Menata Ruang Digital Anak melalui PP TUNAS dan Literasi Digital

Oleh: Karina W.*) Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai peluang besar bagi masyarakat, termasuk bagi anak-anak dan remaja Indonesia. Internet membuka akses terhadap pendidikan, kreativitas, komunikasi, dan inovasi yang semakin luas. Pemerintah menghadirkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS sebagai langkah strategis untuk menciptakan ruang…

Read More

Dari Perlindungan ke Literasi: Pendekatan Menyeluruh PP TUNAS

*) Oleh : Devi Arianti Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama bagi anak-anak dan remaja yang kini tumbuh di tengah derasnya arus informasi internet. Di satu sisi, ruang digital membuka peluang besar untuk pendidikan, kreativitas, dan komunikasi tanpa batas. Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan ancaman seperti…

Read More

Pemerintah Perkuat Pengawasan dan Evaluasi Program MBG

Jakarta – Pemerintah secara konsisten memperketat pengawasan dan evaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjamin kemanfaatan yang optimal bagi masyarakat. Langkah strategis ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul guna menyongsong visi Indonesia Emas 2045 melalui pemenuhan gizi yang berkualitas, merata, dan berkelanjutan. Salah satu langkah yang…

Read More

Pemerintah Optimalkan MBG melalui Pengawasan dan Evaluasi

Jakarta – Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penguatan pengawasan dan evaluasi di berbagai daerah. Upaya tersebut dilakukan guna memastikan program strategis nasional itu berjalan efektif, tepat sasaran, serta mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia. Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam mendukung percepatan pelaksanaan Program MBG…

Read More

Pengawasan dan Evaluasi MBG: Upaya Penyempurnaan Program Gizi Nasional

Oleh : Abdul Razak)* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi bagi anak-anak usia sekolah. Program ini tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan kesehatan dan konsentrasi belajar peserta didik, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi melalui keterlibatan pelaku usaha, petani, hingga sektor distribusi pangan. Namun, seiring…

Read More

Program MBG Dikawal Ketat Agar Tepat Sasaran dan Berkualitas

Oleh: Alexander Royce*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategispemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang paling banyak menyita perhatian publikdalam dua tahun terakhir. Program ini bukan hanya berbicara tentang pembagianmakanan kepada siswa, ibu hamil, dan kelompok rentan, tetapi juga tentang investasibesar negara terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Karena itu, pengawasan dan evaluasi terhadap implementasi MBG menjadi bagianpenting untuk memastikan program berjalan tepat sasaran, akuntabel, dan terusmengalami penyempurnaan. Di tengah besarnya skala pelaksanaan program, pemerintah justru menunjukkan sikapterbuka terhadap evaluasi. Berbagai kementerian, lembaga pengawas, pemerintahdaerah, hingga DPR RI terlibat aktif melakukan monitoring terhadap pelaksanaan MBG di lapangan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar menjalankanprogram populis, tetapi juga serius membangun tata kelola yang kuat agar manfaatnyabenar-benar dirasakan masyarakat. Kemenko PMK misalnya, baru-baru ini memperkuatmonitoring dan evaluasi pelaksanaan MBG untuk memastikan keamanan pangan, standar gizi, dan ketepatan sasaran penerima manfaat tetap terjaga. Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmawati Herdian, melihat bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh distribusi makanan, tetapi juga oleh peningkatan kesadaranmasyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang. Dalam berbagai kesempatansosialisasi program MBG, Rahmawati menekankan bahwa pemenuhan gizi anakmerupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Menurutnya, program ini harus dipahami sebagai gerakan nasional untuk membangun generasi sehat, cerdas, dan produktif. Rahmawati juga menilai pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap kualitasmakanan dan mekanisme distribusi merupakan langkah yang tepat. Ia mendorong agar evaluasi rutin terus dilakukan supaya pelaksanaan di daerah dapat semakin baik danadaptif terhadap tantangan di lapangan. Dalam pandangannya, kritik dan masukanterhadap MBG seharusnya diposisikan sebagai bagian dari proses penyempurnaankebijakan, bukan alasan untuk menghentikan program yang manfaatnya telahdirasakan jutaan masyarakat. Pernyataan tersebut relevan dengan berbagai langkah perbaikan yang kini dilakukanpemerintah. Badan Gizi Nasional (BGN) misalnya mulai memperketat standar gizimelalui regulasi terbaru, termasuk penguatan pengawasan dapur Satuan PelayananPemenuhan Gizi (SPPG), pemanfaatan pangan lokal, hingga peningkatan standarkeamanan pangan. Bahkan di sejumlah daerah, evaluasi lapangan dilakukan secaramenyeluruh, mulai dari kebersihan dapur, kualitas distribusi makanan, pengelolaanlimbah, hingga transparansi keuangan program. Ketua Umum DPP APPMBGI, Abdul Rivai Ras, memandang penguatan rantai pasokpangan sebagai faktor penting dalam keberhasilan MBG. Menurutnya, program sebesarini membutuhkan kolaborasi yang solid antara pemerintah, pelaku usaha pangan, petani, Bulog, hingga pelaksana dapur MBG di daerah. Ia menilai langkah pemerintahmenggandeng berbagai pihak dalam memperkuat stabilisasi pasokan panganmerupakan keputusan strategis agar kualitas makanan tetap terjaga dan distribusi tidakterganggu. Abdul Rivai Ras juga menyoroti pentingnya keberpihakan program MBG terhadapekonomi lokal. Ia melihat program ini memiliki efek berganda karena mampumenggerakkan sektor pertanian, peternakan, UMKM pangan, hingga tenaga kerja di daerah. Dengan kata lain, MBG bukan sekadar program bantuan sosial, melainkaninstrumen pembangunan ekonomi kerakyatan yang memiliki dampak luas. Pandangan tersebut semakin terlihat dalam implementasi di lapangan. Pemerintah kinimulai mendorong penggunaan bahan pangan lokal dalam menu MBG agar rantaidistribusi lebih efisien sekaligus memperkuat ekonomi daerah. Langkah ini dinilaipenting untuk menjaga keberlanjutan program dalam jangka panjang. Selain itu, evaluasi terhadap mekanisme penyaluran juga terus dilakukan agar lebih efektif. Pemerintah misalnya memutuskan distribusi MBG difokuskan pada hari sekolah setelahmelalui evaluasi lintas kementerian dan lembaga. Kebijakan itu diambil agar penyaluranlebih tepat guna dan mengurangi potensi pemborosan. Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, menegaskan bahwapemerintah tidak ingin program MBG berjalan sekadar formalitas administratif. Karenaitu, pengawasan langsung ke dapur-dapur MBG dilakukan untuk memastikan standarkualitas benar-benar diterapkan. Dudung menilai keberhasilan program harus diukurdari kualitas pelayanan kepada masyarakat, bukan hanya dari besarnya anggaran yang terserap. Dalam sejumlah peninjauan lapangan, Dudung juga menekankan pentingnya disiplin, higienitas, dan tata kelola yang profesional di setiap dapur MBG. Ia menilai evaluasirutin menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi kekurangan sekaligusmempercepat perbaikan. Pemerintah, menurutnya, tidak anti kritik, tetapi justrumenjadikan pengawasan sebagai energi untuk menyempurnakan pelaksanaanprogram. Sikap terbuka terhadap evaluasi inilah yang menjadi salah satu kekuatan utamapemerintahan saat ini. Di tengah berbagai tantangan dan sorotan publik, pemerintahmemilih memperbaiki sistem daripada menghindari masalah. Ketika ditemukan dapuryang belum memenuhi standar, pemerintah memberikan sanksi dan mendorongakreditasi yang lebih ketat. Ketika ditemukan persoalan distribusi, pemerintah segeramelakukan penyesuaian mekanisme. Artinya, evaluasi bukan dipandang sebagaiancaman, melainkan fondasi bagi penyempurnaan kebijakan. Ke depan, tantangan pelaksanaan MBG memang masih besar. Namun komitmenpemerintah untuk terus memperkuat pengawasan, memperbaiki tata kelola, danmembuka ruang evaluasi menunjukkan bahwa program ini dirancang untukberkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, DPR, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, MBG berpotensi menjadi tonggak penting dalammembangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing. *) Pengamat Sosial

Read More

Pemerintah Tingkatkan Pengawasan Layanan Haji demi Kenyamanan Jamaah Indonesia

Pemerintah terus memperkuat pengawasan penyelenggaraan ibadah haji 2026 guna memastikan kenyamanan, keamanan, dan perlindungan bagi jamaah Indonesia, baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi. Pengawasan dilakukan mulai dari pencegahan haji nonprosedural, pemantauan layanan biro haji khusus, hingga memastikan kesiapan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha,…

Read More

Pelayanan Haji 2026 Makin Modern Lewat Digitalisasi dan Fast Track

Penyelenggaraan ibadah haji 2026 menghadirkan transformasi besar melalui digitalisasi layanan dan penerapan sistem fast track guna meningkatkan kenyamanan serta efisiensi pelayanan bagi jemaah Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah RI terus mempercepat modernisasi layanan, mulai dari proses keberangkatan, akomodasi, konsumsi, hingga pengelolaan data jemaah. Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, mengatakan peningkatan kualitas layanan…

Read More

Transformasi Pelayanan Haji 2026 Perkuat Kenyamanandan Perlindungan Jamaah

Oleh: Naira Khairani )* Transformasi pelayanan haji tahun 2026 menunjukkan komitmen kuatpemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan ibadah haji yang semakin modern, nyaman, dan berorientasi pada perlindungan jamaahIndonesia. Berbagai pembenahan dilakukan secara menyeluruh, mulaidari peningkatan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), penguatan pengawasan layanan, hingga optimalisasi pendampingankesehatan dan manasik bagi jamaah. Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah bersama SatgasOperasi Armuzna terus mempercepat penyempurnaan fasilitas menjelangfase puncak ibadah haji. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikanseluruh infrastruktur siap digunakan sebelum jamaah tiba di kawasanArmuzna. Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kementerian Haji dan Umrah, Ian Heryawan, turun langsung memimpin pengecekan kesiapan tenda dan sarana pendukung lainnya. Pemerintah ingin memastikan jamaahIndonesia dapat menjalankan ibadah wukuf dengan tenang, aman, dan khusyuk melalui fasilitas yang lebih layak dan tertata dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penguatan pelayanan tidak hanya dilakukan pada aspek fisik, tetapi juga melalui sistem pengawasan terpadu. Pemerintah memasang kamerapengawas atau CCTV yang beroperasi selama 24 jam di kawasan maktab untuk mendukung keamanan dan pengendalian layanan jamaah selamaberada di Armuzna. Koordinasi lintas sektor juga diperkuat dengan melibatkan kepala sektor, koordinator markaz, pengawas katering, pengawas transportasi, pihaksyarikah, serta otoritas Arab Saudi. Langkah ini dilakukan agar proses penempatan jamaah berjalan tertib dan sesuai dengan pengaturan klotermasing-masing. Transformasi fasilitas tenda menjadi salah satu perhatian utamapemerintah pada musim haji tahun ini. Tenda jamaah kini dilengkapi lantaitambahan yang lebih tebal guna meratakan permukaan sekaligusmengurangi hawa panas dari tanah. Setiap jamaah juga disiapkan kasurbusa baru, bantal, selimut, dan pendingin ruangan agar kondisi istirahatjamaah tetap nyaman di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi. Pemerintah juga memastikan informasi penempatan jamaah di setiaptenda tersusun lebih rapi melalui pencantuman kapasitas tenda, daftar kloter, dan identitas jamaah. Penataan tersebut diharapkan memudahkanmobilitas jamaah sekaligus mengurangi potensi kepadatan selama fasepuncak ibadah. Aspek perlindungan jamaah lanjut usia turut menjadi perhatian pentingdalam transformasi layanan tahun ini. Pemerintah memastikan jamaahlansia tidak ditempatkan jauh dari anggota keluarganya agar pendampingan tetap berjalan optimal selama pelaksanaan ibadah di Armuzna. Selain fasilitas istirahat, pembenahan juga dilakukan pada sektor sanitasi. Pemerintah menambah fasilitas urinoir pria di luar bilik toilet untukmengurangi antrean panjang yang selama ini kerap menjadi kendala pada masa puncak haji. Penyempurnaan fasilitas kebersihan dan sekat tendaterus dipantau secara berkala agar seluruh layanan benar-benar siapsebelum puncak ibadah dimulai. Kepala Bidang Perlindungan Jamaah, Muftiono, menilai percepatanpembangunan infrastruktur di Mina menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Pemerintah optimistis seluruh persiapan dapatmencapai kondisi maksimal lima hari sebelum puncak haji berlangsung. Keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan juga tercermin melalui pendekatan perlindungan kesehatan jamaah. Menjelangfase Armuzna, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terusmengimbau jamaah agar menjaga kondisi fisik dan tidak memaksakan dirimenjalankan aktivitas ibadah sunnah yang berlebihan. Kepala Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Madinah, Khalilurrahman, menekankan pentingnya pengelolaan stamina dan kesiapan fisik menjelang puncak haji. Pemerintah memandang bahwaibadah wajib dan kesiapan menghadapi Armuzna harus menjadi prioritasutama agar jamaah dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah denganlancar….

Read More

Pelayanan Haji 2026 Semakin Responsif demi KenyamananJamaah Indonesia

Oleh: Rafi Mahendra )* Penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 menunjukkan komitmen kuatpemerintah dalam menghadirkan pelayanan yang semakin responsif, modern, dan berorientasi pada kenyamanan jamaah Indonesia. Berbagaipenguatan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari layanan akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga kesehatan agar jamaah dapatmenjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk menjelang fase puncakhaji. Kementerian Haji dan Umrah terus memperkuat koordinasi layanan di Arab Saudi melalui optimalisasi kerja Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), petugas sektor, serta mitra pelayanan di lapangan. Pemerintahmenempatkan kualitas pelayanan jamaah sebagai prioritas utama dalamseluruh tahapan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha, menjelaskanbahwa penguatan layanan dilakukan secara menyeluruh agar jamaahdapat lebih fokus menjalankan ibadah tanpa terganggu persoalan teknisselama berada di Tanah Suci. Pemerintah memastikan pelayanan hotel, konsumsi, transportasi, hingga kesehatan terus ditingkatkan agar jamaahmemperoleh rasa aman dan nyaman selama pelaksanaan haji. Dari sisi akomodasi, pemerintah berhasil menyiapkan layanan hotel dalamjumlah besar untuk menampung jamaah Indonesia di Madinah maupunMakkah. PPIH Daerah Kerja Madinah telah melayani ratusan kloterjamaah yang tersebar di puluhan hotel, sementara layanan di Makkah juga terus dioptimalkan untuk mendukung kelancaran ibadah jamaah. Penempatan hotel dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan, aksesibilitas, serta kemudahan mobilitas jamaah menuju pusat ibadah. Pemerintah juga memastikan koordinasi dengan pihak penyedia layananberjalan baik sehingga seluruh kebutuhan dasar jamaah dapat terpenuhisecara maksimal. Penguatan layanan konsumsi menjadi salah satu aspek yang paling mendapat perhatian pada penyelenggaraan haji tahun ini. Hingga awalMei 2026, jutaan boks makanan telah didistribusikan kepada jamaahIndonesia di Madinah dan Makkah. Distribusi konsumsi dilakukan secaraterjadwal dan diawasi ketat guna memastikan kualitas makanan tetapterjaga. Pemerintah turut memberdayakan UMKM dan penyedia bumbu asalIndonesia agar cita rasa makanan tetap sesuai dengan selera jamaahNusantara. Langkah tersebut dinilai berhasil meningkatkan kenyamananjamaah karena makanan yang disajikan lebih akrab dengan kebiasaanmasyarakat Indonesia. Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Ade Muhtar, menilai penyelenggaraan layanan haji di Madinah secaraumum berjalan baik. Meski demikian, evaluasi terus dilakukan agar kualitas pelayanan semakin optimal menjelang fase puncak haji di Armuzna. Ade Muhtar juga mengapresiasi kesiapan petugas PPIH yang telahmenjalani pelatihan intensif sebelum keberangkatan ke Arab Saudi. Menurutnya, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor pentingdalam mendukung pelayanan yang cepat dan responsif bagi jamaah….

Read More