Pemerintah Pusat dan Daerah Jadikan Mitigasi Bencana sebagai Prioritas

Oleh : Andika Hardianto

Indonesia kembali menghadapi tantangan kebencanaan yang membutuhkan kesiapsiagaan sejakdini. Memasuki penghujung 2026, sejumlah wilayah mulai bersiap menghadapi perubahan polacuaca dari periode kering menuju musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG) memprakirakan puncak musim hujan 2026/2027 berlangsung secara bergelombangmulai Desember 2026 hingga Februari 2027. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian seriuskarena pada saat yang sama sejumlah wilayah masih menghadapi risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada September-Oktober 2026.

Perubahan kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan bencana tidak cukup dilakukansetelah bencana terjadi. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu menjadikan mitigasisebagai bagian utama dalam perencanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Langkah antisipatif diperlukan agar potensi bencana hidrometeorologi dapat dikenali lebih awal, sementara masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menghadapikemungkinan terburuk.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa sejumlahwilayah akan memasuki musim hujan sejak November dan Desember 2026. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua Barat bagian utara, hingga Papua Selatan. Prakiraan tersebut menjadi dasarpenting bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan langkah mitigasi berdasarkan karakteristikrisiko di masing-masing wilayah.

BMKG juga mendorong seluruh pemangku kepentingan menggunakan informasi prediksi musimhujan sebagai dasar peringatan dini dan pelaksanaan aksi dini. Pesan tersebut penting karenainformasi cuaca dan iklim akan memiliki manfaat maksimal apabila segera diterjemahkanmenjadi kebijakan konkret. Pemerintah daerah dapat mengoptimalkan sistem drainase, membersihkan saluran air, memeriksa daerah rawan longsor, memastikan jalur evakuasi tersedia, serta mempersiapkan lokasi pengungsian sebelum hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Penguatan mitigasi juga menjadi penting setelah banjir bandang atau galodo melanda KabupatenSolok, Sumatera Barat. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencanamembutuhkan kecepatan sekaligus kesiapan menghadapi risiko lanjutan. Menteri KoordinatorBidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menekankan bahwa pencarian korban yang masih hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak harus menjadiprioritas selama masa tanggap darurat. Namun, pada saat yang sama, pemerintah juga perlumengantisipasi potensi bencana susulan.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada penyelamatan korban dan pemenuhan kebutuhan dasar. Setelah masa tanggap darurat, pemerintah perlu melanjutkan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan kajianmenyeluruh. Evaluasi terhadap penyebab dan dampak bencana harus digunakan untukmemperbaiki sistem pencegahan, sehingga pembangunan kembali tidak sekadar mengembalikankondisi seperti sebelumnya, tetapi juga meningkatkan ketahanan wilayah terhadap ancamanbencana berikutnya.

Di tingkat nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukanpemetaan dan evaluasi terhadap zona merah yang rawan bencana. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwakesiapan menghadapi bencana juga dilakukan melalui penyediaan pasokan logistik darurat dan peralatan evakuasi di gudang regional serta BPBD prioritas. Kesiapan tersebut menjadi bagianpenting dari sistem respons apabila kondisi di lapangan berkembang menjadi keadaan darurat.

BNPB juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan apabila situasi memburuk, termasuk operasimodifikasi cuaca, pengerahan helikopter ke wilayah terisolasi, pendampingan penyusunanrencana kontinjensi, serta penggunaan dana siap pakai setelah penetapan status darurat. Berbagaiinstrumen tersebut menunjukkan bahwa mitigasi membutuhkan koordinasi lintas lembaga dan kesiapan sumber daya yang tidak dapat dibangun secara mendadak ketika bencana telah terjadi.

Langkah tersebut seharusnya menjadi praktik yang diperkuat di berbagai daerah. Pemeriksaanberkala terhadap sungai, drainase, lereng, jembatan, bendungan, kawasan permukiman dan fasilitas publik dapat membantu menemukan potensi masalah sebelum berkembang menjadibencana. Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah rawan memahami jalur evakuasi, titik kumpul, prosedur penyelamatan serta informasi resmiyang harus dijadikan rujukan ketika terjadi kondisi darurat.

Mitigasi juga membutuhkan dukungan kajian ilmiah yang berkelanjutan. Pemerintah dapatmelibatkan perguruan tinggi, pusat studi kebencanaan, lembaga penelitian dan berbagai pihakterkait untuk memetakan risiko secara lebih komprehensif. Mahyeldi bahkan mendorong adanyakajian kebencanaan secara menyeluruh dengan melibatkan Universitas Andalas melalui Pusat Studi Kebencanaan serta dukungan BNPB dan pemerintah pusat. Kolaborasi semacam inipenting agar kebijakan kebencanaan dibangun berdasarkan data dan karakteristik wilayah.

Menghadapi musim hujan 2026/2027, pemerintah tidak seharusnya menunggu bencana datanguntuk bergerak. Informasi BMKG, pemetaan BNPB, evaluasi kejadian sebelumnya, sertapengalaman pemerintah daerah perlu segera diterjemahkan menjadi aksi nyata. Penguatandrainase, normalisasi sungai, pembersihan kawasan hulu, kesiapan logistik, sistem peringatandini, jalur evakuasi dan edukasi masyarakat harus berjalan secara terpadu. Dengan menjadikanmitigasi sebagai prioritas, pemerintah pusat dan daerah dapat membangun kesiapsiagaan yang lebih kuat sekaligus mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap keselamatan masyarakat.

*) Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *