Pemerintah Tepat Menata DHE SDA agar Ekspor Tambang Kompetitif

Oleh: Bagas Nurahman)*

Kebijakan pemerintah dalam menata Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara penguatan devisa nasional dan daya saing ekspor sektor pertambangan. Melalui penyesuaian ketentuan yang lebih fleksibel, pemerintah memberikan ruang bagi eksportir untuk menjaga kelancaran kegiatan usaha, sekaligus memastikan devisa hasil ekspor dapat memberikan manfaat lebih besar bagiperekonomian domestik.

Penataan tersebut dilakukan melalui Pasal 18A Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun2026 yang memberikan relaksasi bagi eksportir sektor pertambangan dengan kriteria tertentu. Berdasarkan ketentuan tersebut, eksportir yang memenuhi persyaratan dapat menempatkanDHE SDA paling sedikit 30 persen selama paling singkat tiga bulan. Skema ini memberikanfleksibilitas dalam pengelolaan keuangan, terutama untuk menjaga kebutuhan modal kerjadan kesinambungan aktivitas ekspor.

Langkah tersebut dinilai tepat karena sektor pertambangan memiliki karakteristik usaha yang membutuhkan dukungan pembiayaan dan arus kas yang memadai. Dengan memberikanpilihan penempatan DHE SDA secara lebih proporsional, pemerintah tetap dapatmengoptimalkan manfaat devisa bagi perekonomian tanpa menghambat operasionaleksportir. Kebijakan ini juga menunjukkan keberpihakan pada terciptanya iklim usaha yang sehat dan kompetitif bagi industri pertambangan nasional.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarsomengatakan skema relaksasi tersebut berbeda dengan ketentuan umum bagi sektorpertambangan nonmigas. Dalam ketentuan umum, eksportir diwajibkan menempatkan 100 persen DHE SDA selama paling singkat 12 bulan. Adanya skema khusus bagi eksportir yang memenuhi kriteria menunjukkan penerapan kebijakan yang adaptif dengan tetapmempertimbangkan kepentingan nasional dan kebutuhan dunia usaha.

Pengaturan tersebut memiliki tiga tujuan strategis. Pertama, mendukung stabilitasmakroekonomi sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik. Kedua, ketersediaandevisa dapat memperkuat pembiayaan pembangunan, khususnya investasi dan modal kerjauntuk mempercepat hilirisasi sumber daya alam. Ketiga, kebijakan tersebut diarahkan untukmeningkatkan investasi dan kinerja ekspor melalui kegiatan pengusahaan, pengelolaan, dan pengolahan sumber daya alam.

Dengan tujuan tersebut, relaksasi DHE SDA tidak hanya memberikan fleksibilitas kepadaeksportir, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas. Devisa yang ditempatkan di dalam negeri dapat mendukung aktivitas ekonomi dan pembiayaan, sementarafleksibilitas yang diberikan membantu perusahaan mempertahankan produktivitas sertakemampuan memenuhi permintaan pasar ekspor. Keseimbangan ini menjadi faktor pentingagar kebijakan DHE SDA mampu memperkuat perekonomian tanpa mengurangi daya saingpertambangan Indonesia.

Pemerintah menerapkan fasilitas tersebut secara selektif berdasarkan data dan kriteria yang jelas. Berdasarkan data Pemberitahuan Pabean Ekspor (PPE) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai periode Maret 2025 hingga Juli 2026, terdapat 537 NPWP eksportir pertambangan. Setelah dilakukan pemadanan dengan data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU), sebanyak 64 NPWP atau sekitar 12 persen memenuhi kriteria untukmemanfaatkan fasilitas Pasal 18A.

Dari sisi perbankan, eksportir yang menggunakan fasilitas relaksasi dapat menempatkan DHE SDA pada bank devisa yang melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing. Pemerintah telahmenetapkan 15 bank devisa sebagai tempat penempatan Rekening Khusus DHE SDA, terdiriatas lima bank devisa BUMN dan 10 bank devisa non-BUMN. Ketersediaan pilihan tersebutmemberikan kemudahan bagi eksportir dalam memenuhi ketentuan sekaligus mendukungkelancaran transaksi perdagangan internasional.

Fasilitas khusus DHE SDA mulai berlaku pada 1 September 2026. Eksportir yang memenuhikriteria tetapi tidak ingin menggunakan fasilitas tersebut tetap dapat memilih ketentuanumum dengan menyampaikan surat pernyataan kepada Bank Indonesia sesuai mekanismeyang ditetapkan. Eksportir yang tidak menggunakan fasilitas khusus tetap mengikutiketentuan umum DHE SDA berdasarkan PP Nomor 2 Tahun 2026.

Untuk sektor pertambangan nonmigas, ketentuan umum mengatur penempatan 100 persenDHE SDA selama paling singkat 12 bulan pada Bank Devisa BUMN. Sementara itu, sektorpertambangan migas diwajibkan menempatkan paling sedikit 30 persen selama paling singkattiga bulan pada Bank Devisa BUMN. Perbedaan ketentuan tersebut menunjukkan adanyapenyesuaian kebijakan berdasarkan karakteristik masing-masing sektor.

Penguatan DHE SDA juga mendukung prospek pertumbuhan ekonomi nasionalDeputiGubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan prospek ekonomi global dapatmeningkatkan permintaan terhadap ekspor Indonesia sekaligus memperkuat aliran modal masuk, terutama melalui penanaman modal asing dan investasi portofolio.

Peningkatan investasi melalui percepatan proyek strategis nasional serta optimalisasipenerimaan DHE menjadi bagian penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi. Sinergipemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan ketahanannasional sekaligus menciptakan ruang pertumbuhan yang berkelanjutan.

Melalui penataan DHE SDA yang adaptif, pemerintah menunjukkan komitmen menjagasektor pertambangan tetap kompetitif sekaligus memperkuat manfaat devisa bagiperekonomian nasional. Relaksasi yang diberikan secara selektif dapat membantu eksportirmempertahankan kelancaran operasional, investasi, dan kegiatan perdagangan. Pada saatyang sama, kebijakan tersebut memperkuat peran DHE SDA sebagai instrumen strategisuntuk mendukung hilirisasi, investasi, stabilitas ekonomi, dan peningkatan daya saing eksportambang Indonesia di pasar global.

)* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *