Perdamaian Aceh adalah Amanah Bersama yang Tidak Boleh Diganggu Provokasi

*) Oleh: Teuku Ramdan Syah

Perdamaian Aceh telah melewati perjalanan panjang dan menjadi salah satu capaianpenting dalam sejarah kehidupan berbangsa Indonesia. Lebih dari dua dekadesetelah kesepakatan damai Helsinki, tantangan Aceh tidak lagi semata-matamemastikan konflik bersenjata tidak kembali terjadi, tetapi bagaimana perdamaianmenghasilkan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat. Peringatan 21 Tahun Hari Damai Aceh (HDA) menjadi momentum untuk mengingat bahwa stabilitas bukanlahtujuan akhir, melainkan fondasi bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan sumber dayamanusia. Karena itu, setiap upaya yang berpotensi mengganggu perdamaian, termasuk provokasi dan penyebaran narasi negatif, perlu dihadapi dengankedewasaan dan persatuan.

Dalam konteks tersebut, Pemerintah Aceh menempatkan keberlanjutan perdamaiansebagai tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Peringatan HDA yang digelar melalui Badan Reintegrasi Aceh di Balee Meuseuraya Aceh tidak semestinyaberhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkuatkesadaran bahwa perdamaian telah memberikan kesempatan besar bagi Aceh untukmembangun masa depan. Stabilitas membuka ruang bagi investasi, pendidikan, pelayanan publik, serta pemulihan ekonomi masyarakat yang sebelumnya terhambatkonflik. Dengan demikian, menjaga perdamaian merupakan bagian integral darimenjaga keberlanjutan pembangunan Aceh.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengajak seluruh masyarakat berperan aktif dalammenjaga dan merawat perdamaian di provinsi tersebut. Pesan tersebut pentingkarena keberlangsungan perdamaian tidak mungkin hanya dibebankan kepadapemerintah atau aparat keamanan, melainkan membutuhkan partisipasi masyarakatsecara luas. Perdamaian yang telah dibangun dengan pengorbanan besar harusdipelihara melalui sikap saling menghormati, dialog, dan penyelesaian persoalansecara damai. Ketika masyarakat memiliki kesadaran bahwa perdamaian merupakankepentingan bersama, ruang bagi provokasi dan konflik baru akan semakin sempit.

Lebih lanjut, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menempatkan perdamaian dalamperspektif yang lebih substantif, yakni sebagai jalan menuju kehidupan masyarakatyang lebih baik. Menurut Fadhlullah, berakhirnya konflik tidak boleh menjadi titik akhir, karena generasi penerus harus merasakan manfaat perdamaian melalui kesempatanpendidikan, ekonomi, dan pembangunan yang lebih luas. Karena itu, generasi mudaperlu dibekali kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh narasinegatif yang dapat memecah persatuan. Kerja nyata, penghormatan terhadapperbedaan, dan pembangunan kepercayaan menjadi instrumen penting untukmemastikan perdamaian tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

Sejalan dengan itu, Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al Haythar mengingatkan pentingnya memperkuat persaudaraan dan ketenteraman sebagaibagian dari upaya merawat perdamaian. Momentum 15 Agustus memiliki maknahistoris karena menandai penandatanganan MoU antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia. Kesepakatan tersebutbukan hanya mengakhiri konflik, tetapi juga membuka kembali kepercayaanmasyarakat internasional terhadap Aceh. Kepercayaan itu kemudian menjadi pintumasuk bagi dukungan kemanusiaan dan bantuan internasional yang turut membantupemulihan sosial serta ekonomi masyarakat Aceh.

Dalam perspektif keamanan, Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Joko Krisdiyanto menegaskan bahwa Hari Damai Aceh merupakan momentum untuk memperkuatpersaudaraan, persatuan, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat. MenurutJoko, perdamaian merupakan amanah bersama yang harus dijaga secaraberkelanjutan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diwariskankepada generasi mendatang. Karena itu, semangat toleransi, gotong royong, salingmenghargai, serta menjaga persatuan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugasaparat, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial seluruh masyarakat.

Selanjutnya, tantangan terbesar dalam mempertahankan perdamaian pada era digital adalah derasnya arus informasi yang dapat membentuk persepsi publik dalam waktusingkat. Narasi provokatif, informasi yang dipelintir, maupun konten yang mengeksploitasi sentimen sosial dapat dengan mudah menyebar apabila tidakdisikapi secara kritis. Masyarakat Aceh perlu membangun ketahanan informasi agar tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk kembalimempertentangkan kelompok satu dengan lainnya. Literasi digital, komunikasi publikyang terbuka, dan penyelesaian persoalan melalui mekanisme konstitusional menjadibenteng penting untuk mencegah konflik sosial.

Pada saat yang sama, keberlanjutan perdamaian harus diterjemahkan ke dalampembangunan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara konkret. Generasi muda harus melihat perdamaian bukan sebagai catatan sejarah, melainkansebagai modal untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, menciptakan lapangankerja, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Pemerintah daerahbersama pemerintah pusat perlu memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakansecara merata sehingga masyarakat memiliki alasan kuat untuk mempertahankanstabilitas. Dengan cara itu, perdamaian tidak hanya diwariskan sebagai sebuahkesepakatan, tetapi sebagai budaya kehidupan yang menghasilkan kemajuan.

Dua puluh satu tahun perdamaian Aceh membuktikan bahwa konflik dapat dihentikandan masa depan baru dapat dibangun ketika seluruh pihak memilih jalan dialog dan persatuan. Tantangan berikutnya adalah memastikan capaian tersebut tidak terkikisoleh provokasi, kepentingan sesaat, ataupun narasi yang berusaha membuka kembaliluka masa lalu. Pemerintah, masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan seluruh elemenAceh memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ruang sosial tetap damaisekaligus mengisinya dengan pembangunan yang bermanfaat. Perdamaian Aceh harus terus dirawat sebagai modal berharga untuk mewujudkan provinsi yang aman, maju, sejahtera, dan tetap kokoh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

*) Tokoh Masyarakat Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *