Infrastruktur Air Jadi Pilar Ketahanan Nasional HadapiKemarau dan Perubahan Iklim
Oleh: Nabila Pratiwi )*
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang menentukan ketahanansuatu negara ketika menghadapi musim kemarau dan perubahan iklim. Fenomena El Nino yang memengaruhi penurunan curah hujanmemperbesar risiko kekeringan di berbagai daerah sehingga keberadaaninfrastruktur sumber daya air semakin vital.
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menempatkanpengelolaan infrastruktur air sebagai langkah strategis untukmengantisipasi dampak musim kemarau. Berbagai upaya dilakukan agar distribusi air tetap berjalan meskipun curah hujan menurun akibatpengaruh El Nino. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi padapenanganan jangka pendek, tetapi juga menjadi bagian dari penguatanketahanan air nasional menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
Optimalisasi 10.789 sumur bor dengan kapasitas lebih dari 114 ribu meter kubik per detik menjadi salah satu langkah yang diprioritaskan. Sumur borberperan sebagai sumber pasokan alternatif ketika debit sungai maupuntampungan air permukaan mengalami penurunan. Kehadiran fasilitastersebut sangat membantu daerah yang rentan mengalami kekuranganair, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwapembangunan infrastruktur pengelolaan air terus menjadi komitmenpemerintah. Menurutnya, keberadaan bendungan, bendung, embung, danwaduk memiliki fungsi penting dalam mendukung ketersediaan air irigasi, menjaga produktivitas lahan pertanian, serta memastikan pasokanpangan tetap terpelihara meskipun menghadapi tantangan musimkemarau maupun perubahan iklim.
Pengelolaan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik. Kementerian PU juga mengatur pola operasi bendungan dan jaringanirigasi agar distribusi air berlangsung lebih efisien. Pengaturan dilakukandengan mempertimbangkan kebutuhan setiap wilayah sehinggapemanfaatan air dapat berlangsung secara seimbang tanpa mengurangicadangan yang tersedia.
Persiapan menghadapi kondisi darurat turut diperkuat melalui penyediaanberbagai peralatan pendukung. Kementerian PU telah menyiagakan 125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, dan 49 mesin bor yang dapat segeradikerahkan ke wilayah yang mengalami krisis air. Kesiapan peralatan itumempercepat respons pemerintah ketika kekeringan mulai menggangguaktivitas masyarakat.
Strategi jangka panjang pemerintah juga tercermin dari kapasitasinfrastruktur yang telah tersedia saat ini. Kementerian PU mengelola 240 bendungan dengan kapasitas tampung mencapai 7,89 miliar meter kubik. Selain itu terdapat 601 situ dan danau yang memiliki volume tampungansekitar 135,59 miliar meter kubik serta lebih dari seribu tampungan air baku yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Penguatan ketahanan air juga memperoleh dukungan dari BadanMeteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Lembaga tersebut melaksanakanoperasi modifikasi cuaca sebagai langkah menjaga pasokan air di sejumlah wilayah yang diperkirakan mengalami penurunan curah hujanakibat El Nino.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskanbahwa berkurangnya curah hujan dapat mengurangi pasokan air yang masuk ke waduk. Padahal, waduk memiliki fungsi penting sebagaipenyedia air baku, penunjang irigasi pertanian, serta sumber energi bagipembangkit listrik tenaga air.
Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah wilayahstrategis. Tri Handoko Seto menerangkan bahwa kegiatan tersebutdiarahkan pada kawasan tangkapan air yang menopang kebutuhan energidan pertanian, termasuk Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Poso di Sulawesi Tengah, serta Daerah Aliran Sungai Citarum di Jawa Barat.
Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca juga berperan dalam mitigasikebakaran hutan dan lahan. Berkurangnya hujan menyebabkan lahangambut kehilangan cadangan air sehingga menjadi lebih mudah terbakar. Melalui proses pembasahan kawasan gambut, kelembapan lahan dapatdipertahankan sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Sinergi antarkementerian turut diperkuat melalui program pompanisasiyang dijalankan Kementerian Pertanian. Program ini difokuskan padalahan sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air sepertisungai, embung, waduk, maupun saluran irigasi sehingga air dapatdialirkan menuju area pertanian ketika curah hujan menurun.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwapompanisasi merupakan solusi cepat untuk menjaga pasokan air menujusawah selama menghadapi ancaman El Nino. Pemerintah karena itumempercepat distribusi pompa ke berbagai sentra produksi padi agar kegiatan budidaya tetap berlangsung.
Pada Tahun Anggaran 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribuunit pompa air. Sebagian telah disalurkan kepada daerah, sementarasisanya diproses sesuai kebutuhan yang diusulkan pemerintah daerah. Distribusi itu menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas produksipangan nasional selama musim kemarau.
Amran juga menilai pengalaman menghadapi El Nino sebelumnyamenunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan produksi pangansangat ditentukan oleh ketersediaan air. Oleh sebab itu, program pompanisasi dipadukan dengan modernisasi pertanian melalui penyalurantraktor, rice transplanter, combine harvester, dan berbagai alat mesinpertanian lainnya untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.
Kombinasi antara pembangunan bendungan, optimalisasi sumur bor, penguatan jaringan irigasi, operasi modifikasi cuaca, serta program pompanisasi menunjukkan bahwa pemerintah membangun sistempengelolaan air secara terpadu. Pendekatan tersebut tidak hanyamenjawab tantangan musim kemarau saat ini, tetapi juga memperkuatdaya tahan Indonesia menghadapi perubahan iklim pada masa mendatang.
Infrastruktur air pada akhirnya menjadi benteng penting negara dalammenjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat, melindungi sektorpertanian, dan memastikan ketahanan pangan tetap terpelihara di tengahdinamika iklim yang semakin kompleks.
*) Peneliti Bidang Infrastruktur dan Pembangunan
