admin

Koperasi Merah Putih Jadi Jalan Negara Serap Produk Desa yang Lama Terabaikan

Oleh : Radjiman Arif*) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus didorong pemerintah menjadiinstrumen penguatan ekonomi desa. Koperasi tidak hanya diarahkan sebagai tempatmemenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga sebagai penghubung antara hasil produksipetani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM dengan pasar yang lebih pasti. Kebijakan inipenting untuk mengatasi persoalan panjangnya rantai distribusi yang membuat produk desabelum memperoleh nilai tambah. Menteri Koperasi Feri Juliantono menegaskan bahwa KDMP harus mampu menjadipenampung berbagai produk yang dihasilkan masyarakat desa. Ia mendorong koperasi tidakhanya menjual kebutuhan pokok, tetapi juga menyerap hasil pertanian, perikanan, peternakan, hingga produk UMKM. Dengan fungsi tersebut, koperasi diharapkan menjadipusat aktivitas ekonomi yang mempertemukan produksi masyarakat dengan kebutuhan pasar secara lebih efisien. Feri melihat percepatan operasional koperasi sebagai kesempatan membangun ekosistemekonomi desa yang lebih kuat. Ketika hasil produksi masyarakat dapat ditampung dan dipasarkan melalui kelembagaan koperasi, posisi produsen lokal menjadi lebih kuat karenamemiliki akses pasar yang lebih terorganisasi. Model tersebut sekaligus membuka ruang bagikoperasi untuk berkembang sebagai badan usaha yang tumbuh dari potensi ekonomi masing-masing desa. Arah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan KDMP sebagaiinstrumen strategis untuk memperkuat posisi masyarakat desa. Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 10.000 koperasi telah beroperasi, dengan 3.300 di antaranya disebut telahmenjalankan operasional secara optimal. Presiden Prabowo Subianto menempatkan koperasitersebut sebagai pusat ekonomi rakyat desa sekaligus instrumen untuk memperkuat posisipetani, nelayan, dan masyarakat desa dalam kegiatan ekonomi. Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperjelas fungsi tersebut dengan menempatkankoperasi sebagai offtaker atau pihak yang menyerap hasil produksi masyarakat. Menurutnya, keberadaan koperasi harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Koperasi di kawasanpertanian dapat menyerap produk petani, sementara koperasi di kawasan pesisir dapatmenjadi penghubung hasil tangkapan nelayan dengan pasar. Dengan cara ini, produk lokalmemiliki jalur distribusi yang lebih dekat dan kepastian pasar yang lebih baik. Zulkifli juga menekankan bahwa KDMP bukan sekadar toko atau supermarket di desa. Pemerintah mengarahkannya sebagai infrastruktur ekonomi yang dapat menyalurkan bantuanpemerintah, barang subsidi, sekaligus menyerap hasil produksi masyarakat. Konsep tersebutmemperlihatkan upaya membangun ekosistem ekonomi desa yang menghubungkan produksi, distribusi, konsumsi, dan pelayanan masyarakat dalam satu kelembagaan. Penguatan fungsi koperasi semakin relevan karena pemerintah juga mulai menghubungkanKDMP dengan agenda ketahanan pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilaikoperasi dapat memangkas rantai pasok hasil pertanian sehingga nilai ekonomi yang selamaini dinikmati perantara dapat lebih banyak kembali kepada petani. Pola distribusi yang lebihsederhana, dari petani kepada koperasi kemudian kepada masyarakat, diharapkan membuatbiaya lebih efisien sekaligus meningkatkan kesejahteraan produsen. Gambaran tersebut mulai terlihat di daerah. Pemerintah daerah di Lampung mendorongKDMP menjadi instrumen hilirisasi komoditas pangan sekaligus memperpendek rantaidistribusi. Koperasi tidak hanya menyalurkan sembako, tetapi juga dapat mengembangkanUMKM dan menghilirkan komoditas desa sehingga nilai tambah hasil produksi lebih banyakdinikmati masyarakat. Perkembangan di Lampung Timur menjadi salah satu contoh dukungan daerah terhadapkebijakan tersebut. Kabupaten Lampung Timur memperoleh penghargaan sebagai pemerintahdaerah terbaik dalam percepatan pembentukan dan pembangunan KDMP. Sebanyak sekitar132 koperasi telah terbentuk, dengan 10 di antaranya telah beroperasi. Capaian tersebutmenunjukkan bahwa kebijakan nasional mulai diterjemahkan melalui kesiapan pemerintahdaerah dan masyarakat di tingkat desa. Yang tidak kalah penting, koperasi dapat menjadi jalan untuk menghidupkan kembali produkdesa yang selama ini kesulitan menembus pasar. Komoditas pertanian, perikanan, peternakan, dan produk UMKM tidak harus berhenti sebagai bahan mentah atau dijual dengan margin tipis. Dengan kelembagaan yang kuat, produk tersebut dapat dikonsolidasikan, dikemas, dipasarkan, bahkan dikembangkan menuju proses hilirisasi. Dalam praktiknya, keberadaan koperasi juga dapat memperkuat posisi tawar desa ketikaberhadapan dengan pasar yang lebih luas. Konsolidasi produksi memungkinkan volume dan kualitas barang lebih terjaga, sementara pengelolaan secara bersama dapat membantumasyarakat memperoleh akses pembiayaan, penyimpanan, pengemasan, serta pemasaran. Pola ini penting agar pertumbuhan ekonomi desa tidak hanya bergantung pada penjualanbahan mentah, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dan memperluas kesempatan usahabagi masyarakat setempat. Karena itu, Koperasi Merah Putih patut dipandang bukan sekadar program kelembagaan, melainkan bagian dari strategi pemerintah membangun ekonomi dari desa. Ketika koperasimampu menjalankan fungsi sebagai offtaker, distributor, sekaligus penggerak usaha lokal, manfaat pembangunan akan semakin dekat dengan masyarakat. Kebijakan inimemperlihatkan keberpihakan pemerintah pada ekonomi rakyat dengan memberikan ruanglebih besar bagi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha desa untuk berkembang. Jika konsistensi penguatan kelembagaan dan pengawasan terus dijaga, Koperasi Merah Putih berpotensi menjadi jembatan penting yang membawa produk desa dari pasar lokal menujurantai ekonomi nasional….

Read More

Koperasi Merah Putih: Negara Hadir Serap Hasil Petani dan UMKM

Oleh: Catur Ronggo*) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sedang bergerak menuju instrumen nyata penguatan ekonomi rakyat. Di tengah persoalan klasik yang masih dihadapi petani, nelayan, dan pelaku UMKM, mulai dari akses pasar, panjangnya rantai distribusi, hingga risiko produk tak terserap, koperasi dipersiapkan untuk mengambil peran yang lebih strategis. Bukan sekadar tempat transaksi, Koperasi Merah Putih diarahkan menjadi simpul…

Read More

Koperasi Merah Putih Serap Hasil Pertanian, Perikanan, dan Peternakan

JAKARTA — Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak hanya menjadi pusat penyaluran kebutuhan masyarakat, tetapi juga berperan sebagai penyerap hasil pertanian, perikanan, peternakan, dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal itu disampaikan Ferry saat membuka Kebumen Travel Mart dan Gombong Culture Festival di Benteng Van der Wijck, Gombong,…

Read More

Pemerintah Dorong Koperasi Merah Putih Serap Produk Desa

Jakarta – Pemerintah terus mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak hanya berfungsi sebagai pusat distribusi barang dan layanan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi penyerap produk yang dihasilkan warga desa. Peran tersebut diharapkan menciptakan kepastian pasar bagi petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga perajin di tingkat desa. Kebijakan ini sejalan dengan arah pemerintah menjadikan koperasi sebagai…

Read More

Papeda Summit 2026 dan Harapan Baru bagi Masa Depan Tanah Papua

Oleh : Loa Murib Papeda Summit 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa pembangunan di Tanah Papua tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Lebihdari itu, pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan, keberlanjutan sosial, serta penghormatan terhadap masyarakat adatsebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Papua. Forum yang akan berlangsung di Kota Sorong pada 2-4 September 2026 ini membawa harapan baru bagi lahirnya kesepahamanbersama tentang arah pembangunan Papua yang berkelanjutan dan berkeadilan. Persiapan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menunjukkan keseriusandaerah dalam menyukseskan forum tersebut. Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menekankan pentingnya kekompakan, keterbukaan, dan kerja sama seluruh pihak yang terlibatdalam pelaksanaan Papeda Summit. Pandangan tersebut mencerminkan satu pesan pentingbahwa masa depan Papua tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Pembangunan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, tokoh adat, dan seluruh pemangku kepentingan. Komitmen tersebut patut diapresiasi karena Papua memiliki tantangan pembangunan yang kompleks sekaligus potensi yang sangat besar. Kekayaan sumber daya alam, keanekaragamanhayati, hutan tropis, wilayah pesisir, serta kekayaan budaya merupakan modal strategis bagipembangunan masa depan. Namun, seluruh potensi tersebut harus dikelola secara bijaksanaagar kemajuan hari ini tidak justru menjadi beban bagi generasi yang akan datang. Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya perhatian dunia terhadap isu keberlanjutan, Tanah Papua memiliki posisi yang sangat strategis. Kawasan ini bukan hanya memilikikekayaan alam yang bernilai ekonomi, tetapi juga memegang peranan penting dalam menjagakeseimbangan ekologis. Karena itu, pembangunan Papua harus diarahkan untuk menciptakankesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Papeda Summit 2026 membuka ruang dialog untuk membahas berbagai persoalan tersebutsecara menyeluruh. Isu lingkungan, sosial, ekonomi, ekonomi hijau, ekonomi biru, pengelolaankarbon, hingga pemberdayaan masyarakat adat menjadi bagian dari agenda yang akandibicarakan. Luasnya cakupan pembahasan menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutantidak dapat dilihat dari satu sektor saja. Keberhasilan pembangunan harus lahir darikemampuan menyelaraskan berbagai kepentingan agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiringdengan perlindungan alam dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Ketua Panitia Papeda Summit 2026 Julian Kelly Kambu memandang forum ini sebagai ruanguntuk menyamakan persepsi mengenai pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Pandangan tersebut memiliki arti strategis karena selama ini pembangunan sering menghadapipersoalan perbedaan sudut pandang antara berbagai pihak. Pemerintah memiliki target pembangunan, masyarakat adat memiliki nilai dan kearifan lokal, dunia usaha memilikikepentingan investasi, sementara akademisi menghadirkan kajian ilmiah sebagai dasarpengambilan kebijakan. Seluruh perspektif tersebut perlu dipertemukan dalam ruang dialog yang terbuka dan konstruktif. Papeda Summit menjadi kesempatan untuk membangun titik temu di antara berbagaikepentingan tersebut. Pembangunan…

Read More

Membangun Papua Berkelanjutan Melalui Semangat Kolaborasi Papeda Summit 2026

Oleh : Frans Nawipa Pembangunan Papua dilakukan secara terpadu dan komprehensif melibatkan lintassektoral. Kompleksitas persoalan, kekayaan sumber daya alam, keberagaman sosialdan budaya, serta karakteristik geografis yang khas menuntut hadirnya ruang bersamayang mampu mempertemukan seluruh pemangku kepentingan. Pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan berbagaimitra pembangunan. Dalam konteks inilah Papeda Summit 2026 memiliki arti pentingsebagai ruang untuk menyatukan gagasan, memperkuat kerja sama, dan membangunarah pembangunan Papua yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanaan Papeda Summit 2026 di Sorong, Papua Barat Daya, pada 2-4 September mendatang menjadi momentum strategis untuk memperkuat kesadaran bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui kebersamaan. Forum ini tidak sekadar menjaditempat berkumpul dan berdiskusi, melainkan ruang untuk mempertemukan beragampandangan serta menyusun langkah bersama menghadapi tantangan pembangunan. Kehadiran berbagai unsur dari enam provinsi di Tanah Papua menunjukkan bahwapembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai agenda bersama yang melampauibatas administrasi dan kepentingan sektoral. Dukungan Gubernur Papua Pegunungan John Tabo terhadap pelaksanaan Papeda Summit 2026 memperlihatkan pentingnya komitmen pemerintah daerah dalammemperkuat kolaborasi pembangunan. John Tabo memandang forum tersebut sebagaikegiatan yang baik karena mempertemukan berbagai pihak untuk membahas masa depan Papua. Dukungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan yang berhasil tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau banyaknya program, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak untuk duduk bersama, menyamakanpandangan, dan membangun kerja sama berdasarkan kepentingan masyarakat. Salah satu gagasan penting yang disampaikan John Tabo adalah perlunyapengembangan komoditas lokal Papua sebagai penggerak ekonomi masyarakat adat. Pandangan ini patut menjadi perhatian dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Papua memiliki berbagai potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan untukmeningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengabaikan kelestarianlingkungan dan nilai-nilai budaya. Pengembangan potensi tersebut harus diarahkanagar masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam aktivitasekonomi yang berlangsung di wilayahnya. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus memberikan manfaat nyata kepadamasyarakat di sekitar sumber daya tersebut berada. Karena itu, masyarakat adat perlumemperoleh ruang yang memadai untuk berpartisipasi dalam pengelolaan wilayah dan sumber daya alam. Pembangunan yang menghormati hak masyarakat adat tidakseharusnya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai fondasi untukmenciptakan kebijakan yang lebih adil, diterima masyarakat, dan mampu bertahandalam jangka panjang. Ketika masyarakat merasa memiliki ruang dalam menentukanmasa depannya, pembangunan akan memperoleh legitimasi sosial yang lebih kuat. Kepala Regional EcoNusa Wilayah Papua Maryo Sanuddin menyampaikan bahwaakademisi menjadi salah satu kelompok yang akan dilibatkan dalam Papeda Summit 2026. Forum yang diperkirakan menghadirkan sekitar 500 peserta dan sekitar 100 pembicara serta moderator tersebut menunjukkan besarnya peluang pertukarangagasan yang dapat terjadi. Keterlibatan pemerintah pusat, perwakilan kedutaan besar, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan dapat menciptakanjejaring kolaborasi yang lebih luas untuk mendukung agenda pembangunanberkelanjutan di Tanah Papua. Pameran produk lokal dan praktik baik masyarakat adat dari enam provinsi di Tanah…

Read More

Libatkan Tokoh, Papeda Summit Perkuat Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua

Papua – Pelaksanaan Papeda Summit 2026 mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai forum strategis untuk memperkuat kolaborasi pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Keterlibatan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga mitra pembangunan diharapkan mampu menghasilkan kesepahaman bersama dalam mendorong pembangunan yang berpihak pada masyarakat adat dan potensi lokal. Gubernur Papua Pegunungan John Tabo…

Read More

Papeda Summit 2026 Jadi Ruang Penting Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua

SORONG – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya mematangkan persiapan pelaksanaan Papua Sustainable Development (Papeda) Summit 2026 yang akan berlangsung pada 2-4 September 2026 di Kota Sorong. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang strategis untuk menyatukan pandangan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu meminta seluruh panitia…

Read More

RUU Perampasan Aset Menjadi Jalan Baru Melawan Korupsi yang Makin Canggih

Oleh: Rania Zafirah )* Pemberantasan korupsi menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiringberkembangnya modus kejahatan dan cara pelaku menyembunyikan hasil tindak pidana. Korupsi tidak lagi hanya berkaitan dengan pemberian uang secara langsung, tetapi dapatmelibatkan jaringan luas, pemindahan aset, penggunaan pihak lain, hingga penyamarankepemilikan kekayaan. Kondisi tersebut membuat penindakan terhadap pelaku perlu diikutistrategi untuk memastikan hasil kejahatan dapat ditelusuri dan dikembalikan kepada negara. Dalam konteks tersebut, Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset menjadiinstrumen yang relevan untuk memperkuat pemberantasan korupsi. Regulasi ini diharapkanmelengkapi perangkat hukum yang telah tersedia, terutama ketika aset hasil tindak pidanasulit dijangkau melalui mekanisme penindakan konvensional. Ketika pelaku semakin mampumengalihkan atau menyembunyikan kekayaan, negara membutuhkan mekanisme hukumyang efektif untuk melacak dan mengamankan aset tersebut. Pembahasan RUU Perampasan Aset oleh DPR RI menjadi bagian dari proses menghadirkanlandasan hukum yang lebih kuat. Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman mengatakantelah menargetkan pembahasan dan pengesahan regulasi tersebut dapat dirampungkan pada akhir 2026. Proses pembahasan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian, kepastian hukum, serta masukan dari berbagai pihak. Percepatan diperlukan agar regulasi dapat segera hadir, namun kualitas dan ketepatan setiap ketentuan tetap harus menjadi perhatian. Pentingnya regulasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan memastikan hasil tindak pidanatidak tetap berada di tangan pelaku atau pihak lain.  Pengesahan RUU Perampasan Aset penting untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi, termasuk melalui pemiskinankoruptor. Regulasi tersebut dapat menutup celah dalam pengembalian aset hasil korupsi yang selama ini sulit dijangkau, terutama ketika pelaku melarikan diri, meninggal dunia, atauproses hukum berlangsung lama sehingga aset telah dialihkan maupun disamarkan. RUU Perampasan Aset menjadi terobosan penting dalam pemberantasan korupsi apabila didukungpengawasan ketat dan kelembagaan yang kuat. Perampasan aset memiliki arti strategis karena pemberantasan korupsi tidak cukup hanyaberorientasi pada pemidanaan pelaku. Hukuman penting sebagai bentukpertanggungjawaban, tetapi pemulihan kerugian negara juga menjadi bagian yang tidakterpisahkan. Tanpa mekanisme pengembalian aset yang efektif, hasil kejahatan berpotensitetap berada di tangan pelaku atau pihak lain meskipun proses pidana telah berjalan. Persoalan tersebut semakin rumit ketika aset telah dipindahkan atau disamarkan. Kekayaanhasil tindak pidana dapat dialihkan kepada pihak lain, ditempatkan dalam berbagai bentukinvestasi, atau diubah menjadi aset dengan kepemilikan yang sulit dilacak. Proses hukumjuga dapat menghadapi kendala apabila pelaku melarikan diri, meninggal dunia, atau proses peradilan berlangsung lama. Karena itu, pendekatan pemberantasan korupsi perlumemperhatikan keberadaan aset, bukan hanya keberadaan pelaku. Dengan mekanisme perampasan aset yang dirancang secara tepat, negara memiliki peluanglebih besar untuk mengejar hasil kejahatan sekaligus mempersempit ruang bagi pelakumenikmati kekayaan yang diperoleh secara ilegal. Kebijakan tersebut juga dapat memberikanefek pencegahan karena pelaku tidak hanya menghadapi risiko kehilangan kebebasan, tetapijuga kehilangan manfaat ekonomi dari tindak pidana. Namun, efektivitas RUU Perampasan Aset harus dibangun di atas prinsip hukum yang kuat. Perampasan harta menyangkut hak kepemilikan warga negara sehingga prosedur yang jelas, mekanisme pembuktian yang terukur, pengawasan, serta kesempatan bagi pihakberkepentingan memberikan klarifikasi menjadi unsur penting. Kepastian tersebut diperlukanagar kewenangan negara tetap digunakan secara tepat sasaran dan berada dalam koridorhukum. Proses penyusunan RUU yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagianpenting untuk memastikan keseimbangan tersebut. DPR RI melalui Komisi III terusmenyerap aspirasi dan masukan melalui rapat dengar pendapat umum. Partisipasimasyarakat, akademisi, praktisi hukum, aparat penegak hukum, serta kelompok terkait dapatmemperkaya substansi sekaligus mengidentifikasi potensi persoalan sebelum regulasidiberlakukan. Aspek pemulihan aset juga memiliki arti penting bagi negara. Kekayaan yang berhasildikembalikan dapat menjadi bagian dari pemulihan kerugian akibat tindak pidana dan memberikan manfaat bagi kepentingan publik. Dengan demikian, pemberantasan korupsitidak berhenti pada proses hukum terhadap pelaku, tetapi juga memastikan sumber daya yang semestinya menjadi hak negara dapat kembali digunakan untuk kepentingan masyarakat. Kehadiran RUU Perampasan Aset dapat menjadi bagian dari pembaruan strategi pemberantasan korupsi di Indonesia. Perkembangan teknologi dan sistem keuangan membuatcara menyembunyikan kekayaan semakin beragam sehingga pendekatan penegakan hukumperlu terus menyesuaikan diri. Negara membutuhkan instrumen yang mampu menghadapipola kejahatan yang terus berkembang. Pembahasan RUU Perampasan Aset yang diarahkan selesai pada akhir 2026 menjadimomentum untuk memperkuat fondasi pemberantasan korupsi. Proses yang melibatkanberbagai masukan diharapkan memastikan setiap ketentuan memiliki dasar yang kuat, sementara pengawasan dan kesiapan kelembagaan menjadi penopang implementasinya. Pemberantasan korupsi membutuhkan lebih dari sekadar penindakan terhadap pelaku. Negara perlu memastikan hasil kejahatan tidak mudah disembunyikan, dipindahkan, atau dinikmatipelaku dan jaringannya. Dengan kepastian hukum, pengawasan ketat, kelembagaan kuat, serta mekanisme perlindungan hak yang memadai, RUU Perampasan Aset berpotensimenjadi instrumen penting untuk mempersempit ruang gerak korupsi sekaligus memastikanhasil kejahatan dapat dikembalikan bagi kepentingan publik.  *) Penulis adalah Content Writer di Biro Kajian Hukum Indonesia

Read More

RUU Perampasan Aset: Babak Baru Perang Negara Melawan Korupsi Modern

Oleh: Dhita Karuniawati )* Pemberantasan korupsi memasuki babak baru. Negara tidak lagi cukup hanya mengejar pelaku dan menjatuhkan hukuman, tetapi juga harus memastikan hasil kejahatan tidak tetap dinikmati, disembunyikan, atau dialihkan melalui berbagai bentuk aset. Arah tersebut tercermin dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset yang kini memasuki tahap penting di DPR. Komisi III DPR RI mengusulkan…

Read More