Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda

Oleh: Yusuf Rinaldi*

Program Magang Nasional yang diperluas pemerintah menjadi 150 ribu pesertapada 2026 menunjukkan upaya memperkuat transisi lulusan perguruan tinggimenuju dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagilulusan baru, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, membangunjejaring profesional, dan memperbesar peluang masuk ke pasar kerja formal di tengah persaingan memperoleh pekerjaan yang semakin ketat.

Sejak 2025, pemerintah membuka Program Magang Nasional dengan target 100 ribu peserta. Pada 2026, kuotanya diperluas menjadi 150 ribu peserta. Program berlangsung selama enam bulan dengan fasilitas pelatihan, pendampingan mentor, sertifikat, jejaring profesional, serta uang saku yang ditanggung pemerintah. Besaranuang saku mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota di lokasi pemagangandan dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah hari yang diperhitungkan.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan perluasan program tersebutdilakukan secara bertahap dan tetap disertai evaluasi terhadap pelaksanaan setiapangkatan. Pada batch pertama terdapat 46.160 peserta, sedangkan batch keduamenetapkan 40.962 peserta. Pemerintah kemudian menyiapkan batch ketigadengan sekitar 62 ribu peserta untuk memenuhi target 150 ribu peserta pada 2026. Pendaftaran penyelenggara disiapkan sejak September, seleksi peserta pada Oktober, dan pelaksanaan batch ketiga ditargetkan dimulai pada November.

Evaluasi tersebut diarahkan untuk memastikan pemagangan benar-benarmemberikan kesempatan kepada peserta meningkatkan kompetensi, memperolehpengalaman kerja, membangun portofolio, serta memperluas jejaring. Untuk batch ketiga, pemerintah juga mengubah skema penempatan dengan menempatkanseluruh peserta di perusahaan, tanpa kementerian dan lembaga pemerintah.

Dari perspektif ekonomi, pemberian uang saku selama enam bulan memberikandukungan bagi lulusan baru yang berada dalam masa transisi dari pendidikanmenuju pekerjaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta mendapatkantunjangan yang disesuaikan dengan upah minimum daerah. Pemerintah juga memberikan fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah melaluiPeraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2026 yang berlaku hingga Desember2026.

Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja menjadi indikator penting dalam melihatkeberlanjutan program. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah menyampaikan bahwa sekitar 30 ribu dari60 ribu alumni Magang Nasional 2025 yang menjalani pemagangan di industri telahbekerja tiga bulan setelah menyelesaikan program. Tingkat penyerapan tersebutmeningkat dari sekitar 30 persen ketika peserta baru menyelesaikan masa pemagangan.

Kemnaker melakukan tracer study setiap tiga bulan untuk memperbarui data tersebut. Penelusuran dilakukan melalui kuesioner kepada alumni dan pencocokandata dengan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, khususnya status sebagaipenerima upah. Pemerintah juga masih menelusuri alumni yang sebelumnyaditempatkan di kementerian dan lembaga karena proses rekrutmen pada instansitersebut memiliki mekanisme tersendiri.

Namun, perluasan jumlah peserta juga membuat aspek perlindungan dan kualitaspemagangan menjadi penting. Yassierli menyatakan pemerintah tidak ingin pesertadigunakan untuk menggantikan pekerja tetap. Pemagangan harus tetap beradadalam kerangka peningkatan kompetensi, sementara evaluasi dilakukan terhadappeserta, mentor, dan perusahaan. Pemerintah juga melakukan monitoring terhadapbeban serta jam kerja peserta untuk memastikan mereka tidak diperlakukan sepertipekerja reguler.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menekankan bahwa peserta perlumemanfaatkan masa pemagangan untuk membangun kompetensi sekaligus sikapkerja. Menurut dia, kedisiplinan, integritas, profesionalisme, dan kemampuanberadaptasi merupakan bagian penting dari bekal yang harus dibangun selamaberada di lingkungan kerja. Dengan demikian, pengalaman pemagangan tidakhanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesiapanmenghadapi tuntutan profesional.

Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi W. Sutjipto menilai program Magang Nasional perlu memiliki kesinambungan setelahpeserta menyelesaikan enam bulan pemagangan. Menurut Budi, pengalamanmagang perlu diikuti mekanisme yang mempertemukan kompetensi peserta dengankebutuhan lowongan perusahaan. Tanpa pencocokan tersebut, terdapat risikopeserta telah memperoleh pengalaman kerja tetapi masih menghadapi kesulitanketika harus masuk ke pekerjaan formal setelah program berakhir.

Pandangan tersebut menempatkan penyerapan kerja sebagai bagian penting darievaluasi kebijakan. Jumlah peserta yang besar memang memperluas aksesterhadap pengalaman kerja, tetapi dampak ekonominya akan lebih terlihat apabilakompetensi yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan industri dan berlanjut menjadipeluang karier.

Karena itu, Magang Nasional dapat dipandang sebagai investasi tenaga kerja mudadengan catatan bahwa keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah peserta. Kualitas pelatihan, relevansi bidang magang, fungsi mentor, perlindungan peserta, pencocokan dengan kebutuhan perusahaan, serta penyerapan setelah program menjadi rangkaian yang menentukan dampak kebijakan.

Dengan target 150 ribu peserta pada 2026, pemerintah memiliki ruang untukmemperluas pengalaman kerja bagi lulusan perguruan tinggi. Tantangan berikutnyaadalah memastikan pengalaman tersebut menjadi modal yang benar-benar dapatdigunakan peserta untuk memasuki pasar kerja. Dengan hubungan yang lebih eratantara pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan tenaga kerja muda, program magang dapat berfungsi bukan sekadar sebagai masa transisi, tetapisebagai bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia dan produktivitasekonomi.

)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *