Dua Tahun Prabowo-Gibran dan Sekolah Garuda: Anak Indonesia Menembus Dunia
Oleh : Jonathan Janoel*)
Persaingan global menuntut Indonesia tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu berkompetisi di lingkungan akademik internasional. Kebutuhan tersebut semakin penting ketika perkembangan sains dan teknologi berlangsungcepat, sementara negara-negara lain berlomba membangun pusat-pusat talenta unggulan. Dalam konteks itu, penguatan pendidikan berkualitas menjadi investasi strategis untukmemastikan anak Indonesia memiliki kemampuan, pengalaman, dan kepercayaan diri untukmelanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi terbaik dunia.
Salah satu keberhasilan tersebut datang dari pilihan SMA Pradita Dirgantara sebagai salah satu pionir Sekolah Garuda Transformasi menunjukkan bahwa program ini dibangun denganmemanfaatkan sekolah yang telah memiliki rekam jejak pembinaan prestasi. Sekolah tersebutresmi menjadi bagian dari 12 Sekolah Garuda Transformasi pada 2025 dan mendapatpendampingan Universitas Padjadjaran. Kemdiktisaintek kini mencatat 30 SMA UnggulGaruda Transformasi untuk 2026, memperluas ekosistem yang sebelumnya dimulai dari 12 sekolah.
Kepala SMA Pradita Dirgantara M. Ridwan Aziz menilai transformasi tersebut membukapeluang lebih besar bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi melalui dukungansumber daya pendidikan berkualitas. Posisi Pradita sebagai sekolah berasrama denganpengalaman dalam pembelajaran berstandar internasional menjadi modal penting untukmemperkuat pembinaan siswa yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga kemampuan menghadapi lingkungan pendidikan global.
Bagi pemerintah, tujuan tersebut berkaitan dengan gagasan Presiden Prabowo Subianto untukmembuka jalan agar anak-anak Indonesia mampu melanjutkan pendidikan ke universitas terbaik dunia. Dalam peluncuran SMA Garuda, Presiden menekankan pentingnyamenyiapkan generasi yang mampu bersaing dengan lulusan sekolah terbaik di berbagainegara, termasuk melalui penguatan kemampuan akademik dan penguasaan bahasa asing.
Arah tersebut membuat program pendidikan unggulan tidak berhenti pada pembangunangedung atau penambahan fasilitas. Program ini diarahkan menjadi ekosistem yang menghubungkan pendidikan menengah dengan perguruan tinggi, penelitian, dan pengembangan talenta. Negara tidak hanya mencari siswa berprestasi, tetapi membangunjalur pembinaan agar potensi mereka dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwapemerintah mendorong kolaborasi erat antara sekolah menengah dan perguruan tinggi negeri, ia mengapresiasi keterlibatan sejumlah PTN, termasuk Universitas Padjadjaran dan IPB, dalam mendampingi pengembangan Sekolah Garuda. Menurutnya, pendampingan tersebutdiperlukan untuk membangun ekosistem unggul yang mampu membentuk karakter sekaliguskompetensi peserta didik.
Brian juga menegaskan bahwa Sekolah Garuda tidak dirancang menjadi pendidikan eksklusifyang terpisah dari sekolah lain. Sekolah yang masuk ekosistem diharapkan menjadi hub yang dapat mengimbaskan praktik baik kepada SMA atau MA lain di daerahnya. Pemerintahmenargetkan ekosistem ini terus berkembang hingga 80 sekolah pada 2029. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak siswa yang diterima kampus dunia, tetapi juga dari seberapa luas peningkatan mutu pendidikan yang dapat ditularkan.
Perkembangan terbaru memperlihatkan penguatan aspek riset dan inovasi. Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN Suharman Halawa yang menjelaskan rancangan tata kelolalaboratorium STEM yang mengintegrasikan kepemimpinan, pembelajaran berbasis proyek, riset, peningkatan profesionalisme guru, kemitraan multisektor, dan diseminasi praktik baik. Kerangka ini penting karena laboratorium tidak semestinya hanya menjadi ruang praktikum, tetapi menjadi tempat siswa belajar merumuskan masalah, menguji gagasan, dan menghasilkan solusi berbasis bukti.
Kebutuhan tersebut terlihat dari pengalaman penerima Beasiswa Garuda, salah satupenerima, Imran, mengembangkan purwarupa Robot Gambut untuk mendeteksi kebakaranbawah permukaan dan melakukan pemadaman awal. Contoh tersebut memperlihatkan bahwapembinaan talenta dapat diarahkan pada persoalan nyata Indonesia, bukan sekadar mengejarprestasi kompetisi.
Lebih jauh, pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadappendidikan unggulan. Sekolah tidak hanya diposisikan sebagai tempat memperoleh nilai, tetapi sebagai ruang untuk membangun kemampuan berpikir, meneliti, berkolaborasi, dan menyelesaikan persoalan. Keterhubungan dengan PTN dan lembaga riset memberikesempatan kepada siswa mengenal dunia akademik lebih awal. Jika pola ini diterapkansecara konsisten, manfaatnya dapat melampaui peserta didik dan turut meningkatkankapasitas guru serta sekolah mitra di sekitarnya.
Program tersebut karena itu dapat dibaca sebagai investasi jangka panjang dalam kualitasmanusia Indonesia. Tantangannya adalah menjaga mutu guru, konsistensi pendampingan, pemerataan kesempatan, dan keberlanjutan jejaring dengan perguruan tinggi serta industri. Evaluasi juga perlu memastikan siswa dari berbagai daerah memperoleh kesempatan yang adil berdasarkan potensi dan prestasi.
Pembangunan manusia menjadi ruang penting untuk menerjemahkan visi Indonesia yang lebih kompetitif. Sekolah Garuda menunjukkan upaya membangun jalur dari sekolah menujuriset dan perguruan tinggi global secara lebih sistematis. Jika ekosistem ini terus diperkuatdan praktik baiknya diperluas, semakin banyak anak Indonesia berpeluang menjadikankampus-kampus terbaik dunia sebagai tujuan, sekaligus membawa pulang pengetahuan untukmembangun Indonesia. Langkah tersebut juga memperkuat fondasi Indonesia dalammencetak sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa di masa depan.
)* Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Kebijakan Pemerintah
