Konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi: Pendidikan Tak Lagi Terhambat Jarak dan Biaya
Oleh : Jonathan Janoel*)
Pendidikan sering kali berbicara tentang kesempatan, tetapi bagi keluarga miskin kesempatan itu dapat terhalang oleh biaya, jarak, kondisi rumah tangga, hinggaketerbatasan lingkungan belajar. Konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi hadir denganpendekatan berbeda: pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan dipadukan denganpengasuhan berasrama, pembinaan karakter, pengembangan talenta, kesehatan, dan dukungan sosial. Dalam konteks itu, program ini menjadi salah satu upayapemerintah memperluas akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan bahwa perkembanganpeserta didik mulai terlihat setelah program berjalan. Anak-anak dinilai semakinpercaya diri, disiplin, berani tampil, memiliki semangat belajar, serta mulaimenemukan minat dan cita-cita. Perubahan tersebut tidak hanya tampak pada capaian akademik, tetapi juga pada karakter dan kemampuan bersosialisasi. Menurutnya, kesempatan yang diberikan melalui Sekolah Rakyat perlu dimanfaatkanagar siswa tumbuh menjadi pribadi berilmu, berkarakter, dan memiliki kemampuanuntuk menentukan masa depannya.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa konsep sekolah berasrama memiliki fungsilebih luas daripada sekadar menyediakan ruang kelas gratis. Dengan polakehidupan yang teratur, siswa mendapatkan waktu untuk belajar, beristirahat, berolahraga, mengembangkan bakat, dan memperoleh pendampingan secara lebihintensif. Bagi anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan lingkungan belajar, pola tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan baru sekaligusmemperkuat kepercayaan diri.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi yang menekankanpentingnya pendidikan yang tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapijuga membangun karakter dan kepercayaan diri peserta didik. Dalam konteksSekolah Rakyat, pengembangan potensi anak menjadi penting karena peserta didikdatang dari latar belakang dan pengalaman yang beragam. Lingkungan belajar yang tepat dapat membantu mereka mengenali kemampuan sekaligus mempersiapkandiri menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
Di sinilah konsep terintegrasi menjadi pembeda. Program ini dirancang untukmenghubungkan pendidikan dengan dukungan sosial. Anak-anak dari keluargamiskin tidak hanya memperoleh pembelajaran, tetapi juga kebutuhan dasar dan pendampingan yang mendukung proses tumbuh kembang. Pemerintahmenggunakan data sosial ekonomi untuk menentukan sasaran sehingga intervensidiarahkan kepada kelompok yang memang membutuhkan akses lebih besarterhadap pendidikan.
Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Muhammad Nuh sebelumnya menjelaskanbahwa ukuran keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah siswa yang lulus. Sekolah Rakyat dipandang sebagai investasi sosial yang perlu diukur melalui nilaimanfaat yang dihasilkan bagi peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, evaluasi terhadap kesehatan, perkembangan psikososial, talenta, dan capaianakademik menjadi bagian penting dalam melihat dampak program secaramenyeluruh.
Muhammad Nuh juga menjelaskan bahwa lulusan Sekolah Rakyat disiapkan tidakhanya memperoleh ijazah, tetapi juga sertifikat kompetensi life skill sesuai talentamasing-masing. Penguatan keterampilan seperti teknologi informasi, keamanansiber, memasak, maupun bidang keterampilan lainnya memperlihatkan bahwapendidikan diarahkan agar siswa memiliki bekal yang relevan dengan kebutuhanmasa depan.
Lebih jauh, pendekatan berasrama membuat proses pendidikan berlangsung lebihkonsisten karena pembinaan tidak berhenti ketika jam pelajaran selesai. Wali asuhdan pendamping dapat membantu siswa membangun disiplin, kemandirian, sertakemampuan bekerja sama. Pola ini sekaligus membuka ruang bagi sekolah untukmengidentifikasi persoalan psikososial sejak dini dan memberikan pendampinganyang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Perkembangan terbaru di Jakarta Selatan memberikan gambaran konkret mengenaipendekatan tersebut. Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid, setelah mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Jakarta di Margaguna, melihat adanya perkembangan mental, kedisiplinan, kemampuanberbahasa, seni, olahraga, keagamaan, hingga keberanian siswa mengikutiberbagai kegiatan. Menurutnya, kesempatan dan perhatian yang diberikan dapatmembantu anak-anak mengembangkan potensi yang sebelumnya belum terlihat. Catatan tersebut relevan dengan arah penguatan program.
Kementerian Sosial menetapkan delapan lokasi tambahan penyelenggaraanSekolah Rakyat. Di sisi lain, Kemensos juga telah menetapkan tim penyusunkurikulum Sekolah Rakyat 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa program tidakberhenti pada pembukaan sekolah, tetapi terus dibangun melalui perluasan lokasidan penyempurnaan sistem pembelajaran.
Pada tahun pertama, pemerintah telah mengoperasikan 166 Sekolah Rakyat rintisandi berbagai wilayah Indonesia. Pengalaman pelaksanaan kemudian menjadi dasarevaluasi untuk memperkuat sarana, tata kelola, kualitas tenaga pendidik, kurikulum, serta pendampingan siswa. Tantangan tersebut penting dikelola agar ekspansiprogram tetap diikuti kualitas layanan.
Pada akhirnya, Sekolah Rakyat Terintegrasi menawarkan cara pandang bahwakemiskinan tidak semestinya menjadi batas bagi masa depan seorang anak. Jarak, biaya, keterbatasan fasilitas, dan lingkungan sosial dapat diatasi melalui intervensipendidikan yang terarah dan terintegrasi. Dengan memperluas akses, memperkuatkualitas pembelajaran, serta terus mengevaluasi hasilnya, pemerintah sedangmembangun jalur pendidikan yang memungkinkan lebih banyak anak berkembangsesuai potensinya dan memperoleh kesempatan untuk menatap masa depandengan lebih percaya diri.
)* Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Kebijakan Pemerintah
