FLPP dan Konsistensi Negara Menjaga Akses Hunian Rumah Subsidi

Oleh: Rukmana Abdul Sucipto (* Kebutuhan akan hunian layak masih menjadi tantangan besar pembangunan nasional. Di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan daya beli masyarakat, konsistensi negara dalam menjaga akses rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) patut diapresiasi. Kebijakan peningkatan kuota dan percepatan realisasi penyaluran FLPP menunjukkan bahwa negara hadir secara konkret untuk memastikan masyarakat berpenghasilan…

Read More

Danantara Perluas Akses UMKM ke Pasar Korporasi danPembiayaan Besar

Oleh: Cahyo Widjaya Danantara mendorong transformasi UMKM dengan membuka akses langsung ke pasarkorporasi dan pembiayaan berskala besar. Lembaga tersebut tidak sekadar berbicara tentangpemberdayaan, melainkan membangun jalur konkret agar pelaku usaha kecil masuk keekosistem business-to-business (B2B) yang lebih stabil, terukur, dan berorientasi jangkapanjang. Strategi tersebut menempatkan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok korporasi, termasuk BUMN, sekaligus memperluas akses terhadap sumber pendanaan yang lebih kuat. Komitmen tersebut menguat seiring kebutuhan memperkokoh fondasi ekonomi nasional. Danantara melihat UMKM bukan hanya sebagai pelaku ekonomi skala mikro, melainkansebagai mesin pertumbuhan yang sanggup menopang daya tahan ekonomi. Karena itu, perluasan akses pasar dan pembiayaan besar menjadi fokus utama agar UMKM tidak terjebakpada pola usaha tradisional yang terbatas. Chief Marketing Officer Danantara Asset Management, Dendi Tegar Danianto, menegaskanlembaganya sengaja menggeser orientasi UMKM dari pasar business-to-consumer (B2C) menuju B2B.  Ia memandang langkah tersebut sebagai strategi percepatan agar pertumbuhan usaha lebihterukur dan berkelanjutan. Menurutnya, pasar B2C memang luas, namun pasar korporasimenawarkan kontrak jangka panjang, volume transaksi besar, serta kepastian permintaanyang lebih stabil. Dendi menjelaskan Danantara memanfaatkan platform digital seperti Pasar Digital UMKM milik Telkom untuk mempertemukan pelaku usaha dengan kementerian, lembaga, pemerintahdaerah, dan BUMN sebagai offtaker.  Integrasi pengadaan barang dan jasa melalui platform tersebut membuka peluang transaksiyang jauh lebih besar dibandingkan pola konvensional. Ia melihat BUMN sebagai pasarraksasa yang selama ini belum sepenuhnya digarap UMKM secara optimal. Lebih jauh, Dendi menilai integrasi ke ekosistem B2B tidak hanya memperluas pasar, tetapijuga memaksa peningkatan profesionalisme. UMKM dituntut menata manajemen, memperbaiki kualitas produk, dan memperkuat tata kelola agar mampu memenuhi standarkorporasi.  Danantara kemudian mendorong business matching, pendampingan komersialisasi digital, serta penguatan kompetensi agar pelaku usaha siap bertransaksi secara daring dan memenuhikebutuhan pengadaan skala besar. Ia juga menekankan pentingnya akses pembiayaan sebagai fondasi ekspansi. Ketika UMKM sudah mengantongi kontrak offtake dari BUMN, kebutuhan modal kerja otomatis meningkat. Tanpa dukungan pembiayaan memadai, peluang pasar korporasi justru sulit dimanfaatkan. Karena itu, Danantara menempatkan pembiayaan sebagai prioritas agar UMKM mampumeningkatkan kapasitas produksi dan menjaga kualitas pasokan. Pandangan tersebut diperkuat Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Anton Hendranata. Ia menegaskan UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasionalyang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.  Anton menilai peningkatan inklusi dan literasi keuangan, disertai penguatan kapasitas usaha, menjadi kunci akselerasi sektor tersebut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Perluasan akses ke pasar korporasi akan efektif bila diiringi pemahaman keuangan yang baikdan tata kelola usaha yang kuat. Anton memandang kolaborasi antara lembaga pembiayaan dan pengelola investasi sepertiDanantara dapat mempercepat transformasi tersebut. Ketika akses modal semakin luas danpasar semakin terbuka, UMKM memiliki ruang untuk naik kelas, meningkatkanproduktivitas, serta memperkuat daya saing. Sinergi tersebut pada akhirnya memperkuatekosistem ekonomi nasional secara menyeluruh. Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti pentingnya optimalisasipenyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar lebih tepat sasaran. Ia tengah membahaskemungkinan mengambil alih PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk memperkuatdistribusi KUR kepada UMKM. Purbaya menilai masih terdapat pelaku usaha yang belummemperoleh akses pembiayaan, sehingga diperlukan langkah strategis agar penyaluransemakin efektif. Menurut perhitungannya, pemerintah selama ini mengalokasikan subsidi bunga KUR sekitarRp40 triliun per tahun. Jika PNM berada di bawah koordinasi Kementerian Keuangan, dana tersebut dapat dikelola lebih efisien dan diarahkan langsung sebagai pembiayaan berbungarendah. Skema tersebut bahkan berpotensi menghimpun dana hingga Rp160 triliun dalamempat tahun, menciptakan daya ungkit pembiayaan yang jauh lebih besar. Purbaya juga menilai PNM memiliki sumber daya manusia berpengalaman dalampembiayaan mikro. Dengan jaringan luas di berbagai provinsi serta ribuan pendampinglapangan, lembaga tersebut mampu menjangkau pelaku usaha hingga tingkat akar rumput. Keahlian tersebut dianggap penting untuk memastikan pembiayaan benar-benar menyentuhUMKM yang produktif dan berpotensi berkembang. Perluasan akses UMKM ke pasar korporasi dan pembiayaan besar akhirnya menjadi dua sisimata uang yang tidak terpisahkan. Danantara membuka pintu pasar B2B melalui integrasidengan BUMN dan platform digital, sementara pemerintah memperkuat fondasi pembiayaanmelalui optimalisasi KUR dan penguatan lembaga penyalur. Ketika akses pasar bertemudengan akses modal, UMKM memperoleh peluang nyata untuk tumbuh lebih cepat, lebihprofesional, dan lebih berkelanjutan. Langkah tersebut bukan sekadar program jangka pendek, melainkan bagian dari desain besarmemperkuat struktur ekonomi nasional. Dengan strategi terintegrasi antara pasar korporasidan pembiayaan besar, UMKM berpeluang menjadi pemain utama dalam rantai pasokindustri nasional, bukan lagi sekadar pelengkap. (*) Peneliti Ekonomi Kerakyatan – Institut Ekonomi Nusantara

Read More

Danantara Siapkan Ekosistem Besar untuk UMKM: Modal, Pasar, dan Rantai Pasok BUMN

Oleh: Meliana Kede Danantara merancang lompatan besar bagi UMKM dengan membangun ekosistemterintegrasi yang menghubungkan modal, pasar, dan rantai pasok BUMN dalam satuarsitektur ekonomi yang saling menguatkan.  Strategi tersebut tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan, tetapi mengorkestrasi aksesproduksi, distribusi, hingga offtaker korporasi agar pelaku usaha kecil benar-benar naik kelasdan bertumbuh berkelanjutan. Melalui berbagai inisiatif, Danantara menempatkan UMKM sebagai bagian penting daridesain pertumbuhan nasional. Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, FithraFaisal Hastiadi, menegaskan arah pembangunan pemerintah melalui proyek Danantaradifokuskan pada penciptaan ekosistem ekonomi inklusif.  Ia menjelaskan pemerintah tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang menyerap tenaga kerja dan memperkuat kelas menengah. Menurutnya, ekspansi Danantara kesektor seperti peternakan ayam atau tekstil bertujuan mendorong pertumbuhan yang merataagar hasil ekonomi tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak. Fithra memaparkan data growth incidence curve yang menunjukkan tekanan terhadap kelasmenengah. Ia menyebut jumlah kelas menengah turun dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi47,3 juta pada periode 2024–2025.  Kelompok tersebut berada di posisi rentan karena tidak tergolong miskin penerima bantuansosial, namun juga tidak cukup kuat menghadapi gejolak ekonomi. Karena itu, ia mendorongpembangunan inclusive economic ecosystem agar “kue ekonomi” dinikmati masyarakat luasdan tidak membentuk institusi yang bersifat ekstraktif. Visi tersebut diterjemahkan Danantara dalam proyek hilirisasi dan penguatan sektor riil. Enam proyek fase pertama mencakup pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah dan Kuala Tanjung, pengembangan bioetanol di Glenmore, biorefinery di Cilacap, fasilitas poultry terintegrasi di berbagai daerah, serta penguatan industri garammelalui teknologi mechanical vapor recompression di Jawa Timur.  Proyek-proyek tersebut bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapimembuka peluang rantai pasok baru bagi UMKM di sektor pangan, manufaktur, dan jasapendukung. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan lembaganya menyiapkaninstrumen konkret agar UMKM naik kelas. Ia menguraikan ketersediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program Mekaar sebagai fondasi pembiayaan.  Selain itu, Danantara menggerakkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan untukmemperkuat kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan dan peningkatan kualitas produk. Menurutnya, pembinaan tersebut bertujuan menciptakan standar yang konsisten sehinggaUMKM mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dony juga menekankan konsolidasi BUMN sebagai kunci pembukaan pasar. Ia menjelaskanDanantara memiliki jaringan 130 hotel serta rumah sakit yang dapat dioptimalkan sebagaipasar bagi produk UMKM, mulai dari kebutuhan amenitas hingga pasokan barang dan jasalainnya.  Langkah tersebut mengubah posisi UMKM dari sekadar pemasok kecil menjadi mitrastrategis dalam rantai pasok BUMN. Melalui skema itu, UMKM tidak hanya memperolehakses pasar, tetapi juga kepastian permintaan yang lebih stabil. Perluasan akses tidak berhenti pada sektor konvensional. Chief Marketing Officer DanantaraAsset Management, Dendi Tegar Danianto, mendorong pergeseran orientasi UMKM daribusiness-to-consumer menuju business-to-business.  Ia menilai sektor B2B menawarkan pertumbuhan yang lebih terukur dan berkelanjutan karenakontrak dan volume transaksi cenderung lebih stabil. Dendi menjelaskan pemanfaatanplatform digital seperti Pasar Digital UMKM membuka koneksi langsung antara pelakuusaha dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan BUMN sebagai offtaker. Menurutnya, potensi pasar BUMN sangat besar dan mampu menjadi lokomotif pertumbuhanUMKM. Integrasi tersebut tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga memaksa peningkatanprofesionalisme.  Dendi menyebut Danantara berupaya membuka nilai tambah melalui sistem bisnis yang lebihtertata, efektif, dan efisien. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi karenatidak semua pelaku usaha siap melakukan transaksi dan komersialisasi secara digital. Selain penguatan kapasitas dan akses pasar, Dendi menempatkan pembiayaan sebagai faktorakselerator. Ia menilai UMKM yang telah memperoleh kontrak B2B memerlukan dukunganmodal agar mampu memenuhi skala permintaan besar. Tanpa pembiayaan memadai, peluangpasar dapat terhambat. Karena itu, integrasi antara akses pasar dan akses pendanaan menjadistrategi kunci dalam desain ekosistem Danantara. Pendekatan menyeluruh tersebut memperlihatkan bahwa Danantara tidak membangunprogram parsial, melainkan arsitektur ekonomi yang menghubungkan produksi, pembiayaan, dan distribusi dalam satu siklus pertumbuhan.  Dengan mendorong BUMN memprioritaskan UMKM dalam rantai pasok, memperluas aksesKUR dan Mekaar, serta mempercepat transformasi B2B digital, Danantara menyiapkanpanggung besar bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh lebih kokoh. Jika desain tersebut berjalan konsisten,…

Read More
Sinergi Danantara dan PNM Perluas Jangkauan Kredit UMKM, Perkuat Rantai Nilai Nasional

Sinergi Danantara dan PNM Perluas Jangkauan Kredit UMKM, Perkuat Rantai Nilai Nasional

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat strategi pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui sinergi antara Danantara dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Langkah ini menjadi bagian dari agenda besar pemerintah dalam membangun rantai nilai baru UMKM agar lebih terintegrasi dengan industri nasional dan mampu meningkatkan daya saing. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa…

Read More
Sinergi UMKM dan Kebijakan Ekonomi Nasional: Peran Danantara dalam Meningkatkan Daya Saing UMKM

Sinergi UMKM dan Kebijakan Ekonomi Nasional: Peran Danantara dalam Meningkatkan Daya Saing UMKM

Jakarta – Pemerintah terus mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan strategis yang terintegrasi. Salah satu langkah yang menjadi sorotan adalah peran Danantara dalam memperkuat ekosistem pembiayaan dan akses pasar bagi pelaku UMKM agar mampu naik kelas dan bersaing di tingkat global. Dalam sejumlah kesempatan,…

Read More

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Motor Ekspor dan Kesejahteraan

Oleh: Alexander Royce*) Gagasan besar pembangunan nasional kini menemukan momentumnya di desa. Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan, Indonesia justru menatap masa depan dengan optimisme melalui penguatan ekonomi kerakyatan. Salah satu instrumen strategis yang kini menjadi tulang punggung transformasi tersebut adalah Koperasi Desa Merah Putih. Inisiatif ini bukan sekadar program, tetapi menjadi arsitektur baru…

Read More

Dari Desa ke Pasar Global: Koperasi Desa Merah Putih Tembus Ekspor

Oleh : Donsutoro Imanuel* Di tengah arus globalisasi yang semakin kompetitif, kisah keberhasilan sebuah koperasidesa menembus pasar ekspor menjadi bukti bahwa kekuatan ekonomi nasional tidakhanya bertumpu pada korporasi besar, tetapi juga tumbuh dari akar rumput. KoperasiDesa Merah Putih hadir sebagai representasi kebangkitan ekonomi berbasis komunitasyang mampu bertransformasi dari entitas lokal menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar global. Perjalanan koperasi ini menunjukkan bahwa desa bukan lagi sekadarobjek pembangunan, melainkan subjek aktif yang mampu menciptakan nilai tambahdan daya saing internasional. Transformasi tersebut tidak terjadi dalam semalam. Berawal dari upaya menghimpunpetani dan pelaku usaha mikro di desa untuk memperkuat posisi tawar terhadaptengkulak, Koperasi Desa Merah Putih memulai langkahnya dengan membangun tata kelola yang profesional dan transparan. Prinsip gotong royong yang menjadi ruhkoperasi dipadukan dengan manajemen modern, termasuk pencatatan keuanganberbasis digital dan sistem kontrol mutu produk yang ketat. Perubahan pola pikir inilahyang menjadi fondasi penting sebelum koperasi berani melangkah ke pasar yang lebihluas. Produk unggulan koperasi yang semula hanya dipasarkan di tingkat kabupaten kinimampu menembus pasar mancanegara. Komoditas olahan pertanian dan produkturunan berbasis kearifan lokal menjadi daya tarik tersendiri di pasar global yang semakin menghargai produk berkelanjutan dan beretika.  Dengan dukungan fasilitasi dari Kementerian Koperasi dan UKM serta promosi dagangyang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, koperasi ini mulaimengikuti pameran internasional dan business matching dengan calon pembeli luarnegeri. Dari sinilah kontrak ekspor perdana berhasil diraih, membuka babak baru dalamperjalanan koperasi desa tersebut. Akselerasi ekspor non tambang Sulawesi Tenggara (Sultra) memasuki babak baru. Dari kawasan pesisir Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Awunio resmi melepas ekspor perdana arang tempurung kelapasebanyak 50 ton senilai Rp 750 juta melalui Pelabuhan New Port Kendari, Sabtu, 21 Februari 2026. Wakil Gubernur Sultra, Hugua, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim PercepatanEkspor Sulawesi Tenggara mengatakan Kopdes Merah Putih Awunio tercatat sebagaikoperasi desa kedua di Indonesia yang berhasil menembus pasar ekspor, sekaligusyang pertama di kawasan Indonesia Timur. Capaian ini menjadi bukti untuk kita bahwadesa mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah jika dikelola secara profesionaldan terintegrasi Keberhasilan menembus ekspor tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatananggota, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa. Lapangankerja baru tercipta, terutama bagi perempuan dan generasi muda yang sebelumnyamemilih merantau ke kota. Rantai pasok lokal pun semakin hidup karena kebutuhanbahan baku, pengemasan, hingga logistik melibatkan pelaku usaha di sekitar desa. Dengan demikian, koperasi berfungsi sebagai simpul ekonomi yang menggerakkanberbagai sektor sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Digitalisasi menjadi kunci penting dalam memperluas jangkauan pasar. Melalui platform pemasaran daring dan pemanfaatan media sosial, koperasi mampu membangun citramerek yang kuat dan menjangkau pembeli lintas negara tanpa harus sepenuhnyabergantung pada perantara. Transparansi proses produksi dan cerita mengenai asal-usul produk desa menjadi nilai tambah yang diapresiasi konsumen global. Di era ekonomi berbasis narasi dan keberlanjutan, kisah tentang pemberdayaan petani dan komitmen terhadap praktik ramah lingkungan justru menjadi daya saing utama. Program Koperasi Merah…

Read More
Koperasi Desa Merah Putih Perkuat Ekonomi Keluarga, Produk Desa Tembus Pasar Internasional

Koperasi Desa Merah Putih Perkuat Ekonomi Keluarga, Produk Desa Tembus Pasar Internasional

Jakarta – Pemerintah terus mendorong penguatan ekonomi berbasis desa melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai motor penggerak kemandirian dan ketahanan keluarga. Program ini ditegaskan bukan sekadar wadah usaha, melainkan instrumen strategis negara untuk membangun fondasi ekonomi rakyat dari tingkat paling bawah. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyampaikan bahwa Koperasi Merah Putih memiliki…

Read More
Koperasi Desa Merah Putih Tembus Ekspor, Bukti Daya Saing Desa Meningkat

Koperasi Desa Merah Putih Tembus Ekspor, Bukti Daya Saing Desa Meningkat

Jakarta – Pemerintah menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih yang mencatatkan ekspor perdana pada awal tahun 2026. Capaian tersebut menjadi indikator nyata meningkatnya daya saing produk desa sekaligus bukti bahwa program penguatan ekonomi berbasis koperasi berjalan efektif dan terarah. Ekspor perdana dilakukan oleh Koperasi Desa Merah Putih Awunio, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara,…

Read More

Insentif Ramadan: Bentuk Perlindungan Sosial Hingga Penggerak Ekonomi

Oleh: Adnan Ramdani )* Ramadan selalu menghadirkan dinamika khas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di satu sisi, bulan suci ini menjadi momentum spiritual untuk memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Namun di sisi lain, Ramadan juga membawa konsekuensi ekonomi yang tidak kecil, mulai dari peningkatan konsumsi rumah tangga, lonjakan harga komoditas tertentu, hingga tekanan pada kelompok…

Read More