PPH Ditanggung Pemerintah Menjadi Bantalan Nyata bagi Kelas Pekerja

*) Oleh : Gavin Asadit Kebijakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) menjadi salah satu instrumen fiskal yang memberikan ruang lebih besar bagi pekerja untukmempertahankan daya beli sepanjang 2026. Melalui fasilitas ini, pajak penghasilan pekerjatertentu ditanggung pemerintah sehingga penghasilan yang diterima pekerja tidak berkurangakibat beban PPh 21 sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari stimulus ekonomi pemerintah yang diarahkanuntuk menjaga keberlangsungan daya beli masyarakat sekaligus menjalankan fungsistabilisasi ekonomi dan sosial. Ketentuannya tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan(PMK) Nomor 105 Tahun 2025 yang berlaku untuk masa pajak Januari hingga Desember2026. Insentif PPh 21 DTP diberikan kepada pekerja yang memenuhi persyaratan pada sektor-sektor tertentu, terutama industri yang memiliki penyerapan tenaga kerja besar. Sektor tersebut mencakup alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta pariwisata. Untuk pegawai tetap yang memenuhi kriteria, penghasilan bruto tetap dan teratur maksimalRp10 juta per bulan. Sementara pegawai tidak tetap yang dibayar secara harian atauberdasarkan satuan dan borongan dapat memperoleh fasilitas apabila rata-rata upah per haritidak melebihi Rp500 ribu. Untuk pembayaran bulanan, batas penghasilan yang ditetapkanjuga maksimal Rp10 juta. Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menempatkan pengelolaan kebijakan fiskal dalamkerangka menjaga kesehatan APBN sekaligus mendukung pelaksanaan program prioritaspemerintah. Dengan posisi baru tersebut, pelaksanaan berbagai stimulus fiskal pada 2026, termasuk PPh 21 DTP yang telah ditetapkan melalui PMK 105/2025, menjadi bagian darikesinambungan kebijakan fiskal yang perlu dijalankan secara tepat sasaran. Bagi pekerja, manfaat kebijakan ini terasa melalui pendapatan yang dapat dipertahankanlebih besar. Pajak yang seharusnya menjadi beban pekerja sesuai ketentuan PPh 21, untukbagian yang mendapatkan fasilitas, ditanggung pemerintah dan dibayarkan secara tunai oleh pemberi kerja pada saat pembayaran penghasilan. Ruang pendapatan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membayar kebutuhan pendidikan, menjaga konsumsi pangan, maupun memenuhi kebutuhansehari-hari lainnya. Dengan demikian, stimulus pajak tidak hanya memiliki dimensiperpajakan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan rumah tangga mempertahankankonsumsi. Sementara, Wakil Menteri Keuangan sekaligus pejabat yang sebelumnya mendampingipengelolaan fiskal, Anggito Abimanyu, menjelaskan bahwa kebijakan fiskal pemerintah perlutetap memperhatikan keseimbangan antara dukungan terhadap perekonomian dan pengelolaan keuangan negara. Dalam konteks stimulus perpajakan, pelaksanaan program diarahkan agar manfaatnya diterima kelompok yang memang memenuhi kriteria. Dari sisi dunia usaha, insentif tersebut juga memiliki kaitan dengan keberlangsungan sektoryang menjadi sasaran. Industri padat karya dan pariwisata memiliki jumlah pekerja yang besar sehingga kebijakan yang menjaga pendapatan pekerja dapat membantumempertahankan aktivitas konsumsi di tengah dinamika ekonomi. PMK 105 Tahun 2025 juga mengatur bahwa pemberi kerja tetap melakukan pemotongan PPhPasal 21 sesuai ketentuan, tetapi nilai pajak yang mendapatkan fasilitas DTP dibayarkansecara tunai oleh pemberi kerja kepada pekerja. Nilai PPh DTP tersebut kemudiandicantumkan dalam bukti pemotongan dan dilaporkan melalui administrasi perpajakan. Di sisi lain, Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto menekankan pentingnya kepatuhanadministrasi dalam pelaksanaan insentif perpajakan. Pengawasan dilakukan untukmemastikan fasilitas diberikan kepada pemberi kerja dan pegawai yang memenuhipersyaratan, termasuk ketentuan mengenai sektor usaha, batas penghasilan, serta integrasiNIK dengan administrasi Direktorat Jenderal Pajak. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa stimulus PPh 21 DTP bukanlah penghapusankewajiban perpajakan secara umum. Fasilitas diberikan berdasarkan kriteria yang telahditetapkan pemerintah sehingga pekerja dan perusahaan perlu memastikan seluruhpersyaratan terpenuhi. Bagi perekonomian, mekanisme seperti ini memungkinkan pemerintah memberikan stimulus secara lebih terarah. Dukungan diberikan kepada pekerja pada sektor tertentu tanpamengubah seluruh sistem pemungutan PPh 21. Dengan pendekatan tersebut, fungsipenerimaan pajak tetap berjalan, sementara kelompok pekerja yang menjadi sasaranmemperoleh manfaat langsung. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga konsumsi domestik. Ketika sebagianpenghasilan yang sebelumnya dialokasikan untuk membayar PPh tetap berada di tanganpekerja, terdapat tambahan ruang bagi rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan aktivitas belanja. Pada saat yang sama, efektivitas PPh 21 DTP tetap membutuhkan pelaksanaan yang akurat. Pemberi kerja harus memahami kriteria penerima, memastikan administrasi perpajakanpekerja telah sesuai, serta menyampaikan laporan realisasi fasilitas berdasarkan ketentuanyang berlaku. PPh 21 DTP menjadi salah satu instrumen fiskal yang menghubungkan kebijakan pemerintahdengan kondisi ekonomi rumah tangga secara langsung. Bagi pekerja yang memenuhikriteria, pajak yang ditanggung pemerintah memberikan ruang tambahan pada penghasilanyang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli, kebijakan ini menunjukkanbagaimana instrumen perpajakan dapat digunakan sebagai bagian dari stimulus yang menyasar kelompok pekerja tertentu. Dengan pelaksanaan yang tepat sasaran, pengawasanyang memadai, dan administrasi yang tertib, PPh 21…

Read More

Kebijakan PPH 2027 Menjadi Bukti Keberpihakan Pemerintah pada Pekerja

Oleh : Abdul Razak)* Pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan ketenagakerjaan dan insentif ekonomi yang akan dilanjutkan serta diperluas pada 2027. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan. Perluasan cakupan kebijakan tersebut diarahkan untuk menjangkau pekerja di seluruh sektor, tidak…

Read More

Prabowo Tekankan Efisiensi APBN 2027 demi Program Perlindungan Sosial

Jakarta – Menteri Keuangan Suahasil Nazara, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya menjaga kredibilitas dan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 agar anggaran negara dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan masyarakat, perlindungan sosial, serta pembangunan infrastruktur. Arahan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, setelah pemerintah dan DPR RI mengesahkan APBN…

Read More

Prabowo Tekankan APBN 2027 Dimaksimalkan untuk Perlindungan Sosial

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menekankan kepada jajarannya saat rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu, APBN 2027 harus dimaksimalkan untuk kesejahteraan dan perlindungan sosial. Arahan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara saat melaporkan hasil Rapat Paripurna bersama DPR RI yang menyepakati pengesahan RUU APBN 2027 menjadi Undang-Undang APBN 2027. “Saya melaporkan kepada Bapak…

Read More

APBN 2027 di Era Prabowo Menjadi Alat Perlindungan Rakyat

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* APBN 2027 hadir ketika negara perlu menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligusmemastikan masyarakat tetap terlindungi dari berbagai tekanan ekonomi. Karena itu, anggaran negara perlu dipahami sebagai instrumen yang menghubungkanstabilitas fiskal dengan kebutuhan nyata masyarakat. Besarnya belanja negara memberi ruang bagi pemerintah menjalankan berbagaiprogram prioritas, tetapi ruang tersebut tetap disertai tanggung jawab menjagakesehatan keuangan negara. Tantangannya adalah memastikan setiap rupiah memiliki sasaran jelas, manfaat terukur, dan mampu menjawab perubahan ekonomi. Presiden Prabowo Subianto sejak penyusunan RAPBN 2027 menempatkan APBN sebagai alat untuk melindungi rakyat sekaligus memperkuat sendi ekonomi bangsa. Arah itu diterjemahkan melalui pengelolaan fiskal yang sehat dan tepat sasaran, termasuk dukungan bagi pangan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomirakyat. Prabowo juga menekankan bahwa dinamika geopolitik dan geoekonomi global dapatmemengaruhi kondisi domestik. Karena itu, APBN perlu memiliki kapasitasmerespons gejolak sambil tetap mempertahankan kesinambungan pembangunannasional. Setelah disahkan, APBN 2027 memiliki belanja negara sekitar Rp4.106,3 triliun, pendapatan Rp3.435,1 triliun, dan defisit 2,4 persen terhadap PDB. Anggarantersebut diarahkan pada delapan klaster prioritas, termasuk pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hilirisasi, infrastruktur, ekonomi kerakyatan, dan penurunankemiskinan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa kebijakan fiskal 2027 dirancang tetap ekspansif, kolaboratif, terarah, dan terukur. Menurutnya, APBN harus menjalankan fungsi menumbuhkan ekonomi sekaligus melindungi masyarakatdengan tetap mempertahankan kredibilitas fiskal. Rumusan itu memperlihatkan bahwa ekspansi anggaran tidak berarti pembelanjaantanpa batas. Belanja perlu diarahkan kepada program yang menghasilkan manfaatekonomi dan sosial, sedangkan pendapatan serta pembiayaan harus dikeloladengan perhitungan yang menjaga kepercayaan terhadap negara. Suahasil juga menempatkan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan eksporsebagai bagian dari upaya menjaga pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan yang menghasilkan pekerjaan memberikan jalur perlindungan yang lebih berkelanjutankarena memperkuat pendapatan masyarakat sekaligus basis ekonomi nasional. Fungsi perlindungan APBN kemudian dapat dilihat dari hubungan antara kebijakanmakro dan kehidupan sehari-hari. Ketika anggaran mendukung pangan, energi, kesehatan, pendidikan, perumahan, dan infrastruktur, manfaat fiskal dapat bergerakhingga ke tingkat keluarga. Karena itu, kualitas belanja menjadi faktor penting agar tujuan tersebut tidak berhentipada besarnya angka anggaran. Setiap program perlu memiliki indikator yang memungkinkan pemerintah dan publik melihat apakah sumber daya negara benar-benar menghasilkan perubahan bagi penerima manfaat. Di titik ini, pengawasan parlemen memiliki arti penting karena anggaran yang besarmembutuhkan pengawalan agar pelaksanaannya tetap sesuai tujuan. Fungsipengawasan juga membantu memastikan kebijakan fiskal dapat dievaluasi dan dikoreksi ketika hasilnya belum sesuai sasaran. Ketua Banggar DPR Said Abdullah menekankan bahwa program yang dibiayaiAPBN 2027 harus memberikan dampak nyata kepada masyarakat. Ia juga mendorong pengukuran dampak secara objektif dengan memperhatikan kepuasanmasyarakat sebagai penerima manfaat. Pandangan tersebut memperkuat gagasan bahwa ukuran APBN tidak berhenti pada tingkat penyerapan anggaran. Keberhasilan fiskal perlu dilihat dari kualitas hasil, ketepatan sasaran, dan perubahan yang muncul setelah program dijalankan. Said juga mengingatkan bahwa kenaikan belanja harus tetap dilakukan secara hati-hati agar APBN kredibel, sehat, dan berkelanjutan. Artinya, perlindunganmasyarakat dan disiplin fiskal perlu berjalan bersama dalam satu kerangkakebijakan. APBN 2027 turut memberikan perhatian kepada kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar melalui berbagai program, termasuk pembangunan infrastruktur daerah. Kebijakan tersebut penting agar manfaat pembangunan dan layanan negara dapatmenjangkau masyarakat dengan keterbatasan akses. Bagi masyarakat, keberadaan APBN akan terasa ketika kebijakan diterjemahkanmenjadi layanan yang mudah diakses dan peluang ekonomi yang nyata. Karena itu, kualitas pelaksanaan di kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menjadibagian penting dari keberhasilan desain fiskal. Perlindungan sosial pun membutuhkan ketepatan sasaran agar dukungan negara benar-benar sampai kepada kelompok yang membutuhkan. Penguatan data, koordinasi antarinstansi, dan evaluasi berkala dapat membantu meningkatkanefektivitas penggunaan anggaran. Pada saat yang sama, pembangunan ekonomi membutuhkan investasi publik yang mampu membuka ruang bagi aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta penguatan ekonomi kerakyatan dapat menjadi fondasibagi pertumbuhan yang lebih inklusif. Prabowo juga mengarahkan agar efisiensi dilakukan secara terukur sehinggaanggaran dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat, perlindungan sosial, dan pembangunan infrastruktur. Efisiensi dengan demikiandiarahkan untuk meningkatkan efektivitas belanja, bukan sekadar menguranginominal anggaran. APBN…

Read More

Efisiensi APBN 2027, Memperbesar Manfaat bagi Masyarakat

Oleh: Aisha Gita )* Pemerintah menetapkan efisiensi sebagai salah satu arah pengelolaan APBN 2027 untuk memastikan anggaran negara digunakan secara terukur dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Kebijakan tersebut berjalan seiring dengan upaya menjaga kredibilitas fiskal, stabilitas perekonomian, perlindungan sosial, serta pembangunan infrastruktur. Presiden RI, Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta,…

Read More

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo dan Transformasi Indonesia Menuju Kemandirian Nasional

Oleh : Doni Wicaksono )* Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo – Gibran, arah pembangunan Indonesia semakin menempatkan kemandirian nasional sebagai salah satu fondasi utama. Kemandirian tidak hanya dipahami sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga sebagai upaya memperkuat daya tahan ekonomi, mengoptimalkan kekayaan alam, meningkatkan kapasitas industri nasional, serta memastikan pembangunan memberikan manfaat yang semakin…

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran Menjadi Momentum Membaca Transformasi Indonesia

Oleh : Rivka Mayangsari*) Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, perjalanan pembangunan nasional menjadi momentum untuk membaca arah transformasi Indonesia secara lebih utuh. Berbagai indikator ekonomi, penguatan ketahanan pangan dan energi, perluasan program sosial, pembangunan perumahan rakyat, hingga agenda penguatan tata kelola menjadi bagian dari dinamika kebijakan yang…

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Transformasi Indonesia Dinilai Mulai Terlihat

Jakarta – Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah kebijakan pemerintah dinilai mulai menunjukkan arah transformasi dalam pembangunan nasional. Perubahan tersebut terlihat dari penguatan ketahanan pangan dan energi, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan investasi, hingga kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk memperluas manfaat pembangunan kepada masyarakat. Presiden Prabowo Subianto…

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Transformasi Nasional Diklaim Bergerak Lebih Terukur

JAKARTA — Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah indikator pembangunan menunjukkan perkembangan di berbagai sektor. Capaian tersebut mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan dan energi, investasi, kesehatan, pendidikan hingga kinerja badan usaha milik negara (BUMN). Di sektor pelayanan keagamaan, pemerintah mencatat penurunan waktu tunggu ibadah haji. Wakil Menteri…

Read More