Ekonomi Indonesia Tetap di Jalur Positif

Oleh : Rivka Mayangsari *)

Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, dan fluktuasi pasar keuangan, Indonesia terusmenunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat. Berbagai indikator makroekonomi memperlihatkanbahwa fundamental perekonomian nasional tetap terjaga, didukung oleh kebijakan pemerintahyang adaptif serta sinergi yang erat dengan otoritas moneter. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memperkuatoptimisme menuju pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintahterus menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian nasional melalui berbagai kebijakan yang responsif terhadap perkembangan global. Menurutnya, sejumlah indikator makroekonomimenunjukkan kinerja yang tetap kuat sehingga Indonesia mampu mempertahankan jalurpertumbuhan positif meskipun dunia masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Salah satu indikator yang menunjukkan ketahanan tersebut adalah pertumbuhan ekonomiIndonesia pada triwulan I tahun 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year). Capaian ini melampaui berbagai proyeksi lembaga internasional dan tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomidomestik masih berjalan dengan baik serta mampu menjadi penopang utama pertumbuhannasional.

Kinerja positif juga tercermin dari neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkansurplus sebesar 0,09 miliar dolar Amerika Serikat pada April 2026. Surplus tersebutmenunjukkan bahwa daya saing produk nasional tetap terjaga di tengah perlambatanperdagangan dunia. Stabilitas sektor eksternal ini sekaligus memperkuat ketahanan ekonominasional terhadap berbagai tekanan global.

Di sektor industri, aktivitas manufaktur juga masih menunjukkan kondisi yang sehat. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Indonesia tetap berada di level 50, yang menandakansektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi. Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwaaktivitas produksi, investasi, serta permintaan domestik masih terus bergerak sehingga mampumendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan pada semester II tahun 2026, pemerintah meluncurkanpaket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun. Kebijakan ini dirancang untuk memperkuat dayabeli masyarakat sekaligus menjaga aktivitas ekonomi domestik agar tetap tumbuh di tengahketidakpastian global.

Paket stimulus tersebut mencakup bantuan pangan berupa beras bagi 33,24 juta keluargapenerima manfaat selama tiga bulan. Program ini tidak hanya bertujuan menjaga ketahananpangan masyarakat, tetapi juga membantu mengurangi tekanan pengeluaran rumah tanggasehingga konsumsi masyarakat tetap terjaga.

Selain itu, pemerintah memberikan bantuan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kedelai kepada pelaku usaha tahu dan tempe. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjagakeberlangsungan usaha mikro sekaligus memastikan harga pangan tetap stabil di tingkatkonsumen. Langkah ini mencerminkan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha kecilyang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional.

Pemerintah juga memberikan berbagai insentif berupa diskon transportasi untuk moda udara, kereta api, dan angkutan laut kelas ekonomi. Kebijakan tersebut diharapkan mampumeningkatkan mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah, sekaligus mendorongpertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa transportasi yang memiliki kontribusibesar terhadap perekonomian nasional.

Optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga disampaikan oleh Bank Indonesia. GubernurBank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2026 diprakirakan tetap berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Proyeksi tersebutdidukung oleh kuatnya permintaan domestik meskipun ekonomi global masih menghadapiperlambatan dan tingginya ketidakpastian geopolitik.

Menurut Perry Warjiyo, konsumsi pemerintah menjadi salah satu motor utama pertumbuhanekonomi melalui percepatan realisasi berbagai program prioritas nasional. Penyaluran bantuansosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), pemberian gaji ke-13 bagi Aparatur SipilNegara (ASN), serta percepatan belanja negara diyakini akan terus menopang aktivitas ekonomidomestik.

Di sisi lain, berbagai program stimulus yang dijalankan pemerintah juga dipandang mampumenjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi faktorpenting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang terusberkembang.

Ketahanan ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa fondasi pembangunan nasionalsemakin kuat. Stabilitas inflasi, pertumbuhan yang tetap tinggi, surplus perdagangan, cadangandevisa yang memadai, serta meningkatnya konsumsi domestik menjadi indikator bahwa arahkebijakan pemerintah berjalan sesuai sasaran. Keberhasilan tersebut merupakan hasil darikoordinasi yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, dan seluruh elemenmasyarakat dalam menjaga momentum pembangunan.

Ke depan, tantangan global diperkirakan masih akan berlangsung. Namun, dengan fundamental ekonomi yang kokoh, kebijakan yang adaptif, serta berbagai stimulus yang terus dioptimalkan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempertahankan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Optimisme tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju dengan ekonomi yang tangguh, berdaya saing, dan mampu memberikankesejahteraan bagi seluruh rakyat.

*) Pemerhati ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *