Strategi Perdagangan RI Diperkuat lewat Adaptasi AI dan Teknologi

JAKARTA — Pemerintah memperkuat strategi perdagangan dan industri nasional dengan mendorong adopsi kecerdasan artifisial (AI), penguasaan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penguatan rantai pasok. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga daya saing industri Indonesia di tengah perubahan teknologi dan persaingan pasar global yang semakin cepat.

“Dari rangkaian kunjungan dan pertemuan bisnis di Nagoya ini memperlihatkan satu benang merah yang jelas bahwa daya saing industri dibangun dari perpaduan antara penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan ekosistem rantai pasok yang kokoh,” ujar Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso.

Ia menjelaskan kebutuhan terhadap teknologi semakin kuat, terutama pada sektor otomotif yang kini memiliki keterkaitan erat dengan semikonduktor dan sistem berbasis teknologi cerdas. Karena itu, keterhubungan industri nasional dengan ekosistem teknologi global dinilai penting untuk memperluas kapasitas produksi sekaligus meningkatkan produktivitas.

“Penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan ekosistem rantai pasok menjadi fondasi penting dalam membangun daya saing industri manufaktur,” kata Susiwijono.

Indonesia juga memperluas keterlibatan dalam kerja sama teknologi internasional. Pemerintah telah menjalin kerja sama dengan ARM, bergabung dalam World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), serta menjajaki komunikasi dengan PAX Silica untuk memperluas peluang pengembangan teknologi dan industri bernilai tambah.

“Daya saing industri dibangun dari perpaduan antara penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan ekosistem rantai pasok yang kokoh,” ujarnya.

Di sisi perdagangan, pemerintah menyebut Indonesia telah memiliki 25 perjanjian perdagangan internasional dalam bentuk FTA maupun CEPA. Sejumlah proses ratifikasi juga terus diselesaikan untuk mempercepat pelaksanaan perjanjian dan membuka akses yang lebih luas bagi produk nasional, termasuk melalui IEU-CEPA yang ditargetkan mulai diimplementasikan pada Januari 2027.

Adaptasi teknologi juga dinilai penting bagi pelaku usaha di daerah, termasuk industri kecil dan menengah (IKM). Kepala Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo Faizal Lamakaraka menyebut pemanfaatan AI perlu dipahami sebagai bagian dari transformasi bisnis agar pelaku usaha mampu merespons perubahan pasar dan membangun strategi pengembangan yang berkelanjutan.

“Transformasi bisnis berkelanjutan tidak lagi bisa dilepaskan dari pemanfaatan AI. IKM kita harus mampu menangkap peluang ini, memahami tantangannya, dan menyusun strategi masa depan yang tepat agar terus berkembang secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *