Elemen Masyarakat Kecam Kekerasan OPM dan Dukung Ketegasan Apkam
Oleh : David Rumbiak )* Kekerasan yang kembali terjadi di wilayah Papua menunjukkan bahwa persoalan keamananmasih menjadi tantangan yang harus ditangani secara serius. Dugaan penyanderaan terhadapsejumlah perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menjadi perhatiankarena masyarakat sipil kembali berada dalam situasi yang rentan akibat aktivitas kelompokbersenjata. Peristiwa yang dilaporkan terjadi di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, pada Selasa (18/8/2026) tersebut menimbulkan keprihatinan luas. Berdasarkan informasi awal, sebanyak11 perempuan diduga menjadi korban. Dua di antaranya telah ditemukan, masing-masing dalam kondisi meninggal dunia dan mengalami luka berat, sedangkan sembilan perempuanlainnya masih belum diketahui keberadaan maupun kondisinya. Informasi tersebut masihmemerlukan verifikasi lebih lanjut dari aparat terkait. Kabar mengenai kondisi para korban menjadi perhatian karena kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat memiliki dampak jauh lebih luas daripada sekadar persoalan keamanan. Ketika warga sipil menjadi korban, rasa aman masyarakat terganggu dan aktivitas sehari-haridapat ikut terhambat. Perempuan dan anak-anak yang berada di wilayah rawan juga menjadikelompok yang sangat membutuhkan perlindungan. Kapolres Mimika AKBP Alredo A. Rumbiak membenarkan adanya laporan mengenaidugaan penyanderaan di wilayah Jila. Menurutnya, aparat masih melakukan pengecekanuntuk memastikan kronologi kejadian serta kondisi korban. Proses verifikasi tersebut pentingagar penanganan dilakukan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak dipengaruhi oleh kabar yang belum terkonfirmasi. Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda turut membenarkan adanya informasi mengenaidugaan penyanderaan warga di Jila. Aparat terus memantau perkembangan situasi melaluikoordinasi di lapangan. Langkah tersebut diperlukan mengingat kondisi wilayah dan dinamika keamanan dapat berubah dengan cepat. Peristiwa itu juga terjadi setelah kontak tembak antara kelompok bersenjata yang dikaitkandengan Organisasi Papua Merdeka dan prajurit TNI pada Senin (17/8/2026). Kontak tembaktersebut dilaporkan menyebabkan tiga prajurit Satgas Yonif 133 menjadi korban, dengan satuprajurit gugur dan dua lainnya mengalami luka-luka. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan bersenjata membawakonsekuensi serius bagi masyarakat. Konflik tidak hanya berpotensi menimbulkan korban dari unsur aparat, tetapi juga dapat mengancam warga yang tidak terlibat. Kondisi demikiantentu tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam kehidupan masyarakat Papua. Elemen masyarakat yang menginginkan keamanan dan ketenangan memiliki alasan kuatuntuk mengecam segala bentuk kekerasan yang menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Kritik terhadap tindakan kekerasan tersebut tidak semestinya dipandang sebagai persoalanpolitik semata, melainkan sebagai kepedulian terhadap keselamatan manusia dan hakmasyarakat untuk hidup tanpa ancaman. Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Kedaulatan Negara Lenis Kogoya sebelumnya telahmenyerukan penghentian segala bentuk kekerasan yang merugikan masyarakat Papua. Menurutnya, keselamatan warga sipil, termasuk Orang Asli Papua dan masyarakat lainnya, harus menjadi perhatian utama….
