Upaya Pencegahan Radikalisme di LingkunganPendidikan Terus Dioptimalkan

Oleh: Nanda Prasetyo

Pencegahan penyebaran paham radikalisme di lingkungan pendidikan terus menjadi perhatianberbagai pihak sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan bangsa. Sinergi antara pemerintahdaerah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, dan masyarakat dinilai semakin penting di tengahperkembangan teknologi digital yang membuka ruang penyebaran informasi tanpa batas. Karena itu, berbagai langkah edukasi, penguatan literasi digital, hingga pembinaan karakter generasimuda terus dioptimalkan agar pelajar memiliki daya tangkal terhadap pengaruh intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Komitmen tersebut terlihat dari langkah Satuan Tugas Wilayah Maluku Densus 88 AntiterorPolri yang memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kota Ambon melalui audiensi di ruangkerja Wali Kota Ambon. Pertemuan itu menjadi momentum untuk menyamakan persepsi bahwapencegahan radikalisme bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintahdaerah, lembaga pendidikan, keluarga, dan tokoh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Kombes Pol. I Wayan Sukarena menjelaskan bahwa keberhasilanprogram deradikalisasi serta upaya pencegahan sejak dini hanya dapat dicapai apabila seluruhpihak mampu membangun kolaborasi yang kuat. Menurutnya, ketahanan masyarakat terhadapmasuknya paham radikal harus dibangun melalui edukasi yang berkesinambungan sehinggamasyarakat memiliki kemampuan untuk mengenali sekaligus menolak berbagai bentukpropaganda yang berpotensi memecah persatuan.

Ia juga mengungkapkan bahwa Densus 88 Antiteror Polri selama ini telah menjalankan berbagaiprogram pencegahan di Kota Ambon. Namun, program tersebut masih perlu diperluas agar mampu menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat, terutama kalangan pelajar dan remajayang dinilai menjadi sasaran paling rentan terhadap penyebaran paham radikal melalui berbagaiplatform digital.

Perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya pencegahantersebut. Ruang digital kini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga dimanfaatkanoleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda melalui media sosial, aplikasipercakapan, hingga berbagai platform daring lainnya. Kondisi ini mendorong perlunyapenguatan literasi digital agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin bijak dalammenerima, memilah, dan menyebarkan informasi.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menyampaikan kesiapanPemerintah Kota Ambon untuk menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang diberikan Densus 88 Antiteror Polri. Pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi lintas organisasi perangkatdaerah guna menyusun program edukasi digital yang lebih terintegrasi sehingga pengawasanterhadap penggunaan teknologi informasi dapat dilakukan secara lebih efektif.

Bodewin Wattimena juga menegaskan bahwa Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, serta seluruh jajaran camat dan lurah akan dilibatkan dalam pelaksanaan program tersebut. Penguatan literasi digital di sekolah akan menjadi salah satu prioritas agar peserta didikmemiliki kemampuan berpikir kritis, mampu menyaring informasi dengan baik, serta tidakmudah terpengaruh hoaks maupun konten yang mengandung unsur radikalisme.

Upaya serupa juga dilakukan Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri melalui kegiatan edukasikepada sekitar 300 siswa SMA Khusus Olahraga Provinsi Riau dalam rangka Masa PengenalanLingkungan Sekolah. Kegiatan yang menjadi bagian dari Program RATAKAN atau Riau TangkalAncaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan tersebut difokuskan pada peningkatan pemahamanpelajar mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Melalui program tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai pola penyebaranpaham radikal yang kini semakin banyak memanfaatkan media sosial, permainan daring, maupun platform digital lainnya. Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkankewaspadaan generasi muda terhadap berbagai bentuk ajakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Dalam penyampaian materinya, Brigpol Nella Anggraini menekankan bahwa generasi mudamemiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keutuhan bangsa. Kemampuan berpikir kritisterhadap informasi yang beredar menjadi bekal utama agar pelajar tidak mudah terpengaruhpropaganda yang menyesatkan. Selain itu, sikap menghargai perbedaan juga harus terusditanamkan sebagai bagian dari penguatan karakter kebangsaan.

Brigpol Nella Anggraini turut mengingatkan pentingnya keberanian pelajar untuk menolaksekaligus melaporkan berbagai bentuk ajakan yang mengarah pada intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme kepada pihak yang berwenang. Langkah tersebut dinilai menjadibagian dari tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, damai, dan bebas dari pengaruh paham yang mengancam persatuan nasional.

Selama satu tahun terakhir, pemerintah juga menunjukkan berbagai capaian positif dalammemperkuat stabilitas nasional melalui peningkatan kolaborasi antarinstansi, penguatanpendidikan karakter, perluasan literasi digital, percepatan transformasi digital layanan publik, serta dukungan terhadap program pembangunan sumber daya manusia yang menempatkangenerasi muda sebagai prioritas utama. Berbagai langkah tersebut menjadi fondasi penting dalammemperkuat ketahanan masyarakat terhadap berbagai ancaman, termasuk penyebaran pahamradikalisme di ruang fisik maupun digital.

Pada akhirnya, upaya pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan harus menjadikomitmen bersama yang dijalankan secara konsisten oleh pemerintah, aparat keamanan, lembagapendidikan, orang tua, dan masyarakat. Penguatan literasi digital, pendidikan karakter, sertapenanaman nilai-nilai Pancasila, toleransi, dan kebangsaan merupakan investasi jangka panjanguntuk melahirkan generasi yang cerdas, kritis, sekaligus berintegritas.

*) Analis Isu Strategis dan Keamanan Dalam Negeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *