Pemerintah Tidak Main-Main Soal Keamanan Pangan MBG

Oleh: Bara Winatha*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi sekaligus membangun sumber daya manusia Indonesia. Besarnya cakupan penerima manfaat membuat aspek keamanan pangan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan program. Karena itu, pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemenuhan standar operasional, transparansi informasi,…

Read More

Ketegasan Pemerintah Menutup Dapur MBG Berdasakan Sistem dan Standar Mutu

*) oleh : Muhammad Dava Firdaus Penutupan sementara sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan semata-mata tindakan administratif, melainkan bagian dari sistem pengawasan untuk memastikan makanan yang diterima masyarakat aman, bergizi, dan layak dikonsumsi. Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa dapur yang ditemukan tidak memenuhi ketentuan operasional maupun keamanan pangan dapat…

Read More

Tegas, Pemerintah Tutup Dapur MBG Bermasalah demi Keamanan Pangan Anak

JAKARTA — Pemerintah memperketat pengawasan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya terhadap dapur yang belum memenuhi standar keamanan pangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak tetap aman sekaligus mencegah terulangnya kasus keracunan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan sebanyak 1.300 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah ditutup karena tidak…

Read More

Tidak Ada Ampun, Dapur MBG Tak Penuhi Standar Ditutup Permanen

JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) tidak main-main dalam menindak dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang gagal memenuhi standar keamanan pangan. Kepala BGN Sudaryono menegaskan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak mampu memperbaiki kekurangannya akan dihentikan operasionalnya secara permanen, tanpa memandang siapa pengelolanya. “Saya nggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa punya siapa,…

Read More

Perpres Ojol, Harapan Baru Bagi Pengemudi Makin Sejahtera

Oleh : Rahmat Dwiyanto )* Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur transportasi online membawa harapan baru bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia. Setelah melalui rangkaian pembahasan antara pemerintahdan DPR RI, proses finalisasi kembali mengemuka pada 18 Agustus2026.  Kebijakan ini penting karena sektor transportasi berbasis aplikasibukan lagi sekadar layanan alternatif, melainkan telah menjadi bagiandari aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. Karena itu, kehadiranregulasi yang memberikan kepastian tarif, perlindungan kerja, sertahubungan yang lebih adil antara pengemudi dan perusahaan aplikatorpatut dipandang sebagai langkah strategis. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwapemerintah dan DPR telah mencapai kesepahaman dalam penyusunanPerpres yang mengatur jasa transportasi online. Pemerintahmenargetkan aturan tersebut dapat diterbitkan pada akhir Agustusatau paling lambat awal September 2026.  Menurut Prasetyo, proses selanjutnya adalah harmonisasi, sekaligusmenegaskan bahwa penyelesaian regulasi tersebut merupakan tindaklanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar penyusunannyadilakukan secepat mungkin. Pernyataan tersebut menunjukkan adanyakeseriusan pemerintah untuk menghadirkan kepastian hukum bagiekosistem transportasi online. Dari parlemen, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menekankan bahwa regulasi tersebut tidak hanya mengatur angkutanpenumpang, tetapi juga mencakup layanan pengiriman barang danmakanan. Perluasan cakupan ini relevan dengan perkembanganekonomi digital yang membuat satu pengemudi dapat menjalankanberbagai jenis layanan melalui platform yang sama. Denganpengaturan yang lebih komprehensif, pemerintah memiliki ruanguntuk memastikan setiap bentuk layanan memiliki standarperlindungan dan mekanisme tarif yang lebih jelas. Harapan terbesar dari regulasi tersebut tentu berada pada aspekkesejahteraan pengemudi. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subiantotelah menegaskan keberpihakan pemerintah melalui kebijakanpembatasan komisi aplikator maksimal 8 persen sehingga porsipendapatan pengemudi menjadi sedikitnya 92 persen.  Kebijakan itu menjadi fondasi penting dalam memperbaiki strukturpembagian pendapatan di sektor transportasi online. Bagi pengemudiyang bekerja dengan mengandalkan penghasilan harian, perubahanbeberapa persen dalam pembagian pendapatan dapat memberikandampak nyata terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga, membayar cicilan kendaraan, biaya bahan bakar, hingga kebutuhanpendidikan anak. Namun, kesejahteraan pengemudi tidak semata-mata ditentukan olehbesaran pendapatan. Perlindungan sosial dan kepastian kerja jugaharus menjadi bagian utama. Pemerintah sebelumnya telahmenegaskan bahwa perlindungan pekerja menjadi fokus dalampenyusunan regulasi. Arah kebijakan tersebut penting agar pengemuditidak hanya dipandang sebagai mitra platform, tetapi jugamendapatkan perlindungan yang memadai ketika menghadapi risikokecelakaan kerja, kehilangan pendapatan, maupun persoalan sosialekonomi lainnya. Momentum ini juga penting bagi keberlanjutan sektor informal yang semakin terdigitalisasi. Banyak pengemudi memilih pekerjaan ojolkarena menawarkan fleksibilitas waktu dan akses penghasilan tanpapersyaratan yang terlalu kompleks. Fleksibilitas tersebut perludipertahankan, tetapi harus berjalan bersama perlindungan yang memadai.  Negara dapat memastikan adanya mekanisme pengaduan, transparansiperubahan algoritma dan insentif, serta keterbukaan informasimengenai potongan pendapatan. Dengan begitu, posisi pengemudidalam ekosistem digital menjadi lebih kuat dan tidak sepenuhnyabergantung pada keputusan sepihak platform secara adil danberkelanjutan. Di sisi lain, regulasi yang baik harus mampu menjaga keseimbangan. Keberpihakan kepada pengemudi tidak berarti mengabaikankeberlanjutan perusahaan aplikator dan kepentingan konsumen. Aplikator membutuhkan ruang usaha agar tetap mampu berinvestasi, meningkatkan teknologi, menjaga keamanan platform, sertamenciptakan inovasi. Konsumen pun membutuhkan tarif yang wajardan layanan yang aman. Karena itu, Perpres harus menjadi titik temuyang menciptakan ekosistem transportasi online yang sehat, bukansekadar memenangkan salah satu pihak. Pengaturan tarif juga menjadi bagian yang sangat menentukan. Pemerintah dan DPR perlu memastikan formula tarif memiliki dasaryang transparan, mempertimbangkan jarak, waktu, kondisi lalu lintas, biaya operasional, serta kemampuan masyarakat.  Kepastian tarif akan membantu pengemudi memperkirakanpendapatan secara lebih rasional, sementara konsumen memperolehkepastian mengenai biaya layanan. Untuk layanan barang danmakanan, pengaturan yang jelas juga dapat mencegah persaingan tarifyang berlebihan dan praktik yang berpotensi menekan pendapatanmitra pengemudi. Perpres Ojol harus dilihat sebagai bagian dari transformasi ekonomidigital yang berorientasi pada kesejahteraan manusia. Regulasi inibukan hanya soal angka komisi atau tarif, tetapi menyangkutpenghormatan terhadap kerja keras para pengemudi yang setiap harimenjadi penghubung mobilitas masyarakat, distribusi barang, danaktivitas ekonomi perkotaan. Dengan finalisasi pemerintah dan DPR serta target penerbitan dalam waktu dekat, momentum tersebut perludikawal agar aturan benar-benar dapat dilaksanakan secara konsisten. Jika dijalankan dengan pengawasan yang kuat, transparansi, danruang dialog antara pemerintah, DPR, pengemudi, aplikator, sertakonsumen, Perpres Ojol dapat menjadi tonggak penting dalammembangun ekosistem transportasi online yang lebih adil. Harapanakhirnya sederhana: pengemudi bekerja dengan lebih aman, memperoleh pendapatan yang lebih layak, memiliki perlindungansosial yang lebih kuat, sementara masyarakat tetap mendapatkanlayanan transportasi dan pengantaran yang terjangkau.  Dengan demikian, regulasi ini bukan hanya menjadi produk hukum, tetapi menjadi bukti hadirnya negara dalam memastikan kemajuanekonomi digital berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraanpekerja. )* Pengamat Kebijakan Publik

Read More

Perpres Ojol Bukti Negara Serius Melindungi Pengemudi Ekonomi Digital

Oleh: Rivka Mayangsari*) Pemerintah terus memperkuat perlindungan terhadap pengemudi ojek online (ojol) sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi digital nasional. Kehadiran regulasi yang lebih komprehensif melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang transportasi online dinilai menjadi langkah strategis untuk menciptakan kepastian hukum, meningkatkan kesejahteraan pengemudi, serta membangun hubungan yang lebih seimbang antara pengemudi dan perusahaan aplikator. Menteri…

Read More

Perpres Ojol Jadi Payung Baru Kesejahteraan Pengemudi Transportasi Online

JAKARTA – Pemerintah bersama DPR RI terus mematangkan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai ekosistem transportasi online yang ditargetkan terbit pada akhir Agustus atau paling lambat awal September 2026. Regulasi ini disiapkan untuk memperkuat perlindungan pengemudi ojek online (ojol) sekaligus memperluas peluang ekonomi mereka melalui pengakuan sebagai pelaku usaha mikro. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)…

Read More

Perpres Ojol Segera Terbit, Pemerintah Perkuat Perlindungan Pengemudi

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat langkah menghadirkan kepastian hukum dan perlindungan bagi pengemudi ojek online (ojol) melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang ekosistem transportasi daring. Setelah pembahasan lintas kementerian dan DPR RI, regulasi tersebut kini memasuki tahap harmonisasi dan ditargetkan terbit pada akhir Agustus atau paling lambat awal September 2026. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penyempurnaan…

Read More

Pemulihan Infrastruktur Pascagempa NTT Utamakan Keselamatan dan Martabat Warga

Oleh : Antonius Utomo Pemulihan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menjadi bagian dari komitmenpemerintah dalam memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara aman, nyaman, dan produktif. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, BNPB, aparat, sertaberbagai unsur masyarakat memperkuat koordinasi untuk mempercepat proses pemulihansekaligus membangun kembali berbagai fasilitas dengan kualitas dan ketangguhan yang semakinbaik. Tahapan pemulihan tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan fungsi fasilitas publik, tetapijuga menjadi momentum memperkuat kualitas pembangunan di NTT. Rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta prinsip pembangunanyang lebih tangguh. Dengan pendekatan tersebut, setiap pembangunan kembali diharapkanmampu memberikan manfaat jangka panjang sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidupmasyarakat. Pemerintah menempatkan keselamatan dan kebutuhan masyarakat sebagai prioritas utama dalamproses pemulihan. Berbagai langkah dilakukan secara terpadu untuk memastikan layanan dasar, fasilitas publik, konektivitas, dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan secara optimal. Sinergi antarlembaga menjadi kekuatan penting dalam memastikan setiap tahapan pemulihanberlangsung secara terarah, cepat, dan tepat sasaran. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan komitmenpemerintah untuk memastikan penanganan pascagempa berjalan secara cepat dan terkoordinasi. Pemerintah terus mengoptimalkan komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah sehinggaberbagai kebutuhan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti. Koordinasi tersebut menjadi bagianpenting dalam memastikan proses pemulihan berjalan efektif sekaligus memberikan kepastiankepada masyarakat. Dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, pembangunan kembali infrastruktur menjadi salah satu prioritas penting. Jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, sekolah, sarana air bersih, sertafasilitas pelayanan publik lainnya menjadi bagian dari agenda pemulihan. Pembangunan kembalitersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan infrastruktur sehinggamampu memberikan pelayanan yang semakin optimal kepada masyarakat. Pendekatan membangun kembali dengan kualitas yang lebih baik menjadi bagian penting daripemulihan pascagempa. Infrastruktur yang dibangun tidak hanya mempertimbangkan fungsipelayanan, tetapi juga aspek keselamatan, kualitas konstruksi, dan ketangguhan. Dengandemikian, proses rekonstruksi tidak sekadar memulihkan kondisi sebelumnya, tetapi menjadiinvestasi jangka panjang untuk memperkuat pembangunan daerah. Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat juga terus diperkuat. Pada Juli 2026, Kepala BNPB bersama jajaran pemerintah daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Flores Timur mengunjungi hunian sementara di Desa Konga. Kehadiran langsungtersebut menjadi bagian dari upaya memastikan proses pemulihan berjalan sesuai kebutuhanmasyarakat sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah dan warga. Interaksi langsung dengan masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam proses pemulihan. Aspirasi dan kebutuhan warga dapat menjadi masukan penting bagi pemerintah dalammenentukan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan melibatkan masyarakat, pembangunan kembali dapat semakin sesuai dengan kebutuhan lokal serta memperkuat rasa memiliki terhadap berbagai fasilitas yang dibangun. Pemulihan juga mencakup penguatan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika fasilitas publik kembali berfungsi dan konektivitas semakin baik, masyarakat memiliki ruangyang lebih luas untuk menjalankan kegiatan ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, sertaaktivitas sosial lainnya. Kondisi tersebut menjadi bagian penting dari upaya mengembalikandinamika kehidupan masyarakat secara bertahap. Bagi masyarakat NTT, proses pemulihan pascagempa juga menjadi momentum memperkuatsemangat gotong royong. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, relawan, serta berbagaiorganisasi memiliki peran dalam mendukung percepatan pemulihan. Kolaborasi tersebut menjadimodal sosial yang penting dalam membangun kembali kehidupan masyarakat secara lebih kuatdan berkelanjutan. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sebagai bagian daripembangunan jangka panjang. Edukasi kebencanaan, pemahaman mengenai keselamatanbangunan, serta penguatan kapasitas masyarakat menjadi investasi penting. Masyarakat yang semakin memahami langkah-langkah kesiapsiagaan akan memiliki kemampuan yang lebih baikdalam menjaga keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan. Pemulihan pascagempa dengan demikian tidak berhenti pada rehabilitasi fisik. Proses tersebutmenjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi pembangunan daerah secara menyeluruh. Infrastruktur yang lebih tangguh, pelayanan publik yang semakin baik, masyarakat yang semakinsiap, serta koordinasi pemerintahan yang semakin kuat akan menjadi modal penting bagikemajuan NTT. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus memastikan proses pemulihan berlangsung secarabertahap dan berkelanjutan. Setiap capaian dalam rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi bagiandari upaya mengembalikan aktivitas masyarakat sekaligus menciptakan kondisi yang semakinmendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Semangat pemulihan di NTT menunjukkan bahwa setiap tantangan dapat menjadi momentum untuk memperkuat pembangunan. Dengan kehadiran pemerintah, dukungan berbagai pihak, sertapartisipasi aktif masyarakat, proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat menjadi fondasi bagi NTT yang semakin tangguh. Pada akhirnya, pemulihan pascagempa merupakan wujud nyata kehadiran negara dalammendampingi masyarakat. Pemerintah terus bekerja memastikan masyarakat memperolehdukungan yang dibutuhkan, fasilitas publik kembali memberikan pelayanan, dan pembangunandapat berjalan dengan kualitas yang semakin baik. Dengan semangat gotong…

Read More

Sinergi Bersama Pulihkan Infrastruktur Dasar Korban Gempa NTT

*) Oleh: Rafael Damianus Gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 kembali mengingatkan bahwa ketangguhan negara tidak hanya diujiketika bencana terjadi, tetapi terutama pada kecepatan pemerintah memulihkankehidupan masyarakat setelahnya. Hingga hari kelima pascabencana, pemerintahtelah mengirimkan 253 ton logistik ke wilayah terdampak sebagai bagian daripercepatan penanganan tanggap darurat. Langkah tersebut menunjukkan bahwarespons kebencanaan tidak berhenti pada evakuasi dan distribusi bantuan, tetapibergerak menuju pemulihan infrastruktur dasar yang menjadi penopang aktivitasmasyarakat. Dalam situasi seperti ini, kehadiran negara harus terasa melaluikoordinasi yang cepat, distribusi yang tepat, serta pembangunan kembali fasilitaspublik yang terdampak. Sejalan dengan itu, pemulihan pascabencana membutuhkan kerja lintas kementeriandan lembaga karena dampak gempa tidak hanya menyentuh aspek kemanusiaan, tetapi juga konektivitas, kesehatan, air bersih, hingga aktivitas ekonomi. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa pemerintah mengerahkan seluruhsumber daya antarkementerian dan lembaga untuk mempercepat penanganantanggap darurat serta pemulihan dampak gempa di NTT. Pendekatan tersebut pentingkarena kebutuhan masyarakat korban bencana bersifat multidimensi dan tidak dapatditangani oleh satu institusi secara terpisah. Sinergi menjadi kunci agar bantuandarurat sekaligus menjadi jembatan menuju pemulihan yang lebih terencana. Dalam konteks distribusi bantuan, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskanbahwa pengiriman terbaru dilakukan menggunakan lima pesawat yang membawa 65 ton bantuan atas instruksi Presiden Prabowo Subianto. Bantuan tersebut mencakupmakanan, minuman, tenda, perlengkapan kesehatan, serta berbagai kebutuhan dasarlainnya yang dibutuhkan masyarakat terdampak. Pemerintah juga menempatkan dua posko utama di Labuan Bajo dan Maumere untuk memperkuat koordinasi distribusimenuju wilayah-wilayah yang membutuhkan. Strategi tersebut memperlihatkan bahwaefektivitas penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh besarnya bantuan, tetapijuga oleh kemampuan negara memastikan bantuan bergerak cepat hingga ke titikterdampak. Lebih jauh, pemulihan infrastruktur menjadi agenda yang tidak kalah penting karenakerusakan jalan dan jembatan dapat menghambat distribusi bantuan sertamemperlambat pemulihan ekonomi masyarakat. Infrastruktur dasar merupakan uratnadi yang menghubungkan pusat pelayanan dengan permukiman, kawasan produksi, dan wilayah terdampak bencana. Ketika akses tersebut terganggu, biaya sosial dan ekonomi yang ditanggung masyarakat dapat meningkat secara signifikan. Karena itu, percepatan pemulihan konektivitas harus berjalan paralel dengan penanganankebutuhan kemanusiaan agar masyarakat tidak terlalu lama berada dalam kondisiterisolasi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memastikan penanganan sejumlah infrastruktur vital telahberjalan, termasuk ruas jalan nasional, jembatan, dan bendungan. Dari 33 titiklongsoran yang menutup badan jalan, sebanyak 32 titik telah ditangani sementarasehingga jaringan jalan kembali berfungsi. Selain itu, empat titik patahan badan jalanserta sejumlah kerusakan jembatan dan plat duiker juga telah ditangani agar kembalidapat dilalui kendaraan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa respons pemerintahdiarahkan pada pemulihan fungsi infrastruktur secara cepat agar mobilitas masyarakatdan distribusi bantuan tidak terhambat. Namun demikian, pemulihan infrastruktur pascabencana tidak boleh sekadarmengejar kondisi kembali seperti sebelum gempa. Infrastruktur yang diperbaiki harussekaligus dievaluasi tingkat ketahanannya agar mampu menghadapi risiko bencanaserupa di masa mendatang. Prinsip membangun kembali dengan standar yang lebihaman menjadi penting, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gempadan longsor tinggi. Dengan demikian, anggaran pemulihan tidak hanya menghasilkanperbaikan fisik, tetapi juga meningkatkan ketahanan wilayah dalam menghadapiancaman bencana berikutnya. Selain konektivitas, sektor air…

Read More