Pencegahan Karhutla Melalui Sekat Kanal, Patroli, dan Kesiapsiagaan
Oleh: Nanik Muliawanti (* Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius menjelangpuncak musim kemarau tahun 2026. Pengalaman pahit yang pernah dialami Indonesia pada berbagai episode El Nino sebelumnya menjadi pengingat bahwa bencana ini bukan sekadarpersoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, ketahanan pangan, hingga citra bangsa di mata dunia. Karena itu, langkah pencegahan harusmenjadi prioritas utama, bukan menunggu hingga api membesar dan sulit dikendalikan. Peringatan dini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) patut menjadi perhatian seluruh pihak. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskanbahwa risiko karhutla diperkirakan mulai meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi diprediksimeluas, terutama di Sumatera dan Kalimantan, dengan fokus pengawasan pada Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak menunggu bencana terjadi untukkemudian bertindak. Sebaliknya, berbagai langkah antisipatif telah dipersiapkan sejak dini. BMKG bahkan menekankan bahwa mitigasi yang dilakukan saat ini tidak hanya bertujuanmenghadapi kekeringan dan karhutla, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menghadapipotensi bencana hidrometeorologi basah pada akhir tahun ketika musim hujan kembalidatang. Pendekatan yang komprehensif ini menunjukkan adanya upaya membangun sistemketahanan lingkungan yang berkelanjutan. Salah satu langkah penting yang terus didorong adalah menjaga tinggi muka air pada kawasan gambut. Gambut yang tetap jenuh air akan jauh lebih tahan terhadap potensikebakaran dibandingkan gambut yang mengering. Dalam konteks inilah pembangunan dan optimalisasi sekat kanal menjadi sangat strategis. Sekat kanal berfungsi menahan aliran air agar tidak cepat keluar dari kawasan gambut sehingga kelembapan tanah tetap terjaga. Keberadaan sekat kanal bukan hanya solusi teknis sederhana, melainkan investasi ekologisjangka panjang. Ketika permukaan air dapat dipertahankan pada kondisi normal, risikomunculnya api dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, upaya pembasahan gambut juga membantu menjaga fungsi ekologis kawasan, termasuk kemampuan menyimpan karbon dan menjaga keanekaragaman hayati. BMKG juga merekomendasikan penguatan pemantauan hotspot, patroli terpadu, pembasahanlahan gambut, pembangunan sekat kanal, serta penegakan hukum terhadap pembakaranlahan. Rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan karhutla harus dilakukansecara menyeluruh, mulai dari aspek teknologi, pengawasan lapangan, hingga penegakanaturan. Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Sudarsono Soedomo. Menurutnya, risiko karhutla akan meningkatsecara signifikan apabila Indonesia menghadapi fenomena El Nino kuat yang disertai Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering sehingga meningkatkan kerentanan berbagaijenis vegetasi terhadap kebakaran. Peringatan tersebut penting karena kebakaran besar sering kali dipicu oleh kombinasi faktorcuaca ekstrem dan aktivitas manusia. Dalam kondisi kelembapan yang sangat rendah, serasah, ranting, dan gambut dapat berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudahterbakar. Sedikit percikan api saja dapat memicu kebakaran luas yang sulit dipadamkan….
