Ekspor Satu Pintu Danantara Langkah Strategis Pemerintah Tutup Kebocoran DevisaNasional

Oleh: Rizky Anshori

Indonesia selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara pengekspor komoditassumber daya alam terbesar di dunia. Batu bara, minyak kelapa sawit, hingga ferro alloy menjaditulang punggung perdagangan luar negeri sekaligus penyumbang devisa yang sangat pentingbagi perekonomian nasional. Namun, besarnya nilai ekspor tersebut belum sepenuhnyaberbanding lurus dengan manfaat ekonomi yang diterima negara. Masih terdapat berbagai celahtata kelola yang berpotensi menyebabkan kebocoran devisa dan mengurangi kontribusi eksporterhadap pembangunan nasional.

Dalam konteks itulah pemerintah mengambil langkah strategis dengan membentuk mekanismeekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan yang mulaimemasuki masa transisi pada 1 Juni 2026 tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuatpengawasan terhadap ekspor komoditas strategis sekaligus memastikan bahwa hasil eksporbenar-benar memberikan manfaat optimal bagi bangsa.

Pemerintah menilai bahwa selama ini terdapat sejumlah praktik yang berpotensi mengurangipenerimaan negara dari sektor ekspor. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian AirlanggaHartarto menjelaskan bahwa penguatan tata kelola ekspor dilakukan untuk mencegah praktikunder invoicing, transfer pricing, maupun pelarian devisa hasil ekspor ke luar negeri. Praktik-praktik tersebut selama ini menjadi perhatian karena dapat menyebabkan nilai transaksi yang tercatat tidak mencerminkan nilai sebenarnya, sehingga manfaat ekonomi yang seharusnyaditerima Indonesia menjadi berkurang.

Langkah pembentukan DSI juga merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subiantoyang menginginkan pengawasan lebih kuat terhadap ekspor komoditas strategis sertaoptimalisasi pengelolaan devisa hasil ekspor. Arahan tersebut menunjukkan keseriusanpemerintah dalam memastikan kekayaan alam Indonesia tidak hanya menghasilkan angka eksporyang besar, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Penting untuk dipahami bahwa kebijakan ini tidak lahir tanpa dasar ekonomi yang kuat. Padatahap awal, pemerintah memfokuskan implementasi terhadap tiga komoditas utama, yakni batubara, minyak kelapa sawit, dan ferro alloy. Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap perdagangan nasional. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor ketiganyamencapai sekitar 66,13 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 23,4 persen dari total ekspor Indonesia.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola pada tiga komoditasstrategis ini dapat memberikan dampak besar terhadap penerimaan devisa negara. Selain menjadipenyumbang devisa utama, sektor tersebut juga berperan penting dalam menjaga surplus neracaperdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama puluhan bulan secara berturut-turut. Dengan kata lain, perbaikan tata kelola ekspor pada sektor ini berpotensi memperkuat fondasiekonomi nasional secara lebih luas.

Yang menarik, pemerintah memilih pendekatan bertahap dalam menerapkan kebijakan tersebut. Selama masa transisi, eksportir tetap diperbolehkan menggunakan mekanisme ekspor yang berlaku saat ini. Namun, seluruh aktivitas ekspor diwajibkan dilaporkan secara elektronikmelalui sistem yang terintegrasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta DSI. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak semata-mata mengejar pengawasan yang ketat, tetapi juga memperhatikan kepastian usaha dan keberlangsungan aktivitas perdagangan.

Airlangga menegaskan bahwa arus barang tetap berjalan normal dan kontrak-kontrak yang telahberlangsung akan tetap dihormati. Pemerintah juga memastikan kepentingan mitra daganginternasional tetap diperhatikan sehingga kepercayaan pasar global terhadap Indonesia dapatterus terjaga. Kebijakan yang disusun secara bertahap seperti ini mencerminkan upaya menjagakeseimbangan antara reformasi tata kelola dan stabilitas dunia usaha.

Selain aspek pengawasan, kebijakan ekspor satu pintu juga berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas terhadap sistem keuangan nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewameyakini bahwa pembentukan DSI akan membawa dampak positif bagi pasar dan memperkuatlikuiditas Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Seluruh hasil ekspor yang tercatat dalamsistem akan menciptakan transparansi yang lebih baik serta meningkatkan kualitas pencatatantransaksi perdagangan internasional Indonesia.

Keberadaan data yang lebih terintegrasi dan akurat tidak hanya membantu pemerintah dalammelakukan pengawasan, tetapi juga dapat meningkatkan kredibilitas perusahaan-perusahaanyang terlibat dalam perdagangan komoditas strategis. Transparansi yang lebih tinggi akanmemperkuat tata kelola korporasi, meningkatkan akuntabilitas, dan menciptakan iklim usahayang lebih sehat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kepercayaaninvestor terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia.

Lebih jauh lagi, pengelolaan devisa hasil ekspor yang lebih baik akan memperbesar ruang bagipemerintah untuk mendukung pembangunan nasional. Ketika kebocoran devisa dapat ditekandan seluruh transaksi tercatat secara transparan, manfaat ekonomi dari ekspor akan lebih banyakkembali ke dalam negeri. Dana tersebut dapat digunakan untuk memperkuat investasi, memperluas pembiayaan pembangunan, meningkatkan ketahanan sektor keuangan, hinggamendukung penciptaan lapangan kerja.

Pada akhirnya, kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia bukansekadar perubahan mekanisme administratif perdagangan. Kebijakan ini merupakan bagian darireformasi tata kelola ekonomi yang bertujuan memastikan kekayaan alam Indonesia memberikannilai tambah maksimal bagi negara. Dengan pengawasan yang lebih kuat, transparansi yang lebihtinggi, serta pengelolaan devisa yang lebih optimal, Indonesia memiliki peluang besar untukmenutup berbagai celah kebocoran ekonomi yang selama ini terjadi.

Jika implementasinya berjalan sesuai rencana, kebijakan ini dapat menjadi tonggak pentingdalam membangun sistem perdagangan yang lebih akuntabel, memperkuat ketahanan ekonominasional, serta memastikan bahwa setiap dolar hasil ekspor benar-benar bekerja untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

*) Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *