Ekonomi RI Dinilai Resilien, Sistem Keuangan Kuat dan Berdaya Tahan

JAKARTA — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi. Stabilitas makroekonomi, kondisi perbankan yang solid, serta investasi yang terus bergerak menjadi sejumlah faktor yang menopang ketahanan ekonomi nasional sepanjang 2026. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro mengatakan sistem keuangan Indonesia tetap kuat di tengah…

Read More

Mengingat September Hitam Perlu Kedewasaan, Bukan Kemarahan yang Dibakar

Oleh : Andika Pratama )* Setiap momentum untuk mengingat kembali persoalan hak asasi manusia memiliki arti penting bagi kehidupan demokrasi. Ingatan publik terhadap berbagai peristiwa masa lalu bukan sekadar upaya membuka kembali luka, melainkan dapat menjadi ruang untuk memastikan bahwa persoalan yang pernah terjadi tidak dilupakan dan pelajaran darinya dapat digunakan untuk memperbaiki masa depan. Dalam…

Read More

Jangan Biarkan September Hitam Dibajak Oknum untuk Menyulut Keresahan

Oleh: Alexander Royce*) Bulan September dinarasikan oleh kelompok kepentingan tertentu sebagai momentum September Hitam. Sebuah masa di mana publik diajak untuk menengok kembali berbagai rentetan peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan isu hak asasi manusia. Namun, niat luhur untuk merawat ingatan kolektif ini belakangan mulai terasa melenceng dari esensinya. Ada kecenderungan nyata bahwa peringatan ini tidak lagi…

Read More

Aktivis Ingatkan September Hitam Perlu Disikapi Bijak dan Tertib

Jakarta – Momentum September Hitam 2026 kembali menjadi perhatian di ruang publik. Sejumlah aktivis mengingatkan agar pembahasan mengenai isu hak asasi manusia (HAM) tetap diarahkan pada refleksi, edukasi, dan penyampaian aspirasi secara tertib sehingga tidak berkembang menjadi konflik sosial. Ketua ANTFA (Kelompok Aktivis Tangerang Raya) mengatakan momentum tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memahami…

Read More

Banpres Karhutla: Perhatian Pemerintah Sampai ke Daerah Terdampak

Oleh : Radjiman Arif*) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius pemerintah saat ini. Ancaman karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan pendidikan. Karena itu, kehadiran pemerintah di wilayah terdampak perlu diwujudkan melalui langkah yang konkret, terukur, dan langsung menjawab kebutuhan daerah. Bantuan Presiden…

Read More

Banpres Karhutla Menjadi Penguat Pemda dalam Menjaga Keselamatan Masyarakat

Oleh : Catur Ronggo*) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat, kesehatan publik, aktivitas ekonomi, hinggakeberlangsungan pendidikan. Memasuki periode risiko karhutla pada Agustus–September 2026, kemampuan pemerintah daerah untuk merespons secara cepat menjadi semakinpenting. Dalam kondisi tersebut, dukungan pemerintah pusat melalui Bantuan Presiden(Banpres) menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kapasitas daerah dalammenghadapi ancaman karhutla. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penggunaan dana Banpres untukpenanganan karhutla harus dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dukungan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap daerah yang menghadapi ancaman karhutla sekaligus menjadi tambahan kekuatan bagi pemerintah daerahdalam menangani persoalan di lapangan. Kehadiran dukungan anggaran dari pemerintah pusat menunjukkan bahwa penanganankarhutla membutuhkan pembagian peran yang jelas antara pusat dan daerah. Pemerintahdaerah berada pada posisi yang paling dekat dengan masyarakat sehingga membutuhkanfleksibilitas untuk menentukan kebutuhan prioritas, sementara pemerintah pusat memilikifungsi memastikan dukungan sumber daya tersedia dan dapat digunakan secara tepat sasaran. Dengan pola tersebut, bantuan tidak berhenti sebagai tambahan anggaran, tetapi dapatditerjemahkan menjadi kemampuan operasional. Raja Juli menjelaskan bahwa Banpres dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhanpenanganan karhutla, termasuk pengadaan peralatan yang diperlukan di lapangan. Ia juga menekankan pentingnya memastikan penggunaan dana dilakukan secara transparan sehinggamasyarakat dapat mengetahui bahwa dukungan pemerintah benar-benar diarahkan untukkepentingan penanganan bencana dan perlindungan warga. Pengelolaan bantuan yang transparan menjadi semakin penting karena penanganan karhutlamembutuhkan keputusan yang cepat sekaligus dapat diawasi. Kecepatan diperlukan ketikatitik api mulai berkembang, sedangkan akuntabilitas diperlukan agar setiap penggunaananggaran memiliki dasar yang jelas. Keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua unsur yang perlu berjalan bersamaan dalam tata kelola penanganan bencana. Kepala BNPB Suharyanto menekankan perlunya memperkuat koordinasi terpadu lintaskementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam penanganan karhutla. Arahan tersebutmerupakan tindak lanjut atas perhatian pemerintah terhadap peningkatan risiko kebakaran di sejumlah wilayah dan kebutuhan untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat bergerakdalam satu sistem penanganan. Koordinasi menjadi faktor penting karena karhutla tidak mengenal batas administrasipemerintahan. Penanganannya membutuhkan keterlibatan BNPB, kementerian terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, pemegang konsesi, hingga masyarakat. Ketika koordinasiberjalan baik, informasi mengenai titik api dapat lebih cepat diteruskan menjadi keputusanpengerahan sumber daya. Sebaliknya, koordinasi yang tidak terintegrasi dapat membuatsumber daya yang tersedia tidak digunakan secara optimal. Suharyanto juga mengarahkan penguatan operasi penanganan melalui kombinasi operasidarat, pemadaman udara, serta koordinasi lintas sektor. Perhatian pemerintah tidak hanyadiarahkan kepada pengendalian api, tetapi juga keselamatan masyarakat yang terdampakasap, termasuk kelompok rentan dan anak-anak sekolah. Pendekatan tersebut memperlihatkanbahwa ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan semata jumlah titik api yang berhasildikendalikan, melainkan juga sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat dapatdiminimalkan. Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa ProvinsiSumatera Selatan memperoleh Banpres sebesar Rp30 miliar untuk mendukung penanganankarhutla. Menurutnya, dana tersebut akan diarahkan antara lain untuk memperkuat peralatanpemadaman, khususnya peralatan yang tidak habis pakai sehingga dapat dimanfaatkan untukmenghadapi potensi karhutla pada masa berikutnya. Dukungan tersebut memperlihatkan pentingnya investasi pada kapasitas daerah. Peralatanpemadaman yang memadai bukan hanya membantu ketika kebakaran terjadi, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi ancaman yang berulang. Dengan demikian, bantuan pemerintah pusat dapat memberikan manfaat yang lebih panjangdibandingkan sekadar menyelesaikan persoalan pada satu periode kebakaran. Herman menjelaskan bahwa pemanfaatan Banpres tetap mengikuti petunjuk teknis yang telahditetapkan pemerintah pusat. Mekanisme tersebut memberikan ruang bagi pemerintah daerahuntuk menentukan kebutuhan berdasarkan kondisi lapangan, namun tetap berada dalamkoridor tata kelola dan pertanggungjawaban penggunaan anggaran. Hal ini penting agar kecepatan respons daerah tetap berjalan beriringan dengan prinsip akuntabilitas. Kebijakan tersebut juga perlu dilihat dalam kerangka penanganan karhutla secaramenyeluruh. Pemerintah tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul, tetapijuga memperkuat pemantauan hotspot, kesiapsiagaan personel, koordinasi antarlembaga, pencegahan, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran. Pendekatan terpadu semacamini dibutuhkan karena karhutla memiliki dimensi yang kompleks dan berpotensimenimbulkan dampak lintas sektor. Banpres karhutla memiliki arti strategis karena memperkuat kemampuan pemerintah daerahyang berada di garis depan perlindungan masyarakat. Bantuan anggaran, peralatan, koordinasi nasional, dan pengawasan penggunaan dana dapat menjadi satu rangkaiankebijakan yang saling melengkapi. Pemerintah pusat memberikan dukungan, sementarapemerintah daerah menerjemahkannya menjadi tindakan yang sesuai dengan kebutuhanmasyarakat di wilayah masing-masing. Dengan memperkuat tata Kelola daerah sekaligus menjaga transparansi dan koordinasi, pemerintah menunjukkan bahwa penanganan karhutla ditempatkan sebagai agenda keselamatan publik. Sinergi pusat dan daerah inilah yang menjadi fondasi penting untukmembangun Indonesia yang semakin siap menghadapi bencana, menjaga lingkungan, dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas pemerintah. *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Read More

Banpres Karhutla Diperkuat Juknis agar Penyaluran Cepat dan Transparan

Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui penyaluran Bantuan Presiden (Banpres) senilai Rp100 miliar kepada sejumlah daerah di Sumatera Selatan. Penyaluran bantuan tersebut dilengkapi petunjuk teknis (juknis) untuk mempercepat pemanfaatan anggaran dengan tetap menjamin pengelolaan yang akuntabel dan transparan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian Presiden…

Read More

Pemerintah Pastikan Banpres Karhutla Segera Dicairkan secara Akuntabel

JAKARTA – Pemerintah memastikan Bantuan Presiden (Banpres) untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) segera dicairkan dan dimanfaatkan secara akuntabel untuk memperkuat penanganan di daerah. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan operasional, pencegahan, serta pengendalian dampak karhutla di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Banpres merupakan…

Read More

Pemerintah Tepat Bergerak Cepat agar El Nino Tidak Mengganggu Pasokan Energi

Oleh Antonius Utomo )* Pemerintah terus memperkuat langkah antisipatif menghadapi fenomena El Nino 2026 guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga. Berbagai upaya dilakukan secara terukur, mulai dari memperkuat pemantauan kondisi cuaca, meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga melindungi fasilitas energi strategis dari potensi gangguan akibat cuaca ekstrem. Langkah tersebut menunjukkan komitmen…

Read More

Mitigasi El Nino di Sektor Energi, Bukti Negara Hadir Antisipasi Krisis

Oleh : Nofer Saputro )* El Nino tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan cuaca yang berdampak pada sektor pertanian. Ketika fenomena iklim tersebut berlangsung dengan intensitas sangat kuat dan berpotensi bertahan hingga awal 2027, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor strategis, termasuk energi. Kekeringan berkepanjangan, suhu yang meningkat, serta tingginya risiko kebakaran hutan dan…

Read More