Oleh : Jonathan Janoel*) Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momen tepat bagi bangsa Indonesia untukmerefleksikan sekaligus mengapresiasi langkah nyata pemerintah dalam membangungenerasi penerus yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Di tengah semarak perayaan, satuprogram strategis terus menunjukkan dampak nyata yaitu Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah. Program menjadi instrumen deteksi dini penyakit fisik, tetapi juga telah berkembangmenjadi fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia nasional melaluipemeriksaan kesehatan jiwa yang terintegrasi. Sejak awal tahun hingga pertengahan Juli 2026, capaian program ini sungguhmenggembirakan. Sebanyak 8.824.185 siswa telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Angka inimenunjukkan bahwa meskipun baru berjalan belum genap satu tahun, program unggulanpemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini telah bergerak dengan kecepatan dan ketepatanyang patut diapresiasi. Pemerintah menargetkan sepanjang tahun 2026 sebanyak 50.255.073 peserta didik dari 303.263 satuan pendidikan akan mengikuti CKG Sekolah, mencakupjenjang SD, SMP, SMA, pondok pesantren, hingga Sekolah Luar Biasa. Yang membedakan CKG Sekolah dari program pemeriksaan kesehatan pada umumnyaadalah pendekatan holistik yang diusung. Pemeriksaan tidak berhenti pada pengukuran fisiksemata, melainkan mencakup evaluasi kondisi kejiwaan peserta didik sebagai bagian dariupaya deteksi dini berbagai gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi proses belajar dan kualitas hidup anak. Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kurnia Ramadhana, menyampaikan bahwa sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026, CKG Sekolah telah melayani 8.824.185 siswa di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota. Beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan pada anak, yaitu tingkataktivitas fisik, anemia pada remaja putri, pemeriksaan mata, telinga, gigi, hingga kejiwaan, disampaikan olehnya dalam konferensi pers. Hasil pemeriksaan selama periode 1 Januari hingga 14 Juli 2026 mengungkapkan sejumlahtemuan yang menjadi perhatian serius sekaligus dasar bagi penguatan kebijakan ke depan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa karies atau gigi berlubang masih menjadimasalah kesehatan paling dominan, dialami oleh 40,8 persen siswa. Selain itu, 27,3 persenremaja putri menderita anemia, 21,7 persen siswa mengalami hipertensi, 6,9 persenmengalami serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga, serta 6,7 persen lainnyamengalami obesitas. Lima masalah kesehatan tersebut menjadi perhatian utama pemerintah. Di tengah temuan yang memerlukan perhatian tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi…