Pengawasan Koperasi Desa Diperkuat Demi Menjamin Tata Kelola yang Akuntabel

Pemerintah terus memperkuat tata kelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melalui penguatan sistem pengawasan berbasis digital. Langkah ini ditandai dengan peresmian Command Center oleh Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, sebagai pusat percepatan transformasi digital koperasi nasional yang diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan koperasi desa secara modern, transparan, dan akuntabel. Command Center dirancang sebagai pusat integrasi sistem informasi sekaligus…

Read More

PP 20/2026 dan Upaya Menata Ekosistem Usaha yang Lebih Sehat

Oleh : Antonius Utomo Pemerintah terus melakukan pembenahan terhadap tata kelola ekonomi nasional guna menciptakan iklim usaha yang sehat, adil, dan berkelanjutan. Salah satu langkah penting yang dilakukan pada tahun 2026 adalah penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun2026 yang merevisi sejumlah ketentuan dalam pengaturan Pajak Penghasilan (PPh), khususnya terkait pemanfaatan fasilitas PPh Final bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kehadiran regulasi ini tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkankepatuhan perpajakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menataekosistem usaha agar lebih kompetitif dan berkeadilan. Pemerintah secara konsisten memberikan berbagai insentif untuk mendukung keberlangsungansektor ini, termasuk melalui tarif PPh Final sebesar 0,5 persen bagi wajib pajak denganperedaran bruto tertentu. Namun, dalam praktiknya, fasilitas tersebut tidak selalu dimanfaatkansesuai tujuan awal. Sejumlah celah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperolehkeuntungan pajak yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi usaha skala kecil. Presiden Prabowo Subianto mengatakan melalui beleid baru ini, pemerintah secara eksklusifmembatasi fasilitas tarif PPh final sebesar 0,5 persen. Fasilitas keringanan pajak tersebut kinihanya diperuntukkan bagi wajib pajak orang pribadi, badan yang berbentuk perseroanperorangan yang didirikan oleh satu orang, serta badan usaha berwujud koperasi. Melalui PP 20/2026, pemerintah berupaya memastikan bahwa fasilitas perpajakan benar-benarditerima oleh pelaku usaha yang berhak. Salah satu perubahan utama yang diperkenalkanadalah penyempitan kelompok penerima fasilitas PPh Final UMKM. Skema tersebut kinidifokuskan kepada wajib pajak orang pribadi, perseroan perorangan, dan koperasi yang memenuhi kriteria tertentu. Kebijakan ini bertujuan mencegah penyalahgunaan fasilitas oleh entitas usaha yang secara ekonomi telah berkembang dan memiliki kapasitas yang lebih besardibandingkan UMKM pada umumnya. Langkah tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk menciptakan persaingan usahayang lebih sehat. Selama ini, praktik pemecahan usaha atau fragmentation usaha menjadisalah satu tantangan dalam sistem perpajakan. Tidak sedikit pelaku usaha yang membagikegiatan bisnisnya ke dalam beberapa entitas berbeda agar masing-masing tetap berada di bawah batas omzet Rp4,8 miliar dan dapat menikmati tarif PPh Final yang lebih rendah. Dengan PP 20/2026, pemerintah memperkuat pendekatan berbasis substansi ekonomisehingga keseluruhan aktivitas usaha dapat dilihat secara lebih komprehensif. Pengaturan penggabungan omzet pada usaha yang memiliki keterkaitan ekonomi, termasukusaha suami-istri dan perseroan perorangan tertentu, menunjukkan komitmen pemerintahmenutup celah penghindaran pajak sekaligus memastikan perlakuan yang adil bagi wajib pajaksesuai kapasitas usahanya. PP 20/2026 juga menegaskan bahwa profesi bebas sepertikonsultan, pengacara, dokter, akuntan, notaris, influencer, blogger, dan vlogger tidak lagi dapatmemanfaatkan fasilitas PPh Final UMKM. Kebijakan ini merupakan penyesuaian terhadapperkembangan ekonomi modern dan ekonomi digital yang memiliki karakteristik berbedadengan usaha mikro dan kecil tradisional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan melalui PP 20/206 bertujuan mencegahpenyalahgunaan PPh final UMKM oleh Perusahaan besar. Skema PPh final UMKM kini hanyabisa di manfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi serta wajib pajak badan berbentuk Perseroan perorangan dan koperasi sepanjang omzet wajib pajak dimaksud belum melebihi Rp 4,8 miliardalam 1 tahun pajak. Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah ingin menghadirkan sistemperpajakan yang lebih proporsional. Pelaku usaha mikro dan kecil yang masih membutuhkandukungan tetap memperoleh fasilitas yang memadai, sementara kelompok usaha atau profesiyang telah memiliki kemampuan ekonomi lebih besar diarahkan untuk menggunakanmekanisme perpajakan umum. Dengan demikian, prinsip keadilan dalam sistem perpajakandapat diwujudkan secara lebih optimal. PP 20/2026 juga memperkuat integritas dunia usaha dengan menegaskan bahwa biaya terkaitsuap, gratifikasi, dan tindak pidana korupsi tidak dapat dijadikan pengurang pajak. Ketentuan inimendorong terciptanya budaya bisnis yang lebih etis dan transparan. Di sisi lain, pemerintahtetap mempertahankan dukungan bagi UMKM melalui tarif PPh Final 0,5 persen dan batas omzet Rp4,8 miliar, disertai masa transisi bagi wajib pajak tertentu agar reformasi berjalanbertahap dan tidak mengganggu keberlangsungan usaha.. Kepastian hukum yang diberikan melalui ketentuan peralihan juga menjadi salah satu poinpositif dari regulasi ini. Pelaku usaha yang telah menjalankan kewajiban perpajakanberdasarkan aturan sebelumnya mendapatkan perlindungan dan kejelasan mengenai status perpajakannya….

Read More

PP 20/2026 Perkuat Keadilan dan Kepatuhan dalam Ekosistem Usaha Nasional

Oleh : Nofer Saputra *) Pemerintah kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan sistem perpajakan yang adil, sehat, dan berkelanjutan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun2026 tentang Perubahan atas PP Nomor 55 Tahun 2022 mengenai Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. Regulasi ini hadir pada momentum yang tepat, ketika dunia usahanasional membutuhkan kepastian hukum sekaligus penguatan tata kelola perpajakan yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan prinsip keadilan. Selama beberapa tahun terakhir, kebijakan Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM sebesar 0,5 persen telah menjadi instrumen penting dalam mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk bertumbuhdengan beban administrasi dan perpajakan yang lebih sederhana. Namun dalam praktiknya, fasilitas yang dirancang untuk mendukung UMKM tidak jarang dimanfaatkan secara tidak tepatoleh pihak-pihak yang sebenarnya sudah tidak memenuhi kriteria sebagai usaha kecil. Kondisi tersebut menciptakan ketimpangan dalam dunia usaha. Pelaku usaha yang telahberkembang menjadi perusahaan besar masih memperoleh fasilitas yang seharusnyadiperuntukkan bagi UMKM melalui berbagai cara, termasuk pemecahan badan usaha untukmempertahankan status sebagai penerima tarif pajak final yang lebih rendah. Praktik seperti initidak hanya mengurangi efektivitas kebijakan pemerintah, tetapi juga berpotensi merugikanpenerimaan negara dan mencederai rasa keadilan bagi wajib pajak yang telah menjalankankewajibannya secara benar. Melalui PP 20 Tahun 2026, pemerintah melakukan penataan yang lebih tegas terhadap penerimafasilitas PPh Final UMKM. Skema tersebut kini hanya dapat dimanfaatkan oleh wajib pajakorang pribadi serta wajib pajak badan berbentuk perseroan perorangan dan koperasi denganomzet tidak melebihi Rp4,8 miliar per tahun. Kebijakan ini memperjelas segmentasi penerimamanfaat sehingga fasilitas perpajakan benar-benar diberikan kepada kelompok usaha yang membutuhkan dukungan negara untuk berkembang. Langkah tersebut merupakan bentuk keberpihakan yang tepat sasaran. Dalam kontekspembangunan ekonomi nasional, UMKM memiliki peran strategis sebagai tulang punggungperekonomian. Oleh karena itu, dukungan fiskal harus difokuskan kepada pelaku usaha yang memang berada pada tahap awal pertumbuhan dan memerlukan stimulus untuk meningkatkankapasitas usahanya. Ketika fasilitas diberikan kepada pihak yang tidak berhak, maka tujuanutama kebijakan menjadi terdistorsi dan manfaatnya tidak lagi optimal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa revisi regulasi ini bertujuanmencegah penyalahgunaan fasilitas PPh Final UMKM oleh perusahaan besar. Pernyataantersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berorientasi pada peningkatan penerimaannegara, tetapi juga berupaya menciptakan sistem yang lebih berkeadilan bagi seluruh pelakuusaha. Dengan dukungan sistem administrasi perpajakan yang semakin modern melaluiimplementasi Coretax, pemerintah memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengidentifikasipihak-pihak yang mencoba menghindari kewajiban perpajakan melalui berbagai rekayasa badan usaha. Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Vaudy Starworld, menilai kehadiran PP 20 Tahun 2026 memberikan kepastian hukum yang sangat dibutuhkan pelaku UMKM. Menurutnya, regulasi yang jelas akan membantu wajib pajak memahami kewajibanperpajakannya secara lebih baik sekaligus mendorong peningkatan kepatuhan sukarela. Pandangan tersebut relevan karena kepatuhan pajak tidak hanya dibangun melalui pengawasandan penegakan hukum, tetapi juga melalui kejelasan aturan yang mudah dipahami dan diterapkanoleh masyarakat. Lebih jauh, perpanjangan fasilitas PPh Final bagi wajib pajak tertentu hingga Tahun Pajak 2026 menunjukkan bahwa pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara aspek pengawasan dan pemberian insentif. Pemerintah tidak serta-merta menghapus fasilitas yang telah membantuUMKM bertahan dan berkembang, melainkan melakukan penyempurnaan agar manfaatnya lebihtepat sasaran. Pendekatan ini mencerminkan kebijakan fiskal yang adaptif terhadap kebutuhandunia usaha sekaligus responsif terhadap dinamika ekonomi nasional. Keberadaan masa transisi bagi badan usaha berbentuk PT, CV, firma, maupun BUMDes yang sebelumnya telah memanfaatkan fasilitas berdasarkan ketentuan lama juga menunjukkankomitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas iklim usaha. Para wajib pajak yang masihmemenuhi syarat tetap diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masa pemanfaatan fasilitassesuai ketentuan yang berlaku sebelumnya. Kebijakan transisi ini penting untuk menghindaridisrupsi terhadap kegiatan usaha dan memberikan waktu penyesuaian yang memadai bagi pelakuusaha. Pada akhirnya, keberhasilan implementasi PP 20 Tahun 2026 akan bergantung pada sinergiantara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah perlu terus melakukan sosialisasidan pendampingan agar wajib pajak memahami substansi regulasi secara utuh. Sementara itu, pelaku usaha perlu memanfaatkan fasilitas yang tersedia secara bertanggung jawab sertamembangun budaya kepatuhan sebagai bagian dari tata kelola usaha yang baik. PP 20 Tahun 2026 bukan sekadar perubahan teknis dalam pengaturan pajak penghasilan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat fondasi keadilan dan kepatuhan dalam ekosistemusaha nasional. Dengan regulasi yang lebih jelas, pengawasan yang lebih efektif, serta sasarankebijakan yang lebih tepat, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun sistemperpajakan yang sehat, mendukung pertumbuhan UMKM, sekaligus menjaga keberlanjutanpembangunan ekonomi nasional. *) Penulis adalah Pengamat Ekonomi 

Read More

PP 20/2026, Penyesuaian Pajak PT dan CV Didorong demi Keadilan bagi UMKM

Jakarta – Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 sebagai langkah untuk memastikan kebijakan perpajakan yang lebih adil dan tepat sasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui aturan tersebut, fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5 persen tidak lagi diberikan kepada badan usaha berbentuk persekutuan komanditer (CV), firma, dan perseroan…

Read More

PP 20/2026 Mendorong Usaha Naik Kelas, Bukan Membebani PT dan CV

Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat ekosistem usaha yang sehat dan berkeadilan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan fasilitas perpajakan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tepat sasaran sekaligus mendorong pelaku usaha untuk berkembang dan naik kelas. PP Nomor 20 Tahun 2026 merupakan revisi atas…

Read More

Langkah Koordinatif Ditempuh Untuk Jaga Stabilitas Rupiah

*) Oleh: Dinda Paramita Nilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator yang paling sensitif terhadapperubahan kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat akibat gejolakgeopolitik, kebijakan moneter negara maju, maupun pergeseran arus modal internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang hampir tidakterhindarkan. Dalam konteks tersebut, langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi menjadi faktor penting untuk menjagastabilitas dan membangun kepercayaan pasar. Karena itu, berbagai kebijakan yang saat ini ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapitantangan eksternal yang terus berkembang. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwapemerintah telah mengidentifikasi tekanan utama terhadap rupiah berasal daridinamika aliran modal global. Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata dipengaruhifaktor domestik, melainkan juga merupakan konsekuensi dari perubahan perilakuinvestor internasional yang cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih amandi tengah ketidakpastian dunia. Oleh sebab itu, kesepakatan koordinatif antarapemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk meredam capital outflow menjadi langkah tepat. Sinergi antarlembaga menjadi fondasi penting agar respons kebijakan berjalan efektif dan tidak bergerak sendiri-sendiri. Koordinasi tersebut mencerminkan kematangan tata kelola ekonomi nasional dalammenghadapi tekanan pasar. Pengalaman berbagai krisis sebelumnya menunjukkanbahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga hanya dengan satu instrumen kebijakan. Dibutuhkan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar mampu menciptakan efek penguatan yang saling melengkapi. Dalam situasi saat ini, langkah pemerintah memperkuat koordinasi justru mengirimkan sinyal positif bahwapengambil kebijakan memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional. Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa arusmasuk dana asing mulai terlihat di pasar domestik. Indikasi tersebut menjadi kabarbaik karena menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memilikidaya tarik di mata investor global. Untuk memperkuat momentum tersebut, Bank Indonesia menyiapkan tujuh langkah strategis yang dirancang tidak hanya untukmenahan tekanan jangka pendek, tetapi juga menjaga kesehatan sistem keuangansecara menyeluruh. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa otoritas moneterbergerak secara proaktif dan terukur dalam menjaga stabilitas rupiah. Intervensi pasar valuta asing yang dilakukan Bank Indonesia di berbagai pusatkeuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keseimbangan pasar. Langkah inimenunjukkan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya dijaga di dalam negeri, tetapi juga melalui penguatan posisi Indonesia dalam pasar keuangan internasional. Bersamaandengan itu, optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI menjadi strategi yang cerdas untuk menarik kembali aliran dana asing sehingga mampu menutuptekanan yang muncul akibat keluarnya modal dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara. Selain itu, kebijakan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekundermemperlihatkan komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Nilai pembelian yang telah mencapai Rp123,1 triliun secara year to datemenunjukkan keberanian otoritas moneter untuk menjaga keseimbangan permintaandan penawaran di pasar obligasi. Pada saat yang sama, kondisi likuiditas perbankanyang tetap longgar memberikan ruang bagi sektor keuangan untuk terus menjalankanfungsi intermediasi secara optimal. Pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1 persen menjadi indikator bahwa sistem keuangan domestik masih berada dalamkondisi yang sehat dan terjaga. Sementara itu, kebijakan pembatasan pembelian dolar tanpa underlying dariUS$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan merupakan langkah yang relevan untuk meredam aktivitas spekulatif. Kebijakan ini tidak ditujukan untukmembatasi kebutuhan riil masyarakat maupun pelaku usaha, melainkan untukmencegah perilaku yang berpotensi memperbesar volatilitas pasar….

Read More

Saat Pemerintah dan BI Bersinergi Menjaga Rupiah

Oleh : Ricky Rinaldi  Stabilitas nilai tukar rupiah memiliki peran penting dalam menjaga ketahananekonomi nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan moneter negara maju, serta fluktuasipasar keuangan internasional, nilai tukar menjadi salah satu indikator yang mencerminkan kepercayaan terhadap perekonomian suatu negara. Dalam situasitersebut, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor kunci dalammenjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional. Nilai tukar tidak hanya berkaitan dengan transaksi perdagangan internasional, tetapijuga berpengaruh terhadap inflasi, investasi, dan daya beli masyarakat. Ketika rupiah berada dalam kondisi stabil, pelaku usaha dapat melakukan perencanaanbisnis dengan lebih baik dan masyarakat memiliki kepastian yang lebih besar dalammenjalankan aktivitas ekonomi. Karena itu, stabilitas rupiah menjadi kepentinganbersama yang perlu dijaga secara berkelanjutan. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa stabilitasekonomi merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pembangunan nasional. Dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang, pemerintahberkomitmen menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang terukur dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Stabilitas rupiah menjadi bagian dariupaya menciptakan iklim ekonomi yang sehat dan kondusif. Pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi melaluikebijakan fiskal yang disiplin dan berkelanjutan. Pengelolaan Anggaran Pendapatandan Belanja Negara yang sehat memberikan sinyal positif kepada pasar bahwaperekonomian nasional berada dalam kondisi yang terkendali. Ketika kebijakan fiskalberjalan secara kredibel, tekanan terhadap nilai tukar dapat diminimalkan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa koordinasi kebijakanmenjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai risiko ekonomi global. Menurutnya, pengelolaan fiskal yang prudent perlu berjalan seiring dengankebijakan moneter yang responsif agar stabilitas ekonomi dapat tetap terjaga. Pendekatan yang terintegrasi akan memperkuat kemampuan Indonesia menghadapiberbagai tekanan eksternal. Di sisi lain, Bank Indonesia memiliki mandat untuk menjaga stabilitas nilai rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Pengelolaan suku bunga, stabilisasipasar valuta asing, serta penguatan cadangan devisa menjadi bagian dari langkahyang dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasar. Kebijakan yang tepat waktudan terukur membantu meredam volatilitas yang berlebihan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa stabilitas nilai tukarmerupakan bagian penting dari upaya menjaga stabilitas ekonomi secarakeseluruhan. Menurutnya, koordinasi yang erat antara otoritas fiskal dan monetermemungkinkan respons kebijakan yang lebih efektif terhadap perubahan kondisiglobal. Sinergi tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat ketahananekonomi nasional. Keberhasilan menjaga rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan jangkapendek, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi. Pertumbuhan ekonomiyang terjaga, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang sehatmemberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar. Oleh karena itu, berbagaikebijakan pembangunan ekonomi memiliki kontribusi langsung terhadap penguatanrupiah. Investasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung stabilitas nilai tukar. Ketika investor memiliki kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia, arus modal yang masuk akan membantu memperkuat pasar keuangan domestik. Dalam konteksini, kepastian kebijakan dan iklim usaha yang kondusif menjadi faktor yang sangat menentukan. Selain itu, penguatan sektor riil melalui hilirisasi industri dan peningkatan daya saingekspor turut berkontribusi dalam menjaga ketahanan rupiah. Semakin besarkemampuan ekonomi menghasilkan nilai tambah dan devisa, semakin kuat pula fondasi yang menopang stabilitas nilai tukar. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian global, koordinasi antarotoritas menjadi semakin penting. Pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat komunikasi kebijakan agar pasar memperoleh kepastian dan kepercayaan terhadap arah pengelolaan ekonominasional. Konsistensi kebijakan membantu mengurangi spekulasi yang berpotensimenimbulkan tekanan terhadap rupiah. Partisipasi dunia usaha dan masyarakat juga memiliki peran dalam menjagastabilitas ekonomi. Kepercayaan terhadap perekonomian nasional akan memperkuatketahanan pasar domestik dan mendukung efektivitas kebijakan yang dijalankanpemerintah maupun Bank Indonesia. Stabilitas ekonomi pada akhirnya merupakanhasil dari kerja bersama seluruh elemen bangsa. Dalam jangka panjang, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadifondasi penting dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. Hubunganyang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter memungkinkan Indonesia memilikiruang yang lebih besar untuk merespons perubahan kondisi ekonomi internasionalsecara cepat dan efektif. Selain menjaga stabilitas rupiah, koordinasi yang baik juga memberikan manfaatterhadap penciptaan lapangan kerja, pengendalian inflasi, dan peningkatankesejahteraan masyarakat. Ketika stabilitas ekonomi terjaga, aktivitas investasi dan konsumsi dapat tumbuh secara lebih sehat sehingga mendorong pertumbuhanekonomi yang berkelanjutan. Pada akhirnya, menjaga rupiah bukan hanya tentang mempertahankan nilai tukar, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional. Sinergiantara pemerintah dan Bank Indonesia menunjukkan bahwa stabilitas ekonomimemerlukan koordinasi yang kuat, kebijakan yang konsisten, serta komitmen jangkapanjang. Dengan fondasi ekonomi yang semakin kokoh, Indonesia memilikikemampuan yang lebih besar untuk menghadapi gejolak global sekaligusmelanjutkan agenda pembangunan nasional secara berkelanjutan. *)Pengamat Isu Strategis

Read More

Pemerintah dan Bank Indonesia Perkuat Langkah Menjaga Stabilitas Rupiah

Jakarta – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang dipicu konflik geopolitik dan dinamika pasar keuangan internasional. “Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada…

Read More

Rupiah Dijaga melalui Langkah Terukur dan Penguatan Fundamental Ekonomi

Jakarta – Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Tekanan eksternal yang berasal dari konflik geopolitik, tingginya suku bunga global, serta volatilitas pasar keuangan internasional dinilai menjadi tantangan yang harus dihadapi secara terukur tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menegaskan…

Read More

Program Ketahanan Pangan Papua Dorong Kemandirian Ekonomi Bagi Petani Lokal

JAYAPURA – Pemerintah terus memperkuat sektor pertanian melalui pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya petani lokal dan masyarakat adat di Papua. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja dan Komitmen Pelaksana Konstruksi Program…

Read More