Hilirisasi Nikel Jadikan Perdagangan Indonesia Lebih Strategis dalam Industri Global
Oleh: Yusuf Rinaldi)*
Perubahan posisi Indonesia dalam industri nikel global menunjukkan bahwa hilirisasimulai menggeser pola perdagangan sumber daya alam dari sekadar ekspor bahanmentah menuju penguatan industri pengolahan di dalam negeri. Dengan pangsaproduksi nikel olahan yang disebut telah mencapai sekitar 41 persen dari produksidunia, Indonesia memiliki modal ekonomi yang semakin besar untuk memperkuatposisi dalam rantai pasok industri global. Tantangannya kini bukan lagi sekadarmeningkatkan produksi, melainkan memastikan penguasaan teknologi dan nilaitambah semakin dalam berada di dalam negeri.
Perkembangan tersebut menjadi semakin strategis ketika pemerintah mulaimengarahkan hilirisasi nikel hingga membangun ekosistem baterai. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwapengembangan hilirisasi tidak akan berhenti pada pembangunan smelter, tetapidiarahkan menuju produksi bahan baku baterai, termasuk precursor, sertapembentukan ekosistem industri baterai. Pengembangan tersebut terutamaditujukan untuk memenuhi kebutuhan sektor otomotif dan energi baru terbarukan.
Arah kebijakan itu menunjukkan adanya perubahan orientasi dalam melihat nikel. Komoditas tersebut tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai sumber penerimaanekspor, tetapi sebagai bahan strategis yang dapat menjadi fondasi bagipengembangan industri manufaktur baru. Ketika rantai pengolahan diperpanjanghingga produk antara dan komponen baterai, nilai ekonomi yang tercipta juga berpotensi semakin besar dibandingkan apabila Indonesia hanya menjual bijih atauproduk olahan dasar.
Dari perspektif perdagangan internasional, perubahan ini penting karena strukturperdagangan global semakin ditentukan oleh penguasaan rantai pasok. Industri kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan energi terbarukan membutuhkanberbagai mineral strategis, termasuk nikel. Karena itu, kemampuan Indonesia menguasai produksi nikel olahan memberikan posisi tawar yang berbedadibandingkan satu dekade lalu.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Maniletmenilai konsistensi kebijakan hilirisasi, termasuk larangan ekspor bijih, telahmengubah posisi Indonesia dari eksportir bijih menjadi pusat produksi nikel olahan. Menurutnya, peningkatan pangsa produksi nasional mencerminkan keberhasilanmenarik investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Data yang dikutip dari Our World in Data berbasis British Geological Survey juga memperlihatkan besarnya perubahan tersebut. Produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Dalam periode yang sama, pangsa Indonesia terhadap produksi nikel olahandunia meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen.
Angka tersebut memberikan konsekuensi ekonomi sekaligus kebijakan. Dengan posisi produksi yang besar, Indonesia memiliki ruang lebih luas untuk memengaruhidinamika pasokan dan memperoleh manfaat ekonomi dari komoditas strategistersebut. Namun, kekuatan produksi juga harus diimbangi dengan tata kelola yang mampu menjaga keberlanjutan industri, termasuk pengaturan produksi melaluiRencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Yusuf menilai pengendalian produksi dapat digunakan untuk menjaga keseimbanganantara pasokan dan permintaan, menjaga harga nikel, serta mengoptimalkanpenerimaan negara. Namun, kebijakan kuota tetap perlu memperhatikan kebutuhanbahan baku smelter. Pengurangan produksi yang terlalu ketat berisiko mengganggupasokan industri pengolahan dalam negeri, sementara produksi yang berlebihandapat meningkatkan risiko kelebihan pasokan dan menekan harga. Pengaturanproduksi karena itu perlu ditempatkan dalam kerangka menjaga kesinambunganseluruh ekosistem industri.
Di sisi lain, manfaat hilirisasi sudah terlihat melalui peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, serta penciptaan lapangan kerja di kawasan industri. Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita menilai lonjakan produksi nikel olahan menunjukkan telah terjadi transformasistruktural dalam industri nasional. Investasi hilirisasi yang mencapai Rp300,1 triliunpada semester I 2026 atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional, sertaRp584,1 triliun sepanjang 2025, memperlihatkan besarnya peran hilirisasi dalammenarik modal ke sektor industri.
Namun, besarnya investasi belum otomatis berarti Indonesia telah menguasaiseluruh manfaat ekonomi dari nikelnya. Tahap berikutnya adalah memastikaninvestasi tersebut menghasilkan transfer teknologi, meningkatkan keterlibatanpemasok domestik, memperkuat kualitas tenaga kerja, dan memperluas basis manufaktur nasional.
Dalam konteks itu, pengembangan teknologi HPAL, nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling hingga industri baterai menjadi penting. Tahapantersebut dapat memperpanjang rantai nilai sekaligus mengurangi ketergantunganpada ekspor produk dengan tingkat pengolahan yang masih terbatas.
Ke depan, kekuatan produksi tersebut perlu diikuti dengan pendalaman industri agar manfaat ekonomi dari nikel semakin besar dirasakan di dalam negeri. Pengembangan teknologi HPAL, nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling hingga industri baterai menjadi bagian penting untuk memperpanjangrantai nilai. Dengan penguasaan teknologi dan pasar yang semakin kuat, hilirisasinikel dapat memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok sekaligusperdagangan industri global.
)*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi
