Guru Besar Ekonomi UKI: Penguatan SDM dan Hilirisasi Kunci Ekonomi Indonesia yang Tangguh

*Jakarta* – Penguatan sumber daya manusia (SDM) dan hilirisasi industri menjadi kunci untuk membangun perekonomian Indonesia yang tangguh dan berdaya saing. Kedua aspek tersebut perlu didukung kebijakan fiskal dan moneter yang selaras guna menjaga stabilitas ekonomi, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Indonesia (FEB UKI), Prof. Wilson Rajagukguk, menilai langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi melalui lima pilar, yakni menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan sektor eksternal, mengelola likuiditas, mengendalikan inflasi, dan memperdalam pasar keuangan, merupakan langkah positif. Menurutnya, koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan juga berperan penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

“Jadi, bagi saya sebagai ekonom, sangat baik,” kata Prof. Wilson.

Ia menjelaskan, pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, dan pengelolaan defisit APBN perlu diimbangi dengan stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. Belanja negara pada sektor layanan publik, perlindungan sosial, dan bantuan pangan turut berfungsi sebagai shock absorber dalam menghadapi ketidakpastian global. Selain itu, percepatan investasi melalui penyelesaian berbagai hambatan usaha dapat mendorong pertumbuhan sektor riil.

Besarnya jumlah penduduk Indonesia merupakan potensi strategis yang perlu dioptimalkan melalui peningkatan kualitas SDM dan penciptaan lapangan kerja. Dengan kesempatan kerja yang luas dan penghasilan berkelanjutan, daya beli masyarakat dapat terjaga sehingga ketahanan ekonomi nasional semakin kuat.

“SDM dibangun, lapangan kerja kita buat, ketika orang-orang penduduk kita 280 juta itu mempunyai ekspektasi penghasilan seumur hidup, goncangan apa pun di planet ini enggak pengaruh ke Indonesia itu,” tuturnya.

Dalam jangka panjang, percepatan hilirisasi melalui pembangunan fasilitas pengolahan mineral, pengembangan industri berbasis perkebunan, dan peningkatan produksi barang jadi bernilai tambah tinggi. Perbaikan regulasi, dukungan perbankan, serta kepastian berusaha juga diperlukan untuk memperkuat investasi dalam negeri maupun investasi asing.

“Kita semua tahu harus dilakukan hilirisasi, dan memang saya sangat setuju, ya pemerintah harus bertindak radikal hilirisasi. Buat smelter untuk produk-produk tambang, dan juga buat industri untuk produk-produk hasil-hasil perkebunan,” katanya.

Selain hilirisasi, pengembangan industri manufaktur, ekonomi kreatif, budaya, dan pariwisata dinilai penting untuk membangun keunggulan komparatif Indonesia. Prof. Wilson mengajak seluruh elemen bangsa berpartisipasi dalam memperkuat ekonomi nasional, termasuk dengan mendukung produk dalam negeri.

“Bangsa ini akan menjadi hebat kalau kita bersama-sama membangun, sama-sama memberikan yang terbaik bangsa ini,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat SDM, meningkatkan nilai tambah industri, serta menjaga stabilitas nasional menjadi modal penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *