Sertifikasi Halal Menjadi Fondasi Kepercayaan Konsumendan Produsen

Oleh: Widya Arsyinta )*

Sertifikasi halal semakin menjadi bagian penting dalam membangunkepercayaan antara konsumen dan produsen. Kejelasan mengenai status halal memberikan kepastian bagi masyarakat dalam menentukan produkyang dikonsumsi, sekaligus mendorong pelaku usaha menjaga proses produksi sesuai standar yang berlaku. Penguatan sistem Jaminan ProdukHalal (JPH) juga menjadi langkah untuk menciptakan ekosistem usahayang lebih tertata dan memberikan nilai tambah bagi produk dalam negeri.

Kepastian halal tidak hanya ditentukan oleh bahan yang tercantum dalamkomposisi produk. Proses memperoleh bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, hingga penyajian turut menentukan status kehalalan produksebelum sampai kepada konsumen. Karena itu, sistem sertifikasi halal perlu memastikan seluruh rangkaian proses berjalan sesuai ketentuandan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menjelaskan bahwa pemastian status halal dilakukanmelalui pendekatan ketelusuran atau traceability pada keseluruhan rantaiproses dan pasok. Mekanisme ini memungkinkan setiap tahapan yang berpengaruh terhadap status halal produk ditelusuri dan diperiksaberdasarkan ketentuan JPH. Pendekatan tersebut membuat sertifikasihalal tidak berhenti pada pemeriksaan produk akhir, tetapi mencakupproses yang membentuk produk secara keseluruhan.

Penerapan prinsip itu terlihat dari proses pengolahan bahan yang secarazat telah dikenal sebagai bahan halal. Daging sapi dan ayam, misalnya, tetap harus dipastikan berasal dari proses penyembelihan yang sesuaidengan ketentuan syariat Islam. Proses produksi juga perlu menjagaproduk dari kontaminasi najis maupun bahan yang diharamkan, termasukyang terdapat dalam bumbu dan bahan tambahan.

Perhatian serupa berlaku terhadap peralatan yang digunakan dalamproses produksi. Peralatan untuk mengolah, memasak, menyimpan, maupun mencuci produk perlu dipastikan tidak menyebabkan kontaminasidari bahan nonhalal. BPJPH menempatkan aspek peralatan sebagaibagian dari pemeriksaan karena penggunaan peralatan secara bersamadengan produk atau bahan nonhalal dapat memengaruhi status kehalalanproduk.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pemeriksaan halal tidak cukup hanyadengan membaca daftar komposisi pada kemasan. Seluruh mata rantaiproduksi perlu diperhatikan agar status halal dapat dibuktikan secaramenyeluruh. Setelah melalui mekanisme pemeriksaan dan sertifikasi, label halal kemudian menjadi penanda bagi masyarakat bahwa produktelah memperoleh sertifikat sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi konsumen, keberadaan sertifikat dan label halal memberikaninformasi yang lebih jelas ketika memilih produk. Masyarakat tidak perluhanya mengandalkan asumsi mengenai bahan atau proses produksikarena status halal telah melalui mekanisme pemeriksaan. Kepastianinformasi pada akhirnya menjadi salah satu unsur penting dalammembangun rasa percaya terhadap produk yang beredar.

Dari sisi produsen, penerapan standar halal memberikan kejelasanmengenai proses yang harus dipenuhi dalam menjalankan kegiatanusaha. Pemenuhan standar juga dapat menjadi nilai tambah karenamenunjukkan adanya perhatian terhadap aspek bahan, proses produksi, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Produk dengan status halal yang jelas memiliki dasar informasi yang lebih kuat untukmembangun kepercayaan konsumen.

Manfaat yang lebih luas juga terlihat dari terbentuknya ekosistem halal nasional. Sistem JPH tidak hanya melibatkan proses sertifikasi, tetapimencakup pemeriksaan, pengujian, inspeksi, serta berbagai layananpendukung lainnya. Rangkaian kegiatan itu membuka ruang bagitumbuhnya aktivitas ekonomi baru sekaligus memperkuat tata kelolaindustri halal di Indonesia.

Penguatan jaminan halal juga berkaitan dengan pemenuhan hakmasyarakat. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), AsrorunNiam, menempatkan jaminan produk halal sebagai bagian dari kewajibannegara dalam memberikan kepastian kepada masyarakat mengenaiproduk yang dikonsumsi. 

Secara hukum, kewajiban tersebut memiliki dasar yang kuat melaluiUndang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Regulasi yang disahkan pada 17 Oktober 2014 itu memberikan masa persiapan sebelum kewajiban sertifikasi halal diberlakukan. Dalam perkembangannya, penerapan kewajiban mengalami sejumlahpenyesuaian seiring dengan kesiapan infrastruktur dan pelaku usaha.

Pemerintah kemudian memberikan relaksasi melalui sejumlah ketentuanlanjutan, termasuk Undang-Undang Cipta Kerja dan PeraturanPemerintah Nomor 39 Tahun 2021. Masa penyesuaian itu pada akhirnyamengarah pada pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal pada 18 Oktober 2026. 

Deputi Bidang Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH, Mamat S. Burhanudin, mengatakan pelaku usaha, khususnya sektor menengah dan besar, pada dasarnya telah memasuki tahapan kewajiban sertifikasi halal sejak 2024. Relaksasi diberikan agar pelaku usaha memiliki waktu untukmenyesuaikan proses bisnis dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Ketentuan yang sama juga perlu menjadi perhatian bagi pelaku UMK yang produk makanannya beredar di Indonesia.

Persiapan menjadi semakin penting karena pemberlakuan kewajiban halal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi. Sistem yang berjalan dengan baik juga menentukan kualitas informasi yang diterimakonsumen dan kepastian proses yang dijalankan produsen. Semakin jelasmekanisme sertifikasi dan ketelusuran produk, semakin mudah pula kepercayaan dibangun di antara kedua pihak.

Sertifikasi halal pada akhirnya mempertemukan kebutuhan konsumenakan kepastian dengan kebutuhan produsen terhadap standar usahayang jelas. Konsumen memperoleh informasi yang dapat menjadi dasardalam menentukan pilihan, sedangkan produsen memiliki acuan untukmemastikan proses produksinya memenuhi ketentuan JPH. Penguatankedua aspek ini menjadikan sertifikasi halal bukan sekadar tanda pada kemasan, melainkan fondasi bagi terbentuknya ekosistem perdaganganyang lebih transparan, terpercaya, dan berkelanjutan.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *