admin

PP TUNAS: Menata Ulang Ruang Digital Demi Generasi Masa Depan

Oleh : Nanda Priscilia Pradhanty Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan SistemElektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP TUNAS, menjadi tonggakpenting dalam upaya menata ulang ruang digital nasional agar lebih aman, sehat, dan berpihakpada masa depan generasi muda. Kebijakan ini lahir di tengah derasnya arus digitalisasi yang tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga risiko besar bagi tumbuh kembang anak. Dalamkonteks tersebut, negara hadir tidak sekadar sebagai regulator, melainkan sebagai pelindung yang memastikan bahwa transformasi digital tidak mengorbankan kualitas generasi penerus bangsa. Ruang digital saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Aksesterhadap informasi, hiburan, dan interaksi sosial semakin mudah, namun di sisi lain jugamembuka pintu terhadap berbagai ancaman seperti paparan konten negatif, perundungan siber, hingga praktik ilegal seperti judi online. Data yang menunjukkan puluhan ribu anak usia diniterindikasi terpapar judi online menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. Kondisi inidiperparah dengan durasi penggunaan gawai yang melampaui batas wajar, bahkan mencapai lima hingga tujuh jam per hari, yang berdampak pada kesehatan fisik, mental, serta perkembangansosial anak. Dalam perspektif tersebut, PP TUNAS hadir sebagai bentuk respons strategis negara terhadapkompleksitas tantangan digital. Regulasi ini tidak hanya mengatur pembatasan akses, tetapi jugamenegaskan tanggung jawab platform digital dalam menciptakan ekosistem yang ramah anak. Kebijakan pembatasan usia minimum, penghapusan iklan yang menyasar anak, serta pengawasanterhadap aktivitas digital menjadi langkah konkret yang menunjukkan keseriusan pemerintahdalam melindungi generasi muda. Pandangan dari berbagai pemangku kepentingan memperkuat urgensi kebijakan ini. Staf Ahli Bupati Bangka Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Boy Yandra, menilai bahwa PP TUNAS merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang unggul danberdaya saing. Ia menekankan bahwa pembatasan akses terhadap platform digital, termasukmedia sosial dan gim, sangat penting mengingat dampak negatif penggunaan berlebihan terhadappendidikan dan perkembangan motorik anak. Lebih jauh, ia melihat kebijakan ini sebagaimomentum untuk mendorong terciptanya generasi muda yang lebih fokus, produktif, danmemiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Implementasi kebijakan ini juga tidak berhenti pada tataran regulasi nasional, tetapiditindaklanjuti hingga ke tingkat daerah. Pemerintah Kabupaten Bangka, misalnya, berencanamenerbitkan surat edaran kepada seluruh lembaga pendidikan sebagai bentuk konkret dukunganterhadap PP TUNAS. Langkah ini menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan tidak hanyabergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga pada sinergi dengan pemerintah daerah, institusipendidikan, dan masyarakat. Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Jasra Putra, melihat PP TUNAS sebagai “sabuk pengaman” bagi anak-anak di ruang digital. Ia menyoroti bahwa selama ini orang tua seolah bertarung sendirian menghadapi derasnya arus algoritma dan konten digital yang tidakselalu ramah anak. Dengan hadirnya regulasi ini, negara memberikan dukungan nyata bagikeluarga dalam menjalankan fungsi pengawasan dan perlindungan. Jasra juga menegaskanbahwa ancaman di ruang digital tidak hanya terbatas pada konten negatif, tetapi juga mencakuppenipuan online, kecanduan gawai, hingga eksploitasi digital yang semakin kompleks. Dukungan terhadap PP TUNAS juga datang dari sektor global, khususnya perusahaan teknologi. Komitmen platform digital seperti YouTube yang berada di bawah Google untuk mematuhiregulasi ini menjadi sinyal positif bahwa perlindungan anak di ruang digital merupakan tanggungjawab bersama. Langkah-langkah seperti pemberlakuan batas usia minimum, rencana deaktivasiakun anak di bawah usia tertentu, serta penghapusan iklan yang menargetkan anak menunjukkanadanya kesadaran kolektif untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman. Keterlibatan platform global ini menjadi krusial mengingat sebagian besar aktivitas digital anakberlangsung di platform tersebut. Tanpa komitmen dan kepatuhan dari penyedia layanan, regulasiakan sulit diimplementasikan secara efektif. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah danperusahaan teknologi menjadi kunci dalam memastikan bahwa kebijakan tidak hanya berhentisebagai norma, tetapi benar-benar terwujud dalam praktik. Namun demikian, keberhasilan PP TUNAS tidak dapat hanya bergantung pada regulasi danteknologi. Peran orang tua dan keluarga tetap menjadi faktor utama dalam membentuk perilakudigital anak. Pengawasan, edukasi, dan pembentukan nilai-nilai menjadi fondasi yang tidaktergantikan. Regulasi dapat membatasi, tetapi karakter dan kesadaran anak dibentuk melaluiinteraksi di lingkungan terdekatnya. Lebih dari itu, PP TUNAS juga harus dipandang sebagai bagian dari upaya besar dalammembangun literasi digital nasional. Anak-anak tidak hanya perlu dilindungi, tetapi juga dibekalidengan kemampuan untuk memahami, menyaring, dan memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi aman, tetapi juga produktif dan edukatif. Dengan berbagai tantangan yang ada, PP TUNAS menjadi simbol kehadiran negara dalammenjawab keresahan masyarakat sekaligus menata ulang arah perkembangan digital nasional. Kebijakan ini bukan sekadar aturan, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital yang sehat akan menjadi fondasi kuat bagiIndonesia dalam menghadapi kompetisi global di masa mendatang. *Penulis adalah Pengamat Sosial

Read More
UU PSdK Perkuat Sistem Peradilan, Negara Jamin Lindungi Saksi dan Korban

UU PSdK Perkuat Sistem Peradilan, Negara Jamin Lindungi Saksi dan Korban

Jakarta — Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban (UU PSdK) semakin menegaskan peran strategis negara dalam memperkuat sistem peradilan yang adil dan berintegritas. Pengesahan regulasi ini menjadi momentum penting untuk memastikan setiap saksi dan korban tindak pidana memperoleh perlindungan menyeluruh, baik secara fisik, psikologis, maupun hukum, sehingga dapat berpartisipasi dalam proses penegakan hukum tanpa rasa takut…

Read More
UU Perlindungan Saksi dan Korban Disahkan, Penguatan HAM Kian Nyata

UU Perlindungan Saksi dan Korban Disahkan, Penguatan HAM Kian Nyata

JAKARTA — Komitmen negara dalam memperkuat perlindungan hak asasi manusia (HAM) kembali ditegaskan melalui pengesahan Undang-Undang Pelindungan Saksi dan Korban (UU PSDK). Kebijakan ini mencerminkan langkah progresif pemerintah dan DPR dalam menghadirkan sistem hukum yang lebih berkeadilan, inklusif, serta memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI secara bulat menyetujui Rancangan Undang-Undang tersebut…

Read More

UU PSDK 2026 dan Arah Baru Perlindungan Korban di Indonesia

Oleh: Bagas Arya Mahendra )* Pengesahan Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban (PSDK) tahun 2026 menjadi momentum penting dalam pembaruan sistem hukumnasional. Regulasi ini tidak hanya memperkuat kerangka perlindungan, tetapi juga menandai arah baru kebijakan negara yang semakinmenempatkan korban sebagai pusat perhatian dalam proses peradilanpidana. Langkah pengesahan undang-undang PSDK ini mencerminkankeseriusan pemerintah dan DPR dalam merespons kebutuhan nyata di lapangan. Selama ini, perlindungan terhadap saksi dan korban sering kali menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi regulasi maupunkelembagaan. Dengan hadirnya undang-undang baru, negaramenunjukkan komitmen untuk menghadirkan sistem yang lebih adil danresponsif. Dalam proses pembahasannya, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo, menjelaskan bahwa RUU PSDK merupakan bagian dari Program Legislasi Nasional prioritas 2025–2026. Pembahasan dimulai setelah DPR menerima surat presiden yang menjadi dasar formal bagi pengkajianregulasi tersebut. Proses ini menunjukkan bahwa pembentukan undang-undang dilakukan secara terstruktur dan sesuai mekanismekonstitusional. Lebih jauh, Andreas menggambarkan bahwa substansi undang-undang inidisusun secara komprehensif melalui berbagai forum pembahasan. Pendalaman materi melibatkan akademisi dan pemangku kepentingan, serta dilengkapi dengan rapat dengar pendapat umum sebagai bentukpartisipasi publik. Pendekatan ini memastikan bahwa regulasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga menjawab kebutuhanriil perlindungan di masyarakat. Undang-undang PSDK ini menghadirkan perluasan subjek perlindunganyang signifikan. Tidak hanya saksi dan korban, tetapi juga mencakupsaksi pelaku, pelapor, informan, dan ahli yang memiliki peran pentingdalam proses peradilan. Perluasan ini menjadi langkah strategis untukmemberikan jaminan keamanan kepada semua pihak yang berkontribusidalam penegakan hukum. Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Achmadi, menyambutpositif pengesahan undang-undang ini sebagai tonggak penting dalampenguatan perlindungan. Ia menilai bahwa regulasi baru ini akanmemperkuat kewenangan dan kapasitas lembaga dalam menjalankantugasnya. Dalam pandangannya, kehadiran undang-undang inimencerminkan komitmen negara untuk melindungi saksi dan korban secara lebih menyeluruh. Penguatan kelembagaan menjadi salah satu pilar utama dalam UU PSDK 2026. LPSK diposisikan sebagai lembaga negara yang independen danbebas dari intervensi. Langkah ini penting untuk memastikan bahwaperlindungan dapat diberikan secara objektif dan profesional, tanpapengaruh kepentingan tertentu. Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menekankan bahwa penguatanLPSK juga mencakup perluasan struktur hingga ke daerah. Selama ini, keterbatasan jangkauan lembaga menyebabkan perlindungan di wilayahtertentu sering mengalami keterlambatan. Kondisi tersebut dinilaiberpotensi meningkatkan risiko bagi korban yang membutuhkanperlindungan segera. Willy memandang bahwa kehadiran perwakilan LPSK di daerah akanmempercepat respons terhadap laporan dan kebutuhan perlindungan. Dengan struktur yang lebih dekat dengan masyarakat, proses penanganan kasus dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien. Hal inimenjadi langkah konkret dalam memperkuat kehadiran negara hingga ketingkat lokal. Selain penguatan struktur, undang-undang PSDK ini juga menghadirkaninovasi melalui pembentukan dana abadi korban dan dana bantuankorban. Skema ini dirancang untuk menjawab tantangan pembiayaanyang selama ini menjadi kendala dalam pemenuhan hak korban. Pemerintah melihat bahwa dukungan finansial merupakan bagian pentingdari proses pemulihan. Dengan adanya mekanisme pendanaan yang berkelanjutan, korban diharapkan dapat memperoleh akses terhadap layanan yang lebihmemadai, termasuk pengobatan dan rehabilitasi. Kebijakan inimenunjukkan bahwa negara tidak hanya fokus pada aspek hukum, tetapijuga pada pemulihan kondisi korban secara menyeluruh. UU PSDK 2026 juga mengatur pembentukan satuan tugas khusus untukmenangani kondisi darurat. Kehadiran satuan ini diharapkan mampumemberikan perlindungan cepat dalam situasi yang melibatkan ancamanatau tekanan terhadap saksi dan korban. Langkah ini menjadi bentukrespons negara terhadap dinamika kejahatan yang semakin kompleks. Tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, regulasi ini juga membukaruang bagi partisipasi masyarakat melalui program Sahabat Saksi dan Korban. Skema ini mencerminkan semangat gotong royong dalammemberikan dukungan kepada pihak yang membutuhkan perlindungan. Pemerintah menilai bahwa keterlibatan publik akan memperkuatefektivitas sistem perlindungan. Perubahan paradigma menjadi salah satu capaian utama dari undang-undang ini. Sistem peradilan yang sebelumnya lebih berorientasi padapelaku kini mulai bergeser dengan memberikan perhatian lebih besarkepada korban. Pendekatan ini mencerminkan upaya negara dalammenghadirkan keadilan yang lebih seimbang. Penguatan kapasitas kelembagaan juga menjadi bagian integral darikebijakan ini. LPSK didorong untuk meningkatkan kualitas sumber dayamanusia serta dukungan anggaran. Dengan kapasitas yang lebih kuat, lembaga diharapkan mampu menjalankan fungsi perlindungan secaraoptimal dan berkelanjutan. Implementasi undang-undang PSDK ini akan menjadi penentu utamakeberhasilannya dalam praktik. Pemerintah menempatkan pengawasandan evaluasi sebagai bagian penting agar setiap ketentuan dapat berjalansesuai tujuan.  Dengan dukungan regulasi yang kuat, kelembagaan yang diperkuat, sertapartisipasi masyarakat, arah baru perlindungan korban di Indonesia diharapkan semakin kokoh. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwanegara hadir tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalammemastikan keadilan yang dirasakan secara nyata oleh seluruh lapisanmasyarakat. *) Dosen Hukum Tata Negara

Read More

Pengesahan UU PSDK 2026 Perkuat Perlindungan Saksidan Korban

Oleh: Dinda Lestari )* Pengesahan Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban (PSDK) pada April 2026 menjadi tonggak penting dalam penguatan sistem hukumnasional. Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untukmenyetujui rancangan undang-undang tersebut dalam sidang paripurnamenunjukkan komitmen kuat negara dalam menghadirkan perlindunganyang lebih komprehensif bagi saksi dan korban. Langkah ini sekaligusmenegaskan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat keadilansubstantif yang semakin berpihak pada kepentingan publik luas. Proses pengesahan berlangsung melalui mekanisme demokratis yang melibatkan partisipasi luas anggota legislatif dari berbagai fraksi. Dalamforum tersebut, Ketua DPR, Puan Maharani, memimpin jalannya sidanghingga mencapai persetujuan bersama. Kehadiran ratusan anggotadewan memperlihatkan kuatnya legitimasi politik terhadap pengesahanundang-undang ini, sekaligus menandakan bahwa isu perlindungan saksidan korban telah menjadi perhatian lintas kepentingan di parlemen. Pemerintah melalui Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, menyampaikan bahwa pengesahan undang-undang ini merupakan bagiandari implementasi prinsip negara hukum sebagaimana diamanatkankonstitusi. Dalam pandangan pemerintah, negara tidak hanya berfungsisebagai penegak hukum terhadap pelaku kejahatan, tetapi juga memilikikewajiban konstitusional untuk melindungi saksi dan korban sebagaibagian dari pemenuhan hak asasi manusia. Persetujuan Presiden Prabowo Subianto terhadap undang-undang inisemakin memperkuat arah kebijakan nasional dalam reformasi sistemperadilan pidana. Dukungan kepala negara menunjukkan bahwaperlindungan terhadap saksi dan korban ditempatkan sebagai prioritasstrategis. Pemerintah menilai bahwa tanpa jaminan keamanan danperlindungan yang memadai, proses penegakan hukum tidak akanberjalan optimal. Substansi undang-undang PSDK ini menghadirkan perubahan paradigmayang signifikan dalam sistem peradilan. Jika sebelumnya pendekatanlebih berfokus pada pelaku kejahatan, kini orientasi tersebut diperluasdengan menempatkan saksi dan korban sebagai subjek yang memilikikedudukan setara. Pergeseran ini mencerminkan upaya negara dalammenghadirkan keadilan yang lebih berimbang dan tidak lagi bersifat satuarah. Ruang lingkup pengaturan dalam undang-undang ini juga dirancangsecara komprehensif. Perlindungan tidak hanya diberikan kepada saksidan korban, tetapi juga mencakup saksi pelaku, pelapor, informan, danahli yang memiliki peran penting dalam proses peradilan. Kelompok-kelompok tersebut selama ini kerap menghadapi tekanan dan ancaman, sehingga kehadiran regulasi ini menjadi solusi konkret untuk menjaminkeamanan mereka. Selain itu, pengaturan mengenai Dana Abadi Korban menjadi salah satuterobosan penting. Pemerintah memandang bahwa pemulihan korban harus didukung oleh mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan. Denganadanya skema ini, korban diharapkan dapat memperoleh dukungan tidakhanya dari sisi hukum, tetapi juga dari aspek sosial dan ekonomi yang turut memengaruhi proses pemulihan. Penguatan kelembagaan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban jugamenjadi fokus utama dalam undang-undang ini. Negara menegaskanposisi lembaga tersebut sebagai institusi yang independen dan bebas daripengaruh kekuasaan mana pun. Langkah ini dinilai penting untuk menjagakredibilitas serta efektivitas dalam memberikan perlindungan. Rencanapembentukan perwakilan di daerah menjadi strategi untuk memperluasjangkauan layanan hingga ke seluruh wilayah. Dalam proses pembahasannya, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo, menjelaskan bahwa rancangan undang-undang ini merupakanbagian dari Program Legislasi Nasional prioritas. Pembahasan dimulaisetelah diterimanya surat presiden yang menjadi dasar resmi bagi DPR untuk melakukan kajian dan pendalaman materi. Seluruh proses berjalansecara sistematis dan melibatkan berbagai pihak terkait. Pendekatan musyawarah dan mufakat menjadi landasan dalam setiaptahapan pembahasan. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi yang dihasilkan tidak hanya mengakomodasi kepentingan pemerintah, tetapijuga mempertimbangkan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Sinergi antara DPR dan pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong tercapainya kesepakatan dalam waktu yang relatif efektif. Undang-undang PSDK ini juga mengatur secara rinci mekanismepemberian perlindungan, termasuk koordinasi lintas sektor serta peranpemerintah pusat dan daerah. Pemerintah menilai bahwa keberhasilanimplementasi kebijakan sangat bergantung pada kolaborasi antarinstansi. Oleh karena itu, penguatan kerja sama menjadi bagian integral dalamregulasi ini. Ketentuan mengenai restitusi dan kompensasi turut diperkuat sebagaibentuk pemenuhan hak korban. Negara memberikan jaminan bahwakorban memiliki akses terhadap pemulihan yang layak, baik melaluimekanisme hukum maupun dukungan kebijakan lainnya. Hal inimenunjukkan bahwa keadilan tidak hanya dilihat dari aspek penghukumanpelaku, tetapi juga dari sejauh mana korban mendapatkan perlindungandan pemulihan. Pemerintah melihat bahwa perlindungan yang optimal akan mendoronglebih banyak pihak untuk berani melaporkan tindak pidana. Hal ini secaralangsung berdampak pada peningkatan efektivitas penegakan hukum danpencegahan kejahatan. Dengan adanya jaminan keamanan sertakepastian hak, masyarakat tidak lagi berada dalam posisi rentan ketikaberhadapan dengan proses hukum. Pengesahan UU PSDK 2026 pada akhirnya mencerminkan langkah majudalam reformasi hukum nasional. Pemerintah bersama DPR berhasilmenghadirkan regulasi yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhanzaman, tetapi juga berorientasi pada perlindungan hak-hak warga negara. Dengan landasan hukum yang semakin kuat, diharapkan sistem peradilanpidana di Indonesia dapat berjalan lebih adil, transparan, dan memberikanrasa aman bagi seluruh masyarakat. *) Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik

Read More
Koperasi Merah Putih Dorong Aktivasi Tenaga Kerja Lokal

Koperasi Merah Putih Dorong Aktivasi Tenaga Kerja Lokal

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat peran Koperasi Merah Putih sebagai motor penggerak ekonomi desa sekaligus instrumen strategis dalam mendorong aktivasi tenaga kerja lokal. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta memperkuat kemandirian ekonomi berbasis desa pada tahun 2026. Melalui pengembangan Koperasi Merah Putih di berbagai wilayah, pemerintah…

Read More

Koperasi Merah Putih Dorong Desa Jadi Titik Tumbuh Lapangan Kerja

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat peran desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi desa, tetapi juga membuka peluang kerja dalam skala besar bagi masyarakat lokal. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono memastikan bahwa proses rekrutmen tenaga kerja Kopdes Merah Putih akan mengutamakan…

Read More

Koperasi Merah Putih dan Reaktivasi Lapangan Kerja Desa

*) Oleh: Dimas Eka Permana Program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) hadir sebagai intervensistrategis dalam menjawab persoalan struktural ketenagakerjaan di tingkat desa yang selama ini belum tertangani secara optimal. Desa kerap berada dalam lingkaranketerbatasan akses ekonomi, rendahnya produktivitas, serta minimnya penciptaanlapangan kerja yang berkelanjutan. Oleh karena itu, proyeksi pembentukan 80.000 koperasi hingga 2029 yang digagas oleh Prabowo Subianto menjadi langkahfundamental dalam mendorong reaktivasi lapangan kerja desa. Program ini tidaksekadar membentuk kelembagaan ekonomi, tetapi juga menghidupkan kembaliaktivitas produktif berbasis komunitas. Dengan pendekatan kolektif, desa diposisikansebagai pusat pertumbuhan baru yang mampu menyerap tenaga kerja secarasignifikan. Lebih jauh, program ini tidak hanya berhenti pada pembentukan lembaga ekonomiformal, tetapi juga menyasar langsung pada penciptaan lapangan kerja dalam skalamasif. Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa setiap koperasi diperkirakan mampumenyerap rata-rata 20 tenaga kerja langsung, sehingga apabila 80.000 unit berhasildidirikan, potensi penyerapan mencapai sekitar 1,6 juta orang. Angka tersebut bahkanbelum mencakup efek berganda dari sektor turunan seperti peternakan, hortikultura, hingga UMKM yang terhubung dalam rantai produksi koperasi. Dengan demikian, Kopdes Merah Putih tidak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga membangunekosistem ekonomi desa yang produktif. Hal ini mempertegas bahwa desa memilikikapasitas untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Selanjutnya, langkah pemerintah membuka rekrutmen 30.000 manajer koperasimenunjukkan keseriusan dalam memastikan tata kelola yang profesional. MenurutZulkifli Hasan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, rekrutmen ini merupakanbagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi desa dan kelurahan secarasistematis. Para manajer yang lolos seleksi akan berada di bawah naungan PT Agrinas Pangan Nusantara dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu selamadua tahun. Status ini menempatkan mereka sebagai bagian dari ekosistem Badan Usaha Milik Negara yang memiliki standar kinerja tinggi. Dengan pendekatantersebut, koperasi tidak lagi dipandang sebagai entitas tradisional, melainkan sebagaiinstitusi ekonomi modern yang dikelola secara profesional. Di sisi lain, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota menegaskan bahwa keberadaan manajer profesional di tingkat desa menjadifaktor kunci dalam memastikan operasional koperasi berjalan efisien dan menguntungkan. Fokus utama para manajer bukan sekadar menjalankanadministrasi, tetapi memastikan koperasi mampu menjadi mesin penggerak ekonomibaru di tingkat lokal. Dengan pendekatan manajerial yang tepat, koperasi diharapkanmampu bersaing dalam dinamika pasar yang semakin kompleks. Hal ini sekaligusmenjawab tantangan klasik koperasi di Indonesia yang kerap menghadapi persoalantata kelola. Dengan demikian, profesionalisasi menjadi fondasi penting dalamkeberlanjutan program ini. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa koperasi merupakaninstrumen strategis untuk menyatukan kekuatan ekonomi rakyat kecil agar memilikiposisi tawar yang setara di pasar domestik maupun global. Konsolidasi ini membukapeluang kerja yang lebih luas karena aktivitas ekonomi tidak lagi berjalan secaraterfragmentasi. Dengan kekuatan kolektif, koperasi mampu menciptakan skala usahayang lebih besar sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Hal ini secaralangsung berkontribusi pada reaktivasi lapangan kerja desa yang sebelumnyaterbatas. Dengan demikian, koperasi menjadi solusi struktural dalam memperluaskesempatan kerja berbasis komunitas. Reaktivasi lapangan kerja desa melalui Kopdes Merah Putih juga menciptakanstabilitas ekonomi lokal yang lebih kokoh. Ketika lapangan kerja tersedia secarakonsisten, daya beli masyarakat desa meningkat dan mendorong perputaran ekonomiyang lebih kuat. Kondisi ini menciptakan siklus produktif yang memperkuatkeberlanjutan usaha koperasi sekaligus memperluas kebutuhan tenaga kerja. Dengandemikian, program ini tidak hanya membuka pekerjaan, tetapi juga menjagakeberlanjutannya melalui mekanisme ekonomi yang saling menguatkan….

Read More

Koperasi Merah Putih dan Distribusi Kesempatan Kerja yang Lebih Merata

Oleh : Ricky Rinaldi Pemerataan kesempatan kerja menjadi bagian penting dalam pembangunanekonomi nasional yang terus diperkuat melalui berbagai kebijakan yang lebihinklusif. Pertumbuhan ekonomi yang berlangsung mendorong terbukanya peluangusaha dan kerja di berbagai daerah, termasuk di luar pusat pertumbuhan. Dalamkerangka ini, penguatan koperasi sebagai instrumen ekonomi kerakyatan kembalimendapat perhatian, salah satunya melalui gagasan Koperasi Merah Putih yang diarahkan untuk memperluas akses lapangan kerja secara lebih merata dan berkelanjutan. Koperasi sejak awal dirancang sebagai model ekonomi yang menempatkanpartisipasi masyarakat sebagai fondasi utama. Melalui keterlibatan langsunganggota dalam aktivitas ekonomi, koperasi tidak hanya menciptakan peluang usaha, tetapi juga memperkuat kemandirian. Karena itu, koperasi hadir bukan sekadarsebagai badan usaha, melainkan sebagai instrumen pemberdayaan sosial dan ekonomi yang memperkuat solidaritas serta daya tahan masyarakat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harusmenghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Pemerataan kesempatan kerjamenjadi bagian penting dalam menciptakan stabilitas sosial dan mengurangiketimpangan antarwilayah. Dalam kerangka tersebut, koperasi dipandang sebagaisarana yang mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus membuka ruang usahabaru di berbagai daerah. Koperasi Merah Putih hadir dengan pendekatan yang menempatkan masyarakatsebagai pelaku utama pembangunan ekonomi. Melalui sistem berbasis anggota, koperasi mendorong keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan produktif. Skema ini memungkinkan penciptaan lapangan kerja tidak hanya di sektorperdagangan, tetapi juga pada sektor pertanian, perikanan, industri rumah tangga, hingga jasa. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan bahwa koperasi memiliki potensibesar dalam menciptakan distribusi ekonomi yang lebih adil. Penguatan koperasitidak hanya diarahkan pada aspek kelembagaan, tetapi juga pada peningkatankapasitas usaha agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Dengan dukungankebijakan yang tepat, koperasi dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di tingkatlokal. Distribusi kesempatan kerja melalui koperasi memiliki karakter yang berbedadibandingkan investasi skala besar. Jika investasi besar cenderung terkonsentrasi di kawasan tertentu, koperasi dapat tumbuh di berbagai wilayah sesuai kebutuhanmasyarakat. Hal ini menjadikan koperasi sebagai instrumen yang efektif dalammemperluas akses kerja hingga ke daerah yang selama ini belum tersentuhindustrialisasi. Selain membuka lapangan kerja, koperasi juga memperkuat kemandirian ekonomimasyarakat. Anggota koperasi tidak hanya berperan sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pemilik usaha. Model ini menciptakan rasa memiliki yang kuat terhadapkegiatan ekonomi yang dijalankan. Keuntungan yang diperoleh tidak terpusat pada segelintir pihak, tetapi didistribusikan kembali kepada anggota. Koperasi Merah Putih juga dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk terlibatdalam kegiatan ekonomi produktif. Di tengah tantangan lapangan kerja formal yang terbatas, koperasi menawarkan alternatif yang lebih fleksibel dan berbasiskolaborasi. Anak muda dapat memanfaatkan koperasi sebagai ruang inovasi, baikdalam bidang digital, pertanian modern, maupun usaha kreatif. Dalam konteks pembangunan daerah, koperasi berpotensi menjadi penggerakekonomi berbasis komunitas. Dengan memanfaatkan potensi lokal, koperasi mampumenciptakan rantai nilai yang melibatkan masyarakat sekitar. Pendekatan inimembantu mengurangi ketergantungan terhadap pusat ekonomi sekaligusmemperkuat daya tahan ekonomi daerah. Namun, penguatan koperasi tidak terlepas dari tantangan. Masalah aksespermodalan, kapasitas manajemen, hingga adaptasi teknologi masih menjadihambatan yang perlu diatasi. Pemerintah berupaya memberikan dukungan melaluipelatihan, pendampingan, serta akses pembiayaan agar koperasi dapat berkembangsecara berkelanjutan. Digitalisasi juga menjadi peluang penting dalam memperluas peran koperasi. Dengan memanfaatkan teknologi, koperasi dapat menjangkau pasar yang lebih luasdan meningkatkan efisiensi operasional. Transformasi digital membantu koperasiberadaptasi dengan perubahan pola konsumsi dan dinamika ekonomi modern. Keberhasilan Koperasi Merah Putih sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Koperasi hanya akan tumbuh jika anggota terlibat aktif dalam pengelolaan dan pengembangan usaha. Kesadaran kolektif mengenai pentingnya ekonomi berbasiskebersamaan menjadi modal utama dalam memperkuat gerakan koperasi. Selain itu, koperasi juga dapat berperan sebagai sarana penguatan ekonomikeluarga. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap usaha produktif di lingkungansendiri, ketergantungan terhadap migrasi kerja ke kota besar dapat berkurang. Hal ini menciptakan keseimbangan pembangunan antarwilayah dan memperkuatekonomi desa maupun kawasan pinggiran. Koperasi Merah Putih tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapijuga pada pembentukan ekosistem usaha yang lebih berkeadilan. Denganketerlibatan anggota sebagai pelaku utama, koperasi menciptakan ruang bagimasyarakat untuk tumbuh bersama. Model ini menjadi penting di tengah kebutuhanakan sistem ekonomi yang lebih inklusif dan tahan terhadap ketimpangan. Melalui koperasi, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunanekonomi, tetapi juga pelaku utama yang ikut menentukan arah pertumbuhan. Koperasi Merah Putih menjadi simbol bahwa pembangunan ekonomi yang kuatharus dibangun dari partisipasi rakyat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan keterlibatan masyarakat, koperasi dapat menjadi fondasi penting dalam menciptakankesempatan kerja yang lebih merata di seluruh Indonesia. *)Pengamat Isu Strategis

Read More
Global Lagi Ribut, Ekonomi RI Tetap Tenang Terkendali

Global Lagi Ribut, Ekonomi RI Tetap Tenang Terkendali

Jakarta – Di tengah kondisi global yang sedang ribut akibat konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan ketidakpastian pasar keuangan, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Sejumlah indikator makroekonomi memperlihatkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk meredam dampak gejolak eksternal. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih dalam…

Read More