Kopdes Merah Putih Perkuat Rantai Pasok dan LayananEkonomi Desa Secara Terintegrasi
Oleh: Arfian Fadli )*
Penguatan ekonomi desa menjadi salah satu agenda yang terus didorongmelalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program ini dirancang untuk menghadirkan berbagai layanan ekonomidalam satu ekosistem sehingga masyarakat desa memperoleh aksesyang lebih mudah terhadap pembiayaan, distribusi barang, logistik, hinggapemasaran hasil produksi. Integrasi layanan tersebut diharapkan mampumemperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan efisiensi aktivitasekonomi di tingkat desa.
Dalam peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menjelaskan bahwa KDKMP dipersiapkan sebagai pusat pelayanan ekonomi desa. Menurut Presiden, koperasi akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain kantorkoperasi, toko sembako, layanan simpan pinjam, apotek desa, gudanglogistik, serta ruang pendingin untuk menjaga kualitas hasil pertaniansebelum dipasarkan.
Konsep pelayanan terpadu itu lahir dari pandangan bahwa masyarakatdesa membutuhkan akses yang lebih dekat terhadap berbagai layananekonomi. Presiden menuturkan bahwa gagasan tersebut dipengaruhi oleh pengalamannya ketika bertugas di berbagai daerah dan menyaksikansecara langsung tantangan yang dihadapi masyarakat desa. Pengalamantersebut memperkuat keyakinannya bahwa koperasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ekonomi rakyat sekaligus memperluasperlindungan bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasanakses terhadap layanan ekonomi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian ialah akses pembiayaanbagi petani. Keterbatasan modal kerja selama masa tanam masihmembuat sebagian petani bergantung pada pinjaman berbunga tinggi. Karena itu, pemerintah mendorong kehadiran koperasi simpan pinjam di setiap desa agar masyarakat memperoleh alternatif pembiayaan denganbiaya yang lebih terjangkau sekaligus mendukung kegiatan usahaproduktif.
Selain memperluas akses pembiayaan, KDKMP juga diposisikan sebagaijalur distribusi berbagai barang bersubsidi. Pemerintah menilai penyaluranmelalui koperasi dapat membantu memastikan subsidi diterima oleh masyarakat yang berhak sekaligus memperpendek rantai distribusi. Mekanisme ini diharapkan meningkatkan efektivitas penyaluran dan memperkuat fungsi koperasi sebagai pusat pelayanan ekonomimasyarakat.
Penguatan rantai pasok tidak hanya diarahkan pada sektor pertanian. Pemerintah juga merancang dukungan bagi koperasi nelayan melaluipenyediaan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan, pabrik es, sertasarana penunjang lainnya yang dikelola secara koperasi. Skema tersebutdiharapkan mampu menjaga kualitas hasil perikanan, meningkatkan nilaitambah, dan mendukung keberlanjutan usaha masyarakat pesisir.
Keterkaitan KDKMP dengan rantai pasok pangan juga terlihat melaluipelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri KoordinatorBidang Pangan, Zulkifli Hasan, menjelaskan bahwa pemerintahmendorong setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan pembelian bahan pangan dari KDKMP, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah(UMKM) lokal. Langkah tersebut dimaksudkan agar manfaat ekonomiprogram tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga menggerakkan perekonomian desa.
Menurut Zulkifli Hasan, sinergi antara pemerintah desa, koperasi, BUMDes, dan pelaku usaha lokal menjadi bagian penting dalammendukung pelaksanaan MBG sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Melalui pola kemitraan itu, petani memperoleh peluang lebih besar untukmemasok kebutuhan pangan melalui jaringan koperasi dan BUMDessehingga hasil produksi lokal dapat terserap lebih optimal.
Untuk memperluas manfaat ekonomi, Kementerian Koordinator BidangPangan bersama Badan Gizi Nasional terus mendorong setiap SPPG bekerja sama dengan sedikitnya 15 pemasok lokal yang berasal darikoperasi, BUMDes, maupun UMKM.
Data yang dipaparkan pemerintah menunjukkan bahwa sekitar 65 persenSPPG telah bermitra dengan pemasok lokal di kabupaten yang sama. Program MBG yang melayani sekitar 63,2 juta penerima manfaat juga telah didukung oleh lebih dari 148 ribu pemasok, yang terdiri ataskoperasi, BUMDes, UMKM, KDKMP, dan berbagai pemasok lainnya.
Di luar sektor pangan, fungsi koperasi juga diarahkan untuk mendukungdistribusi berbagai komoditas strategis seperti LPG, pupuk bersubsidi, dan beras SPHP. Peran tersebut memperluas fungsi KDKMP sebagai simpuldistribusi yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan berbagailayanan ekonomi dalam satu sistem.
Integrasi koperasi turut dikembangkan pada sektor pariwisata. Menteri Pariwisata Widiyanti, Putri Wardhana, menilai penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melalui koperasi desa sejalan dengan upayamembangun ekonomi berbasis masyarakat. Menurutnya, sinergi tersebutdapat memperluas manfaat ekonomi pariwisata sehingga tidak hanyabergantung pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikannilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat desa.
Widiyanti menjelaskan bahwa koperasi dapat menjadi wadah untukmemperkuat pengelolaan usaha masyarakat, memperluas aksespembiayaan, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, serta memastikanmanfaat ekonomi dari sektor pariwisata tetap berada di daerah. Integrasi Pokdarwis dan koperasi juga dinilai mampu memperkuat pengelolaanpaket wisata, homestay, kuliner, dan berbagai usaha pendukung lainnyadalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Melalui penguatan layanan ekonomi, distribusi barang, pembiayaan, sertapengembangan kemitraan lintas sektor, KDKMP diposisikan sebagai salah satu instrumen yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi di tingkat desa. Integrasi antara koperasi, sektor pangan, pertanian, perikanan, dan pariwisata menunjukkan bahwa penguatan kelembagaandesa tidak hanya diarahkan pada penyediaan layanan ekonomi, tetapijuga pada pembentukan rantai pasok yang lebih efisien dan salingterhubung untuk mendukung aktivitas masyarakat di berbagai sektor.
*) Analis Kebijakan Publik
