiaan dan tugas negara untuk membantu masyarakat Papua memperoleh pelayanan serta bantuan pangan. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa tragedi di Muliama bukan sekadar persoalankeamanan, melainkan juga persoalan kemanusiaan. Para ASN tersebut datang ke Papua untukbekerja dan mengabdi. Mereka menjalankan fungsi negara di tengah masyarakat dan tidakseharusnya diperlakukan sebagai sasaran oleh kelompok bersenjata. Negara memiliki kewajiban untuk memastikan setiap warga negara mendapatkanperlindungan. Aparatur yang bekerja di wilayah rawan sekalipun harus memperoleh jaminankeamanan sehingga dapat menjalankan tugas secara optimal. Keamanan bukan hanyadiperlukan untuk melindungi aparat, tetapi juga untuk memastikan masyarakat tetapmemperoleh pelayanan dasar tanpa rasa takut. Duka semakin terasa ketika jenazah Willi Mbuik dipulangkan ke Nusa Tenggara Timur. Pemerintah daerah dan masyarakat menyambut kepulangan korban yang selama inimengabdikan diri sebagai CPNS di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Willi merupakansalah satu dari dua…

Read More

OPM Bunuh Masyarakat Sipil di Jayawijaya, Wajah Nyata Pelanggaran HAM Berat

Oleh : Loa Murib Penembakan terhadap tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di DistrikMuliama, Papua Pegunungan, kembali memperlihatkan sisi paling kelam darikekerasan bersenjata di Tanah Papua. Tiga warga sipil yang sedang menjalankan tugaspelayanan kepada masyarakat harus kehilangan nyawa ketika membawa bantuanternak untuk masyarakat di pedalaman. Peristiwa tersebut bukan sekadar tragedikemanusiaan, melainkan gambaran nyata bahwa kekerasan terhadap masyarakat sipilmasih menjadi ancaman serius yang harus dihentikan. Dalam konteks penghormatan terhadap hak asasi manusia, kehidupan warga sipilmerupakan sesuatu yang tidak boleh ditempatkan sebagai bagian dari sasaran konflik. Mereka yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, membangun pertanian, mendistribusikan bantuan, maupun menjalankan pelayanan pemerintahan semestinyamendapatkan perlindungan. Karena itu, tindakan penembakan terhadap tiga pegawaiDinas Pertanian tersebut layak dipandang sebagai bentuk pelanggaran HAM beratapabila terbukti dilakukan secara sengaja terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalampertempuran. Anggota Komisi XIII DPR RI Mafirion Syamsuddin Rogo menilai tewasnya tiga pegawaiDinas Pertanian Jayawijaya merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak dapatditoleransi. Menurut Mafirion, negara harus mengambil langkah tegas terhadap pihakyang secara sengaja menghilangkan nyawa warga sipil. Ia juga menekankanpentingnya pengusutan menyeluruh untuk memastikan pelaku dan pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama dalam tragedi Jayawijayabukan hanya siapa pelaku penembakan, tetapi juga bagaimana negara memastikanhak hidup masyarakat sipil benar-benar terlindungi. Ketika seorang petugas pemerintahyang tengah menjalankan tugas kemanusiaan dapat ditembak, maka persoalankeamanan telah bertransformasi menjadi persoalan perlindungan hak dasar manusia. Negara tidak boleh membiarkan rasa takut berkembang menjadi kondisi yang dianggapbiasa. Kementerian Hak Asasi Manusia juga mengecam keras penembakan tersebut. Juru Bicara Kementerian HAM Thomas Harming Suwarta menyatakan bahwa pembunuhanterhadap tiga warga sipil sangat keji dan bertentangan dengan prinsip penghormatanserta perlindungan HAM. Ia menegaskan bahwa apa pun narasi yang berkembangmengenai identitas korban, fakta bahwa mereka merupakan warga sipil yang sedangmencari penghidupan dan menjalankan pekerjaan di Papua membuat tindakanpembunuhan tersebut tidak dapat dibenarkan. Kementerian HAM mendorong agar pelaku diusut tuntas dan dihukum melalui mekanisme hukum yang berlaku. Sikap tersebut penting karena dalam situasi konflik bersenjata, masyarakat sipil kerapmenjadi kelompok yang paling rentan. Mereka tidak membawa senjata, tidak terlibatdalam pertarungan, tetapi justru harus menanggung akibat paling berat. Keluargakehilangan anggota yang menjadi sumber penghidupan, anak-anak kehilangan orang tua, sementara masyarakat di wilayah terdampak kehilangan rasa aman untukberaktivitas. Jika kondisi semacam ini terus berulang, pembangunan di Tanah Papua juga akan menghadapi hambatan yang semakin besar. Lebih jauh, kekerasan terhadap petugas pelayanan publik memiliki dampak yang jauhmelampaui korban langsung. Ketika pegawai pertanian takut masuk ke wilayah pedalaman, program bantuan pertanian dapat terhambat. Ketika tenaga pelayananmerasa tidak aman, masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan turutdirugikan. Dengan demikian, kekerasan bersenjata bukan hanya merampas nyawamanusia, tetapi juga merampas hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan, pembangunan, dan kesempatan meningkatkan kesejahteraan. Dari sisi penegakan hukum, langkah aparat untuk mengejar pelaku merupakan bagianpenting dalam menghadirkan keadilan. Polisi telah memeriksa saksi yang selamat dan mengantongi ciri-ciri terduga pelaku. Olah tempat kejadian perkara juga menemukantiga selongsong peluru serta jejak darah yang dapat menjadi bagian dari proses penyelidikan. Fakta-fakta tersebut harus ditindaklanjuti secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti sehingga proses hukum terhadap pelaku memiliki dasar yang kuat. Pemerintah dan aparat keamanan juga perlu memastikan bahwa pengejaran terhadappelaku tetap dilakukan dengan memperhatikan keselamatan masyarakat. Ketegasantidak berarti mengabaikan prinsip hukum dan HAM. Sebaliknya, tindakan tegas yang terukur dan berdasarkan hukum justru menjadi cara untuk menunjukkan bahwa negara mampu melindungi warga sekaligus menjaga standar kemanusiaan dalam penanganankonflik. Peristiwa Jayawijaya harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindunganterhadap masyarakat sipil di seluruh wilayah rawan konflik Papua. Tidak boleh adapembenaran terhadap pembunuhan warga yang tidak terlibat dalam kekerasan. Perbedaan pandangan politik, tuntutan kelompok, ataupun alasan apa pun tidak dapatmenjadi legitimasi untuk menghilangkan nyawa manusia….

Read More

Aparat Keamanan Pastikan Kejar OPM Pelaku Penembakan 3 ASN di Jayawijaya

JAYAWIJAYA — Aparat keamanan terus memburu pelaku penembakan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, yang terjadi di Distrik Muliama, Rabu (9/9/2026). Polisi telah mengantongi ciri-ciri terduga pelaku berdasarkan keterangan saksi yang selamat dalam insiden tersebut. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengatakan penyidik telah memeriksa saksi…

Read More