Sidak Ramadan Kawal Ketersediaan Komoditas Strategis

Oleh : Abdul Razak )* Pemerintah pusat hingga daerah memperkuat pengawasan harga, pasokan, dan keamanan pangan selama Ramadan 1447 H. Langkah ini dilakukan untuk memastikan lonjakan permintaan pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tidak memicu gejolak harga maupun peredaran pangan yang tidak memenuhi standar kesehatan. Sejumlah pejabat turun langsung ke pasar tradisional dan sentra jajanan takjil…

Read More

Sidak Ramadan sebagai Instrumen Stabilitas Pasar

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Setiap memasuki bulan suci Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemerintahmemastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga melaluilangkah pengawasan yang aktif dan terukur. Peningkatan aktivitas konsumsimasyarakat dipandang sebagai momentum positif yang mencerminkan perputaranekonomi yang dinamis. Dalam kerangka tersebut, inspeksi mendadak (sidak) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola pangan, memastikandistribusi berjalan lancar, serta menjaga keterjangkauan harga bahan pokok. Kehadiran langsung pemerintah di lapangan menegaskan komitmen kuat dalammelindungi kepentingan masyarakat, memperkuat transparansi rantai pasok, sertamembangun kepercayaan publik terhadap sistem pangan nasional yang tangguhdan responsif. Langkah tersebut terlihat nyata ketika Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung melakukan pemantauan di Pasar Jonggol, yang selama ini dikenal sebagai pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta. Kehadiran pejabat tinggi di titik distribusi akhir menunjukkan bahwapemerintah mengedepankan pengawasan berbasis kondisi riil lapangan. SarwoEdhy menegaskan bahwa selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah pembenahan akan segera dilakukan di lokasi. Hasil pemantauan memperlihatkan mayoritas komoditas pangan strategis beradadalam kondisi relatif stabil. Harga beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per kilogram. Bawang merah tercatatRp40.000 per kilogram dan bawang putih Rp36.000 per kilogram. Untuk komoditasprotein hewani, daging ayam ras berada di kisaran Rp40.000–42.000 per kilogram, telur ayam Rp30.000–32.000 per kilogram, daging sapi lokal Rp130.000–140.000 per kilogram, serta daging sapi impor sekitar Rp120.000 per kilogram. Gula kemasan dijual Rp19.000 per kilogram dan gula curah Rp18.000 per kilogram. Stabilitas ini menunjukkan bahwa sistem pasokan dan distribusi berjalan cukupefektif dalam merespons lonjakan permintaan Ramadan. Di tingkat pedagang, kondisi pasokan yang lancar menjadi faktor kunci. Sejumlahpedagang menyampaikan bahwa harga relatif terjaga karena pasokan diperolehlangsung dari sumber terdekat, seperti rumah potong hewan di sekitar pasar. Dari sisi konsumen, harga yang masih terjangkau memberikan rasa tenang dalammemenuhi kebutuhan berbuka dan sahur bersama keluarga. Stabilitas harga di pasar tradisional juga menjadi indikator bahwa intervensi pemerintah tidak hanyaberdampak pada data statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus pada komoditas yang masih menunjukkan deviasi harga, seperti minyak goreng rakyat Minyakita. Di beberapa titik, harga ditemukan berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, bahkan mencapai Rp18.000–18.500 per liter. Sarwo Edhymenjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh harga di tingkat distributor yang sudah berada di atas Rp17.000…

Read More

Sidak Ramadan sebagai Instrumen Stabilitas Pasar

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Setiap memasuki bulan suci Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemerintahmemastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga melaluilangkah pengawasan yang aktif dan terukur. Peningkatan aktivitas konsumsimasyarakat dipandang sebagai momentum positif yang mencerminkan perputaranekonomi yang dinamis. Dalam kerangka tersebut, inspeksi mendadak (sidak) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola pangan, memastikandistribusi berjalan lancar, serta menjaga keterjangkauan harga bahan pokok. Kehadiran langsung pemerintah di lapangan menegaskan komitmen kuat dalammelindungi kepentingan masyarakat, memperkuat transparansi rantai pasok, sertamembangun kepercayaan publik terhadap sistem pangan nasional yang tangguhdan responsif. Langkah tersebut terlihat nyata ketika Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung melakukan pemantauan di Pasar Jonggol, yang selama ini dikenal sebagai pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta. Kehadiran pejabat tinggi di titik distribusi akhir menunjukkan bahwapemerintah mengedepankan pengawasan berbasis kondisi riil lapangan. SarwoEdhy menegaskan bahwa selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah pembenahan akan segera dilakukan di lokasi. Hasil pemantauan memperlihatkan mayoritas komoditas pangan strategis beradadalam kondisi relatif stabil. Harga beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per kilogram. Bawang merah tercatatRp40.000 per kilogram dan bawang putih Rp36.000 per kilogram. Untuk komoditasprotein hewani, daging ayam ras berada di kisaran Rp40.000–42.000 per kilogram, telur ayam Rp30.000–32.000 per kilogram, daging sapi lokal Rp130.000–140.000 per kilogram, serta daging sapi impor sekitar Rp120.000 per kilogram. Gula kemasan dijual Rp19.000 per kilogram dan gula curah Rp18.000 per kilogram. Stabilitas ini menunjukkan bahwa sistem pasokan dan distribusi berjalan cukupefektif dalam merespons lonjakan permintaan Ramadan. Di tingkat pedagang, kondisi pasokan yang lancar menjadi faktor kunci. Sejumlahpedagang menyampaikan bahwa harga relatif terjaga karena pasokan diperolehlangsung dari sumber terdekat, seperti rumah potong hewan di sekitar pasar. Dari sisi konsumen, harga yang masih terjangkau memberikan rasa tenang dalammemenuhi kebutuhan berbuka dan sahur bersama keluarga. Stabilitas harga di pasar tradisional juga menjadi indikator bahwa intervensi pemerintah tidak hanyaberdampak pada data statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus pada komoditas yang masih menunjukkan deviasi harga, seperti minyak goreng rakyat Minyakita. Di beberapa titik, harga ditemukan berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, bahkan mencapai Rp18.000–18.500 per liter. Sarwo Edhymenjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh harga di tingkat distributor yang sudah berada di atas Rp17.000…

Read More

Sinergi TNI dan Pemerintah Percepat Pembangunan Koperasi Desa

Oleh: Ahmad Fajar Ramadhan Keterlibatan TNI dalam pengawasan dan percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dinilai masih berada dalam koridor aturan dan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pelibatan tersebut dipandang sebagai bagian dari dukungan institusi pertahanan terhadap program prioritas pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa dan ketahanan nasional dari akar rumput. Pengamat politik sekaligus Dosen…

Read More

Pengadaan Pikap Kopdes dan Strategi Efisiensi Anggaran Negara

Oleh: Arisetya Gunawan *) Kebijakan pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi perdesaan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) merupakan langkah afirmasi yang patut diapresiasi. Sebagai instrumen penggerak ekonomi akar rumput, koperasi memerlukan dukungan infrastruktur logistik yang mumpuni agar rantai pasok dari petani ke pasar tidak lagi terhambat oleh biaya tinggi atau ketiadaan armada. Dalam konteks ini, langkah PT Agrinas Pangan…

Read More

Koperasi Desa Merah Putih Wadah Kolaborasi Ritel Desa yang Memperkuat UMKM

Oleh : Bintang Aditya )* Kopdes Merah Putih menjadi wadah kolaborasi antara koperasi desa dengan ritel modern dan distributor, memperkuat jaringan usaha mikro dan UMKM di desa. Inisiatif ini menandai arah kebijakan pemerintah yang tidak menempatkan koperasi sebagai pesaing jaringan besar, melainkan sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem perdagangan yang sehat, efisien, dan berkeadilan. Di tengah dinamika industri ritel yang semakin kompetitif, pendekatan…

Read More

Koperasi Merah Putih: Mitra Ritel, Penguat Kelontong

Oleh: Ahmad Dante  Isu monopoli kerap muncul setiap kali negara meluncurkan program ekonomi berskala besar. Kecurigaan itu wajar, sebab publik khawatir kebijakan yang niatnya baik, tetapi praktiknya bisa menekan pelaku kecil. Namun, menempelkan label monopoli pada Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/Kopdes Merah Putih) sejak awal justru berisiko menutup pembacaan yang lebih jernih bahwa program ini dirancang sebagai hub dan wadah kolaborasi, bukan pemain tunggal…

Read More

Kopdes Merah Putih Gandeng Ritel Modern Perkuat Ekonomi Desa

Jakarta – Pemerintah menegaskan strategi baru dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih yang tidak hanya disiapkan agar bisa bersaing, tetapi juga berkolaborasi dengan jaringan ritel modern. Pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat peran koperasi sebagai tulang punggung ekonomi lokal sekaligus membuka ruang sinergi dengan pelaku usaha besar. Menteri Koperasi Ferry Juliantono…

Read More
Keterlibatan TNI di Koperasi Merah Putih Dinilai Proporsional dan Perkuat Ekonomi Desa

Keterlibatan TNI di Koperasi Merah Putih Dinilai Proporsional dan Perkuat Ekonomi Desa

Jakarta – Keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pengawasan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dinilai sebagai langkah strategis dan proporsional dalam mempercepat penguatan ekonomi kerakyatan. Pengamat politik sekaligus Dosen Hubungan Sipil Militer Universitas Pertahanan Republik Indonesia, RAj Mayyasari Timur Gondokusumo, menegaskan bahwa pelibatan tersebut sepenuhnya berada dalam koridor kebijakan nasional serta sejalan dengan arahan Presiden…

Read More

Pemerintah Hadirkan Koperasi Desa Merah Putih Sebagai Penggerak Ekonomi Desa

Jawa Timur – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) didorong menjadi pusat penggerak ekonomi desa yang mampu memperkuat perekonomian nasional dari akar rumput. Di tengah tekanan dinamika global dan ketidakpastian geopolitik internasional, program ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan aktivitas ekonomi tidak hanya bertumpu di kota, tetapi tumbuh dan berputar kuat di desa sebagai basis…

Read More