Strategi Perdagangan RI Membawa Teknologi sampai ke Pasar Rakyat

Oleh : Muhammad Nofer Saputro *)

Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara masyarakat bekerja, berproduksi, bertransaksi, hingga mengakses pasar. Perubahan tersebut membuat perdagangantidak lagi cukup dipahami sebatas aktivitas jual beli barang, tetapi juga sebagai bagian daritransformasi ekonomi yang membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, pelaku usaha, sertainfrastruktur digital. Dalam konteks tersebut, strategi perdagangan Indonesia perlu memastikanbahwa kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi benar-benarmenjangkau pelaku usaha hingga pasar rakyat.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menilai masyarakat perlu beradaptasidengan perkembangan AI dan teknologi yang bergerak cepat. Menurutnya, perubahan teknologitidak dapat dihindari sehingga kemampuan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri menjadibagian penting dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi target pertumbuhan ekonomi dan Indonesia Emas 2045. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi perdagangan pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mampu memanfaatkanteknologi sebagai instrumen peningkatan produktivitas.

Persiapan sumber daya manusia menjadi semakin penting karena Indonesia memiliki jumlahpenduduk usia produktif yang besar. Potensi demografi tersebut dapat menjadi kekuatanekonomi apabila diiringi pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan perkembanganteknologi. Sebaliknya, perubahan teknologi yang berlangsung cepat dapat menciptakankesenjangan apabila sebagian masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, tidak memperolehkesempatan yang memadai untuk beradaptasi.

Karena itu, digitalisasi perdagangan perlu ditempatkan sedekat mungkin dengan kehidupanmasyarakat. Pasar rakyat merupakan salah satu ruang strategis untuk memastikan transformasitersebut berlangsung secara inklusif. Ribuan pedagang yang menjalankan aktivitas ekonomisetiap hari menjadi bagian penting dari rantai perdagangan nasional. Ketika teknologi mampumasuk ke lingkungan pasar rakyat, manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara langsung melaluipengelolaan usaha yang lebih efisien, perluasan akses konsumen, hingga peluang pemasaranyang lebih luas.

Pertanyaan mengenai sejauh mana teknologi telah menjangkau pusat perdagangan masyarakatdari Sabang sampai Merauke menjadi relevan dalam menyusun strategi tersebut. Digitalisasitidak seharusnya berhenti pada perdagangan melalui platform besar atau perusahaan dengankapasitas teknologi tinggi. Teknologi perlu hadir dalam aktivitas ekonomi yang paling dekatdengan masyarakat sehingga pedagang tradisional, UMKM, dan pelaku usaha lokal memilikikesempatan yang sama untuk berkembang.

Strategi Kementerian Perdagangan yang menempatkan pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar internasional, serta dorongan dari lokal menuju global sebagai fokusperdagangan memberikan kerangka yang dapat memperkuat arah tersebut. Pasar domestikIndonesia yang besar merupakan kekuatan yang perlu dijaga, sementara akses terhadap pasar internasional perlu terus diperluas melalui kerja sama dan perjanjian perdagangan. Pada saatyang sama, produk dalam negeri perlu didorong agar mampu meningkatkan daya saing dan dikenal lebih luas di pasar global.

Dalam konteks itu, teknologi dapat menjadi penghubung antara pasar rakyat dan pasar global. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan lokal dapat memperoleh akses pemasaranyang lebih luas melalui ekosistem perdagangan digital. Pelaku usaha di daerah tidak harusmeninggalkan karakter lokal produknya untuk memasuki pasar yang lebih besar. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan keunggulan produk lokal kepada konsumen di berbagai wilayah, bahkan membuka peluang ekspor.

Namun, perluasan perdagangan berbasis teknologi juga membutuhkan tata kelola yang aman dan bertanggung jawab. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai Manajemen PerdaganganStrategis atau Strategic Trade Management (STM) dapat mendukung program pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta agenda dari lokal menuju global. Kerangka tersebutjuga dinilai dapat memperkuat kepercayaan mitra dagang terhadap produk Indonesia sekaligusmembuka peluang bagi dunia usaha, termasuk UMKM, untuk memasuki pasar internasional.

Perkembangan AI, semikonduktor, teknologi strategis, dan pengolahan mineral kritis membuatkeseimbangan antara keterbukaan perdagangan dan keamanan menjadi semakin penting. Menurut Budi Santoso, pengembangan STM Indonesia diarahkan berbasis risiko sehinggapengendalian perdagangan strategis tidak berubah menjadi hambatan bagi perdagangan, industrialisasi, penelitian, inovasi, maupun akses terhadap teknologi. Pendekatan bertahap juga diperlukan agar dunia usaha dan institusi memiliki ruang untuk menyesuaikan diri.

Pada titik ini, transformasi teknologi dan penguatan tata kelola perdagangan seharusnya berjalanberiringan. Teknologi memberikan peluang untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya saing. Sementara itu, sistem perdagangan yang aman memberikan kepastianbagi pelaku usaha dan meningkatkan kepercayaan mitra internasional. Keduanya menjadi bagianyang tidak terpisahkan dalam membangun ekosistem perdagangan yang berkelanjutan.

Kerja sama regional juga memiliki peran penting. Keterlibatan Indonesia dalam RCEP, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan berbagai perjanjian perdagangan lainnya menunjukkanbahwa perdagangan nasional terhubung dengan dinamika ekonomi kawasan. Forum sepertiSoutheast Asia Forum on Export Controls (SEAFEC) dapat menjadi ruang untuk memperkuatpemahaman dan koordinasi mengenai pengelolaan barang serta teknologi strategis, termasukdalam menghadapi perkembangan rantai pasok global.

*) Penulis adalah Pengamat Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *